260411 Regulator Kaji Tender Tambahan Frekuensi 3G

JAKARTA—Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) sedang mengaji untuk mengadakan tender bagi tambahan frekuensi 3G sebesar 5 Mhz  mengingat terbatasnya alokasi spektrum sementara peminatnya banyak.

“Sisa alokasi di 2,1 GHz yang digunakan untuk 3G hanya satu kanal. Sedangkan satu kanal lagi digunakan untuk guardband dari frekeunsi Smart Teelcom yang menggunakan teknologi Code Division Multiple Access (CDMA),” ungkap Anggota Komite BRTI Nonot Harsono di Jakarta, Senin (25/4).

Diungkapkannya, saat ini sudah ada dua operator 3G yang mengajukan tambahan frekuensi agar memiliki tiga kanal (15 Mhz) dari sebelumnya dua kanal (10 Mhz) yakni XL Axiata dan Telkomsel.

“Jika Indosat, Axis, atau Tri juga menginginkan tambahan kanal ketiga, sepertinya tender harus dilakukan agar ada transparansi dan akuntabilitas. Solusi lainnya adalah membuka spektrum 2,3 GHz bagi pemain 3G,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi tidak akan rumit jika operator memegang komitmennya dalam melakukan refarming (penataan) blok frekuensi milik sendiri dan hingga sekarang belum adanya kesanggupan membayar blok 3G dari Axis dan Tri hingga 10 tahun mendatang.

Direktur Jaringan  XL Axiata Dian Siswarini mengakui, perseroan sudah mengajukan surat ke pemerintah untuk meminta tambahan blok frekuensi 3G karena layanan data yang dimilikinya menunjukkan tren peningkatan. “Kami sudah ajukan suratnya beberapa waktu lalu. Kami siap membayar sesuai dengan harga blok kedua yang diambil tahun lalu,” jelasnya.

Deputy VP Corporate Secretary Telkomsel Aulia E Marinto mengatakan, penambahan blok 3G dibutuhkan karena perseroan memiliki target jasa new business dimana data sebagai andalannya mengalami pertumbuhan di atas 15 persen pada tahun ini.

Berdasarkan catatan, kala mendapatkan blok frekeunsi 3G kedua Telkomsel mengeluarkan dana sebesar 320 miliar rupiah untuk   Upfront fee,  selain Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi  tahun pertama sebesar 160 miliar rupiah.

Sementara Indosat mengeluarkan dana sebesar 352 miliar rupiah ( upfront fee + BHP tahunan) dan XL menguras kantongnya sebesar 487,6 miliar rupiah (upfront fee+BHP). Besaran pembayaran berbeda-beda karena pemerintah memberikan dua opsi pembayaran. Operator dibolehkan  membayar besar di depan, namun kecil untuk selanjutnya atau sebaliknya.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s