030511 Telkom Targetkan Penjualan Musik Digital Tumbuh 100%

JAKARTA—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) mengharapkan penjualan music digital yang ditawarkan ke pasar melalui berbagai platform dapat tumbuh 100 persen pada tahun ini atau mencapai angkat 1,5 triliun rupiah.

“Pada tahun lalu penjualan musik digital beserta ekosistemnya sekitar 770 miliar rupiah sehingga berhasil menyumbang sekitar 1,1 persen bagi total omset perseroan. Kami ingin kontribusi itu meningkat paralel dengan pertumbuhan penjualan yang diharapkan 100 persen,” ungkap Direktur IT& Supply Telkom Indra Utoyo di Jakarta, Senin (2/5).

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah mengungkapkan, perseroan sudah menggarap bisnis music sejak tujuh tahun lalu ditandai dengan peluncuran produk Ring Back Tone (RBT) Telkomsel, Nada Sambung Pribadi yang mampu menampung 20 juta RBT, Plasa.com, Speedytrek, Langit Musik, Flexi Musik, dan terakhir membangun perusahaan patungan yang bergerak di bidang Digital Content Exchange Hub (DCEH) dengan SK Telecom pada akhir tahun lalu yang menelan investasi sekitar 100 miliar rupiah.

“Ada beberapa industri yang akan migrasi menjadi digital yaitu music, film, dan game. Di musik ini Telkom menguasai 60-70 persen pangsa pasar penjualan. Sebenarnya potensi bisnis music itu besar yakni mencapai 6 triliun rupiah, tetapi yang masuk kategori penjualan legal sekitar 1,2-1,3 triliun rupiah,” jelasnya.

Indra menjelaskan, untuk  mencapai target yang ditetapkan, perseroan  memperkenalkan layanan Speedy Music Unlimited yang memungkinkan para pelanggan Speedy mengunduh berbagai konten musik digital secara legal.

“Kami mensinergikan penjualan lagu-lagu di Melon dengan Speedy. Hal ini karena kita sadar, di kondisi industry yang Freemium, konten music tidak bisa dijual secara terpisah dengan produk telekomunikasi,” jelasnya.

Kinerja Kuartal I
Berkaitan dengan stagnannya kinerja perseroan pada kuartal I tahun ini, Rinaldi menjelaskan, terdapat beberapa faktor yang memicu hal itu terjadi. Pertama, secara operasional periode kuartal I selalu kecil pertumbuhannya dibandingkan tiga kuartal lainnya selama satu tahun. Jasa telepon tetap kabel yang terus menunjukkan penurunan yakni sekitar 8 persen, dan kinerja anak usaha, Telkomsel, yang menjadi andalan sebagai penyumbang terbesar pendapatan hanya tumbuh sekitar 4 persen.

“Salah satu yang harus dicermati adalah kondisi saat ini dimana pendapatan dari jasa suara baik itu seluler atau telepon tetap cenderung flat. Walau ada penurunan biaya interkoneksi dan tariff retail, ternyata itu tidak membuat jasa ini tumbuh. Sekarang kami sedang mencari solusi untuk mendapatkan pertumbuhan yang tinggi dengan menggenjot layanan data. Sebanyak 65-70 persen dari belanja modal 16-17 triliun rupiah digunakan untuk mengembangkan jasa data baik itu produk Speedy atau Telkomsel Flash,” jelasnya.

Berdasarkan catatan, Telkom pada kuartal I 2011 meraup omset 16,706 triliun rupiah atau tumbuh 2,11 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 16,356 triliun rupiah.

Kenaikan pendapatan usaha sebesar 350 miliar rupiah itu  sebagian besar disumbangkan oleh kenaikan pendapatan data, internet, dan jasa teknologi informatika sebesar 688 miliar rupiah  atau 14,4 persen  dan kenaikan pendapatan seluler sebesar 64 miliar atau 0,9 persen  diimbangi dengan penurunan pendapatan interkoneksi sebesar 205 miliar rupiah  atau 19,5 persen,  dan pendapatan telepon tetap sebesar 378 miliar rupiah.

Perseroan  mencatat kenaikan beban usaha sampai dengan 31 Maret 2011 sebesar 475 miliar rupiah atau
4,3 persen. Kenaikan ini terutama disebabkan meningkatnya beban operasi, pemeliharaan dan jasa
telekomunikasi sebesar 332 miliar rupiah  atau 8,9 persen  dan beban pemasaran sebesar 309 miliar  rupiah atau 74,2 persen.

Sementara itu beban penyusutan dan amortisasi serta beban umum dan administrasi turun
masing-masing sebesar 291 miliar rupiah  dan 88 miliar rupiah  Laba bersih Telkom sendiri hanya tumbuh 1,5 persen dibandingkan periode sama tahun lalu atau hanya sebesar  2.828 triliun rupiah.

Melihat kinerja yang dikeluarkan oleh tiga operator besar  selama kuartal I  2011, dapat disimpulkan PT XL Axiata masih memimpin pertumbuhan omset di industri telekomunikasi. Anak usah Axiata itu meraup omset  4,5 triliun rupiah atau  meningkat  9 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Sedangkan laba bersih sebesar  756 miliar rupiah atau naik 26 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.  EBITDA  mencapai 2,4 triliun rupiah atau naik  50 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.  Dan  EBITDA margin tetap stabil di level 52 persen.

Sementara Indosat membukukan laba  bersih 453,9 miliar rupiah atau  meningkat 63,3 persen  dibandingkan periode yang sama  sebelumnya.  Pendapatan usaha meningkat 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya senilai  4.877,8 triliun rupiah.  Sementara  Earning Before Interest Tax Depreciation and Amortization (EBITDA) mengalami  penurunan  sebesar 0,2 persen menjadi 2.223,7 triliun rupiah  dengan  marjin EBITDA hanya  45,6 persen.

Praktisi Telematika Teguh Prasetya menyarankan, melihat kondisi pasar yang telah masuk masa kejenuhan harus bisa dengan cerdik melakukan cross selling produk dan mengakuisisi pelanggan. “Pola pemasaran tradisional harus mulai ditinggalkan karena biayanya semakin lama terus naik sementara margin yang didapat kian tipis,” jelasnya.[dni]

1 Komentar

  1. hebat bisa 100% .. tidak disangkal lagi telkomsel punya billing system amdocs yg dipergunakan secara tak langsung oleh israell untuk spytools untuk intelijen mereka


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s