040511 Komite Audit Telkom Dalami Isu Korupsi di Telkomsel

JAKARTA—Komite Audit PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) akan mengklarifikasi isu kasus korupsi yang terjadi di anak usahanya, Telkomsel, untuk menghindari fitnah yang merugikan perseroan secara grup.

”Informasi tentang isu korupsi itu belum masuk kepada Komite Audit. Tetapi akan diklarifikasi semuanya agar tidak merugikan perseroan serta negara,” ungkap Anggota Komite Audit Johnny Swandi Sjam kepada Koran Jakarta, Selasa (3/5).

Komite Audit Telkom beranggotakan Johnny Swandi Sjam, Bobby Nazif, Sahat Pardede, Salam, dan  Agus Yulianto, serta Ketua Rudiantara.

Ditegaskannya, Komite Audit tidak hanya akan terpaku pada asli atau tidaknya surat terbuka yang dibuat oleh whistle blower yang mengaku sebagai GM Special Audit PT Telkomsel HM Sukarni.  Namun, pada substansi masalah yang diinformasikan. ”Ini masukan bagus bagi komite audit. Karena itu kita ingin klarifikasi semuanya,” tegasnya.

Ketua Tim Komite Audit Telkom Rudiantara mengungkapkan,  Komite  sudah memanggil langsung HM Sukarni, untuk meminta klarifikasi. “Surkarni dimintai keterangan, dan mengatakan bahwa dirinya bukan orang yang membuat surat tersebut,” ujarnya.

Sebelumnya informasi negatif menerpa perusahaan telekomunikasi terbesar di tanah air Telkom dan anak perusahaannya yang bergerak pada layanan seluler Telkomsel.

Kasus ini berawal dari surat terbuka atas nama  GM Special Audit PT Telkomsel HM Sukarni yang ditujukan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Surat tersebut dicantumkan pada salah satu forum komunitas terbesar di tanah air. Sayangnya, link menuju ke surat itu sudah diblokir oleh pengelola forum pada Senin (2/5) malam.

Dalam surat itu, Sukarni menuturkan alasannya menyurati Presiden karena Tim Audit tidak menindaklanjuti permintaan dari whistle blower agar dilakukan evaluasi sejumlah kasus yang terjadi di dua perusahaan itu.

Ia membeberkan terjadi indikasi korupsi terjadi pada proyek renovasi gedung senilai 35 miliar rupiah, proyek swap BTS Telkomsel, serta pengadaan SIM Card RF untuk Telkomsel Cash (T-Cash).

Pada proyek renovasi gedung tersebut dimenangkan oleh salah satu perusahaan dimiliki oleh “Mr R” yang disebut-sebut merupakan penyokong dana agar direksi Telkom dan Telkomsel tetap bisa mempertahankan jabatannya.

Pada proyek renovasi gedung diduga  ada penyelewengan uang negara hingga sebesar 10 miliar rupiah. Sementara pada proyek pergantian  perangkat BTS Telkomsel disinyalir dilakukan hal yang aneh dimana BTS berkualitas tinggi diganti menjadi produk berkualitas rendah yang diotaki oleh dua direksi di perusahaan itu dan hasilnya digunakan untuk upeti kepada pejabat di Kementerian Negara BUMN dan Direksi Telkom. Downgrade perangkat BTS ini mengakibatkan performa layanan seluler Telkomsel menurun.

Adapun kecurangan lain yang dilakukan direksi adalah pengadaan SIM Card RF untuk layanan mobile wallet Telkomsel Cash (T-Cash). Biaya produksi 1 unit SIM card seharusnya kurang dari 1 dolar AS, namun harganya ditetapkan sampai 12 dolar AS per unit.

Untuk kasus terakhir ini dikabarkan nomor-nomor yang sudah diinjeksi tidak bisa digunakan karena platform untuk uang digital berbasis RFID itu belum ada. Akhirnya, kartu yang sudah dibeli nomor-nomornya terpaksa di-recycle.

Seluruh kasus ini disebut-sebut melibatkan direksi Telkom-Telkomsel dan mantan Komisaris Utama Telkom yang juga mantan Menteri BUMN.

Menanggapi hal ini, Komisaris Utama Telkomsel yang juga Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah berjanji akan mengklarifikasi isu tersebut. “Saya belum tahu kabar miring itu. Tetapi patut saya tegaskan, Telkom Grup adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang selalu transparan dalam pengadaan barang,” tegasnya.

Banyak kalangan beranggapan isu ini berkembang sebagai  bumbu menjelang Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Telkomsel yang sedianya dilaksanakan pada medio Mei ini. Telkom berencana memelarkan jumlah direksi Telkomsel dari lima menjadi 8 orang.

Berdasarkan catatan, susunan direksi Telkomsel sekarang adalah Direktur Utama Sarwoto Atmosutarno,    Direktur Keuangan Triwahyusari, Direktur Perencanaan & Pengembangan Herfini Haryono, Direktur Operasi Ng Kwon Kee dan Direktur Niaga Leong Shin Loong. Dua nama terakhir adalah perwakilan dari Singtel.

Pemekaran dilakukan  dengan menambah posisi direksi sumber daya manusia, penjualan, dan Teknologi Informasi.  Kabar beredar memberikan sinyal kuat Sarwoto, Herfini, dan Direktur Utama anak usaha lainnya, Metra, Alex Sinaga bersaing ketat dipromosikan menjabat orang nomor satu di perusahaan yang berkontribusi bagi 60 persen pendapatan Telkom grup itu.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s