300411 Kinerja Operator : XL Masih Ungguli Indosat Pertumbuhan Operator Mulai Melambat

JAKARTA—Pertumbuhan pendapatan operator telekomunikasi mulai melambat pada kuartal pertama tahun ini karena industri sudah memasuki masa kejenuhan pasar dan kompetisi yang kian sengit.

Hal itu ditunjukkan oleh kinerja dua operator besar, PT Indosat Tbk (Indosat) dan PT XL Axiata Tbk (XL), selama kuartal pertama 2011. Indosat hingga akhir Maret 2011 memiliki 45,7 juta pelanggan, sementara XL 39,3 juta pengguna.

Berdasarkan data yang dikirimkan oleh kedua perseroan, tercatat Indosat membukukan laba bersih 2011 meningkat 63,3 persen dibandingkan periode yang sama sebelumnya yaitu sebesar 453,9 miliar rupiah. Pendapatan usaha meningkat 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya senilai 4.877,8 triliun rupiah. Sementara Earning Before Interest Tax Depreciation and Amortization (EBITDA) mengalami penurunan sebesar 0,2 persen menjadi 2.223,7 triliun rupiah dengan marjin EBITDA hanya 45,6 persen.

Sementara XL mampu mempertahankan prestasinya selama setahun belakangan yang mengungguli Indosat dari sisi pertumbuhan pendapatan dan laba bersih. Anak usah Axiata itu meraup omset 4,5 triliun rupiah atau meningkat 9 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Sedangkan laba bersih sebesar 756 miliar rupiah atau naik 26 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. EBITDA mencapai 2,4 triliun rupiah atau naik 50 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Dan EBITDA margin tetap stabil di level 52 persen.

Presiden Direktur XL, Hasnul Suhaimi menjelaskan, terdapat berbagai faktor yang membuat pertumbuhan melambat di kuartal pertama tahun ini. ”Pasar mulai jenuh, kompetisi yang ketat. Belum lagi jumlah hari di kuartal ketiga ini tidak sama dengan periode sama tahun lalu yakni kurang tiga hari,” ungkapnya di Jakarta, Jumaat (29/4).

Dijelaskannya, kondisi yang ada saat ini tarif untuk suara dan SMS sudah sangat rendah, sehingga membuat perseroan melihat tidak ada manfaat untuk menurunkan tarif lebih dalam karena elastisitasnya sudah tidak ada lagi.

”Kami tidak berniat untuk terlalu agresif dalam merespon kompetitor kami. Dengan meningkatnya popularitas layanan Mobile Data Service (MDS), kami mengharapkan sumber pertumbuhan pendapatan dikemudian hari berasal dari layanan MDS. Pada tahun lalu jasa ini berkontribusi 7 persen, diharapkan menjadi 9-10 pada 2011,” jelasnya.

Berkaitan dengan kondisi hutang perseroan, Hasnul mengungkapkan, selama kuartal I 2011 telah melakukan pembayaran pinjaman dipercepat sebesar 900 miliar rupiah dan juga pembayaran pinjaman yang sudah jatuh tempo sebesar 15,3 juta dollar AS menggunakan arus kas internal, sehingga saldo pinjaman menurun dari 13,1 triliun pada kuartal I 2010 menjadi 9,1 triliun rupiah pada kuartal I 2011 dengan rasio Hutang Bersih (Hutang berbunga dikurangi Kas)/EBITDA sebesar 0.9x.

Dihantam Pendi
Secara terpisah, Presiden Direktur Indosat Harry Sasongko mengungkapkan, tertekannya kinerja EBITDA karena adanya program Voluntary Separation Scheme (VSS/ Pensiun Dini/Pendi) yang menelan biaya 116 miliar rupiah.

“ Penurunan marjin EBITDA kibat dari one-off charge berkenaan dengan programPendi. Marjin EBITDA tanpa adanya one-off charge adalah sebesar 48 persen. Pendi dilakukan agar perusahaan semakin kompetitif sebagai penydia layanan informasi dan komunikasi,” katanya.

Berkaitan dengan positifnya laba bersih perseroan setelah pada akhir 2010 mengalami angka negatif tak bias dilepaskan peningkatan laba selisih kurs dan penurunan jumlah beban pendanaan. “Tantangan Indosat mempertahankan bottom line adalah beban penyusutan terus meningkat dan dampak dari program Pendi,” katanya.

Berkaitan dengan kondisi hutang dari perseroan, dikatakannya, Indosat mengurangi total jumlah hutangnya setelah membayar hutang jatuh tempo berupa cicilan pinjaman SEK Tranche B sebesar 11,1 juta dollar AS, cicilan pinjaman fasilitas COFFACE dari HSBC sebesar 7,9 juta dollar AS dan cicilan pinjaman Sinosure dari HSBC sebesar 2,2 juta dollar AS.

“Kami juga berhasil menandatangani perjanjian fasilitas pinjaman revolving bersama BCA dengan jumlah maksimum sebesar satu triliun rupiah dengan tingkat bunga mengambang JIBOR + 1,4 persen per tahun,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s