100511 Merpati Tetap Akan Operasikan MA-60

JAKARTA—PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) tetap akan mengoperasikan pesawat buatan Xian Aircraft Corporation, MA-60, meskipun banyak pihak meragukan kemampuan armada tersebut.

“Kami tetap akan mengoperasikan pesawat ini walau banyak pihak meragukan. Bagi kami pesawat ini cocok dengan bisnis yang dijalankan dan memenuhi persyaratan keselamatan penerbangan yang ada di Indonesia,” tegas Direktur Utama Merpati Nusantara Airlines Sardjono Johnny Tjitrokusumo di Jakarta, Senin (9/5).

Ditegaskannya, maskapai tetap akan mengoperasikan 13 pesawat yang ada dan sedang menunggu dua pesawat lagi yang akan datang pada 19 dan 20 Mei nanti. “Pesawat ini memiliki sertifikat kelaikan terbang dari otoritas penerbangan sipil China dan Indonesia. Bagi kami itu sudah cukup, tidak perlu ada sertifikat dari Federal Aviation Administration (FAA). Ini urusan bisnis antar dua negara,” tukasnya.

Pesawat jenis MA-60  disinyalir  tidak mengantongi sertifikat  FAA yang menjadi  otoritas penerbangan sipil Amerika Serikat.

Diungkapkannya, tidak ada paksaan bagi perseroan untuk membeli MA-60 yang seharga 11,2 juta dollar AS per unitnya dengan mesin Pratt & Whitney itu. “Semua ini murni pertimbangan bisnis karena ada Subsdiary Loan Agreement (SLA) dari pemerintah dengan pembelian dalam mata uang rupiah dan bunganya lumayan rendah sekitar 3 persen. Pesawat ini tangguh dan aman. Saya ikut test flight yang melalui perjalanan panjang dan semuanya aman,” jelasnya.

Johnny pun mempersilahkan, otoritas penerbangan sipil untuk melakukan audit terhadap perseroan dan armada yang dimilikinya. “Audit itu bukan hal yang diharamkan dan ditakuti. Kami sudah menjalani audit lima bulan lalu untuk kenaikan kelas keselamatan. Sebelumnya posisi kami 1 minus, naik 11 poin menjadi 189 poin,” katanya.

Diharapakannya, pemerintah masih setia membantu Merpati walau tengah dihadapi kesulitan dengan memberikan kebijakan yang bisa menyelesaikan semuanya. Hal ini karena kehilangan satu unit pesawat MA-60 telah membuat Merpati mengalami kerugian sekitar 15 juta dollar AS

“Merpati butuh satu kebijakan sapu jagad seperti penyertaan modal negara bisa itu debt to equity swap karena hutang Merpati itu paling banyak ke negara. Selain itu kita juga butuh working capital yang lumayan besar.  Hingga saat ini bantuan dari pemerintah belum cair untuk operasional,” jelasnya.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Herry Bakti S. Gumay mengungkapkan, pemerintah belum berniat  melarang terbang pesawat MA-60  meski pesawat buatan pabrikan China itu jatuh dan tenggelam di Perairan Kaimana, Papua Barat. Keputusan mengenai grounded (larangan terbang) pesawat jenis MA-60 milik Merpati ini masih harus menunggu hasil investigasi Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). “Pesawat jenis MA-60 belum bisa di grounded, karena perlu hasil investigasi dulu,” jelasnya.

Dia menambahkan saat ini masih menunggu hasil investigasi yang akan diperoleh dari kotak hitam (black box) Flight Data Recorder (FDR) Merpati yang tenggelam. “Kenapa mesti buru-buru memutuskan untuk melakukan grounded, hasil investigasi saja belum,” tutur Herry.

Meski belum perlu mengandangkan pesawat MA-60, Herry mengatakan akan mengaudit dan mengevaluasi Merpati, termasuk pesawat, operasional, manajemen dan sumber daya manusia. “Selama evaluasi tidak perlu digrounded,” kata Herry.

Berkaitan dengan sertifikasi yang dikantongi oleh MA-60, Herry menjelaskan, tidak perlu mengantongi sertifikat dari FAA karena pesawat ini tidak terbangi AS. Pesawat ini cukup hanya mengantongi sertifikat layak terbang dari pemerintah China dan otoritas negara pengguna seperti Indonesia.

“Sertifikat tak perlu dari FAA, kan tidak terbang di AS, FAA itulan otoritas penerbangan AS. Jadi untuk MA-60 cukup sertifikasi dari otoritas China dan Indonesia sebagai pengguna, juga negara-negara lain seperti Filipina dan Kamboja,” kata Herry.

Juru bicara Kementrian Perhubungan Bambang S Ervan menambahkan, setiap pengoperasian pesawat MA-60  akan  dilakukan pengecekan atau ramp check terhadap setiap pesawat. “Untuk  kedua langkah tersebut  Ditjen Hubud sudah kirim surat ke PT Merpati,” katanya.

Sebelumnya, Anggota Komisi V DPR Nusyirwan Soejono mengatakan pesawat jenis MA-60 ini harus mengantongi sertifikasi internasional. Prosesnya dapat dilakukan secara bertahap dan selama proses, pesawat dikandangkan dahulu atau tidak boleh terbang.

“Semua pesawat jenis MA-60 harus disertifikasi internasional, prosesnya bisa dilakukan secara bertahap. Nah selama proses itu, pesawat yang belum kantongi izin harus di grounded dulu,” tutur Nusyirwan.

Dia menambahkan meski demikian grounded pesawat MA-60 jangan sampai mengganggu pelayanan Merpati sebagai maskapai perintis untuk Indonesia bagian Timur.

“Kalau semua pesawat MA-60 digrounded bersamaan, bisa menganggu pelayanan. Pesawat ini banyak digunakan untuk jalur-jalur perintis yakni bagian timur Indonesia dan sebagian ke wilayah lain di Indonesia,” kata Nusyirwan.

Menurut dia, sertifikasi internasional untuk pesawat MA-60 ini wajib untuk keselamatan dan urusan asuransi.

Anggota Komisi V DPR RI KH Abdul Hakim meminta harus ada langkah berani yakni meng-grounded dulu semua pesawat jenis MA-60  yang dimiliki Merpati. “Lakukan secepatnya audit kelayakan teknis untuk seluruh jenis pesawat tersebut. Selama proses ini berjalan, tidak boleh pesawat jenis itu mengudara dulu. Bahkan kalau perlu pembelian sisa armada ditunda,” katanya.

Secara terpisah, Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Tatang Kurniadi  menyatakan bagian black box atau kotak hitam pesawat MA-60 milik Merpati Nusantara Airlines, Flight Data Recorder (FDR), akan dikirim ke China, tempat pesawat tersebut dibuat.

“FDR dari pesawat tersebut akan dikirim bersama dengan FDR MA-60 lainnya yang pada 19 Februari lalu pernah tergelincir keluar dari runway (landasan) di Bandar Udara El Tari, Kupang, Nusa Tenggara Timur. Tadinya kalau tidak ada kejadian itu, black box akan dikirim pada 11 Mei 2011. Namun, karena ada kecelakaan dengan pesawat yang sama, pengiriman pun ditunda,” kata Tatang.

Dia menjelaskan FDR tidak dapat dibuka dan dianalisis oleh KNKT karena tidak memiliki perangkat lunaknya. “Software yang kami miliki buatan Amerika. Sedangkan FDR itu buatan China,” ujarnya.

Saat ini, menurut dia, otoritas China tengah menunggu jawaban dari Indonesia untuk pengiriman black box FDR ke sana. Mengenai kondisi black box FDR pesawat MA-60 itu, Tatang sendiri belum melihatnya sampai saat ini. Black box masih berada di Papua Barat. Namun yang jelas, saat dikirim ke China, black box FDR harus terendam air. “Itu prosedurnya,” kata dia.

Untuk kondisi bagian black box lain, Cockpit Voice Recorder (CVR) atau rekaman percakapan pilot di kokpit, menurut Tatang, sampai saat ini masih diupayakan untuk ditemukan di Perairan Kaimana, Papua Barat. Jika nanti telah ditemukan, CVR tidak perlu dikirim ke China

Pesawat MA-60  itu diproduksi pada tahun 2010 dengan serial number pesawat adalah 2807. Saat ini Merpati mengoperasikan 13 pesawat sejenis dan sudah memesan dua unit lagi. Selain Indonesia dan Filipina, pesawat itu digunakan di berbagai negara dunia ketiga seperti Republik Demokratik Kongo, Republik Kongo, Myanmar, Tajikistan, Zambia, Sri Lanka, Zimbabwe, Laos, Ghana, Ekuador, dan Bolivia.

Pesawat naas itu  baru menjalani jam terbang 615 jan dan melakukan rotasi penerbangan 764 kali. Jadi pesawat tersebut belum pernah menjalani perawatan berkala skala besar. Kecuali perawatan harian dan pemantauan 100 jam.

Seperti diketahui,  pesawat MA-60 dengan registrasi PK-MZK dan nomor  penerbangan MZ 8968 milik Merpati Nusantara Airlines berangkat dari Bandara Domine Eduard Osok, Sorong pukul 12.45 WITimur.  Diperkirakan pesawat akan mendarat di Bandara Utarom di Kaimana pukul 13.55 WIT.
Pesawat berkapasitas 56 penumpang tersebut hanya diisi 21 penumpang yang terdiri dari 18 penumpang dewasa, 1 anak dan 2 bayi. Jumlah kru pesawat 6 orang terdiri Pilot ( Capt. Purwadi Wahyu) dan Ko pilot , dua pramugari dan 2 teknisi.

Pesawat mengalami nasib naas kala ingin mendarat di Bandara Utarom.  Prosedur pendaratan di Bandara ini memang cukup unik. Di sebelah kiri landasan pacu terdapat gunung yang cukup tinggi. Pesawat dari Sorong harus naik ke atas melewati gunung tersebut dan melintasi landasan pacu. Kemudian pesawat harus belok ke kiri untuk menempatkan posisi pendaratan di runway 01.

Kontak terakhir pilot dengan menara ATC di bandara adalah pesawat sudah belok ke kiri dan siap untuk mendarat. Setelah itu langsung hilang komunikasi.  Pada saat itu cuaca di sekitar bandara hujan deras. Namun pesawat bisa mendarat karena sebelum pesawat milik Merpati ini akan mendarat, ada pesawat lain yang sudah mendarat.

Pesawat Merpati ini diperkirakan ditching (melakukan pendaratan  di air/ laut) dan pecah menjadi dua bagian begitu mendarat. Kecelakaan tersebut diperkirakan terjadi sekitar pukul 14.05 WIT di perairan Kaimana sekitar 500 meter dari ujung landasan.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s