150511 Pesawat MA-60, Pengadaan atau Produk Bermasalah?

Bermasalah sejak awal. Inilah kalimat yang meluncur pertama kali dari kalangan industri penerbangan kala mendengar kecelakaan pesawat MA-60 milik PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) di Teluk Kaimana, Papua, belum lama ini.

Bagi banyak kalangan, kehadiran alat trasnportasi udara  berpenumpang 60 orang dengan mesin  turboprop dari Xian Aircraft Industries Ltd itu dinilai kontroversial baik dari sisi cara pengadaan atau kualitas produk.

Dari penelusuran, Kementerian Keuangan dan MNA menandatangani SLA pengadaan MA-60 pada 11 Juni 2010. Kontrak pembelian bersyarat ditandatangani Hotasi Nababan, Direktur Utama Merpati saat itu dengan pihak Xian. Dalam kontrak bertanggal 7 Juni 2006 di Beijing, Merpati setuju membeli 15 pesawat MA-60 senilai 232,4 juta dolar AS.

Sebagai tahap awal, Merpati pun dibolehkan untuk terlebih dahulu menyewa dua MA-60 selama 24 bulan sejak Januari 2007. Harga sewa pesawat Xian ini mencapai 70 ribu dolar AS per bulan setiap unit. Dua pesawat ini pun melayani rute Bali-Nusa Tenggara Barat-Nusa Tenggara Timur-Sulawesi Selatan.

Kesepahaman ini pun tertuang dalam perjanjian pinjaman antara bank Exim Cina dengan Departemen Keuangan pada 5 Agustus 2008. Bahkan, sesuai dengan perjanjian, Bank Exim menyediakan pembiayaan 1,8 miliar yuan untuk jangka waktu 15 tahun. Pinjaman ini berbunga 2,5 persen per tahun.

Lantaran pinjaman diberikan kepada pemerintah, Merpati mau tak mau menandatangani perjanjian penerusan pinjaman dengan Departemen Keuangan. Langkah ini diambil agar Merpati bisa mendapat fasilitas pembiayaan.

Belum mendapat perjanjian penerusan pinjaman, di tengah jalan, Merpati justru mengalami kesulitan keuangan. Pada akhir 2008, asetnya cuma  1,06 triliun rupiah, sedangkan kewajibannya  2,7 triliun rupiah. Tim restrukturisasi mengusulkan beberapa persyaratan kontrak ditinjau ulang, misalnya soal harga, jumlah pesawat, dan garansi.

Dalam pandangan Komisi XI DPR Kementerian Keuangan dan MNA telah melanggar Undang-undang Nomor 2 Tahun 2010 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2010. Sebab, MNA dan pemerintah menandatangani kesepakatan perjanjian penerusan pinjaman (subsidiary loan agreement/SLA) pengadaan pesawat MA-60 sebelum mendapat persetujuan dari Badan Anggaran (Banggar) DPR.

Pengadaan pesawat MA-60, Kementerian Keuangan dan PT MNA menandatangani SLA pengadaan MA-60 pada 11 Juni 2010. Ketika itu, Banggar belum memberikan persetujuannya. Banggar baru memberikan persetujuan pada 30 Agustus 2010 setelah melewati pembahasan pada 18-23 Agustus 2010 oleh Panitia Kerja SLA.

“Kementerian Keuangan dan MNA telah melanggar UU APBN karena sudah bertindak sebelum disetujui,” ungkap Wakil Ketua Komisi XI Harry Azhar Azis.

Anggota DPR Andy Rachmat berpendapat, tindakan yang mendahului persetujuan Banggar itu menambah pelanggaran Kementerian Keuangan dan MNA karena tidak membahas hal tersebut di Komisi XI DPR.

Ketua Federasi Serikat Pekerja Badan Usaha Milik Negara Bersatu, FX Arief Poyuono pun telah bertindak dengan melaporkan ketidakberesan ini kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),

Di mata Arief, Menteri Keuangan, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, dan Menteri Negara BUMN merupakan orang yang bertanggung jawab atas masalah ini. Termasuk juga, Dewan Perwakilan Rakyat yang menyetujui penggelontoran subsidiary loan agreement (SLA) senilai 220 juta dollar AS atau sekitar 1,88 triliun rupiah.

Menurutnya,  harga pesawat MA-60 di pasar internasional hanya 11 juta dollar AS per unit. Artinya, bila dikalikan 15 pesawat, cuma 165 juta dollar AS (Rp 1,4 triliun).

Walau Arief tidak menafikan harga 11 juta  dollar AS (Rp 94 miliar) belum termasuk biaya training karyawan dan suku cadang, tetapi  jika pun hal itu digunakan dalam perhitungannya tidak akan lebih dari  3 juta dollar AS (Rp25,6 miliar) per pesawat. Hitung-hitungan Arief, dalam proyek ini pemerintah mengeluarkan 14,5 juta dollar AS (Rp124 miliar) per  pesawat. Total kerugian negara dari versi Arief  mencapai 40 juta dollar AS (Rp342 miliar.

Berkaitan dengan masalah pengadaan ini,  Komisaris Utama Merpati Nusantara Muhammad Said Didu  mengungkapkan,  perseroan  semula menolak kontrak awal pembelian  MA-60  karena tidak menguntungkan secara bisnis. “Setelah dihitung secara bisnis, kontrak itu tidak membuat Merpati lebih sehat,” katanya.

Kontrak kembali dilanjutkan karena Merpati berhasil menambah klausal dalam kontrak pembelian pesawat tersebut.

Said menjelaskan, tiga kontrak yang diminta diubah itu adalah pembelian pesawat yang dibiayai lewat SLA dari pemerintah dan dilakukan dalam mata uang rupiah. Usulan ini ditempuh karena perusahaan berharap tidak terkena depresiasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar AS dan yuan China.  Pemerintah sendiri melalui fasilitas kredit ekspor membeli pesawat China menggunakan mata uang dolar AS dan yuan. “Kami kan memperoleh pendapatan dalam mata uang rupiah,” katanya.

Revisi kontrak kedua menyebutkan, sebagai pesawat baru, pabrikan China yaitu Xian Aircraft harus memberikan fasilitas pemeriksaan seluruh body pesawat secara gratis.

Terakhir, Merpati meminta bila pesawat tidak mampu beroperasi hingga umur yang diperkirakan sesuai kontrak yang ada. Ataupun, bila ada kesalahan produksi, maka pabrikan China harus membeli pesawat itu kembali dengan nilai buku.

Menurut Said, seluruh persyaratan dalam kontrak baru tersebut akhirnya memperoleh persetujuan dari pemerintah maupun pabrikan China. Dengan persetujuan tersebut, Merpati akhirnya bersedia membeli dan mengoperasikan pesawat dari negeri tirai bambu itu.

“Kontrak itu government to government, Merpati hanya menerima SLA. Kami berutang kepada pemerintah, membayar ke pemerintah,” tegas  Said.

Kualitas Pesawat
Pada kesempatan lain, Dirjen Perhubungan Udara Herry Bakti S Gumay menegaskan, secara kualitas, pesawat besutan negeri tiongkok itu tidak bermasalah karena sudah mengantongi sertifikat laik dan layak terbang dari otoritas penerbangan sipil Indonesia dan China.

“Dalam aturan internasional hanya dibutuhkan sertifikat dari negeri tempat beroperasi dan pabrikan untuk mengoperasikan satu pesawat,” tegasnya.

Dijelaskannya, Indonesia pun dalam membuat sertifikat mengacu pada standar yang digunakan oleh Federal Aviation Administration (FAA) Amerika Serikat. “Sebenarnya pesawat ini tidak 100 persen buatan China. Mesin dari Kanada milik Pratt & Whitney, baling-baling dari Hazzel Inggris. China itu hanya rangka saja,” jelasnya.

Ditegaskannya, pesawat tipe MA-60 sebenarnya tergolong handal untuk penerbangan di rute Papua walau tidak semua area di kawasan itu bisa dimasukinya karena badannya yang agak besar. “Jika berbicara ingin masuk semua rute di Papua, jenis Twin Otter memang lebih cocok karena bisa masuk di kota kecil dan besar. Tetapi kalau mau melayani kota Kaimana, MA-60 itu sanggup,” jelasnya.

Direktur Utama Merpati Nusantara Airlines Sardjono Johnny Tjitrokusumo menegaskan, MA-60 yang digunakan oleh perseroan juga pesawat yang tangguh. Hal itu dibuktikannya kala melakukan test flight dengan penerbangan secara rally dari China hingga Surabaya. “Mana mungkin saya suruh pilot-pilot perseroan menerbangkan pesawat ini jika tidak aman, Kalau terbukti kejadian kemarin  karena kesalahan teknis saya siap mundur” tegasnya.

Menurutnya,  dari sisi teknis pesawat MA-60 memiliki teknis yang cukup tinggi di kelas sejenis, dan perusahaan Xian juga memiliki reputasi. “China sudah membuat pesawat dari 1953, jauh lebih dulu dari PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Jadi jangan berspekulasi terlebih dahulu mengenai penyebab kecelakaan pesawat tersebut,” ujarnya.

Disarankannya, dalam kasus kecelakaan pesawat tidak serta merta menyalahkan pesawat yang nahas. “Pesawat jenis Boeing maupun Airbus juga pernah mengalami kecelakaan. Tapi tidak harus semua pesawat jenis itu dihentikan penggunaannya,” ujarnya.

Johnny dan Herry boleh menyemburkan sinyal positif terhadap produk ini tetapi fakta pesawat yang tergolong baru ini telah mengalami beberapa kali kecelakaan tak bisa dipungkiri.

Tercatat, Kecelakaan pertama terjadi pada 11 Januari 2009. Ketika itu, Xian MA-60 milik Zest Airways dengan penerbangan 865 dengan 22 penumpang dan 33 awak mengalami undershot di Landasan Pacu 06. Kecelakaan terjadi saat pesawat mendarat di Bandar Udara Godofredo P Ramos, Filipina.

Roda pendarat dan baling-baling pesawat mengalami kerusakan parah. Tiga orang terluka. Namun, tidak ada korban jiwa.

Kecelakaan kedua terjadi pada 25 Juni 2009. Saat itu, Xian MA-60 milik Zest Airways dengan nomor penerbangan 863 berpenumpang 54 orang dengan 5 awak pesawat mengalami overshot saat mendarat di Bandar Udara Godofredo P Ramos. Tidak ada korban luka dalam kecelakaan tersebut.

Kecelakaan ketiga terjadi pada 3 November 2009. Xian MA-60 UM-239 milik Air Zimbabwe menabrak lima babi hutan saat lepas landas dari Bandar Udara Internasional Harare. Pesawat berhasil dihentikan dari proses lepas landas. Namun, lambung pesawat rusak parah akibat benturan.

Sementara itu, pada 7 Desember 2010, kecelakaan keempat terjadi di Bandara Internasional Rangoon. Pesawat Xian MA-60 kala itu juga tergelincir ketika mendarat.

Kecelakaan terakhir dan terparah, tentunya  jatuhnya pesawat Merpati jenis MA-60 di Kaimana, Papua Barat, pada Sabtu (7/1).  Sebelum nasib nahas di Papua, MA-60

Sbelum kejadian di Papua, MA-60 milik MNA juga  mengalami dua insiden  yakni retaknya  rudder atau sayap vertikal bagian belakang pesawat yang baru saja datang pada Juni 2009 serta  pada 19 Februari 2011, MA-60 ini juga gagal terbang akibat gangguan teknis ketika pesawat melintasi landasan pacu menuju titik start di Bandara El Tari, Kupang.

Pesawat tersebut diberitakan mengalami gangguan teknis yang menyebabkan pesawat meluncur tak beraturan di landasan.

MA-60 sendiri memiliki  total populasi di dunia sebanyak 189 unit. China mengoperasikan sebanyak 130 unit, disusul Indonesia 15 unit.  Negara lainnya,  Republik Kongo , Myanmar, Tajikistan, Zambia, Sri Lanka, Zimbabwe, Laos, Ghana, Ekuador, dan Bolivia.[dni]

Tabel

Kehebatan MA-60 menurut Tim Pemeriksa Kelayakan Ditjen Hubud:
* Kemampuan MA60 untuk beradaptasi pun tak perlu diragukan. Pesawat MA60 memiliki daya adaptasi yang tinggi.

* Pesawat MA60 dapat lepas landas dan mendarat di landasan sederhana sekalipun. Seperti landasan berdebu, berumput atau berkubangan. Bahkan di bawah lingkungan lembab, bersalju, berpasir atau berdebu. MA60 tetap dapat beroperasi dengan aman.

* MA60 memiliki performa baik untuk terbang kecepatan rendah.

* MA60 memiliki daya adaptasi yang tinggi. Karena itu tak masalah bagi pesawat untuk dioperasikan di mana saja dan dalam kondisi apa pun.

* Rancangan fuselage MA60 tak hanya disesuaikan dengan standar ekonomis. Tetapi juga sesuai standar kenyamanan pesawat komersil.

* MA60 dilengkapi central warning system yang terdiri dari central warning light box dan control box.

* MA60 didasari konsep modern dengan perangkat berteknologi canggih. Termasuk perangkat penerbangan kelas satu seperti automatic flight control system.

Spesifikasi MA-60 :

Dimensi: Panjang 24,71 m; rentang sayap 29,20 m; tinggi 8,85  m
Kemampuan: Kecepatan jelajah ekonomis 430 km/jam; kecepatan jelajah maksimum 514 km/jam; jangkauan terbang 2.450 km; ketinggian terbang maksimum 7620 m; MTOW 21,8 ton; jarak take off minimal 810 m; jarak landing minimal 760 m
Awak: 2-3; kapasitas angkut 52-60 penumpang.

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}

        PERUM LKBN ANTARA

           Naufal Mahfudz, M.M

                                                                                                 GM SDM & Umum

 

 

 

 

 

Tindasan :

1.      Direktur SDM dan Umum

2.      Manager PSDM

3.      Arsip

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s