280411 2015, Garuda Harapkan 60% Penjualan via Internet

JAKARTA–PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mengharapkan dalam kurun waktu empat tahun mendatang penjualan tiketnya bisa dilakukan melalui internet atau e-commerce.

“Kami sedang serius mengembangkan produk e-commerce yang bisa memudahkan transaksi dan mengefisienkan biaya operasional bagi perseroan. Pada 2015, kita harapkan penjualan secara langsung (Direct Sales) akan mendominasi penjualan Garuda,” jelas Senior General Manager e-Commerce Garuda Indonesia Joseph Adrian Saul di Jakarta, Rabu (27/1).

Diungkapkannya, perseroan sedang menyiapkan beberapa hal untuk mengembangkan e-commerce seperti memperkuat sistem teknologi informasi (TI) untuk situs Garuda Indonesia, memperluas mitra perbankan yang menjadi saluran pembayaran, dan metode pembayaran.

“Untuk mitra dari lembaga keuangan kita sudah bekerjasama dengan Visa dan Mastercard. Ke depan kita akan menggandeng Bank Mandiri, BCA, dan BII untuk pembayaran melalui kartu debit selain credit card,” jelasnya.

Sedangkan untuk metode pembayaran sedang dijajaki kerjasama dengan Pay Pal dan mengembangkan pola pembayaran ala Pay Pal dengan bank lokal. “Kami ingin memudahkan semua pelanggan yang ingin berbelanja tiket secara online, karena itu saluran pembayaran harus banyak. Selain itu, jika pembelian dilakukan melalui internet harganya akan lebih murah 10 persen ketimbang public rate,” katanya.

Direktur Pemasaran & Penjualan (Pelaksana Harian) Garuda, M. Arif Wibowo menambahkan,  Garuda juga telah  menunjuk BII sebagai salah satu bank penerima pembayaran tiket Garuda dari mitra biro perjalanan (sub agent) Garuda.

Dijelaskannya, melalui kerja sama ini mitra travel agent (sub agent) Garuda dapat melakukan pembayaran tiket tanpa harus datang ke bank.
Pembayaran tiket Garuda dapat dilakukan secara online melalui BII CoOLPAY- yang merupakan solusi Payment Gateway berbasis Internet.  Kerja sama ini ditujukan untuk memberikan kemudahan bagi mitra sub agent Garuda dalam melakukan pembayaran.  Melalui kerja sama ini, Garuda juga dapat memantau pembayaran tiket pesawat dari para sub agent serta menerima laporan transaksi secara online, realtime.

Arif mengatakan, selain bekerja sama dengan travel agent besar, Garuda juga bekerja sama dengan mitra sub agent yang menjadi channel distribution produk-produk Garuda. Saat ini Garuda bekerja sama dengan 2700 sub agent yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia melalui sistem penjualan online “Garuda Online Sales”.

“Kami memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam penyediaan layanan Cash Management.  Melalui kerja sama ini mitra Travel Agent Garuda Indonesia dapat lebih mudah melakukan pembayaran tiket tanpa harus datang ke Bank,” kata Direktur Perbankan Korporasi BII Rahardja Alimhamzah.[dni]

280411 Bandara Selaparang Dijadikan Bandara Khusus

JAKARTA–PT Angkasa Pura I (Persero) menjadikan bandara Selaparang di Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai pelabuhan udara khusus perusahaan pertambangan dengan menggandeng PT Merukh Ama Coal dan PT Merukh International Airport sebagai mitra pengguna.

“Bandara Internasional Lombok (BIL) segera beroperasi pada Juni atau Juli nanti. Beroperasinya bandara itu akan membuat bandara Selaparang menjadi kosong karena aktifitasnya dipindahkan ke bandara baru itu. Nah, dengan adanya kekosongan kegiatan komersial, maka Selaparang bisa digunakan untuk kegiatan khusus seperti pertambangan,” ungkap Direktur Utama AP I Tommy Soetomo di Jakarta, Rabu (27/4).

Diungkapkannya, terdapat penawaran minat dari Merukh Ama Coal, perusahaan tambang yang beroperasi di bagian timur Indonesia untuk memanfaatkan lahan eks bandara udara Selaparang sebagai home base dari operasi aviasinya.

“Ini Memorandum Of Understanding (MOU)  pertama kami untuk menjadikan bandara kebutuhan khusus, yakni kebutuhan internal Merukh. Kami langsung membicarakannya dengan ditjen perhubungan kementerian perhubungan dan pemengang saham kami Kementerian BUMN. MoU ini tidak melanggar ketentuan, karena berdasarkan peraturan, bandara dapat digunakan untuk dua tujuan, yakni untuk komersial dan untuk kebutuhan khusus. Mudah-mudahan kedepannya bisa menjadi kerjasama yang saling menguntungkan,” tutur Tommy.

Dijelaskannya,  pola kerjasama pemanfaatan bandara internasional Selaparang ini berbentuk sewa pakai antara PT Merukh Ama Coal dan PT Merukh International Airport dengan AP I sebagai operator bandara.

Lamanya sewa pakai, lanjut Tommy, kemungkinan jangka panjang karena harus menutupi biaya yang dikeluarkan AP I untuk menyediakan fasilitas tambahan yang dibutuhkan Merukh.

“Jangka waktu sewa mestinya lama, bisa jadi 10 tahun, tetapi belum kami hitung pastinya karena harus disesuaikan dengan rencana bisnis Merukh. Kalau hanya dalam waktu hitungan bulan, jangka pendek, tidak menutupi biaya yang kami keluarkan misalnya harus menambah runway (landasan pacu),” kata Tommy.

Direktur Operasi Bidang Teknik PT AP I Haryoso Catur mengatakan Bandara Selaparang ini kapasitasnya masih mampu menampung kebutuhan penerbangan Merukh. Untuk terminalnya, mampu menampung 1,5 juta per tahun, dan pergerakan pesawat mencapai 15-20 trafik per jam.

“Kapasitas bandara ini, kalau untuk Merukh masih lebih dari cukup. Mungkin hanya menambah hanggar untuk maintenance,” kata Tommy.

CEO Merukh Enterprises Rudy Merukh  mengharapkan, mulai Juli nanti Selaparang bisa beroperasi bagi perseroan.

Diungkapkannya, perseroan berencana akan  akan mendatangkan 12 unit pesawat buatan China Y 12F yang menelan investasi  24 juta dollar AS.  42 Cessna Caravan dengan investasi 100 juta dollar AS,  dan  helikopter Bell  412 (6 unit) dan 429 (3unit) yang menelan investasi  100 juta dollar AS. Ditambah 12 unit Sukhoi SSJ 100 yang menelan investasi  30-33 juta  doolar AS yang akan datang pada tahun ini dan  3-4 unit sisanya pada  2013.

“Pesawat-pesawat itu akan digunakan untuk  operasional 80 ribu  di Kalimantan. Kami rencananya akan menggunakan konsep sewa operasi untuk  Bandara Selaparang  dimana proses operasi disiapkan dana  30 juta dollar AS,” jelasnya.

SVP Merukh Internasional Airport F.X Suwarno  mengakui Merukh membutuhkan  bandara sebagai home base di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Dikatakannya,  Merukh memiiki 7 tambang baru yang akan menggeliat, sehingga perlu diantisipasi operasionalnya melalui kegiatan penerbangan. Ketujuh tambang tersebut yakni di Sumbawa Barat, Sumbawa Timur, Lembata Flores, Batu Licin Kalsel, Lowa Manado Selatan, Kutai Timur, dan Kaimana Papua Barat.

“Pengoperasian pesawat-pesawat ini menggunakan Surat Izin Usaha Penerbangan (SIUP) dan Air Operation Certificate (AOC) milik PT Dirgantara Air Service dan PT Sabang Merauke Air Charter (SMAC) yang telah diakuisisi kepemilikannya oleh Merukh,” jelasnya.[dni]

280411 Wellcomm Garap 4 Bisnis Aksesori Perangkat

JAKARTA—Wellcomm Shop sebagai perusahaan yang bergerak di aksesori perangkat akan menyeriusi 4 unit bisnis untuk memperluas pangsa pasar dan meningkatkan keuntungan.

VP Marketing Wellcomm Ritelindo Pratama Andre Johan menjelaskan, keempat unit bisnis itu adalah power solution, bluetooth, produk broadband, dan protective case.

“Empat unit bisnis ini adalah pasar yang menjanjikan di era penetrasi jasa seluler yang melebihi total populasi,” jelasnya di Jakarta, Rabu (27/4).

Dijelaskannya, bisnis  power solution akan terdiri dari produk yang berkaitan dengan charger, mobile charger dan baterai.  Bisnsi Bluetooth merupakan  semua perangkat yang berkaitan dengan Bluetooth Headset dan Wellcomm merupakan penyedia Handsfree Bluetooth terlengkap di indonesia.

“Di handsfree Bluetooth ini ada peluang yang besar seiring adanya larangan berkendara sambil menerima ponsel.  Kami meluncurkan Motorola Handsfree Bluetooth HZ 800 untuk menggarap pasar ini,” jelasnya.

Diungkapkannya, perangkat ini didukung  teknologi Bone Conduction yang dapat menerima getaran suara melewati  tulang lunak mempunyai fungsi meredam suara bising disekitar, Text-to-Speech atau Speech-to-Text  yang dapat membacakan isi SMS  pada saat berkendara serta satu-satunya

Handsfree Bluetooth mono yang dapat mensupport A2DP, Desain Stylish, Cristaltalk Dual Microphone Technologi ditambah Stealth Mode Microphone, Multipoint (2 ponsel), Noice seal reduction, Rapid charge, dan Voice prompts. “Produk ini dibanderol hanya 1.499 juta rupiah. Kami menargetkan seribu unit perangkat ini bisa terjual dalam kurun waktu satu bulan,” jelasnya.[dni]

280411 XL Targetkan Jual 100 Ribu iPhone 4

JAKARTA— PT XL Axiata Tbk (XL) secara resmi memasarkan iPhone 4 di Indonesia dengan target penjualan  mencapai 100.000 unit hingga akhir tahun ini.

“Kami menawarkan produk ini berusaha berbeda dengan pendahulu. Kita ingin masyarakat merasakan sesuatu yang berbeda walau produk yang dijual sama. Sepertinya langkah ini diapresiasi oleh komunitas pengguna iPhone jika melihat respons pasar saat penjualan resmi mulai Selasa (26/4),” ungkap Direktur Commerce XL Axiata Joy Wahjudi di Jakarta, Rabu (27/4).

Diungkapkannya, sejak dipasarkan 22 April 2011 sudah terjual 3.000 unit dari sekitar 5.000 pre order (pesanan pembelian). Ponsel besutan Steve Jobs  ini dipasarkan bersama dengan kartu perdana prabayar XL seharga 6,999 juta rupiah  untuk kapasitas 16 GB, dan 7,999 rupiah  juta untuk kapasitas 32 GB.

Enam kota yang tengah ditingkatkan kapasitas datanya menjadi prioritas pemasaran yakni  Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, dan Medan.

Guna  menarik minat konsumen, XL menyediakan skema  bundling IPhone 4 dengan menawarkan  seharga 999 ribu rupiah  untuk kapasitas 16GB dan 1,9 juta rupiah  untuk kapasitas  32GB. “Harga itu belum termasuk biaya cicilan atau  bulanan 599 ribu rupiah  yang akan dibayarkan selama 12 bulan,” jelasnya.

Dijelaskannya, dengan pembelian paket tersebut pelanggan dapat fasilitas akses internet tanpa batas 12 bulan, gratis telepon hingga 600 menit, gratis 600 SMS serta 60 MMS. Pelanggan juga dapat membeli paket  2,5 juta rupiah  untuk iPhone 16 GB, dan 3,5 juta rupiah  32 GB ditambah biaya bulanan 299 ribu rupiah  dengan bonus  gratis telepon 150 menit serta gratis SMS (150) dan MMS (50).

Adapun paket 2 juta rupiah ditawarkan untuk  iPhone 16GB dan 3 juta rupiah untuk kapasitas  32GB ditambah biaya 399 ribu rupiah per bulan dengan gratis gratis telepon 300 menit serta SMS (300) dan SMS (30).

”Saya optimistis angka penjualan IPhone 4 XL dapat mencapai 50 persen dari penjualan BlackBerry XL pada 2009 yang mencapai 250.000 unit. Untuk tahap awal penjualan 100.000 unit IPhone XL dapat terealisasi. Ini angka yang realistis,” ujar Joy.

Sementara itu Head of Corporate Communication XL Febriati Nadira mengakui perseroan  merupakan operator kedua yang menjadi mitra Apple di tanah air setelah Telkomsel. “Meski baru secara resmi bermitra dengan XL pada April 2011, namun sudah tercatat  sekitar 30.000 pelanggan menggunakan iPhone di jaringan XL,”ujarnya.

Telkomsel sendiri membundling iPhone 4 plus kartu prabayar selulernya dengan harga  6,99 juta rupiah  untuk yang memori 16 GB, dan  8,2 juta rupiah  untuk memori 32 GB. Penjualan produk iPhone dari Telkomsel mencapai 120 ribu unit.[dni]

280411 Kinerja Bisnis : Sektor IME Telkom Mulai Bersinar. Memetik Benih Transformasi

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) boleh saja mencatat pertumbuhan laba bersih dan pendapatan  yang naik tipis pada tahun lalu. Tercatat, laba bersih Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini  naik tipis 1,22 persen menjadi  11,53 triliun rupiah  dari sebelumnya  11,39 triliun rupiah. Pendapatan usaha juga mengalami hal yang sama dari  67,67 triliun rupiah  di tahun 2009 menjadi  68,62 triliun rupiah pada 2010.

Melambatnya kinerja Telkom tak bisa dilepaskan dari performa Telkomsel yang selama ini diandalkan memasok 60 persen pendapatan bagi perseroan tidak mencapai target yang ditetapkan. Telkomsel pada tahun lalu  hanya memiliki pertumbuhan omset  di bawah 4 persen atau sekitar 41,6 triliun rupiah dengan raihan 95 juta pelanggan.

Namun, kabar menggembirakan mulai muncul dari beberapa anak usaha hasil akuisisi atau yang didirikan untuk mendukung transformasi dari perusahaan telekomunikasi fixed, mobile dan multimedia (FMM)  menjadi telecommunication, information, media dan edutainment (TIME)

“Langkah akusisi terhadap beberapa perusahaan berbasis teknologi informasi (TI) sejak tiga tahun lalu sebagai penopang bisnis  TIME mulai menunjukkan sinyal positif. Ini dapat dilihat dari kinerja masing-masing perusahaan hasil akuisisi itu pada tahun lalu baik secara satu entitas atau kontirbusinya kala bersinergi dengan anak usaha lainnya,” ungkap  Head of Corporate Communication & Affair Telkom  Eddy Kurnia di Jakarta, belum lama ini.

Diungkapkannya, perusahaan hasil akuisisi yang menjadi bagian dari Telkomgrup saat ini diantaranya  PT Sigma Citra Caraka (TelkomSigma) dan PT AdMedika.

TelkomSigma pada tahun lalu berhasil meraih omset sebesar 500 miliar rupiah atau tumbuh 25 persen dibandingkan 2009 sebesar 400 miliar rupiah. Pada tahun ini  ditargetkan meraih  omset sebesar 600 miliar rupiah atau tumbuh 16 persen dibandingkan tahun lalu.

Tidak hanya omset yang akan tumbuh dobel digit, tetapi laba bersih juga akan mengalami hal yang sama. Pada tahun lalu Telkom Sigma meraih laba bersih sebesar 40 miliar rupiah. Sedangkan pada tahun ini diharapkan tumbuh 10 persen sebesar 44 miliar rupiah.

Sementara AdMedika juga menunjukan pertumbuhan yang menggembirakan sebagai third party administrator (TPA) yang melayani pelanggan dalam hal klaim asuransi kesehatan.

Pendapatan Admedika pada tahun lalu  mencapai  43,9 miliar rupiah dan laba bersih  8,2 miliar rupiah. Pendapatan Admedika Kuartal I pada 2011 adalah 15,6 miliar rupiah dan laba bersih  5,2 miliar rupiah. Target pendapatan Admedika 2011 sebesar  76,4 miliar rupiah dan laba bersih  11,2 miliar rupiah.  Kala mengakuisisi 75 persen saham perusahaan ini  pada 2010 Telkom mengeluarkan dana sebesar  132 miliar rupiah.

”Pada tahun ini kami menyiapkan anggaran sekitar satu triliun rupiah untuk mengakuisisi lagi beberapa perusahaan berbasis TI yang mendukung bisnis IME (Information Media and Edutainment). Kategorinya, perusahaan itu harus memiliki pasar dan pertumbuhan yang menjanjikan,”ungkap Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah.

Eddy menambahkan, tujuan dari akuisisi beberapa perusahaan adalah menciptakan peluang bisnis baru (blue ocean) yang pertumbuhannya masih tinggi terutama new wave business dengan basis IME  .”Saat ini kontribusi new waves business terhadap keseluruhan pendapatan Telkom sekitar 15-20 persen dan kecenderungannya terus meningkat,” katanya.

Direktur Teknologi Informasi Telkom Indra Utoyo menjelaskan, tantangan yang dihadapi Telkom dalam mengembangkan perusahaan hasil akuisisi adalah memperkuat penawaran ke pasar karena dari sisi produk sudah memiliki kekuatan dan basis pasar yang besar.  Sementara bagi perusahaan yang dibangun sendiri adalah mencari  rekanan strategis dengan dukungan success story dan pengetahuan akan industri yang digeluti.

”Kalau murni dijalankan sendiri akan sangat beresiko karena Telkom tidak punya pengetahuan industrinya. Contohnya, untuk  pasar consumer sangatlah dinamis sehingga  model bisnis  harus adaptable. Berbeda dengan pasar korporasi  yang lebih terstruktur dan ada common practice-nya sehingga relatif lebih mudah diprediksi,” jelasnya.

Dijelaskannya, pola kustomisasi itulah yang sedang dikembangkan pada anak usaha yang dibangun sendiri atau bersama mitra seperti Melon, Mojopia, dan Finnet. ”Misalnya, Melon akan menawarkan unlimited music bagi seluruh pelanggan broadband Telkom grup pada Mei nanti. Ini karena kami menyadari  model bisnis mengarah  ke free music sehingga Melon tidak dapat jalan secara stand alone, tetapi bagian dari freemium layanan telekomunikasi,” katanya.

Melon sebagai Digital Content Exchange Hub (DCEH) yang menelan investasi 100 miliar rupiah diluncurkan pada Desember 2010, hingga Maret  pendapatannya  sekitar 100 juta rupiah  dengan 6000 pengguna aktif.

Media dan Edutainment
Sementara Direktur Utama Telkom Vision Elvizar mengungkapkan, anak usaha yang bergerak di bidang media telah berhasil membukukan kinerja positif dengan  membukukan pendapatan sebesar  161,6 miliar rupiah pada tahun lalu atau meningkat 50,1 persen dibandingkan 2009 sebesar  107,7 miliar rupiah. Pada tahun 2011, TelkomVision ditargetkan meraih  pendapatan sekitar  300 miliar rupiah dengan  500 ribu pelanggan  atau tumbuh 100 persen dibanding tahun lalu sekitar 250 ribu pelanggan.

”Kami telah menyiapkan beberapa strategi untuk mencapai target tersebut. Fokusnya Telkom kepada bisnis TIME dan pembenahan yang dilakukan di internal akan memuluskan target tersebut,” jelasnya.

Diungkapkannya, beberapa pembenahan yang dilakukan secara internal adalah mengefisienkan penggunaan biaya yang menyangkut pembelian konten, perangkat, dan fee pemasaran. Setelah itu memperluas jangakaun layanan dari 7 provinsi menjadi 33 provinsi, memusatkan call center pada anak usaha Telkom lainnya (Infomedia), dan berjualan secara sinergi dengan unit usaha lainnya seperti TelkomFlexi dan Telkomsel.

”Hasil dari strategi ini kami berhasil berjualan dua hingga tiga kali lipat dibandingkan pemimpin pasar TV berbayar. Bandingkan 8 bulan lalu sebelum pembenahan dimana penjualan hanya 1/3 dari pesaing,” tuturnya.

Indra Utoyo menambahkan, pada tahun ini Telkom akan memperkuat bisnis media dengan anchor-nya jasa Internet Protocol TV (IPTV). ”IPTV akan merevolusi cara Telkom melayani pelanggan bukan hanya infrastruktur broadband, tetapi juga kualitas video  delivery, multiple-screen,  strategi konten, konvergensi service dan konten, serta end-to-end customer handling.  IPTV akan membawa new culture shock,” promosi Indra. [dni]

280411 Meretas Jalan Menuju Omset Rp 1 Triliun

Pasar contact center Indonesia  diperkirakan mencapai 1,25 triliun rupiah dengan jumlah  seat call center sekitar 20 ribu seat. Angka ini  tergolong masih sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga yang memiliki jumlah penduduk jauh lebih sedikit dibanding Indonesia, seperti Singapura (28.000 seat) dan Filipina (160.000 seat).

Di Indonesia, salah satu pemain terbesar untuk contact center adalah  PT Infomedia Nusantara (Infomedia) yang merupakan anak usaha dari PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom).

Infomedia menjadi milik Telkom 100 persen setelah  anak usahanya Multi Media Nusantara (Metra)  membeli  49 persen saham milik PT  Elnusa Tbk di Infomedia  pada 30 Juni 2009 dengan nilai  transaksi 598 miliar rupiah

Pada tahun lalu, Infomedia berhasil mencatat omset sebesar  869 miliar rupiah atau tumbuh 19 persen disbanding 2009. Sementara laba bersih dibukukan  126 miliar rupiah atau tumbuh 16 persen dibandingkan periode 2009.

Hingga kuartal I 2011, Infomedia berhasil meraup omset sebesar  178 miliar rupiah atau tumbuh  42 persen dibandingkan periode sama tahun lalu, sedangkan laba bersih sebesar  5 miliar rupiah atau tumbuh 138 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.

“Kami menargetkan tahun ini bisa menembu omset satu triliun rupiah. Kita akan lebih agresif untuk mencapai target ini,” ungkap Presiden Direktur Infomedia M. Awaluddin, di Jakarta, Rabu (27/4).

Diharapkanya, jasa contact center dan outsourcing service akan menyumbang  65 persen bagi total omset, diikuti  printed ads dan digital rich content (30%), serta  printing dan publishing (5%).

”Kami belum lama ini berhasil menggandeng PT Intersys yang merupakan pemegang merek dagang Ivio untuk jasa contact center. Ini melengkapi 60 mitra perusahaan yang digandeng. Tahun ini ditargetkana da 70 perusahaan yang bekerjasama,” jelasnya.

Dijelaskannya, Ivio di Indonesia fokus pada penyediaan perangkat gadget, portable, multimedia, audio, telekomunikasi, dan aksesori yang memberikan solusi terpadu dalam kesatuan perangkat ponsel dan modem untuk kebutuhan akses berbagai data dan layanan komunikasi.

Infomedia bekerjasama dengan perusahaan ini meliputi meliputi kegiatan outbound dan inbound channel, penyedian layanan end to end service meliputi penjualan sampai dengan pengiriman kepada pelanggan (delivery service), dan pengembangan konten melalui Directory Based Content.

Contact Center & Outsourcing Services Director  Infomedia Arman Hazairin, menambahkan, Infomedia mendapatkan fee dari setiap penjualan satu unit perangkat Ivio.

“Rencananya jumlah agen call center akan ditambah dari 10 ribu menjadi 12 ribu orang agar hasil penjualan lebih optimal mengingat mitra semakin banyak,” katanya.

Diharapkannya,  pertumbuhan omset dari jasa Telechannel mencapai 30 persen pada tahun ini seiring semakin banyaknya mitra perusahaan yang digandeng untuk melakukan penjualan melalui call center. “Pada tahun lalu omset dari jasa ini tumbuh 20 persen atau sebesar 150 miliar rupiah. Kami harapkan pada tahun ini pertumbuhannya mencapai 30 persen,” ungkapnya.[dni]