100511 Teknologi LightRadio Belum Teruji

JAKARTA—Teknolgi LightRadio yang memungkinkan arsitektur jaringan seluler menjadi sederhana dalam bentuk cube dianggap belum teruji karena komersialisasi secara massal belum terjadi.

“Teknologi yang menyederhanakan arsitektur jaringan dengan tidak eksis lagi menara-menara seluler itu baru diperkenalkan di Barcelona tahun ini. Secara teknologi banyak yang harus dilalui agar bisa diterima oleh pasar,” ungkap Direktur Jaringan XL Axiata Dian Siswarini di Jakarta, Senin (9/5).

Dijelaskannya, secara konsep inovasi lightRadio sebenarnya hampir sama dengan perangkat Radio Base Station (RBS). “Tetapi dalam teknologi terbaru ini RBS itu dibuat dalam unit-unit kecil secara fisik dan logical yang scalable karena bisa digabung-gabung,” jelasnya.

Diungkapkannya, konsep ini sekarang tidak hanya dimonopoli oleh satu penyedia perangkat karena tren ke depan memang pada alat yang semakin ringkas dan sederhana. “Namun yang menjadi masalah karena belum komersial, tentu skala ekonomis belum besar sehingga harga jualnya menjadi mahal. Operator tidak akan mau membeli perangkat yang belum terbukti daya tahannya dan mahal,” tegasnya.

Dikatakannya, untuk kondisi di Indonesia inovasi ini harus mampu beradaptasi dengan lingkungan yang suka berubah-ubah, ramah lingkungan, hemat konsumsi listrik, dan bisa terintegrasi dengan sistem yang ada.

Teknologi lightRadio digadang-gadang oleh Alcatel-Lucent (ALU) pada awal tahun lalu  yang diklaim mampu  merampingkan dan menyederhanakan jaringan seluler secara radikal. Sistem ini diklaim akan  menurunkan kompleksitas teknis, konsumsi daya dan biaya operasional lainnya secara dramatis dalam menghadapi peningkatan trafik yang tajam.

Berkat teknologi ini  base station, yang biasanya ditempatkan di dasar menara seluler, dipecah menjadi elemen-elemen komponen dan didistribusikan ke antena dan ke seluruh jaringan yang menyerupai ‘cloud’.

ALU mengklaim manfaat besar  dari lightRadio  adalah mengurangi jejak karbon jaringan-jaringan seluler hingga lebih dari 50 persen. Menurunkan Total Cost of Ownership (TCO) operator selular hingga 50 persen, dan perbaikan layanan bagi pengguna akhir dengan meningkatkan bandwith per pengguna per pengguna secara significant,  berkat digunakannya antena-antena kecil dimana-mana.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s