110511 Kemenhub Siapkan Opsi Grounded MA-60

JAKARTA—Kementrian Perhubungan (Kemenhub) menyiapkan opsi untuk melarang dioperasionalkannya (grounded) pesawat MA-60 buatan  Xian Aircraft Corporation jika dari pemeriksaan khusus (special audit) ditemukan tiga  kesalahan baik oleh operator atau pabrikan.

“Opsi grounded itu tidak tertutup untuk MA-60. Tetapi kita harus profesional. Tunggu hasil special audit yang akan melihat tiga hal. Jika tiga hal itu terpenuhi baru kita grounded,” ungkap Dirjen Perhubungan Udara Herry Bakti S Gumay di Jakarta, Selasa (10/5).

Dijelaskannya, tiga hal yang akan diaudit secara khusus terhadap pesawat yang dioperasikan oleh Merpati Nusantara Airlines (MNA) itu adalah audit kecelakaan untuk melihat kondisi perawatan pesawat, audit terhadap manajemen melakukan standar keselamatan sesuai Air Operation Certificate (AOC), dan laporan kerusakan yang terjadi selama ini (Defact report).

Menurutnya, langkah meng-grounded langsung itu biasanya hanya untuk kesalahan design atau terjadi kerusakan pada perangkat. Hal ini dilakukan  kala terdapat  crack pada rudder MA-60 beberapa waktu lalu.

“Untuk kasus crack, kita suruh grounded dulu. Kalau untuk kasus terbaru, tidak bisa terburu-buru. Soalnya pesawat ini laik dan layak terbang. Kita tunggu dulu hasil special audit. surat untuk melakukan  special audit sudah dikirimkan kepada manajemen MNA Senin (9/5) dan  inspektorat Ditjen Hubud tengah melakukan pemeriksaan,” jelasnya.

Ditegaskannya, pesawat tipe MA-60 sebenarnya tergolong handal untuk penerbangan di rute Papua walau tidak semua area di kawasan itu bisa dimasukinya karena badannya yang agak besar. “Jika berbicara ingin masuk semua rute di Papua, jenis Twin Otter memang lebih cocok karena bisa masuk di kota kecil dan besar. Tetapi kalau mau melayani kota Kaimana, MA-60 itu sanggup,” jelasnya.

Diungkapkannya, sebenarnya walau pesawat itu berbau produk China tidak semua komponennya hasil pabrikan dari negeri Tirai Bambu itu. Misalnya, mesin berasal dari Kanada, Pratt & Whitney. Mesin ini setara dengan yang digunakan oleh pesawat tipe ATR 42. Propeller buatan Hazell, begitu juga dengan perangkat avionic lainnya. “Pabrikan China itu hanya membuat rangka,” ungkapnya.

Selanjutnya dikatakan, untuk setiap pesawat baru yang datang dari pabrikan tersebut selalu dilakukan pemeriksaan oleh Kemenhub agar mendapatkan Surat Tanda Kelaikan Udara dengan mengacu pada Type Sertification  yang dikeluarkan pada 2005 lalu.

Direktur Utama Merpati Nusantara Airlines Sardjono Johnny Tjitrokusumo mempersilahkan, otoritas penerbangan sipil untuk melakukan audit terhadap perseroan dan armada yang dimilikinya. “Audit itu bukan hal yang diharamkan dan ditakuti. Kami sudah menjalani audit lima bulan lalu untuk kenaikan kelas keselamatan. Sebelumnya posisi kami 1 minus, naik 11 poin menjadi 189 poin,” katanya.

FDR Ke China
Secara terpisah, Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Tatang Kurniadi mengungkapkan,  dua kotak hitam pesawat MA-60, Flight Data Recorder (FRD) dan Cockpit Voice Recorder (CVR), milik Merpati Nusantara Airlines yang terjatuh di Perairan Kaimana, Papua Barat, Sabtu lalu, telah ditemukan dan sampai di Jakarta.  (KNKT) akan segera membawa blackbox pesawat ke China, pada Rabu (11/5) besok.

Dikatakannya, blackbox  akan dikirim dengan blackbox pesawat jenis sama yang pernah tergelicir di runway Bandara El Tari, Kupang, NTT, pada 19 Februari 2011. “Kami akan menyertakan investigator KNKT pada saat membawa blackbox ke sana,” ujarnya.

Ditegaskannya, pada saat di China  blackbox akan tetap dibuka oleh KNKT. Sementara di sana, komite hanya meminjam perangkat lunak untuk membaca blackbox FDR tersebut. “Jangan khawatir. Ini (blackbox) bukan punya China, tetapi punya republik Indonesia,” kata dia.

Dijelasknnya,  FDR tidak dapat dibuka di Indonesia karena sampai saat ini perangkat lunaknya hanya tersedia di Cina. “ Tidak  bisa dibuka karena tulisannya bahasa  China semua.  Sementara untuk blackbox CVR,  dapat dibaca di Indonesia karena KNKT telah memiliki perangkat lunak untuk itu,” katanya.

Investigator kecelakaan pesawat MA-60 ini, Kapten Chaerudin mengatakan,  saat ini KNKT baru memiliki laporan awal mengenai kejadian itu. Direncanakan dalam waktu 10 bulan, draf hasil dari pembacaan FDR dan CVR dapat diberikan ke seluruh pemangku kepentingan kejadian ini
seperti operator dan pabrik pesawat.

Selanjutnya, dalam waktu dua bulan, draf tersebut akan kembali ke KNKT dalam bentuk hasil koreksi yang diberikan dari setiap stakeholder. Sehingga jika ada kekeliruan dalam draf, dapat segera dikomentari. “Penyebab kecelakaan pun dapat diketahui secara sempurna,” kata dia.

Untuk diketahui,  sebelum kejadian nahas di Papua  Merpati mengoperasikan 13 pesawat MA-60, dan akan kedatangan dua armada lagi pada 19 dan 20 Mei nanti.  Total di dunia populasi dari pesawat ini sebanyak 189 unit. China mengoperasikan sebanyak 130 unit. Negara lainnya,  Republik Kongo , Myanmar, Tajikistan, Zambia, Sri Lanka, Zimbabwe, Laos, Ghana, Ekuador, dan Bolivia.

Pesawat jenis MA-60 yang jatuh di Kaimana beberapa waktu lalu  baru menjalani jam terbang 615 jan dan melakukan rotasi penerbangan 764 kali. Jadi pesawat tersebut belum pernah menjalani perawatan berkala skala besar. Kecuali perawatan harian dan pemantauan 100 jam.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s