140411 BHPFrekuensi BTEL Harus Dihitung Ulang 

JAKARTA— Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) diminta untuk menghitung ulang Biaya Hak Penarikan (BHP) frekuensi milik  PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) seiring diberikannya ijin prinsip  seluler   kepada pemilik merek dagang esia itu. “Pola penarikan BHPberbasis pita masih transisi selama lima tahun ke depan. Selama masa transisi ini pola penghitungannya dengan mengacu pembayaran BHP 2009 dimana BTEL masih membayar sebagai pemain Fixed Wireless Access (FWA),” ungkap Direktur Lembaga Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala di Jakarta, Rabu (13/4). Untuk diketahui, cara penghitungan dari BHP pita untuk setiap operator adalah dengan menjadikan  pungutan frekuensi selama 2009 sebagai referensi ditambah dengan harga dasar frekuensi 3G (Rp 160 miliar). Setelah angkanya di dapat, akan ada penambahan  dengan melihat index konsumen dan populasi yang diasumsikan naik sebesar dua persen setiap tahun.  Sedangkan bagi pemilik frekuensi 900 Mhz ada beberapa tambahan mengingat alokasi yang dimiliki lebih strategis. Dalam masa transisi  operator membayar secara gradual setiap tahunnya agar mencapai angka ideal sesuai rumusan BHP pita. Misal, untuk pembayaran 2010 rumusannya BHP 2009 + 20% (BHP 2014-BHP2009). Sedangkan untuk tahun 2011 besaran berubah menjadi  40 persen, 60 persen (2012), dan 80 persen (2013). Menurut Kamilov, jika nantinya BTEL menyelenggarakan layanan seluler secara penuh maka tentunya ada ketidaksetaraan dengan pemain lain yang memiliki dual lisensi seperti Mobile-8 Telecom. Untuk diketahui BHPfrekuensi Mobile-8 pada 2009 dihitung sebesar tiga kanal berdasarkan seluler dan satu kanal FWA. Sementara BTEL semua kanalnya dianggap FWA. BHP FWA diperkirakan hanya seperdelapan dari seluler. ”Hal ini menjadi masalah karena teknologi yang digunakan tidak bisa membedakan kapan diselenggarakan jasa seluler atau FWA. Berharap pada kejujuran operator itu hal yang tidak mungkin. Idealnya dihitung ulang atau aturan tentang FWA dianulir dan dibuat kesepakatan baru,” katanya. BTEL sendiri dalam dokumen komitmen membangun seluler menyatakan akan menggunakan frekeunsi eksisting dengan pola dinamis dalam memanfaatkan spektrum. Pola dinamis dimaksud adalah membedakan pelanggan seluler dan FWA dengan memanfaatkan Home Location Register (HLR) sebagai referensi.Sementara Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemenkominfo Gatot S. Dewa Broto menegaskan, BTEL akan menjalankan dua lisensi bersamaan karena dalam komitmen pembangunan terpisah.[dni]   

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s