100511 Jasa Operator: Tarif Roaming Internasional Mulai Diturunkan. Menghilangkan Penagihan yang Mengagetkan

PT XL Axiata Tbk  (XL) kembali mengguncang pasar dengan penawaran taruf internasional roamingnya belum lama ini. Anak usaha Axiata itu  menghadirkan tarif flat data roaming unlimited BlackBerry Internet Service (BIS) hanya  50 ribu rupiah per hari di Amerika Serikat (AS)  dan Australia.

Di negeri Paman Sam itu XL menggandeng mitra lokal, AT&T, sementara di  Australia dengan operator Telstra. Sebelumnya, XL juga menyediakan tarif flat 50 ribu rupiah per hari untuk roaming prabayar BlackBerry di 9 negara yakni Jepang (Softbank), Hongkong (SmartTone), Singapura (M1), Malaysia (Celcom), Kamboja (Hello), Bangladesh (Robi), Sri Lanka (Dialog), Macau (SmartTone), dan Taiwan (Chunghwa).

Langkah memberikan tarif flat roaming internasional  BlackBerry  juga dilakukan oleh Telkomsel di 38 negara dengan mitra sebanyak 54 operator. Per kuartal I 2011, dari jasa roaming internasional Telkomsel meraup omset sekitar 200,47 miliar rupiah sepanjang kuartal I 2011.

Namun, untuk urusan berani memberikan gratis beberapa hari di sejumlah negara, XL adalah juaranya. Tercatat, XL memberikan gratis  sembilan hari pertama roaming untuk pelanggan pasca bayar dan tiga hari pertama bagi prabayar di Jepang, Bangladesh, Srilanka, Taiwan, Macau, Hongkong, dan Philipina.

GM International Business and Domestic Wholesale XL Retno Wulan mengungkapkan, saat ini sudah ada 880 ribu pengguna BlackBerry di jaringannya dan  sebanyak 50 ribu penggunanya setiap bulannya aktif berjalan ke luar negeri sehingga perseroan ingin memberikan layanan yang lebih murah.

“Pelanggan yang suka berjalan ke luar negeri itu suka  kaget melihat tagihannya karena biaya roaming yang tinggi. Apalagi tren sekarang semua ponsel haus data. Kami ingin menghilangkan hal itu dengan memberikan layanan yang terjangkau,” ungkapnya di Jakarta, Senin (9/5).

Diungkapkannya, keberhasilan XL menawarkan tarif roaming data yang kompetitif karena mampu bernegosiasi dengan mitra di luar negeri secara baik.

“Komponen  produksi untuk roaming itu adalah  biaya dari roaming partner, network cost, signaling. Jika untuk jasa suara ditambah lagi  interkoneksi, biaya pemasaran, dan  margin. Nah, XL selain mendapatkan harga yang bagus dari mitra, juga berhasil mengefisienkan teknologi. Karena itu penawarannya komptitif. Bahkan harga roaming kami lebih murah ketimbang operator Malaysia yang mengenakan 100 ribu rupiah per hari kala pelangganya berpergian ke luar negeri,” jelasnya.

Deputi VP Sekretaris Perusahaan Telkomsel Aulia E Marinto mengungkapkan, untuk jasa data kala di luar negeri tidak setiap operator yang menjadi mitra secara transparan membuka pentarifan kala mengakses satu situs internet. Hal ini semakin diperparah dengan teknologi ponsel yang memungkinkan mengunduh data secara otomotis seperti BlackBerry menarik email dari server. “Solusinya memang harus tarif data secara flat dan terjangkau,” jelasnya.

Jasa Teleponi Sulit
Jika di jasa data operator terlihat berani  jor-joran membanting tarif, tidak demikian untuk teleponi dasar seperti suara atau SMS. Bahkan,  Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)  berencana mempelajari dan memonitor terkait tarif roaming baik internasional maupun nasional karena terdapat  indikasi operator merahasiakan tarif roaming yang sesungguhnya sehingga konsumen dirugikan.

Selain mempelajari, KPPU juga meminta informasi ke semua operator terkait dengan mekanisme dasar rasional tarif roaming, apakah bisa dinilai eksepsi atau tidak. Jika memang terjadi eksepsi dan merugikan persaingan serta konsumen secara massif, maka sebisa meminta untuk meninjau kembali mekanisme tarif roaming tersebut.

Menanggapi hal itu, Wulan menjelaskan, struktur biaya roaming  strukturnya sangat luas termasuk  harga dari partner. ”Sebenarnya untuk jasa teleponi dasar sudah dicarikan jalan keluar dengan membuat aliansi antar sesama grup Axiata dan ini bukan kartel karena harga yang diberikan lebih murah,” tegasnya.

Aulia  menambahkan, pentarifan roaming internasional erat kaitannya dengan  fluktuasi ekonomi satu negara dari sisi pariwisata, bisnis, nilai tukar mata uang, dan lainnya.  Jika .kondisi dua  negara yang saling berbatasan dan arus trafiknya jauh lebih tinggi dibanding negara tetangga,  akhirnya membuat pemerintah kedua negara duduk bersama membahas pentarifan mengingat efeknya ke sektor lain yang besar.

”Kita jangan buru-buru membuka pembahasan tarif internasional roaming yang flat untuk satu kawasan. Perlu persepsi yang sama dari pemerintah memanfaatkan semua sumber daya termasuk telekomunikasi  agar  posisi yang diuntungkan  Indonesia,” tegasnya.

VP Sales & Distribution Axis Syakieb A Sungkar mengungkapkan, tarif internasional roaming masih tinggi karena mitra di luar mematok harga yang tinggi. ”Kami hanya mendapatkan margin yang kecil. Untunglah Axis bagian dari Saudi Telecom sehingga untuk panggilan ke Timur Tengah harganya lebih kompetitif,” jelasnya.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengungkapkan, untuk kawasan ASEAN sedang dibahas penurunan tarif internasional roaming bagi anggotanya, setelah Malaysia dan Singapura mencapai kesepakatan menurunkan tarif internasional roaming sebesar 20 persen belum lama ini.

”Kemuungkinan akan ditiru pola yang terjadi di Uni Eropa dimana pemerintah menetapkan adanya penurunan tarif internasional roaming. Hal yang menjadi masalah untuk ASEAN adalah belum ada ”pemerintahnya” seperti Uni Eropa. Solusinya kemungkinan membuat mediator atau clearing house yang mengurus masalah tarif roaming ini,” jelasnya.

Diungkapkanya, masalah ini sudah didiskusikan selama tiga tahun belakangan dan masih stagnan karena beberapa masalah belum menemukan titik temu.  Misalnya, menentukan ukuran  mahal atau murah di satu negara.  Kalau mahal seberapa besar, dan bagaimana menurunkannya mengingat  ini menyangkut aspek bisnis, teknis dan pengaturan yang ada di satu negara.

Secara terpisah, Ketua Bidang Teknologi Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Taufik Hasan mengungkapkan, jika belajar dengan kasus di Uni Eropa dimana isu kartel sempat mewarnai penurunan tarif roaming internasional, maka pihak yang berhak mengatur  adalah lembaga semacam ”KPPU  multilateral”

”Indikasi kartel agak kental di penentuan roaming internasional karena melibatkan antar pelaku usaha. Idealnya ini dibawa ke tingkat pemerintah saja pembahasannya. Jangan diserahkan antar pelaku usaha lagi,” jelasnya.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s