210411 Bisnis Menggiurkan Bagi Pemain Lokal

Bisnis menara telekomunikasi  memang menggiurkan. Pada 2009  saja diperkirakan nilainya mencapai 100 miliar rupiah. Saat ini diperkirakan ada  45.000 menara yang berdiri di tanah air. Sebanyak  13 persen diantaranya disediakan oleh pemain lokal. Hingga 2012 nanti nilai bisnis sub sektor ini bisa mencapai  40 triliun rupiah.

Biasanya rata-rata pendapatan dari bisnis sewa menara sekitar 171 juta rupiah per tahun per penyewa. Satu menara bisa disewa oleh beberapa penyewa dengan masing-masing kontrak sewa berjangka waktu 8-10 tahun sehingga pendapatan pelaku usaha di sektor ini  cenderung stabil.

Para pemain lokal berpeluang  menjadi raja di bisnis ini karena Kemenkominfo melalui Permen Menara Bersama melindungi pengusaha lokal untuk bermain di sektor ini. Hal itu terlihat dalam  Pasal 5 ayat 1 dan 2 dalam Permen itu.

Pasal 5 ayat 1 menyebutkan  bidang usaha jasa konstruksi untuk pembangunan menara sebagai bentuk bangunan dengan fungsi khusus merupakan bidang usaha yang tertutup untuk penanaman modal asing.

Pada ayat 2 dikatakan, penyedia menara pengelola menara, atau kontraktor menara yang bergerak dalam bidang usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat 1 adalah badan usaha Indonesia yang seluruh modalnya atau kepemilikan sahamnya dimiliki oleh pelaku usaha dalam negeri.

Operator telekomunikasi pun tak ketinggalan menyewakan menaranya karena sesuai aturan menara bersama hal itu dimungkinkan. Contoh operator yang sukses bermain dalam menyewakan menara adalah XL Axiata yang mampu meraup omset 850 miliar rupiah dari 5200 menara yang disewakan.

”Rencananya, pada tahun ini jumlahnya   akan membengkak karena potensi menara untuk disewakan mencapai8.500 site,” ungkap Direktur Jaringan XL Axiata Dian Siswarini di Jakarta, (20/4).

Direktur Utama  Telkomsel Sarwoto Atmosutarno mengungkapkan, perseroan   berencana menyewakan 10 ribu menara  yang tersedia saat ini dengan fokus di wilayah   Jawa dan Bali. Sebelumnya, dua ribu menara sudah disewakan  yang berkoniribusi  2 persen bagi total  pendapatan Telkomsel  tahun lalu mencapai  45 triliun rupiah.

Penyewaan menara  milik Telkomsel ini dilakukan sambil menunggu pelepasan 10.000 menara  miliknya ke PT Daya Mitra Telekomunikasi (Miratel). anak usaha Telkom lainnya.

Selain operator, perusahan penyedia menara juga ikut menikmati gurihnya bisnis menyewakan infrastrukturnya. Dua perusahaan malah telah mencatatkan sahamnya di lantai bursa. Kedua perusahan itu adaalah PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR).

TBIG pada tahun lalu mencatatkan omset 671 miliar rupiah dengan 3.104 menara. Sementara TOWR membukukan pendapatan 1,355 triliun rupiah dengan 4.410 menara.

CEO Tower Bersama Herman Setya Budi  mengatakan strategi perusahaan tahun ini akan tetap mengikuti role out nasabah telekomunikasi ke daerah luar Jawa atau dengan mengikuti pembangunan jaringan operator telekomunikasi.

Pengamat ekonomi dari Universitas Trisakti Fransiscus Paschalis mengungkapkan, bisnis penyewaan menara masih menarik karena margin laba yang ditawarkan masih besar dengan biaya perawatan yang rendah.

”Tantangan yang dihadapi oleh pelaku usaha ini adalah perkembangan teknologi yang memungkinkan menara tidak menjadi  kebutuhan utama lagi untuk pengembangan jaringan. Saat ini jika para pemain ingin mengembangkan infrastrukturnya, cara terbaik adalah akuisisi menara milik operator telekomunikasi sehingga lebih hemat biaya dan mengurangi dampak sosial ketimbang membangun menara sendiri,” jelasnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s