150411 XL Masih Bidik Lisensi SLI

JAKARTA—PT XL Axiata Tbk (XL) masih membidik lisensi Sambungan Internasional (SLI) untuk meningkatkan layanan ke pelanggan dan memperluas pangsa pasarnya.

“Seperti posisi pada 2007, kami tetap menginginkan lisensi SLI untuk meningkatkan pelayanan ke pelanggan dan melengkapi lisensi yang dimiliki. Apalagi, masalah penyelenggaraan SLI itu sebenarnya hal yang lumrah dikerjakan oleh semua operator telekomunikasi,” tegas Presiden Direktur XL Axiata Hasnul Suhaimi di Jakarta, Kamis (14/4).

Ditegaskannya, perseroan sejak mengikut tender empat tahun lalu sudah siap secara infrastruktur menyelenggarakan jaringan SLI. Bahkan strategi pemasaran pun sudah disiapkan dengan memprioritaskan jasa diperuntukkan bagi pelanggan sendiri.

“Sekarang kami memiliki sekitar 40,4 juta pelanggan. Prioirtas jasa ini akan diberikan kepada mereka untuk memudahkan dalam melakukan panggilan SLI yang berkualitas,” tuturnya.

Dimintanya, jika pemerintah menggunakan aturan yang tertuang dalam PM Kominfo No 1/2010  untuk memberikan lisensi seluler kepada PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), maka regulasi yang sama bisa dijadikan rujukan untuk pemberian kode akses SLI bagi XL.

“Saya dengar sekarang ada pembahasan di pemerintah yang menimbang SLI akan diberikan melalui tender atau evaluasi. Bagi kami semua terserah prosesnya dan akan kita ikuti. Hal yang penting ada kepastian bahwa peluang untuk mendapatkan lisensinya,” tegasnya.

Direktur Jaringan XL Axiata Dian Siswarini menambahkan, dari sisi jaringan telah digelar serat optik yang menghubungkan Batam-Johor Baru dan Dumai-Malaka, serta memperbanyak gateway. “Tinggal disiapkan pembangunan Sentra Gerbang Internasional (SGI). Singkatnya, infrastruktur sangat siap,” tukasnya.

Berdasarkan catatan, saat ini pemain SLI berbasis clear channel ada tiga yakni Telkom, Indosat, dan Bakrie Telecom. Potensi  pasar dari jasa SLI tahun ini sekitar tiga triliun rupiah yang akan berasal dari jumlah panggilan sebesar tiga miliar menit per tahun. Komposisi panggilan adalah  70 persen  keluar negeri dan 30 persen panggilan dari luar negeri.

Secara terpisah, pengamat kebijakan publik Agus Pambagio mengakui, pemain SLI memang harus ditambah jika melihat tren kenaikan trafik setiap tahunnya.

“Pertumbuhan trafik setiap tahunnya 30-45 persen. Pada 2015 nanti diperkirakan ada 36 miliar menit, idealnya ada 6 operator yang menyelenggarakan layanan ini agar tarifnya makin terjangkau dan kualitas pelayanan makin baik,” jelasnya.

Sementara Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono  menjelaskan, untuk jasa SLI beklum ada pasal khusus yang secara jelas mencermikan kebijakan nasional tentang jumlah gerbang internasional Indonesia.

“Dalam PM No 1/2010 hanya disebut bahwa yang memerlukan kode akses (penomoran) jumlahnya dibatasi dengan cara seleksi. Sedang dalam Fundamental Technical Plan (FTP) penomoran SLI menggunakan satu digit , sehingga implicit FTP membatasi hingga 9 gerbang,” jelasnya.

Pembagian Dividen

Selanjutnya Hasnul mengungkapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Luar Biasa (RUPSTLB) yang dilakukan pada Kamis (14/4) disepakati penetapan penggunaan laba bersih tahun buku 2010 sebesar 2.891.261 triliun rupiah diambil untuk pembagian dividen sebesar 30 persen atau mencapai 911487 miliar upiah dengan harga per saham sekitar 107 rupiah.

“Kami menaikkan besaran persentase untuk dividen karena industri sudah mature sehingga investasi tidak terlalu besar lagi. Kalau sudah begini untuk apa ditahan dividen bagi pemegang saham. Selain itu kami ingin mengubah paradigma yang memegang saham XL dari orientasi mencari yield menjadi dividen stock. Pada akhir Mei ini Dividen akan dibayarkan,” jelasnya.

Senior Vice President NetCo and Corporate Finance XL Axiata Johnson Chan menambahkan, perseroan juga berencana akan membayar hutang sebesar dua triliun rupiah pada tahun ini baik yang telah jatuh tempo atau dipercepat pembayarannya. Pada tahun ini hutang perseroan yang jatuh tempo sebesar satu triliun rupiah. Sedangkan posisi total hutang pada tahun lalu sebesar 10,2 triliun rupiah.

“Setiap kuartal rencananya akan dibayar sekitar 500 miliar rupiah. Pada kuartal pertama tahun lalu dilakukan pembayaran 900 miliar rupiah,” jelasnya.

Hasnul menambahkan, perseroan pada tahun ini mengalokasikan belanja modal sebesar lima triliun rupiah dimana 30 persen akan digunakan untuk pengembangan jaringan 3G. “Kami menginginkan jasa data ini kontribusinya naik dari 9 persen pada tahun lalu menjadi 10 hingga 11 persen bagi total pendapatan,” katanya.

Dian menambahkan, pada tahun ini rencananya akan dibangun sekitar 2.500-3.000 BTS dimana 45 persen adalah BTS 3G (Node B).

“Kami tengah melakukan modernisasi jaringan sehingga BTS bisa siap menjalankan Long Term Evolution (LTE). Penyedia jaringan yang digandeng adalah Ericsson dan Huawei,” katanya. [dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s