210411 Bandara Internasional Perlu Distandarisasi

JAKARTA—Regulator penerbangan dihimbau untuk melakukan standarisasi bandara internasional agar ada efisiensi biaya pembangunan dan mendorong industri penerbangan.

“Harus ada standarisasi mengenai bandara internasional ini dibuat oleh pemerintah. Jika tidak ada standarisasi yang berujung setiap pembangunan bandara baru dianggap bandara internasional, itu justru menjadi beban bagi pemerintah karena ada biaya-biaya rutin yang harus dikeluarkan untuk mengakomodasi penerbangan internasional,” jelas  Direktur Keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Elisa Lumbantoruan di Jakarta, Rabu (20/4).

Menurutnya,  Jumlah bandara internasional di Indonesia yang mencapai 27 bandara dinilai terlalu berlebihan.  Guna menyaring jumlah tersebut   pemerintah diminta membuat aturan standar syarat menjadi bandara internasional seperti adanya 10 kali penerbangan internasional dalam sehari atau dikunjungi 1 juta wisatawan asing dalam setahun.

“Jika kepala daerah setempat bisa membuktikan itu maka, boleh saja disebut bandara internasional. Jangan setiap bangun bandara dikategorikan internasional. Jangan bandara yang hanya dilandasi satu kali penerbangan seminggu bisa mengaku-aku sebagai bandara internasional,” ujar nya .

Untuk diketahui, pemerintah sudah menyiapkan    lima bandara Indonesia yang akan sepenuhnya dibuka untuk dimasuki maskapai-maskapai dari negara Asean antara lain Soekarno-Hatta (Jakarta), Kualanamu (Medan), Juanda (Surabaya), Ngurah Rai (Denpasar), dan Hasanuddin (Makassar). “Tahun 2015 nanti hanya ada lima bandara internasional. Ini bukan bentuk proteksi, tapi lebih pada economic of skill untuk beri pelayanan yang lebih baik,” tuturnya.
Diungkapkannya, sebagai bandara internasional, pemerintah harus menyiapkan infrastruktur fisik yang memadai, termasuk  diantaranya ketersediaan petugas imigrasi, bea cukai dan lain-lain. Jika semua bandara mengklaim sebagai bandara internasional maka negara harus menyediakan biaya operasional yang cukup besar agar sesuai standar internasional. “Itu akan menjadi high cost bagi negara. Harus ada aturan khusus yang mengatur syarat menjadi bandara internasional,” tuturnya.
Elisa memperkirakan,  industri penerbangan di Indonesia masih akan berkembang lebih pesat lagi. Hal itu ditunjang dengan pertumbuhan ekonomi dan kondisi geografis Indonesia yang sangat mendukung. Apalagi Indonesia diprediksi bakal masuk menjadi lima besar negara dengan ekonomi terkuat pada tahun 2030. “Pertumbuhan industri airlines grafiknya linear dengan pertumbuhan ekonomi. Kita yakin industri penerbangan bisa lebih besar lagi dibanding sekarang,” cetusnya.
Indonesia memiliki lebih dari 230 juta penduduk yang kecenderungannya berkumpul di kota-kota besar. Bahkan populasi satu wilayah di Indonesia bisa melebihi jumlah penduduk di satu negara di Asia Tenggara. Dengan pertumbuhan ekonomi yang baik otomatis pendapatan perkapita masyarakatnya juga akan meningkat. “Unemployment rate (tingkat pengangguran) turun signifikan, dengan sendirinya kemampuan membeli produk maskapai semakin tinggi,” tegasnya.
Secara geografis, Indonesia yang merupakan negara kepulauan menjadikan moda transportasi udara menjadi lebih utama dibanding moda yang lain. Secara komposisi maskapai nasional melayani 67 persen penerbangan melintasi lautan (over the water). Hal itu berbeda dengan negara lain yang lebih banyak memiliki daratan. “Seperti di India bisa saja moda transportasi udara digantikan dengan kereta api. Tapi di indonesia tidak bisa. Kalau diganti moda laut akan membutuhkan waktu yang panjang,” jelasnya.

Sebelumnya, Dirjen Perhubungan Udara Herry Bakti S Gumay mengatakan dipilihnya lima bandara untuk menyambut Asean Open Sky karena Indonesia tak mau kecolongan hanya dijadikan pasar oleh maskapai dari negara tetangga. “Kita ingin melindungi maskapai lokal. Indonesia adalah pemilik pasar terbesar di Asean. Jika dibuka semua bandara, neracanya tidak seimbang karena ada satu negara Asean yang jumlah bandaranya bisa dihitung jari,” jelasnya.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s