050511 Geber Bisnis Musik Digital

Mulai stagnannya kontribusi jasa teleponi dasar membuat banyak operator  menoleh pada mainan baru yang bisa menopang pertumbuhan pendapatannya.

Salah satu yang dibidik adalah jasa musik digital beserta ekosistemnya yang memiliki nilai bisnis mencapai 6 triliun rupiah. Sayangnya, angka itu memasukkan penjualan secara illegal. Sedangkan yang legal hanya sekitar 1,2-1,3 triliun rupiah.

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah mengungkapkan, terdapat  beberapa industri yang akan migrasi menjadi digital yaitu musik, film, dan game. “Di musik ini Telkom menguasai 60-70 persen pangsa pasar penjualan dengan nilai sekitar 770 miliar rupiah,” ungkapnya di Jakarta, belum lama ini.

Diungkapkannya, perseroan sudah menggarap bisnis musik sejak tujuh tahun lalu ditandai dengan peluncuran produk Ring Back Tone (RBT) Telkomsel dengan merek Nada Sambung Pribadi yang mampu menampung 20 juta RBT. Berikutnya, Plasa.com, Speedytrek, Langit Musik, Flexi Musik, dan terakhir membangun perusahaan patungan yang bergerak di bidang Digital Content Exchange Hub (DCEH) dengan SK Telecom pada akhir tahun lalu yang menelan investasi sekitar 100 miliar rupiah.

Direktur IT & Supply Telkom Indra Utoyo  mengharapkan penjualan musik digital yang ditawarkan ke pasar oleh perseroan melalui berbagai platform dapat tumbuh 100 persen pada tahun ini atau mencapai angkat 1,5 triliun rupiah.

“Pada tahun lalu penjualan musik digital beserta ekosistemnya sekitar 770 miliar rupiah sehingga berhasil menyumbang sekitar 1,1 persen bagi total omset perseroan. Kami ingin kontribusi itu meningkat paralel dengan pertumbuhan penjualan yang diharapkan 100 persen,” jelasnya.

Indra menjelaskan, untuk  mencapai target yang ditetapkan, perseroan  memperkenalkan layanan Speedy Music Unlimited yang memungkinkan para pelanggan Speedy mengunduh berbagai konten musik digital secara legal.

Program ini memungkinkan  seluruh pelanggan Speedy  mendapatkan akses gratis untuk mendownload lagu Unlimited selama 1 bulan pertama dan selama 6 bulan berikutnya dengan membayar  4.900 rupiah  perbulan.

Langkah ini dilakukan untuk menggenjot pendapatan Melon yang sejak diluncurkan pada Januari lalu baru meraup omset 100 juta rupiah dengan pengguna aktif sekitar 6 ribu orang. Angka ini tentu miris jika dibandingkan dengan belanja modal  yang ditanamkan untuk mengembangkan Melon tahun ini mencapai 15 miliar rupiah.

“Kami mensinergikan penjualan lagu-lagu di Melon dengan Speedy. Hal ini karena kita sadar, di kondisi industri yang Freemium, konten musik tidak bisa dijual secara terpisah dengan produk telekomunikasi,” jelasnya.

Praktisi musik digital Gerd Leonhard mengakui, penerapan skema tarif flat atau unlimited dalam membeli lagu sebagai sesuatu yang tak bisa ditolak di era  musik yang bukan lagi sebagai produk tetapi layanan.

“Tidak masanya lagi menerapkan Digital Right Management (DRM) untuk melindungi hak cipta yang justru membuat pelanggan enggan membeli lagu legal. Orang membeli lagu ingin mendengarkan di semua perangkat, bukan dibatasi oleh DRM. Sekarang eranya sudah bergeser dari copyright menjadi usageright,” jelasnya.

Disarankannya, kunci untuk menawarkan tarif unlimited yang bisa mendongkrak pendapatan dari musik digital adalah membuat pelanggan merasa bebas untuk membeli sesuatu tanpa merasa mengeluarkan uang dalam jumlah banyak. “Membundel dengan layanan telekomunikasi itu sudah tepat karena ada nilai lain yang diterimanya selain membeli musik,” jelasnya.

Diingatkannya, kunci sukses dari penjualan musik digital adalah kerjasama yang erat antar semua ekosistem mulai dari operator, perusahaan rekaman, dan artis agar mendapatkan ekspose yang luas sehingga masyarakat ingin memiliki sebuah lagu.

Sedangkan CEO Melon Indonesia Abraham Jo menegaskan konsep DRM  menjadi andalan SK Telecom mengembangkan Melon di Korea Selatan dan terbukti berhasil. “Pasar musik digital di Korea Selatan dan Indonesia hampir mirip yakni merajalelanya pembajakan.  Kami tidak akan buru-buru mengubah konsep DRM karena Melon di Indonesia  dalam tahap pengembangan. Tetapi kita tidak menutup diri juga dengan adanya perubahan di pasar,” katanya.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s