110511 Kecelakaan Lalin Sebabkan Kerugian Rp 220 Triliun

JAKARTA–Kecelakaan Lalu Lintas (Lalin) yang terjadi sepanjang tahun lalu diperkirakan merugikan negara sekitar 205 triliun-220 triliun rupiah  atau 2,9-3,1 persen  dari total produk domestik brutto  tahun 2010.

Dari hasil analisis data kecelakaan tahun 2010 oleh Direktorat Keselamatan Transportasi Darat, Ditjen Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan menyebutkan sebanyak 67 persen  korban kecelakaan berada pada usia produktif yakni 22-50 tahun.

Direktur Keselamatan Transportasi Darat Hotma Simanjuntak mengatakan dengan perhitungan loss productivity dari korban dan kerugian material akibat kecelakan tersebut, kerugian negara yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas diperkirakan mencapai 2,9-3,1 persen  dari total PDB Indonesia pada 2010 atau setara dengan 202 triliun-220 triliun rupiah  dengan total PDB mencapai 7.000 triliun rupiah.

“Melihat angka yang besar itu tentu menimbulkan keprihatinan, maka pada 11 Mei 2011, Perserikatan Bangsa-Bangsa akan meluncurkan program Decade of Action for Road Safety (decade aksi keselamatan jalan) sebagai tindak lanjut dari ditetapkannya Resolusi PBB Np.64/255 tanggal 2 Maret 2010,” katanya.

Dijelaskannya,  resolusi ini merupakan kelanjutan dari langkah-langkah yang telah dilakukan PBB sejak beberapa tahun serta rekomendasi dari Ministerial Meeting yang diselenggarakan pada November 2009 di Moscow, yang juga dihadiri wakil dari Indonesia.

“Masing-masing negara anggota PBB mempunyai kewajiban mengambil langkah penurunan korban kecelakaan sebagai bagian dari United Nation Decade of Action for Road Safety,” katanya.

Sedangkan bentuk nyata komitmen pemerintah Indonesia adalah penyusunan rencana umum nasional keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan (RUNK LLAJ) yang disusun bersama beberapa institusi yakni Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Perhubungan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Negara Riset dan Teknologi dan Kepolisian Negara RI. “Sebagai koordinatornya adalah Bappenas,” tutur Hotma.

Menurut data Polri, pada 2010, jumlah kematian akibat kecelakaan telah mencapai 31.186 jiwa. Rata-rata 84 orang meninggal setiap harinya atau 3-4 orang meninggal setiap jammnya di Indonesia. Kecelakaan lalu lintas adalah penyebab kematian terbesar ketiga setelah HIV/AIDS dan TBC.

Di seluruh dunia, lebih dari 1,3 juta orang menjadi korban meninggal dunia setiap tahunnya. Angka ini akan terus bertambah jika tidak dilakukan apapun, jumlahnya diperkirakan naik menjadi 1,9 juta pada 2020.

“Kecelakaan lalu lintas memakan korban lebih besar dari Malaria, 50 juta korban luka-luka menjadi cacat, dan 90 persen dari total korban didapati di negara-negara berkembang,” jelasnya.

Dijelaskannya,  untuk program dekade aksi keselamatan jalan RI ini belum ada dana khusus yang dianggarkan. Namun direktorat keselamatan yang dibawah naungannya selama ini menggunakan dana dari APBN dimana untuk 2011 mendapat Rp40 miliar atau naik 10 persen  dari tahun lalu.[Dni]

110511 Juni, Kemenhub Evaluasi Harga Avtur

JAKARTA—Kementrian Perhubungan (Kemenhub) akan mengevaluasi harga avtur yang berlaku di industri penerbangan pada Juni nanti agar beban operasional maskapai tidak terbebani oleh biaya membeli bahan bakar.

“Sesuai aturan,  evaluasi dilakukan jika kenaikan harga avtur terjadi dalam kurun waktu tiga bulan berturut-turut. Pada Juni nanti akan dievaluasi secara menyeluruh terkait kenaikan harga avtur itu,” ungkap Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bakti S Gumay di Jakarta, Selasa (10/5).

Ditegaskannya, pemerintah tidak akan mengizinkan maskapai mengenakan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) untuk rute penerbangan domestik. Hal ini karena sejak diberlakukannya Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 26 Tahun 2010 tentang Tarif Batas Atas Penerbangan Berjadwal Ekonomi Dalam Negeri, pemerintah tidak mengizinkan dikenakannya fuel surcharge, karena perhitungan fuel surcharge sudah digabung menjadi satu dalam struktur tarif baru tersebut.

Sesuai Pasal 7 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, maskapai baru diizinkan mengenakan biaya fuel surcharge jika harga avtur sudah melebihi 10 ribu rupiah  per liter. Kondisi itu menambah biaya operasi maskapai penerbangan sebesar 20 persen selama tiga bulan berturut-turut.

“Di beberapa bandara di Indonesia bagian timur serta bandara-bandara kecil yang jauh dari kilang, harga avtur Pertamina memang sudah di atas 10 ribu rupiah per liter. Namun di bandara-bandara utama yang banyak melayani penerbangan, harganya belum melewati 10 ribu rupiah  per liter,” kata Herry

Direktur Keuangan  Garuda Indonesia  Elisa Lumbantoruan mengakui  pendapatan Garuda mulai tergerus biaya avtur sejak 2010 ketika pemerintah melarang pemberlakuan fuel surcharge. Pada 2010 Garuda membelanjakan  6,32 triliun rupiah  untuk avtur, naik 26,9 persen  dibanding 2009 sebesar  4,98 triliun rupiah.

Dijelaskannya, biaya avtur memberi kontribusi 63,38 persen  dari total beban operasional penerbangan. Hal ini menjadikan,  meskipun pendapatan Garuda pada 2010 naik menjadi 15,92 triliun rupiah  dibanding 2009 yang sebesar  13,69 triliun rupiah, laba bersih justru turun menjadi  515,52 miliar rupiah  dibanding 2009 yang sebesar  1,01 triliun rupiah.

“Pada 2008 dan 2009, biaya tambahan fuel surcharge yang kami kenakan kepada penumpang masih bisa menyumbang sekitar 20 persen  dari total biaya avtur yang dikeluarkan,” jelas  Elisa.

Dalam situs resmi Pertamina Aviasi menunjukkan kenaikan harga avtur per liter pada awal kuartal I 2011 dimulai pada periode penjualan 1-14 April, yaitu menjadi  9.075 dari  9.009 rupiah  untuk penerbangan domestik dan  95,5 sen dari  94,4 sen dollar AS untuk penerbangan internasional.

Harga tersebut naik pada periode penjualan 15-30 April menjadi  9.207 rupiah  untuk penerbangan domestik dan  97,8 sen dollar AS untuk penerbangan internasional. Selanjutnya Pertamina kembali menaikkan harga jual avtur untuk penerbangan domestik menjadi  9.328 rupiah  dan  99,6 sen dollar AS untuk penerbangan internasional.

Pertamina masih menjual avtur dengan harga di bawah  10 ribu rupiah  antara lain di Bandara Ngurah Rai Denpasar seharga 9.713 rupiah per liter, Juanda Surabaya  9.680 rupiah per liter, Polonia Medan  9.922 rupiah per liter, Adi Sutjipto Yogyakarta  9.856 rupiah per liter, dan Adi Sumarmo Solo  9.856 rupiah per liter.[dni]

110511 Kemenhub Siapkan Opsi Grounded MA-60

JAKARTA—Kementrian Perhubungan (Kemenhub) menyiapkan opsi untuk melarang dioperasionalkannya (grounded) pesawat MA-60 buatan  Xian Aircraft Corporation jika dari pemeriksaan khusus (special audit) ditemukan tiga  kesalahan baik oleh operator atau pabrikan.

“Opsi grounded itu tidak tertutup untuk MA-60. Tetapi kita harus profesional. Tunggu hasil special audit yang akan melihat tiga hal. Jika tiga hal itu terpenuhi baru kita grounded,” ungkap Dirjen Perhubungan Udara Herry Bakti S Gumay di Jakarta, Selasa (10/5).

Dijelaskannya, tiga hal yang akan diaudit secara khusus terhadap pesawat yang dioperasikan oleh Merpati Nusantara Airlines (MNA) itu adalah audit kecelakaan untuk melihat kondisi perawatan pesawat, audit terhadap manajemen melakukan standar keselamatan sesuai Air Operation Certificate (AOC), dan laporan kerusakan yang terjadi selama ini (Defact report).

Menurutnya, langkah meng-grounded langsung itu biasanya hanya untuk kesalahan design atau terjadi kerusakan pada perangkat. Hal ini dilakukan  kala terdapat  crack pada rudder MA-60 beberapa waktu lalu.

“Untuk kasus crack, kita suruh grounded dulu. Kalau untuk kasus terbaru, tidak bisa terburu-buru. Soalnya pesawat ini laik dan layak terbang. Kita tunggu dulu hasil special audit. surat untuk melakukan  special audit sudah dikirimkan kepada manajemen MNA Senin (9/5) dan  inspektorat Ditjen Hubud tengah melakukan pemeriksaan,” jelasnya.

Ditegaskannya, pesawat tipe MA-60 sebenarnya tergolong handal untuk penerbangan di rute Papua walau tidak semua area di kawasan itu bisa dimasukinya karena badannya yang agak besar. “Jika berbicara ingin masuk semua rute di Papua, jenis Twin Otter memang lebih cocok karena bisa masuk di kota kecil dan besar. Tetapi kalau mau melayani kota Kaimana, MA-60 itu sanggup,” jelasnya.

Diungkapkannya, sebenarnya walau pesawat itu berbau produk China tidak semua komponennya hasil pabrikan dari negeri Tirai Bambu itu. Misalnya, mesin berasal dari Kanada, Pratt & Whitney. Mesin ini setara dengan yang digunakan oleh pesawat tipe ATR 42. Propeller buatan Hazell, begitu juga dengan perangkat avionic lainnya. “Pabrikan China itu hanya membuat rangka,” ungkapnya.

Selanjutnya dikatakan, untuk setiap pesawat baru yang datang dari pabrikan tersebut selalu dilakukan pemeriksaan oleh Kemenhub agar mendapatkan Surat Tanda Kelaikan Udara dengan mengacu pada Type Sertification  yang dikeluarkan pada 2005 lalu.

Direktur Utama Merpati Nusantara Airlines Sardjono Johnny Tjitrokusumo mempersilahkan, otoritas penerbangan sipil untuk melakukan audit terhadap perseroan dan armada yang dimilikinya. “Audit itu bukan hal yang diharamkan dan ditakuti. Kami sudah menjalani audit lima bulan lalu untuk kenaikan kelas keselamatan. Sebelumnya posisi kami 1 minus, naik 11 poin menjadi 189 poin,” katanya.

FDR Ke China
Secara terpisah, Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Tatang Kurniadi mengungkapkan,  dua kotak hitam pesawat MA-60, Flight Data Recorder (FRD) dan Cockpit Voice Recorder (CVR), milik Merpati Nusantara Airlines yang terjatuh di Perairan Kaimana, Papua Barat, Sabtu lalu, telah ditemukan dan sampai di Jakarta.  (KNKT) akan segera membawa blackbox pesawat ke China, pada Rabu (11/5) besok.

Dikatakannya, blackbox  akan dikirim dengan blackbox pesawat jenis sama yang pernah tergelicir di runway Bandara El Tari, Kupang, NTT, pada 19 Februari 2011. “Kami akan menyertakan investigator KNKT pada saat membawa blackbox ke sana,” ujarnya.

Ditegaskannya, pada saat di China  blackbox akan tetap dibuka oleh KNKT. Sementara di sana, komite hanya meminjam perangkat lunak untuk membaca blackbox FDR tersebut. “Jangan khawatir. Ini (blackbox) bukan punya China, tetapi punya republik Indonesia,” kata dia.

Dijelasknnya,  FDR tidak dapat dibuka di Indonesia karena sampai saat ini perangkat lunaknya hanya tersedia di Cina. “ Tidak  bisa dibuka karena tulisannya bahasa  China semua.  Sementara untuk blackbox CVR,  dapat dibaca di Indonesia karena KNKT telah memiliki perangkat lunak untuk itu,” katanya.

Investigator kecelakaan pesawat MA-60 ini, Kapten Chaerudin mengatakan,  saat ini KNKT baru memiliki laporan awal mengenai kejadian itu. Direncanakan dalam waktu 10 bulan, draf hasil dari pembacaan FDR dan CVR dapat diberikan ke seluruh pemangku kepentingan kejadian ini
seperti operator dan pabrik pesawat.

Selanjutnya, dalam waktu dua bulan, draf tersebut akan kembali ke KNKT dalam bentuk hasil koreksi yang diberikan dari setiap stakeholder. Sehingga jika ada kekeliruan dalam draf, dapat segera dikomentari. “Penyebab kecelakaan pun dapat diketahui secara sempurna,” kata dia.

Untuk diketahui,  sebelum kejadian nahas di Papua  Merpati mengoperasikan 13 pesawat MA-60, dan akan kedatangan dua armada lagi pada 19 dan 20 Mei nanti.  Total di dunia populasi dari pesawat ini sebanyak 189 unit. China mengoperasikan sebanyak 130 unit. Negara lainnya,  Republik Kongo , Myanmar, Tajikistan, Zambia, Sri Lanka, Zimbabwe, Laos, Ghana, Ekuador, dan Bolivia.

Pesawat jenis MA-60 yang jatuh di Kaimana beberapa waktu lalu  baru menjalani jam terbang 615 jan dan melakukan rotasi penerbangan 764 kali. Jadi pesawat tersebut belum pernah menjalani perawatan berkala skala besar. Kecuali perawatan harian dan pemantauan 100 jam.[dni]