140411 Meretas Jalan Menuju Masyarakat Uang Digital 

Lembaga riset Gartner menyebutkan wilayah Asia Pasifik akan menjadi pengguna terbesar layanan mobile payment belum lama ini. Hal ini mengacu pada data 2009 dimana Asia Pasifik sudah menjadi pengguna mobile banking terbesar melalui 70,2 juta pengguna. Pada tahun lalu diperkirakan meningkat hingga 54,5  persen menjadi 108,6 juta pelanggan, sehingga pengguna mobile payment akan mewakili 2,1 persen pengguna seluler. Sedangkan Global Mobile Payment Forecast   memperkirakan akan terdapat 622 juta pengguna mobile payment di Asia Pasifik dengan jumlah transaksi lebih dari 62 miliar. Coumpound Annual Growth Rate (CAGR) dari transaksi mobile payment sendiri secara global mencapai 94,1 persen dengan nilai 316 miliar dollar AS.  Mobile Payment adalah aplikasi yang memungkinkan micropayment dilakukan melalui ponsel untuk bertransaksi keuangan. Layanan ini menggunakan uang digital sebagai pengganti uang kartal atau kartu kredit dan debit.  Indonesia sendiri diperkirakan ada nilai transaksi 1,2 triliun rupiah untuk mobile payment pada tahun lalu. Ketua Umum Masyarakat Telekomunikasi Indonesia (Mastel) Setyanto P Santosa mengakui, pendorong utama pertumbuhan mobile payment adalah negara-negara berkembang karena di negara maju tidak banyak konsumen memanfaatkan ponsel untuk pembayaran karena memiliki banyak pilihan instrumen pembayaran. Indonesia sendiri diperkirakan memiliki 125 juta pengguna ponsel. “Di negara-negara berkembang seperti Indonesia juga ada kenyataan dimana masih banyak konsumen belum terjangkau oleh layanan perbankan.  Di wilayah rural itu 31 persen tidak tersentuh bank, sedangkan di perkotaan sekitar 17 persen dari total populasi,” ungkapnya di Jakarta belum lama ini. Diungkapkannya, mobile payment yang tertanam dalam aplikasi saat ini masih belum banyak yang membuat karena operator dalam langkahnya masih teradang oleh regulasi. “Operator berharap adanya pembukaan regulasi yang lebih bebas dengan pendekatan digital, bukan pembayaran tradisional,” tuturnya. Menurutnya, hal lain yang menjadi penghambat mobile payment di Indonesia adalah karakter para pelaku usaha yang secara umum masih sulit diajak bersinergi diantara sesamanya. Berikutnya masalah kualitas jaringan yang belum memadai, keterbatasan perangkat, tingkat keberagaman jaringan dan perangkat sehingga membutuhkan standarisasi, tingginya tingkat kehilangan ponsel, dan isu keamanan transaksi. “Mobile payment yang aman perlu melibatkan layanan tambahan yang didukung oleh akses data seperti aplikasi Sim Tool Kit yang memungkinkan daanya sistem pembayaran beragam. Hal ini juga  membuat ada tambahan keamanan yang sifatnya end to end,” jelasnya. Senior Partner & Head of Mobile Money Solution Huawei Ernest Lo mengungkapkan, secara global jika dilihat dari infrastruktur dan potensial kapasitas layanan uang digital terbagi atas empat yaitu,  layanan mobile payment utama, dasar, kombinasi mobile payment dan lifestyle, serta transfer dana dan mobile payment. ”Keuntungan bagi operator mengambangkan uang digital adalah bisa masuk ke pasar baru, dan menekan pindah layanan pelanggan. Dari model bisnisnya pun ada pendapatan dari biaya transaksi atau  langganan bulanan,” jelasnya. Regulasi Dirjen Aplikasi Telematika Ashwin Sasongko menjelaskan, pemerintah sudah memberikan kepastian hukum bagi pembayaran secara elektronik dengan hadirnya UU Informasi dan Transaksi Elektronika (ITE). Dijelaskannya, dalam UU ITE disebutkan kegiatan ekonomi bisa mendapatkan perlindungan hukum misalnya e-Tourism atau e-Money, sehingga jika ada yang melakukan pelanggaran bisa segera digugat berdasarkan pasal-pasal di UU itu. “Belum lagi diperkuat dengan adanya UU Transfer Dana dimana tanda tangan elektronik memiliki kekuatan hukum yang sah. Tanda tangan elektronik disini adalah informasi elektronik yang dilekatkan memiliki hubungan langsung atau terkait pada informasi elektronik lain untuk menunjukkan identitas subyek hukum,” jelasnya. Kepala Biro Sistem Pembayaran Bank Indonesia Aribowo mengakui diperlukan adanya standarisasi jasa uang digital untuk memicu terjadinya interperobilitas antarpelaku. “Kami juga sedang mengaji jumlah minimum transaksi di micropayment ini bisa dinaikkan agar lebih banyak lagi penggunanya,” katanya. Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi menambahkan, dalam perspektif operator telekomunikasi aturan yang ada akan relevan jika bisa mengakomodasi dua situasi. “Pertama, dapatkah operator telekomunikasi menjadi agen dimana saluran distribusinya bisa digunakan untuk mencairkan  uang digital. Kedua, dapatkah operator telekomunikasi mengoperasikan pembayaran menggunakan saluran retail yang lain,” jelasnya. VP T-Cash Management Telkomsel Bambang Supriogo menyambut gembira rencana dari bank sentral untuk meningkatkan minimum jumlah transaksi dari micropayment yang masih berkutat di angka lima juta rupiah per hari. “Saya rasa itu ide yang bagus. Tetapi sebenarnya pekerjaan yang berat dari mengembangkan layanan ini adalah membuat masyarakat sadar layanan itu ada dan dibutuhkan,” katanya. Diungkapkannya, Telkomsel sudah memulai layanan T-Cash sejak empat tahun lalu yang menelan investasi 50  miliar rupiah untuk membangun platform. ‘Hingga sekarang baru 4,5 juta pelanggan dari 96 juta pelanggan yang terdaftar sebagai pengguna T-Cash. Sedangkan yang aktif bertransaski baru 5-10 persen dari pelanggan terdaftar,” keluhnya. Ditegaskannya, walau minat masyarakat masih minim, Telkomsel akan tetap mengembangkan jasa uang digital karena inilah salah satu bisnis masa depan bagi operator telekomunikasi. Saat ini Telkomsel sedang mengembangkan mobile payment dengan teknologi Radio Frequency Identification (RFID) yang memungkinkan pembayaran dilakukan hanya dengan mendekatkan ponsel pada Electronic Data Capture (EDC). Konsep ini diyakini sangat cocok untuk transaksi pembayaran parkir, makanan, dan lainnya. “Belajar dari kasus Mpesa di Kenya, awalnya hanya punya 17 ribu pelanggan, kala saluran distribusi menjadi besar dan masyarakat sadar manfaat layanan ini, jumlah pelanggan melonjak menjadi 17 juta orang. Kami sekarang sedang meretas skala ekonomi  yang ideal agar   buah dari perjuangan bisa dirasakan,” katanya.[dni]         

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s