190411 ALU Garap Solusi Cloud Computing

JAKARTA—Penyedia jaringan dan solusi, Alcatel Lucent (ALU),  akan fokus dalam penyediaan solusi cloud computing di Indonesia di tengah kendala ketersediaan dan konektivitas pendukung layanan itu.

Cloud computing adalah gabungan pemanfaatan teknologi komputer dan pengembangan berbasis Internet. Awan (cloud) adalah metafora dari internet yang sering digambarkan dalam diagram jaringan computer, serta abstraksi dari infrastruktur kompleks yang disembunyikannya.

Senior Technical Business Development Alcatel Lucent Indonesia Willy Sabry,, mengungkapkan, bisnis cloud computing sejauh ini belum sebesar potensinya karena selain masih dalam tahap sosialisasi juga masih ada sejumlah hambatan.

“Cloud computing sudah dikenal di Indonesia mulai tiga tahun lalu, namun dari studi kami, ketersediaan dan konektivitas masih menjadi kendala. Selain itu masih digunakan untuk misi-misi yang belum penting (non kritikal),” ujarnya di Jakarta, Senin (18/4).

Menurutnya,  hambatan tersebut sebenarnya dapat diatasi selama gabungan antara sumber daya komputasi dan jaringan dalam satu sistem itu didukung dengan solusi pendukungnya atau cloud enablement.

Dipaparkannya, cloud computing perlu didukung agar penyedia memiliki layanan yang unik dan mampu mentransformasi komponen jaringan mereka menjadi lebih andal, elastis, namun tetap mendukung skalabilitas dengan biaya kepemilikan yang hemat secara signifikan.

Adapun sejumlah solusi yang dibutuhkan diantaranya cloud orchestration yaitu solusi untuk mengelola komputasi, storage dan sumber daya jaringan yang digunakan untuk menghantarkan layanan cloud infrastruktur didalamnya termasuk solusi provisioning, remote monitoring serta peranti yang mendukung transparansi pelaporan dan audit data serta kemampuan dapat dipantau dari mana saja.

Sementara itu solusi lain dibutuhkan untuk posisi distribusi cloud untuk mengoptimalkan latensi biaya bandwidth dan penghantaran layanan cloud. Solusi berikutnya adalah solusi otomasi yang mengotomasi dan menyederhanakan proses manual dan alokasi sumber daya secara otomatis demi memenuhi logika bisnis dan pengalaman penyediaan service level agreement di lintas distribusi dan sentralisasi data center.  Selanjutnya adalah solusi cloud portal yang mendukung antarmuka ke sistem bagi administrator dan juga pengguna akhir layanan cloud.

Di sisi lain, lanjutnya, pada saatnya jika permintaan terhadap semua layanan cloud naik maka akan mendorong kebutuhan peranti metro–Ethernet sebagai peranti pendukung pemantauan performa.

“Kalau dulu leased line, metro ethernet di jual menjadi pipa, dan di-bundle, maka kini kalau disatukan di-bundle dengan layanan di atasnya. Begitu jalan, service akan bertambah volume lebih besar dan variasi nya lebih banyak. Jika aset ini dapat ditangani maka akan memungkinkan cloud bertransformasi dari semula hanya fokus pada aplikasi tidak penting ke fokus pada aplikasi penting,” paparnya.[dni]

180411 Meneg BUMN Setujui Pengunduran Wadirut Merpati

JAKARTA—Kementrian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyetujui pengunduran diri  Wakil Direktur Utama PT Merpati Nusantara Airlines, Adhy Gunawan, setelah yang bersangkutan mengajukan langkah tersebut beberapa hari lalu.

“Saya telah menerima pengajuan pengunduran diri Wadirut Merpati. Saya juga telah menyetujuinya. Masalah akan ada pengganti atau tidak sedang dikaji,” ungkap Menneg BUMN  Mustafa Abubakar di  Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Sabtu (16/4).

Diungkapkannya,  Adhy mengajukan surat pengunduran dirinya pada pekan lalu. Namun, Mustafa tidak mau menyebutkan alasan pengunduran dirinya tersebut, karena itu adalah hak Adhy. “Apakah terjadi masalah atau tidak itu saya tidak tahu. Mungkin saja yang bersangkutan tidak cocok di sana. Tidak perlu dibesar-besarkanlah.  itu bukan hal yang luar biasa,” tegasnya.

”Saat ini manajemen Merpati sudah semakin solid.  Langkah penyelamatan terhadap Merpati telah dilakukan, proses pencairan dana untuk modal sebesar  510 miliar rupiah sedang dilakukan,” tuturnya.

Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan Merpati Imam Turidi mengungkapkan,  hingga pekan kemarin Adhy masih terlihat bekerja seperti biasanya. Menurutnya, Adhy akan dilepas dari Merpati setelah Menneg BUMN  secara resmi menyetujui pengunduran dirinya dan dilakukan serah terima jabatan dahulu. “Status Pak Adhy adalah ex officio (menjabat sementara) sebagai wadirut sampai ada persetujuan dari komisaris,” jelas Imam.

Untuk diketahui, maskapai Merpati mengalami gejolak internal sejak terjadinya pemecatan terhadap dua orang ketua serikat karyawannya yaitu Purwanto dan Indra Topan. Langkah mundur yang diambil oleh Adhy kabarnya terkait gejolak di internal maskapai itu. Pasalnya, selain dibebani  meningkatkan tingkat keselamatan penerbangan, Mantan Kepala Sub Direktorat Operasi Pesawat Udara Kementerian Perhubungan tersebut  juga menjadi katalisator hubungan antara karyawan dengan manajemen yang dianggap sedang bermasalah.

Sebelumnya, Adhy mengaku  secara resmi mengajukan pengunduran diri di Merpati minggu lalu, tetapi belum ada respon dan Menneg  BUMN.  “Bila pengunduran diri diterima saya akan mengabdikan ilmu bagi masyarakat,” jelasnya.[dni]

180411 2012, Garuda Bayarkan Dividen

JAKARTA—PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) diperkirakan pada tahun depan akan bisa membayarkan dividen kepada para pemegang sahamnya seiring mulai membaiknya kinerja maskapai pelat merah itu.

”Saya optimistis Garuda akan mampu membayarkan dividen kepada para pemegang sahamnya. Saat ini manajemen sedang berusaha keras untuk memperbaiki kinerjanya agar laba membaik,” ungkap Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Mustafa Abubakar di Bandara Soekarno-Hatta usai menyaksikan kedatangan armada Airbus 330-200 milik Garuda, Sabtu (16/4).

Sayangnya, Mustafa enggan mengungkapkan berapa persentase dari laba yang akan dibagikan sebagai dividen atau target dari laba Garuda pada tahun ini. ”Itu tidak bisa kita ungkap, apalagi Garuda adalah pionir yang mencatatkan saham di bursa lokal. Banyak kajian harus dilakukan. Tetapi dengan strategi pengembangan armada dan efisiensi, saya yakin profitabilitas Garuda akan membaik pada tahun ini,” jelasnya.

Berdasarkan catatan, pada 2010 Garuda membukukan  laba bersih sebesar  515,5 miliar rupiah   atau anjlok sebesar 49 persen dibanding tahun sebelumnya yang diatas satu  triliun rupiah. Sedangkan  dari sisi pendapatan,   ada kenaikan 9,4 persen dari 17,8 triliun rupiah pada 2009 menjadi 19,5 triliun rupiah pada 2010. Manajemen Garuda sendiri pada awal tahun ini berkeinginan mengmbalikan laba bersih Garuda pada angka satu triliun rupiah.

Mustafa menjelaskan, melemahnya kinerja laba Garuda pada tahun lalu tak bisa dilepaskan dari kondisi industri penerbangan dunia yang melambat dan  pasar saham yang lesu, ditambah besarnya investasi yang dilakukan untuk pengembangan armada. ”Bisnis penerbangan ini bergantung seasonal. Saya yakin kurva penerimaan Garuda akan naik sebentar lagi,” jelasnya.

Mustafa pun menjelaskan, pada bulan depan akan digelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dimana agendanya adalah mengevaluasi kinerja perseroan. ”Ada kemungkinan penambahan direksi dan evaluasi secara menyeluruh kinerja manajemen. Kami akan pertahankan yang performanya baik, jika ada yang kurang akan diganti. Saat ini nama-nama direksi sedang difinalisasi oleh Kementrian BUMN untuk diusulkan ke Tim Penilai Akhir. Kandidatnya ada dari internal dan eksternal,” ungkapnya.

Berkaitan dengan nasib sisa saham Initial Public Offering (IPO) milik Garuda yang tidak terserap   investor sebanyak 3,008 miliar lembar dengan nilai  2,25 triliun rupiah, Mustafa mengungkapkan, sudah terdapat pembicaraan dengan calon investor baik dari lokal atau asing yang ingin memborongnya.

”Kami membuka peluang bagi investor lokal dan luar. Dari lokal ada Rajawali grup dan Djarum Grup. Sementara dari luar ada dari maskapai dan pasar modal. Nanti kita adakan beauty contest dan fasilitas cara pembeliannya ke Underwriter,” jelasnya.

Tiga sekuritas yang menjadi Joint Lead Underwriter (JLU) Garuda adalah PT Danareksa Sekuritas, PT Mandiri Sekuritas, dan PT Bahana Securities. Total saham yang masih mereka pegang jumlahnya sekitar 13 persen.

 

Kembangkan Armada

Sementara Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar mengungkapkan, perseroan   kembali mendatangkan satu pesawat Airbus 330-200 yang tiba di Jakarta, Sabtu (16/4) pagi, setelah serah terima pesawat dilakukan di pabrik pesawat Airbus di Toulouse, Perancis, Jumat (15/4) siang.
Dijelaskannya, pesawat berkapasitas 222 kursi ini akan digunakan untuk memperkuat jaringan penerbangan pada rute menengah, baik di Asia maupun Australia.

“Ini pesawat ke-12 seri Airbus yang dimiliki Garuda. Rencananya, memang untuk memperkuat jaringan pada rute menengah Asia dan Australia, misalnya ke Jepang, Sydney, Melbourne, dan kota lainnya. Targetnya, dalam lima tahun kedepan pesawat seri ini akan berjumlah 20 pesawat,” ungkap Emir.

Direktur Pemasaran dan Penjualan Garuda Indonesia M Arif Wibowo mengatakan, dengan penambahan satu pesawat A330-200 ini, Garuda pun segera melakukan ekspansi penerbangan ke beberapa kota di luar negeri. Rute Jakarta-Seoul (Korea Selatan) saat ini lima kali dan akan ditingkatkan menjadi tujuh kali per pekan. Sama halnya rute Jakarta-Hongkong, Jakarta- Shanghai (China), dan beberapa kota lainnya.

”Kami targetkan paling lambat November 2011, peningkatan rute penerbangan ke sejumlah kota di luar negeri itu direalisasikan,” katanya.

Kedatangan satu pesawat baru ini menambah jumlah pesawat Airbus 330-200 menjadi enam unit. Garuda pun saat ini telah mengoperasikan enam unit Airbus 330-300, serta 43 unit pesawat Boeing 737-800 NG. Pesawat Airbus 330 melayani rute Jakarta atau Bali ke beberapa kota di Jepang, Australia, China, serta Amsterdam (Belanda), Hongkong, dan Seoul.

Selain satu pesawat A330-200, hingga akhir tahun 2011, Garuda Indonesia juga membeli 9 unit pesawat Boeing 737-800 NG.

“Hari Minggu (17/4), kami juga akan kedatangan satu pesawat seri Boeing 737-800NG,” kata VP Corporate Communication Garuda Indonesia Pujobroto.

Pujobroto menambahkan, seiring bertambahnya pesawat-pesawat baru, secara otomatis akan meningkatkan kebutuhan kru dan pilot. ”Kehadiran satu pesawat A330-200 menuntut Garuda harus menambah 66 orang kru dan 14 pilot, sementara Boeing 737-800 NG membutuhkan 9 pilot,” ujarnya.[dni]

180411 Kemenhub Siapkan Road Map Kapal Khusus Kegiatan Lepas Pantai

JAKARTA—Kementrian Perhubungan (Kemenhub) sedang menyiapkan road map untuk kapal khusus kegiatan lepas pantai (Offshore) agar bisa memenuhi azas cabotage.

”Sedang disiapkan Keputusan Menteri (KM) yang merupakan turunan dari Peraturan Pemerintah (PP) No 22/2011 tentang perubahan atas PP No 20/2010 tentang angkutan di perairan yang diundangkan pada 4 April 2011. Dalam KM itu tidak hanya mengatur perizinan bagi kapal khusus Offshore untuk beroperasi, tetapi juga roadmap pemenuhan azas cabotage bagi enam kapal yang diberikan dispensasi,” ungkap Dirjen Perhubungan Laut Sunaryo di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dijelaskannya, road map untuk enam kapal khusus itu akan menimbang kondisi dari industri pelayaran lokal agar kepentingan semua pihak dapat diakomodasi. ”Kita tidak mau mengorbankan azas cabotage dan lifting minyak nasional. Nantinya batasan waktu penggunaan akan dibuat serasional mungkin. Satu hal yang pasti, KM ini harus disahkan sebelum 7 Mei 2011,” jelasnya.

Untuk diketahui, keluarnya  Peraturan Pemerintah (PP) No 22/2011 tentang perubahan atas PP No 20/2010 tentang angkutan di perairan yang diundangkan pada 4 April 2011 menyatakan  kapal asing dapat melakukan kegiatan lain yang tidak termasuk kegiatan mengangkut penumpang dan/atau barang dalam kegiatan angkutan laut dalam negeri di wilayah periaian Indonesia sepanjang kapal berbendera Indonesia belum tersedia atau belum cukup tersedia.

Kapal asing untuk lepas pantai yang boleh beroperasi meliputi kegiatan survei minyak dan gas bumi, pengeboran, konstruksi lepas pantai, penunjang operasi lepas pantai, pengerukan, serta salvage dan pekerjaan bawah air.

Aturan ini juga menyebutkan secara jelas jenis kapal khusus untuk kegiatan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi di lepas pantai antara lain anchor handling tug supply vessel lebih besar dari 500 BHO dengan dynamic position (DP2/DP3), Platform Supplly Vessel (PSV), dan diving support vessel (DSV).

Ketua Umum Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Johnson W Sutjipto menegaskan akan mengawal pembuatan KM yang mengatur masalah teknis dari PP No22/2011.

”Kami tidak mau memberikan cek kosong bagi kapal asing dengan adanya PP itu. Kita akan minta dalam KM nantinya ada semacam road map yang memberikan batas waktu azas cabotage dijalankan secara penuh untuk kapal-kapal khusus lepas pantai itu,” katanya.

Dijelaskannya, untuk memenuhi pengadaan dari enam jenis kapal lepas pantai itu solusi yang harus dilakukan adalah pengadaannya melalui konsorsium. ”Tidak bisa dibeli oleh satu pemodal saja karena ini kapal yang jarang ada di dunia. Tetapi saya yakin para pemain lokal akan sanggup membeli jika kondisi tender memberikan kontrak jangka panjang dan mendukung pemain lokal,” tegasnya.[dni]

180411 Kemenhub Tolak Fuel Surcharge

JAKARTA—Kementrian Perhubungan (Kemenhub)  akhirnya  menolak usulan Asosiasi Perusahaan Angkutan Udara  Sipil Nasional Indonesia (INACA) untuk memberlakukan kembali fuel surcharge atau biaya selisih harga bahan bakar pesawat untuk penerbangan domsetik meski harga avtur terus merangkak naik sejak Maret lalu.

Menurut Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Herry Bakti Singayudha Gumay, fluktuasi harga BBM bisa menurun lagi setelah masalah politik dan peperangan di negara penghasil minyak di Afrika mulai mereda, sehigga tidak perlu diterapkan fuel surcharge untuk mengantisipasi gejolak harga avtur.

“Kita sudah mendengar adanya kenaikan harga BBM, kalau harganya belum melebihi   10 ribu rupiah  per liter tidak perlu dikhawatirkan. Kenaikannya mungkin tidak terjadi dalam tiga bulan ke depan, jadi maskapai tidak perlu khawatir,” tegas Herry di Jakarta, akhir pekan lalu.

Karena itu, ditegaskannya,  hingga saat ini belum ada keputusan untuk mengubah ketentuan   dalam tarif batas atas maskapai yang diatur Keutusan Menteri (KM) 26 tahun 2010 tentang Pengaturan Tarif Pesawat Komersial Kelas Ekonomi.

Direktur Umum Lion Air, Edward Sirait menjelaskan, kenaikan avtur tersebut memang menggerus biaya operasional maskapai, tapi hingga saat ini maskapainya  masih mengikuti ketentuan pemerintah.

Edward pun menegaskan, hingga akhir April Lion juga tidak akan menaikkan tarif terkait kenaikan avtur.  “Dalam waktu dekat, Lion masih akan melakukan efisiensi saja,” ujarnya.

Ketua Umum INACA, Emirsyah Satar menyatakan, pihaknya telah melayangkan surat usulan kepada pemerintah untuk segera merevisi aturan tarif batas atas penerbangan komersial kelas ekonomi.

“Kalau usulan pemberlakuan fuel surcharge ditolak, harapannya pemerintah segera merevisi tarif batas atas,” tandasnya.

Dijelaskannya, dalam kondisi normal biaya avtur menyumbang sekitar 32 persen bagi total biaya operasi suatu maskapai penerbangan. Sehingga asosiasi merasa perlu mengadakan pertemuan dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan untuk membahas kenaikan harga avtur tersebut.

“Dengan adanya kenaikan harga tersebut maka biaya operasional bisa naik sebesar 10 persen-15 persen, bayangkan pada 2009 rata-rata harga avtur  70 dollar AS per barel lalu naik menjadi 90 dollar AS per barel pada 2010,” jelas Emirsyah.

Diungkapkanny,  saat ini harga avtur di Indonesia bagian timur telah mencapai lebih dari  10 ribu rupiah per liter. Saat ini rata-rata harga avtur di Indonesia hampir  10 ribu rupiah  per liter.

Hal tersebut penting dibahas karena menurutnya sesuai Pasal 7 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 tahun 2009 tentang Penerbangan, maskapai diizinkan mengenakan biaya fuel surcharge jika harga avtur sudah melebihi Rp 10.000 per liter dan kondisi itu menambah biaya operasi maskapai penerbangan sebesar 20 persen selama tiga bulan berturut-turut.”Kebijakan yang bisa diambil pemerintah saat ini adalah penerapan biaya tambahan bahan bakar atau merevisi aturan tarif batas atas,” ujarnya.

Berdasarkan catatan, PT Pertamina (Persero) kembali menaikkan harga avtur yang dijualnya periode 1 April-15 April 2011 di 61 titik penjualan Pertamina Aviasi mulai dari 0,5 persen untuk harga avtur penerbangan domestik, sampai yang tertinggi 1,1 persen  untuk avtur penerbangan internasional.

Kenaikan harga tersebut, lebih rendah dibandingkan saat Pertamina menaikkan harga jual periode 16 Maret-31 Maret 2011 terhadap harga 1 Maret-15 Maret masing-masing sebesar 6,2  dan 7,1 persen.

Situs resmi Pertamina Aviasi menyebutkan, perseroan menjual harga avtur tertinggi senilai 10.736 rupiah per liter untuk penerbangan domestik dan  111,9 sen dollar AS per liter di sepuluh bandara antara lain Frans Kaisepo Biak, Sentani Jayapura, Kaimana, Mopah Merauke, Pattimura Ambon, dan Sultan Babullah Ternate.

Pada periode sebelumnya, di sepuluh bandara tersebut Pertamina menjual avtur  10.681 rupiah  untuk penerbangan domestik dan  110,7 sen dollar AS untuk penerbangan internasional.

Sementara harga avtur terendah dijual Pertamina di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng dengan harga  9.075 rupiah  per liter untuk penerbangan domestik, naik 0,73 persen  dibanding harga jual periode sebelumnya  9.009 per liter. Untuk penerbangan internasional harganya naik 1,1 persen  menjadi  95,5 sen dollar AS per liter dari  94,4 sen dollar AS per liter.[dni]