110511 Juni, Kemenhub Evaluasi Harga Avtur

JAKARTA—Kementrian Perhubungan (Kemenhub) akan mengevaluasi harga avtur yang berlaku di industri penerbangan pada Juni nanti agar beban operasional maskapai tidak terbebani oleh biaya membeli bahan bakar.

“Sesuai aturan,  evaluasi dilakukan jika kenaikan harga avtur terjadi dalam kurun waktu tiga bulan berturut-turut. Pada Juni nanti akan dievaluasi secara menyeluruh terkait kenaikan harga avtur itu,” ungkap Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bakti S Gumay di Jakarta, Selasa (10/5).

Ditegaskannya, pemerintah tidak akan mengizinkan maskapai mengenakan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) untuk rute penerbangan domestik. Hal ini karena sejak diberlakukannya Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 26 Tahun 2010 tentang Tarif Batas Atas Penerbangan Berjadwal Ekonomi Dalam Negeri, pemerintah tidak mengizinkan dikenakannya fuel surcharge, karena perhitungan fuel surcharge sudah digabung menjadi satu dalam struktur tarif baru tersebut.

Sesuai Pasal 7 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, maskapai baru diizinkan mengenakan biaya fuel surcharge jika harga avtur sudah melebihi 10 ribu rupiah  per liter. Kondisi itu menambah biaya operasi maskapai penerbangan sebesar 20 persen selama tiga bulan berturut-turut.

“Di beberapa bandara di Indonesia bagian timur serta bandara-bandara kecil yang jauh dari kilang, harga avtur Pertamina memang sudah di atas 10 ribu rupiah per liter. Namun di bandara-bandara utama yang banyak melayani penerbangan, harganya belum melewati 10 ribu rupiah  per liter,” kata Herry

Direktur Keuangan  Garuda Indonesia  Elisa Lumbantoruan mengakui  pendapatan Garuda mulai tergerus biaya avtur sejak 2010 ketika pemerintah melarang pemberlakuan fuel surcharge. Pada 2010 Garuda membelanjakan  6,32 triliun rupiah  untuk avtur, naik 26,9 persen  dibanding 2009 sebesar  4,98 triliun rupiah.

Dijelaskannya, biaya avtur memberi kontribusi 63,38 persen  dari total beban operasional penerbangan. Hal ini menjadikan,  meskipun pendapatan Garuda pada 2010 naik menjadi 15,92 triliun rupiah  dibanding 2009 yang sebesar  13,69 triliun rupiah, laba bersih justru turun menjadi  515,52 miliar rupiah  dibanding 2009 yang sebesar  1,01 triliun rupiah.

“Pada 2008 dan 2009, biaya tambahan fuel surcharge yang kami kenakan kepada penumpang masih bisa menyumbang sekitar 20 persen  dari total biaya avtur yang dikeluarkan,” jelas  Elisa.

Dalam situs resmi Pertamina Aviasi menunjukkan kenaikan harga avtur per liter pada awal kuartal I 2011 dimulai pada periode penjualan 1-14 April, yaitu menjadi  9.075 dari  9.009 rupiah  untuk penerbangan domestik dan  95,5 sen dari  94,4 sen dollar AS untuk penerbangan internasional.

Harga tersebut naik pada periode penjualan 15-30 April menjadi  9.207 rupiah  untuk penerbangan domestik dan  97,8 sen dollar AS untuk penerbangan internasional. Selanjutnya Pertamina kembali menaikkan harga jual avtur untuk penerbangan domestik menjadi  9.328 rupiah  dan  99,6 sen dollar AS untuk penerbangan internasional.

Pertamina masih menjual avtur dengan harga di bawah  10 ribu rupiah  antara lain di Bandara Ngurah Rai Denpasar seharga 9.713 rupiah per liter, Juanda Surabaya  9.680 rupiah per liter, Polonia Medan  9.922 rupiah per liter, Adi Sutjipto Yogyakarta  9.856 rupiah per liter, dan Adi Sumarmo Solo  9.856 rupiah per liter.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s