270411Telkom Optimistis Telkomsel Masih Penyumbang Pendapatan Terbesar

JAKARTA–PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) tetap optimistis anak usahanya  yang bergerak di jasa seluler, Telkomsel, masih menjadi penyumbang pendapatan terbesar bagi perseroan walau pasar jasa tersebut memasuki masa jenuh tahun ini.

“Kami  optimistis Telkomsel masih mampu menjadi penyumbang terbesar bagi perseroan yakni sekitar 60 persen bagi total omset seperti tahun lalu di tengah pasar seluler yang memasuki masa saturasi,” tegas Direktur Utama Telkom yang juga Komisaris Utama Telkomsel Rinaldi Firmansyah di Jakarta, Selasa (26/4).

Namun, untuk mengantisipasi pasar yang jenuh di Indonesia, Rinaldi mengungkapkan, perseroan telah menyiapkan beberapa langkah seperti agresif mengembangkan bisnis baru diluar telekomunikasi seperti teknologi informasi, media dan edutainment, serta mengakuisisi pasar seluler baru di luar negeri.

“Untuk pasar seluler baru di luar negeri, telkom tengah membidik 51 persen saham operator seluler terbesar berbasis GSM asal Kamboja, Camgsm.  Tahun ini diharapkan akuisisi tersebut bisa dirampungkan,” ujarnya.

Dijelaskannya,  saat ini proses penawaran sudah dilakukan, tinggal menunggu kesepakatan harga. “Kalau harga yang kita tawar cocok, maka transaksi bisa rampung semester ini juga. Nantinya perusahaan itu akan dijalankan oleh Telkom dan Telkomsel,” jelasnya.

Dikatakannya, langkah mengakuisisi operator di Kamboja karena penetrasi di negara dengan 14 juta jiwa itu masih rendah yakni 40 persen dengan 9 pemain.
Camgsm sendiri merupakan penguasa pasar di sana.

“Kita memang agak terlambat untuk ekspansi. Tetapi langkah ini tetap akan dijalankan agar pertumbuhan pendapatan terus terjadi,” jelasnya.

Sedangkan untuk rencana menguasai kembali secara penuh Telkomsel, Rinaldi mengatakan, terbuka hal itu dilakukan dengan syarat SingTel sebagai pemilik 35 persen saham rela menjual. “Kalau mereka lepas semua, kita akan ambil. Pendanaan tidak ada masalah, kami siap berhutang untuk merealisasikan niat ini,” tegasnya.

Berkaitan dengan realisasi buy back 2,1 persen saham perseroan di pasar modal senilai 3 triliun rupiah, Rinaldi menjelaskan, hal itu akan dilakukan seusai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Juni nanti.

Tumbuh 10 Persen
Sementara itu, Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno mengharapkan pertumbuhan pendapatan dari perseroan pada tahun ini bisa mencapai 10 persen setelah hanya tumbuh 5 persen pada tahun lalu.

“Kami masih mengincar pertumbuhan 10 persen. Harapannya dari jasa data yang telah ditanamkan investasi sebesar 60 persen dari total belanja modal sekitar 10,9 triliun rupiah. Tahun lalu jasa data berkontribusi 15 persen bagi total omset, kita harapkan lebih pada tahun ini,” katanya.

Diungkapkannya, dari total  100 juta pelanggan  saat ini, pelanggan Telkomsel yang  menjadi pengguna data tercatat 41 juta nomor.  “Ini akan kami dorong terus agar mereka memiliki kemampuan mengakses broadband Internet sehingga lebih familiar dengan era gaya hidup baru dari hanya voice-SMS ke broadband based service.” ujarnya.

Dijelaskannya, saat ini operator seluler di Indonesia diperkirakan segera memasuki era zero sum game menyusul tekanan saturasi dan indikasi penetrasi lebih dari 100 persen.

Zero sum game adalah situasi di saat keuntungan yang diperoleh oleh satu pihak merupakan kerugian yang sama jumlahnya di pihak lain. Artinya, di saat terjadi akuisisi 10 juta SIMcard oleh satu operator berarti ada operator yang lain yang juga kehilangan 10 juta pelanggan.

Menurutnya, di era ini masalah  kapasitas,  cakupan dan sistem pendukung, infrastruktur seperti 2G, 3G, billing, solusi customer relationship management, storage dan solusi lainnya yang memiliki kemampuan proses cepat dan tersedia menjadi kunci.

Telkomsel sendiri akan berusaha fokus menjaga 100 juta pelanggan yang telah susah payah diraihnya dengan.”Soalnya kami mengeluarkan banyak dana untuk mendapatkan 1 juta pelanggan. Hal ini karena sebanyak 7 juta sim card harus dilepas untuk mendapatkan 1 juta pelanggan,” jelasnya.

Berdasarkan catatan, harga produksi satu sim card adalah 3 ribu rupiah. Dari satu pelanggan biasanya pendapatannya 30 ribu rupiah per bulan. Artinya, dari satu juta pelanggan omset yang didapat sekitar 30 miliar rupiah, sedangkan biaya produksi yang dikeluarkan mencapai 21 miliar rupiah.

Secara terpisah, praktisi telematika Bayu Samudiyo menyarankan Telkomsel lebih fokus menggarap pasar baru atau segmen komunitas ketimbang sibuk mengakuisisi pelanggan karena margin yang didapat dari pelanggan baru kian tipis. “Indonesia ini adalah negara prabayar. Jika sibuk bermain diakuisisi, kalau operatornya tidak mampu mengelola biaya secara efisien akan kewalahan,” katanya.[Dni]

Iklan

1 Komentar

  1. optimis banget nih telkom hebat didukung amdocs yg jenius … tidak disangkal lagi telkomsel punya billing system amdocs yg dipergunakan secara tak langsung oleh israell untuk spytools untuk intelijen mereka, amdocs dimiliki secara tak langsung oleh israel dan dana yg kita beli produk telkomsel secara tak langsung membayar amdocs dan akan mendukung israel membunuh rakyat palestin


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s