280411 Bandara Selaparang Dijadikan Bandara Khusus

JAKARTA–PT Angkasa Pura I (Persero) menjadikan bandara Selaparang di Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai pelabuhan udara khusus perusahaan pertambangan dengan menggandeng PT Merukh Ama Coal dan PT Merukh International Airport sebagai mitra pengguna.

“Bandara Internasional Lombok (BIL) segera beroperasi pada Juni atau Juli nanti. Beroperasinya bandara itu akan membuat bandara Selaparang menjadi kosong karena aktifitasnya dipindahkan ke bandara baru itu. Nah, dengan adanya kekosongan kegiatan komersial, maka Selaparang bisa digunakan untuk kegiatan khusus seperti pertambangan,” ungkap Direktur Utama AP I Tommy Soetomo di Jakarta, Rabu (27/4).

Diungkapkannya, terdapat penawaran minat dari Merukh Ama Coal, perusahaan tambang yang beroperasi di bagian timur Indonesia untuk memanfaatkan lahan eks bandara udara Selaparang sebagai home base dari operasi aviasinya.

“Ini Memorandum Of Understanding (MOU)  pertama kami untuk menjadikan bandara kebutuhan khusus, yakni kebutuhan internal Merukh. Kami langsung membicarakannya dengan ditjen perhubungan kementerian perhubungan dan pemengang saham kami Kementerian BUMN. MoU ini tidak melanggar ketentuan, karena berdasarkan peraturan, bandara dapat digunakan untuk dua tujuan, yakni untuk komersial dan untuk kebutuhan khusus. Mudah-mudahan kedepannya bisa menjadi kerjasama yang saling menguntungkan,” tutur Tommy.

Dijelaskannya,  pola kerjasama pemanfaatan bandara internasional Selaparang ini berbentuk sewa pakai antara PT Merukh Ama Coal dan PT Merukh International Airport dengan AP I sebagai operator bandara.

Lamanya sewa pakai, lanjut Tommy, kemungkinan jangka panjang karena harus menutupi biaya yang dikeluarkan AP I untuk menyediakan fasilitas tambahan yang dibutuhkan Merukh.

“Jangka waktu sewa mestinya lama, bisa jadi 10 tahun, tetapi belum kami hitung pastinya karena harus disesuaikan dengan rencana bisnis Merukh. Kalau hanya dalam waktu hitungan bulan, jangka pendek, tidak menutupi biaya yang kami keluarkan misalnya harus menambah runway (landasan pacu),” kata Tommy.

Direktur Operasi Bidang Teknik PT AP I Haryoso Catur mengatakan Bandara Selaparang ini kapasitasnya masih mampu menampung kebutuhan penerbangan Merukh. Untuk terminalnya, mampu menampung 1,5 juta per tahun, dan pergerakan pesawat mencapai 15-20 trafik per jam.

“Kapasitas bandara ini, kalau untuk Merukh masih lebih dari cukup. Mungkin hanya menambah hanggar untuk maintenance,” kata Tommy.

CEO Merukh Enterprises Rudy Merukh  mengharapkan, mulai Juli nanti Selaparang bisa beroperasi bagi perseroan.

Diungkapkannya, perseroan berencana akan  akan mendatangkan 12 unit pesawat buatan China Y 12F yang menelan investasi  24 juta dollar AS.  42 Cessna Caravan dengan investasi 100 juta dollar AS,  dan  helikopter Bell  412 (6 unit) dan 429 (3unit) yang menelan investasi  100 juta dollar AS. Ditambah 12 unit Sukhoi SSJ 100 yang menelan investasi  30-33 juta  doolar AS yang akan datang pada tahun ini dan  3-4 unit sisanya pada  2013.

“Pesawat-pesawat itu akan digunakan untuk  operasional 80 ribu  di Kalimantan. Kami rencananya akan menggunakan konsep sewa operasi untuk  Bandara Selaparang  dimana proses operasi disiapkan dana  30 juta dollar AS,” jelasnya.

SVP Merukh Internasional Airport F.X Suwarno  mengakui Merukh membutuhkan  bandara sebagai home base di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Dikatakannya,  Merukh memiiki 7 tambang baru yang akan menggeliat, sehingga perlu diantisipasi operasionalnya melalui kegiatan penerbangan. Ketujuh tambang tersebut yakni di Sumbawa Barat, Sumbawa Timur, Lembata Flores, Batu Licin Kalsel, Lowa Manado Selatan, Kutai Timur, dan Kaimana Papua Barat.

“Pengoperasian pesawat-pesawat ini menggunakan Surat Izin Usaha Penerbangan (SIUP) dan Air Operation Certificate (AOC) milik PT Dirgantara Air Service dan PT Sabang Merauke Air Charter (SMAC) yang telah diakuisisi kepemilikannya oleh Merukh,” jelasnya.[dni]

280411 Wellcomm Garap 4 Bisnis Aksesori Perangkat

JAKARTA—Wellcomm Shop sebagai perusahaan yang bergerak di aksesori perangkat akan menyeriusi 4 unit bisnis untuk memperluas pangsa pasar dan meningkatkan keuntungan.

VP Marketing Wellcomm Ritelindo Pratama Andre Johan menjelaskan, keempat unit bisnis itu adalah power solution, bluetooth, produk broadband, dan protective case.

“Empat unit bisnis ini adalah pasar yang menjanjikan di era penetrasi jasa seluler yang melebihi total populasi,” jelasnya di Jakarta, Rabu (27/4).

Dijelaskannya, bisnis  power solution akan terdiri dari produk yang berkaitan dengan charger, mobile charger dan baterai.  Bisnsi Bluetooth merupakan  semua perangkat yang berkaitan dengan Bluetooth Headset dan Wellcomm merupakan penyedia Handsfree Bluetooth terlengkap di indonesia.

“Di handsfree Bluetooth ini ada peluang yang besar seiring adanya larangan berkendara sambil menerima ponsel.  Kami meluncurkan Motorola Handsfree Bluetooth HZ 800 untuk menggarap pasar ini,” jelasnya.

Diungkapkannya, perangkat ini didukung  teknologi Bone Conduction yang dapat menerima getaran suara melewati  tulang lunak mempunyai fungsi meredam suara bising disekitar, Text-to-Speech atau Speech-to-Text  yang dapat membacakan isi SMS  pada saat berkendara serta satu-satunya

Handsfree Bluetooth mono yang dapat mensupport A2DP, Desain Stylish, Cristaltalk Dual Microphone Technologi ditambah Stealth Mode Microphone, Multipoint (2 ponsel), Noice seal reduction, Rapid charge, dan Voice prompts. “Produk ini dibanderol hanya 1.499 juta rupiah. Kami menargetkan seribu unit perangkat ini bisa terjual dalam kurun waktu satu bulan,” jelasnya.[dni]

280411 XL Targetkan Jual 100 Ribu iPhone 4

JAKARTA— PT XL Axiata Tbk (XL) secara resmi memasarkan iPhone 4 di Indonesia dengan target penjualan  mencapai 100.000 unit hingga akhir tahun ini.

“Kami menawarkan produk ini berusaha berbeda dengan pendahulu. Kita ingin masyarakat merasakan sesuatu yang berbeda walau produk yang dijual sama. Sepertinya langkah ini diapresiasi oleh komunitas pengguna iPhone jika melihat respons pasar saat penjualan resmi mulai Selasa (26/4),” ungkap Direktur Commerce XL Axiata Joy Wahjudi di Jakarta, Rabu (27/4).

Diungkapkannya, sejak dipasarkan 22 April 2011 sudah terjual 3.000 unit dari sekitar 5.000 pre order (pesanan pembelian). Ponsel besutan Steve Jobs  ini dipasarkan bersama dengan kartu perdana prabayar XL seharga 6,999 juta rupiah  untuk kapasitas 16 GB, dan 7,999 rupiah  juta untuk kapasitas 32 GB.

Enam kota yang tengah ditingkatkan kapasitas datanya menjadi prioritas pemasaran yakni  Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, dan Medan.

Guna  menarik minat konsumen, XL menyediakan skema  bundling IPhone 4 dengan menawarkan  seharga 999 ribu rupiah  untuk kapasitas 16GB dan 1,9 juta rupiah  untuk kapasitas  32GB. “Harga itu belum termasuk biaya cicilan atau  bulanan 599 ribu rupiah  yang akan dibayarkan selama 12 bulan,” jelasnya.

Dijelaskannya, dengan pembelian paket tersebut pelanggan dapat fasilitas akses internet tanpa batas 12 bulan, gratis telepon hingga 600 menit, gratis 600 SMS serta 60 MMS. Pelanggan juga dapat membeli paket  2,5 juta rupiah  untuk iPhone 16 GB, dan 3,5 juta rupiah  32 GB ditambah biaya bulanan 299 ribu rupiah  dengan bonus  gratis telepon 150 menit serta gratis SMS (150) dan MMS (50).

Adapun paket 2 juta rupiah ditawarkan untuk  iPhone 16GB dan 3 juta rupiah untuk kapasitas  32GB ditambah biaya 399 ribu rupiah per bulan dengan gratis gratis telepon 300 menit serta SMS (300) dan SMS (30).

”Saya optimistis angka penjualan IPhone 4 XL dapat mencapai 50 persen dari penjualan BlackBerry XL pada 2009 yang mencapai 250.000 unit. Untuk tahap awal penjualan 100.000 unit IPhone XL dapat terealisasi. Ini angka yang realistis,” ujar Joy.

Sementara itu Head of Corporate Communication XL Febriati Nadira mengakui perseroan  merupakan operator kedua yang menjadi mitra Apple di tanah air setelah Telkomsel. “Meski baru secara resmi bermitra dengan XL pada April 2011, namun sudah tercatat  sekitar 30.000 pelanggan menggunakan iPhone di jaringan XL,”ujarnya.

Telkomsel sendiri membundling iPhone 4 plus kartu prabayar selulernya dengan harga  6,99 juta rupiah  untuk yang memori 16 GB, dan  8,2 juta rupiah  untuk memori 32 GB. Penjualan produk iPhone dari Telkomsel mencapai 120 ribu unit.[dni]

280411 Kinerja Bisnis : Sektor IME Telkom Mulai Bersinar. Memetik Benih Transformasi

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) boleh saja mencatat pertumbuhan laba bersih dan pendapatan  yang naik tipis pada tahun lalu. Tercatat, laba bersih Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini  naik tipis 1,22 persen menjadi  11,53 triliun rupiah  dari sebelumnya  11,39 triliun rupiah. Pendapatan usaha juga mengalami hal yang sama dari  67,67 triliun rupiah  di tahun 2009 menjadi  68,62 triliun rupiah pada 2010.

Melambatnya kinerja Telkom tak bisa dilepaskan dari performa Telkomsel yang selama ini diandalkan memasok 60 persen pendapatan bagi perseroan tidak mencapai target yang ditetapkan. Telkomsel pada tahun lalu  hanya memiliki pertumbuhan omset  di bawah 4 persen atau sekitar 41,6 triliun rupiah dengan raihan 95 juta pelanggan.

Namun, kabar menggembirakan mulai muncul dari beberapa anak usaha hasil akuisisi atau yang didirikan untuk mendukung transformasi dari perusahaan telekomunikasi fixed, mobile dan multimedia (FMM)  menjadi telecommunication, information, media dan edutainment (TIME)

“Langkah akusisi terhadap beberapa perusahaan berbasis teknologi informasi (TI) sejak tiga tahun lalu sebagai penopang bisnis  TIME mulai menunjukkan sinyal positif. Ini dapat dilihat dari kinerja masing-masing perusahaan hasil akuisisi itu pada tahun lalu baik secara satu entitas atau kontirbusinya kala bersinergi dengan anak usaha lainnya,” ungkap  Head of Corporate Communication & Affair Telkom  Eddy Kurnia di Jakarta, belum lama ini.

Diungkapkannya, perusahaan hasil akuisisi yang menjadi bagian dari Telkomgrup saat ini diantaranya  PT Sigma Citra Caraka (TelkomSigma) dan PT AdMedika.

TelkomSigma pada tahun lalu berhasil meraih omset sebesar 500 miliar rupiah atau tumbuh 25 persen dibandingkan 2009 sebesar 400 miliar rupiah. Pada tahun ini  ditargetkan meraih  omset sebesar 600 miliar rupiah atau tumbuh 16 persen dibandingkan tahun lalu.

Tidak hanya omset yang akan tumbuh dobel digit, tetapi laba bersih juga akan mengalami hal yang sama. Pada tahun lalu Telkom Sigma meraih laba bersih sebesar 40 miliar rupiah. Sedangkan pada tahun ini diharapkan tumbuh 10 persen sebesar 44 miliar rupiah.

Sementara AdMedika juga menunjukan pertumbuhan yang menggembirakan sebagai third party administrator (TPA) yang melayani pelanggan dalam hal klaim asuransi kesehatan.

Pendapatan Admedika pada tahun lalu  mencapai  43,9 miliar rupiah dan laba bersih  8,2 miliar rupiah. Pendapatan Admedika Kuartal I pada 2011 adalah 15,6 miliar rupiah dan laba bersih  5,2 miliar rupiah. Target pendapatan Admedika 2011 sebesar  76,4 miliar rupiah dan laba bersih  11,2 miliar rupiah.  Kala mengakuisisi 75 persen saham perusahaan ini  pada 2010 Telkom mengeluarkan dana sebesar  132 miliar rupiah.

”Pada tahun ini kami menyiapkan anggaran sekitar satu triliun rupiah untuk mengakuisisi lagi beberapa perusahaan berbasis TI yang mendukung bisnis IME (Information Media and Edutainment). Kategorinya, perusahaan itu harus memiliki pasar dan pertumbuhan yang menjanjikan,”ungkap Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah.

Eddy menambahkan, tujuan dari akuisisi beberapa perusahaan adalah menciptakan peluang bisnis baru (blue ocean) yang pertumbuhannya masih tinggi terutama new wave business dengan basis IME  .”Saat ini kontribusi new waves business terhadap keseluruhan pendapatan Telkom sekitar 15-20 persen dan kecenderungannya terus meningkat,” katanya.

Direktur Teknologi Informasi Telkom Indra Utoyo menjelaskan, tantangan yang dihadapi Telkom dalam mengembangkan perusahaan hasil akuisisi adalah memperkuat penawaran ke pasar karena dari sisi produk sudah memiliki kekuatan dan basis pasar yang besar.  Sementara bagi perusahaan yang dibangun sendiri adalah mencari  rekanan strategis dengan dukungan success story dan pengetahuan akan industri yang digeluti.

”Kalau murni dijalankan sendiri akan sangat beresiko karena Telkom tidak punya pengetahuan industrinya. Contohnya, untuk  pasar consumer sangatlah dinamis sehingga  model bisnis  harus adaptable. Berbeda dengan pasar korporasi  yang lebih terstruktur dan ada common practice-nya sehingga relatif lebih mudah diprediksi,” jelasnya.

Dijelaskannya, pola kustomisasi itulah yang sedang dikembangkan pada anak usaha yang dibangun sendiri atau bersama mitra seperti Melon, Mojopia, dan Finnet. ”Misalnya, Melon akan menawarkan unlimited music bagi seluruh pelanggan broadband Telkom grup pada Mei nanti. Ini karena kami menyadari  model bisnis mengarah  ke free music sehingga Melon tidak dapat jalan secara stand alone, tetapi bagian dari freemium layanan telekomunikasi,” katanya.

Melon sebagai Digital Content Exchange Hub (DCEH) yang menelan investasi 100 miliar rupiah diluncurkan pada Desember 2010, hingga Maret  pendapatannya  sekitar 100 juta rupiah  dengan 6000 pengguna aktif.

Media dan Edutainment
Sementara Direktur Utama Telkom Vision Elvizar mengungkapkan, anak usaha yang bergerak di bidang media telah berhasil membukukan kinerja positif dengan  membukukan pendapatan sebesar  161,6 miliar rupiah pada tahun lalu atau meningkat 50,1 persen dibandingkan 2009 sebesar  107,7 miliar rupiah. Pada tahun 2011, TelkomVision ditargetkan meraih  pendapatan sekitar  300 miliar rupiah dengan  500 ribu pelanggan  atau tumbuh 100 persen dibanding tahun lalu sekitar 250 ribu pelanggan.

”Kami telah menyiapkan beberapa strategi untuk mencapai target tersebut. Fokusnya Telkom kepada bisnis TIME dan pembenahan yang dilakukan di internal akan memuluskan target tersebut,” jelasnya.

Diungkapkannya, beberapa pembenahan yang dilakukan secara internal adalah mengefisienkan penggunaan biaya yang menyangkut pembelian konten, perangkat, dan fee pemasaran. Setelah itu memperluas jangakaun layanan dari 7 provinsi menjadi 33 provinsi, memusatkan call center pada anak usaha Telkom lainnya (Infomedia), dan berjualan secara sinergi dengan unit usaha lainnya seperti TelkomFlexi dan Telkomsel.

”Hasil dari strategi ini kami berhasil berjualan dua hingga tiga kali lipat dibandingkan pemimpin pasar TV berbayar. Bandingkan 8 bulan lalu sebelum pembenahan dimana penjualan hanya 1/3 dari pesaing,” tuturnya.

Indra Utoyo menambahkan, pada tahun ini Telkom akan memperkuat bisnis media dengan anchor-nya jasa Internet Protocol TV (IPTV). ”IPTV akan merevolusi cara Telkom melayani pelanggan bukan hanya infrastruktur broadband, tetapi juga kualitas video  delivery, multiple-screen,  strategi konten, konvergensi service dan konten, serta end-to-end customer handling.  IPTV akan membawa new culture shock,” promosi Indra. [dni]

280411 Meretas Jalan Menuju Omset Rp 1 Triliun

Pasar contact center Indonesia  diperkirakan mencapai 1,25 triliun rupiah dengan jumlah  seat call center sekitar 20 ribu seat. Angka ini  tergolong masih sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga yang memiliki jumlah penduduk jauh lebih sedikit dibanding Indonesia, seperti Singapura (28.000 seat) dan Filipina (160.000 seat).

Di Indonesia, salah satu pemain terbesar untuk contact center adalah  PT Infomedia Nusantara (Infomedia) yang merupakan anak usaha dari PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom).

Infomedia menjadi milik Telkom 100 persen setelah  anak usahanya Multi Media Nusantara (Metra)  membeli  49 persen saham milik PT  Elnusa Tbk di Infomedia  pada 30 Juni 2009 dengan nilai  transaksi 598 miliar rupiah

Pada tahun lalu, Infomedia berhasil mencatat omset sebesar  869 miliar rupiah atau tumbuh 19 persen disbanding 2009. Sementara laba bersih dibukukan  126 miliar rupiah atau tumbuh 16 persen dibandingkan periode 2009.

Hingga kuartal I 2011, Infomedia berhasil meraup omset sebesar  178 miliar rupiah atau tumbuh  42 persen dibandingkan periode sama tahun lalu, sedangkan laba bersih sebesar  5 miliar rupiah atau tumbuh 138 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.

“Kami menargetkan tahun ini bisa menembu omset satu triliun rupiah. Kita akan lebih agresif untuk mencapai target ini,” ungkap Presiden Direktur Infomedia M. Awaluddin, di Jakarta, Rabu (27/4).

Diharapkanya, jasa contact center dan outsourcing service akan menyumbang  65 persen bagi total omset, diikuti  printed ads dan digital rich content (30%), serta  printing dan publishing (5%).

”Kami belum lama ini berhasil menggandeng PT Intersys yang merupakan pemegang merek dagang Ivio untuk jasa contact center. Ini melengkapi 60 mitra perusahaan yang digandeng. Tahun ini ditargetkana da 70 perusahaan yang bekerjasama,” jelasnya.

Dijelaskannya, Ivio di Indonesia fokus pada penyediaan perangkat gadget, portable, multimedia, audio, telekomunikasi, dan aksesori yang memberikan solusi terpadu dalam kesatuan perangkat ponsel dan modem untuk kebutuhan akses berbagai data dan layanan komunikasi.

Infomedia bekerjasama dengan perusahaan ini meliputi meliputi kegiatan outbound dan inbound channel, penyedian layanan end to end service meliputi penjualan sampai dengan pengiriman kepada pelanggan (delivery service), dan pengembangan konten melalui Directory Based Content.

Contact Center & Outsourcing Services Director  Infomedia Arman Hazairin, menambahkan, Infomedia mendapatkan fee dari setiap penjualan satu unit perangkat Ivio.

“Rencananya jumlah agen call center akan ditambah dari 10 ribu menjadi 12 ribu orang agar hasil penjualan lebih optimal mengingat mitra semakin banyak,” katanya.

Diharapkannya,  pertumbuhan omset dari jasa Telechannel mencapai 30 persen pada tahun ini seiring semakin banyaknya mitra perusahaan yang digandeng untuk melakukan penjualan melalui call center. “Pada tahun lalu omset dari jasa ini tumbuh 20 persen atau sebesar 150 miliar rupiah. Kami harapkan pada tahun ini pertumbuhannya mencapai 30 persen,” ungkapnya.[dni]

270411 Tender KA Bandara Diundur

JAKARTA – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) kembali mengundur tender proyek pembangunan kereta api (KA) Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tanggerang, pada awal tahun 2012 mendatang.

Menteri Perhubungan Freddy Numberi mengatakan tender proyek pembangunan jalur kereta ini akan diundur pada kuartal I / 2012 dari target sebelumnya semester II / 2011.

“Harus ada yang dikordinasikan dengan baik oleh pemprov, karena pembangunan jalur kereta ini terdiri dari tujuh fly over dan tiga underpass. Ini kan harus dibebaskan dulu lahannya,” kata Freddy saat menghadiri pelepasan tim relawan Mentawai Tersenyum di Jakarta, Selasa (26/4).

Menurutnya,  pembangunan kereta bandara tersebut harus terintegrasi dengan tata ruang yang telah dibuat oleh pemerintah provinsi (pemprov) DKI Jakarta dan Banten.

Kementeriannya telah meminta dana badan layanan umum (BLU) oleh Kementerian Keuangan sebesar 450 miliar rupiah untuk pembebasan lahan baik di DKI Jakarta maupun di wilayah Banten.

Untuk itu pihaknya meminta kepada pemprov DKI yang bekerjasama dengan Ditjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk membebaskan lahan sesuai jadwal yang ada.

“Kalau ini tidak segera direalisasi penyerapannya uang ini harus kita kembalikan. Karena ini sudah masuk bulan Mei mau masuk Juni, jadi kalau bisa segeralah, pembebasan lahan dengan segala pihak itu bisa kita lakukan,” katanya.

Sementara itu, Dirjen Perkeretaapian Kemenhub Tundjung Inderawan menambahkan kajian ulang proyek kereta api bandara ini masih dilakukan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dan baru akan selesai pada kuartal I/2012.

“Selesai kajian ulang oleh SMI, langsung ditender. Ini hasil kesepakatan dalam rapat dengan sejumlah instansi termasuk kementerian BUMN,” kata Tundjung.

Dalam rapat yang dihadiri oleh beberapa kementerian ini, ditetapkan untuk kereta bandara ada dua line (jalur), yakni pertama Ekspress Line dari Manggarai-Sudirman, Tanah Abang, Duri, Angke, Pluit, Bandara. Seluruh rel akan  menggunakan konsep melayang dan dengan skema kerjasama pemerintah dan swasta (private public partnership/PPP). Pembangunan jalur ini memakan dana 10,2 triliun rupiah.

Selanjutnya Commuter Line, dengan jalur Manggarai-Tanah Abang-Duri-Tangerang-Bandara. Pembangunannya menelan dana 2,2 triliun rupiah. “Kita manfaatkan momentum ini agar kedua-duanya jalan,” tutur Tandjung.

Untuk jalur Ekspress line perlu pembebasan lahan dari Angke-Pluit-Bandara, sedangkan Commuter line tinggal memanfaatkan rel yang sudah ada, namun masih rel tunggal. “Sekarang kami lakukan elektrifikasi ke arah bandara,” tutur Tundjung.

Terhadap skema PPP untuk jalur kereta ekspress line, lanjut dia, pembebasan tanah akan segera dilakukan yakni sesuai jadwal selesai tiga tahun bahkan dapat dipercepat, panitianya interdep dikoordinatori oleh kementerian dalam negeri. Peninjauan ulang (riview) seluruh dokumen akan dilakukan segera, studi oleh PT SMI akan selesai pada kuartal I/2012, setelah itu langsung di gelar tender dan ditargetkan selesai dan mulai beroperasi pada 2014.

“Kajian ulang oleh SMI memang molor dari target semula, karena mereka harus mengkaji detailnya, seperti feasibility study, apakah secara IRR menarik untuk investor,” tuturnya.

Tundjung menyatakan untuk jalur Commuter line sepanjang 19 km, sejak 2010 sudah dibangun rel ganda (double tracking) dan elektrifikasi. “Selama 2 tahun anggaran ini, kami selesaikan sampai Tangerang, dan akan mulai beroperasi pada 2013,” tutur dia.

Menurut dia, dalam rapat dibicarakan juga kemungkinan untuk membangun rel berdampingan dengan jalan tol dari Tangerang ke bandara. “Dari Tangerang ke bandara, bisa di Duri atau crossing jalan tol ruas W2 utara, ujungnya ke bandara, saat PU membebaskan lahan, kemenhub akan turut menambahi,” katanya.

Untuk pembangunan kereta bandara jalur Commuter Line dari Tanah Tinggi- bandara sepanjang 5 km, lanjut Tundjung, berdasarkan hasil rapat, akan diberikan kepada konsorsium BUMN, baik untuk pembebasan lahan, elektrifikasi, dan pengadaan rel. Ditargetkan selesai pada 2013. “Siapanya konsorsium BUMN itu tergantung Menko BUMN,” ungkap dia.

Sebelumnya, pada saat rapat di kantor Menko Perekonomian pada 14 April, disebutkan bahwa pengerjaan jalur Tanah Tinggi Tangerang-bandara ini diserahkan kepada PT Railink Indonesia,  perusahaan konsorsium antara PT KAI dan PT Angkasa Pura II.

Tundjung mengatakan hasil rapat ini akan diajukan ke menko perekonomian untuk ditindaklanjuti secara proses payung hukum, kemungkinan bentuknya peraturan presiden (perpres).

Menurut dia untuk pengerjaan kereta bandara jalur Commuter Line ini, pemerintah hanya menganggarkan 550 miliar rupiah, sehingga sisanya 1,7 triliun rupiah diserahkan kepada konsorsium BUMN yang ditunjuk tersebut.[Dni]

270411Telkom Optimistis Telkomsel Masih Penyumbang Pendapatan Terbesar

JAKARTA–PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) tetap optimistis anak usahanya  yang bergerak di jasa seluler, Telkomsel, masih menjadi penyumbang pendapatan terbesar bagi perseroan walau pasar jasa tersebut memasuki masa jenuh tahun ini.

“Kami  optimistis Telkomsel masih mampu menjadi penyumbang terbesar bagi perseroan yakni sekitar 60 persen bagi total omset seperti tahun lalu di tengah pasar seluler yang memasuki masa saturasi,” tegas Direktur Utama Telkom yang juga Komisaris Utama Telkomsel Rinaldi Firmansyah di Jakarta, Selasa (26/4).

Namun, untuk mengantisipasi pasar yang jenuh di Indonesia, Rinaldi mengungkapkan, perseroan telah menyiapkan beberapa langkah seperti agresif mengembangkan bisnis baru diluar telekomunikasi seperti teknologi informasi, media dan edutainment, serta mengakuisisi pasar seluler baru di luar negeri.

“Untuk pasar seluler baru di luar negeri, telkom tengah membidik 51 persen saham operator seluler terbesar berbasis GSM asal Kamboja, Camgsm.  Tahun ini diharapkan akuisisi tersebut bisa dirampungkan,” ujarnya.

Dijelaskannya,  saat ini proses penawaran sudah dilakukan, tinggal menunggu kesepakatan harga. “Kalau harga yang kita tawar cocok, maka transaksi bisa rampung semester ini juga. Nantinya perusahaan itu akan dijalankan oleh Telkom dan Telkomsel,” jelasnya.

Dikatakannya, langkah mengakuisisi operator di Kamboja karena penetrasi di negara dengan 14 juta jiwa itu masih rendah yakni 40 persen dengan 9 pemain.
Camgsm sendiri merupakan penguasa pasar di sana.

“Kita memang agak terlambat untuk ekspansi. Tetapi langkah ini tetap akan dijalankan agar pertumbuhan pendapatan terus terjadi,” jelasnya.

Sedangkan untuk rencana menguasai kembali secara penuh Telkomsel, Rinaldi mengatakan, terbuka hal itu dilakukan dengan syarat SingTel sebagai pemilik 35 persen saham rela menjual. “Kalau mereka lepas semua, kita akan ambil. Pendanaan tidak ada masalah, kami siap berhutang untuk merealisasikan niat ini,” tegasnya.

Berkaitan dengan realisasi buy back 2,1 persen saham perseroan di pasar modal senilai 3 triliun rupiah, Rinaldi menjelaskan, hal itu akan dilakukan seusai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Juni nanti.

Tumbuh 10 Persen
Sementara itu, Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno mengharapkan pertumbuhan pendapatan dari perseroan pada tahun ini bisa mencapai 10 persen setelah hanya tumbuh 5 persen pada tahun lalu.

“Kami masih mengincar pertumbuhan 10 persen. Harapannya dari jasa data yang telah ditanamkan investasi sebesar 60 persen dari total belanja modal sekitar 10,9 triliun rupiah. Tahun lalu jasa data berkontribusi 15 persen bagi total omset, kita harapkan lebih pada tahun ini,” katanya.

Diungkapkannya, dari total  100 juta pelanggan  saat ini, pelanggan Telkomsel yang  menjadi pengguna data tercatat 41 juta nomor.  “Ini akan kami dorong terus agar mereka memiliki kemampuan mengakses broadband Internet sehingga lebih familiar dengan era gaya hidup baru dari hanya voice-SMS ke broadband based service.” ujarnya.

Dijelaskannya, saat ini operator seluler di Indonesia diperkirakan segera memasuki era zero sum game menyusul tekanan saturasi dan indikasi penetrasi lebih dari 100 persen.

Zero sum game adalah situasi di saat keuntungan yang diperoleh oleh satu pihak merupakan kerugian yang sama jumlahnya di pihak lain. Artinya, di saat terjadi akuisisi 10 juta SIMcard oleh satu operator berarti ada operator yang lain yang juga kehilangan 10 juta pelanggan.

Menurutnya, di era ini masalah  kapasitas,  cakupan dan sistem pendukung, infrastruktur seperti 2G, 3G, billing, solusi customer relationship management, storage dan solusi lainnya yang memiliki kemampuan proses cepat dan tersedia menjadi kunci.

Telkomsel sendiri akan berusaha fokus menjaga 100 juta pelanggan yang telah susah payah diraihnya dengan.”Soalnya kami mengeluarkan banyak dana untuk mendapatkan 1 juta pelanggan. Hal ini karena sebanyak 7 juta sim card harus dilepas untuk mendapatkan 1 juta pelanggan,” jelasnya.

Berdasarkan catatan, harga produksi satu sim card adalah 3 ribu rupiah. Dari satu pelanggan biasanya pendapatannya 30 ribu rupiah per bulan. Artinya, dari satu juta pelanggan omset yang didapat sekitar 30 miliar rupiah, sedangkan biaya produksi yang dikeluarkan mencapai 21 miliar rupiah.

Secara terpisah, praktisi telematika Bayu Samudiyo menyarankan Telkomsel lebih fokus menggarap pasar baru atau segmen komunitas ketimbang sibuk mengakuisisi pelanggan karena margin yang didapat dari pelanggan baru kian tipis. “Indonesia ini adalah negara prabayar. Jika sibuk bermain diakuisisi, kalau operatornya tidak mampu mengelola biaya secara efisien akan kewalahan,” katanya.[Dni]