210411 Regulator Siap Dialog dengan STC

JAKARTA—Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia siap berdialog dengan Saudi Telecom (STC) terkait nasib anak usahanya di Indonesia, Natrindo Telepon Selular (NTS/Axis) yang sedang kesulitan bersaing di pasar telekomunikasi lokal.

“STC internasional sudah berkirim surat kepada regulator mempertanyakan regulasi pentarifan dan persaingan di Indoensia. Kami welcome untuk berdiskusi,” ungkap Anggota Komite BRTI  Heru Sutadi di Jakarta, Rabu (20/4).

Dijelaskannya, sebenarnya  aturan interkoneksi dan tarif di Indonesia sudah jelas, dimana  pemerintah   hanya menetapkan formula atas tarif ritel saja.  Dan khusus untuk penyelenggara dominan harus mendapat persetujuan BRTI ketika menetapkan tarif dasar

“Soal adanya permintaan pengaturan  tariff batas  bawah, dari diskusi dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) diminta baiknya ditiadakan. Sebab khawatir tariff  batas bawah itu  mengunci tarif yang mungkin saja lebih murah,” jelasnya.

Menurutnya, hal yang terjadi di NTS memang unik karena sebenarnya tarif murah yang jor-joran dimulai oleh  pemilik merek dagang Axis itu.  “Harusnya jangan apa-apa dibenturkan dengan regulasi. Salah satu persoalan NTS adalah tidak ada orang indonesia di jajaran petingginya   sehingga komunikasi yang terjalin selama ini dengan regulator  tidak memahami budaya local,” ketusnya.

Masih menurutnya, pasar Indonesia sangat unik, sehingga cara-cara  berdagang di luar negeri belum tentu cocok di sini. “Misalnya, jika mereka tidak memicu tarif gratis sekian ribu SMS yang tidak masuk akal, tidak mungkin  mendorong pemain  lain juga mengobral SMS secara tidak logis. Janganlah  kegagalan manajemen dalam menjalankan usaha malah menuding regulator sebagai  kambing hitam,” tegasnya.

Sebelumnya, VP Sales & Distribution Axis Syakieb A Sungkar meminta pemerintah untuk memberikan perhatian bagi operator baru yang sedang membangun jaringan dari serangan pemain besar, terutama dalam perang tarif.

“Jika incumbent ikutan obral tarif, sama saja menutup peluang bagi pemain baru untuk dikenal masyarakat. Harusnya pemain baru diberi kesempatan untuk berkembang,” jelasnya.

Syakieb berharap, regulator dapat mendengar suara hati operator pemain baru dan memberikan batas tarif bawah yang berbeda antara pemain baru dengan incumbent. Sehingga pemain baru ini diberi kesempatan berkembang. “Contohnya di Arab Saudi, ketika Etisalat masuk pasar, Saudi Telecom (STC) selaku incumbent dilarang untuk menurunkan tarif mereka,” tuturnya.

Axis pada tahun lalu berhasil mendapatkan 9 juta pelanggan berkat program roaming nasional dengan XL Axiata.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s