140411 Wings Air Kembangkan City Hubber

  JAKARTA –PT Lion Mentari Airlines melalui anak usahanya,  Wings Air, berencana mengembangkan  ekspansi penerbangan antar kota atau city hubber di Indonesia. “Pulau  Sumatera akan menjadi bidikan city hubber pada  tahun ini. Sementara untuk Pulau Kalimantan dipastikan terealisasi pada 2012. Rencana tersebut untuk meningkatkan pendapatan perusahaan hingga 15 persen,” ungkap  Direktur Umum Lion, Edward Sirait di Jakarta, Rabu (13/4). Dikatakannya,   ekspansi tersebut bagian dari konsekuensi mulai berdatangannya pesawat andalan Wings yaitu ATR72-500 dari pabriknya di Perancis. Hingga September tahun ini, diproyeksikan akan ada penambahan hingga lima unit pesawat lagi. “Selama ini kita menggarap city hubber di sekitar Jawa, seperti Surabaya-Jogja, Semarang-Bandung, Surabaya-Denpasar dan Bandung-Lampung, ternyata sukses. Tahun ini Pulau Sumatera akan menjadi sasaran berikutnya,” tegasnya.  Diungkapkannya, rencana menjadikan Sumatera dalam proyeksi ekspansi tahun ini  karena permintaan di pulau tersebut sangat besar. Beberapa rute yang bakal dibuka antara lain Padang-Palembang, Palembang-Bengkulu, Palembang-Tanjungpinang. Beberapa kota di Riau dan Sumatera Utara juga akan mengalami penambahan rute. Dijelaskannya, bertambahnya lima ATR72-500 tersebut membuat kapasitas Wings  bertambah sebesar 27 persen, sehingga harus dipergunakan seluasnya untuk memberikan layanan kepada masyarakat, terutama di daerah pedalaman. “Potensi penumpangnya sangat besar, terutama bagi para pebisnis antar kota. Selain itu ikatan kekeluargaan di Sumatera juga cukup besar dan menjadi segmen menarik bagi Wings,” tandasnya. Berdasarkan catatan, saat ini Wings mengoperasikan sebanyak 16 unit pesawat yaitu 12 unit ATR 72-500,  dua Dash-8 dan tiga MD-82. Dengan proyeksi akan datang lagi lima unit, maka tahun ini Wings bakal mengoperasikan sebanyak 21 armada.  “Itu kalau pesawat kedua yaitu 15 ATR 72-500 belum datang akhir tahun, kemungkinannya akan datang beberapa pada akhir tahun ini,” tuturnya. Diungkapkannya,   15 unit ATR kedua tersebut bakal dioperasikan untuk ekspansi Wings Air diKalimantan.”City hubber di Kalimantan yang dilakukan oleh maskapai lain masih belum maksimal,  Wings Air masih bisa mengoptimalkannya seperti kota-kota Putusibau, Pangkalanbun, Sampit, Samarinda, Berau, Nunukan, Sintang, Kotabaru, Berau, Ketapang, Palangkaraya dan Banjarmasin,” katanya. Diharapkannya,  meingkatnya jumlah armada dan rute penerbangan tahun ini, Wings Air menargetkan tahun ini bakal meningkatkan pendapatannya hingga 15 persen. “Memang tidak sesuai dengan pertumbuhan kapasitas yang 27 persen, hal ini karena ada rute-rute remote yang juga bakal dibuka. Untuk rute remote, pertumbuhannya tidak setinggi kota-kota yang sudah maju,” tandasnya.[dni]

140411  Infomedia Harapkan Pengguna Citylife 801 Tumbuh 400 %

JAKARTA— Perusahaan penyedia informasi  terintegrasi dan solusi media digital,  PT Infomedia, mengharapkan pengguna layanan Citylife 801 bisa tumbuh 400 persen dari posisi sekitar 2000 pada Maret menjadi 10 ribu pengakses  pada Juni nanti.“Kami harapkan dalam waktu tiga bulan ini jumlah pengguna layanan yang inovatif ini bisa melonjak 400 persen. Saat ini penetrasi ke pasar sedang diagresifkan dengan menggandeng banyak mitra,” ungkap Presiden Direktur Infomedia Muhammad Awaluddin di Jakarta, Rabu (13/4).Dijelaskannya, Citylife 801   merupakan layanan informasi terlengkap dan paling akurat mengenai berbagai hal terkait gaya hidup terkini, seperti : kuliner, fashion,hotel,transportasi dan lain – lain. Saat ini Citylife 801 telah menjangkau wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat dengan tarif telepon 550 rupiah per  30 detik dengan waktu operasional 24 jam sehari. Infomedia sendiri memiliki  dua  bisnis utama yaitu Digital Media & Rich Content Services dan Contact Center & Outsourcing Services.“Belum lama ini kami menggandeng  CV. Citra Tiara (Cititrans)  untuk  Joint Promotion.  Ini bagian dari upaya meningkatkan awareness Citylife 801 karena pengguna Cititrans itu lumayan banyak,” jelasnya.Diungkapkannya, dalam kerjasama itu, Infomedia akan mereferensikan nama Cititrans sebagai prioritas utama pencarian informasi jasa transportasi travel pada Layanan Citylife 801. Sedangkan Infomedia berhak mendapatkan publikasi free mengenai Layanan Citylife 801 dalam berbagai media promosi yang dibuat oleh Cititrans.Diharapkannya,dengan semakin dikenalnya  Layanan Citylife 801 sebagai layanan informasi umum gaya hidup masyarakat  ebagai konsumen mendapatkan informasi apapun yang mereka butuhkan dengan cepat. “Layanan ini sangat murah dan gampang diakses. Jika masyarakat sudah pernah menggunakannya, dijamin akan senang. Kami sendiri terus mengembangkan layanan ini dengan memperbanyak direktori,” jelasnya.[dni]

140411 Telkomsel  Kembangkan Pasar Android

JAKARTA—Telkomsel terus mengembangkan jumlah pengguna ponsel atau komputer tablet berbasis Android dengan menggandeng sejumlah prinsipal yang bisa membantu meningkatkan penetrasi pasar.“Kami telah memiliki 60 ribu pengguna perangkat berbasis Android. Kita ingin meningkatkan basis pelanggan itu seiring pembangunan infrastruktur broadband yang agresif tahun ini,” ungkap GM Device Bundling Management Telkomsel Heru Sukendro di Jakarta, Rabu (13/4).Menurutnya, potensi pasar Android sangat menjanjikan di Indonesia karena masyarakat lumayan cepat beradaptasi dengan perangkatnya yang kebanyakan layar sentuh atau berbelanja aplikasi di android market.“Telkomsel mengedukasi masyarakat tentang keunggulan Android dengan mendekati komunitas dan membuat lomba aplikasi. Masalah aplikasi lokal ini sangat penting agar ada sentuhan lokal yang membuat masyarakat merasa membutuhkan android,” jelasnya.Langkah lainnya adalah menghadirkan perangkat dengan harga terjangkau d agar segmen pasar yang dijangkau bisa lebih besar. “Kami menggandeng banyak principal untuk adanya harga murah. Terbaru adalah  paket bundling  dengan ponsel  IVIO DE-38 seharga  1.499 juta rupiah yang  dapat menikmati paket unlimited data hanya  50 ribu rupiah perbulan selama 3 bulan. Dalam waktu tiga bulan ke depan kita harapkan paket bundling ini terjual 10-20 ribu unit,” jelasnya.Berdasarkan catatan,  Telkomsel sudah bekerjasama dengan 32 merek atau prinsipal mulai dari ponsel buatan China hingga ponsel merek besar seperti BlackBerry, Nokia, Sony Ericsson, Samsung, HT. Hingga akhir tahun 2010 setidaknya Telkomsel telah bundling dengan 75 type ponsel, mulai dari low end dengan harga murah hingga smartphone dari segala jenis sistem operasi.Sementara Direktur Utama IVIO Sjamsudin Ali mengungkapkan, pangsa pasar perangkat Android masih kecil di Indonesia yakni sekitar  dibawah 3 persen dari total penjualan ponsel setiap bulannya.  “Kami ingin membawa Android ke harga yang bisa dijangkau oleh pasar.  Selain itu juga akan ditawarkan produk yang memiliki fitur lebih menarik,” katanya.    IVIO sudah masuk ke pasar ponsel dalam negeri sejak tahun 2008. Hingga akhir tahun 2010 jumlah penjualan ponsel IVIO di Indonesia mencapai sekitar 1,5 juta unit, dan diharapkan pada tahun 2011 bisa mencapai sekitar 2,5 juta unit.[dni]

140411 BHPFrekuensi BTEL Harus Dihitung Ulang 

JAKARTA— Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) diminta untuk menghitung ulang Biaya Hak Penarikan (BHP) frekuensi milik  PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) seiring diberikannya ijin prinsip  seluler   kepada pemilik merek dagang esia itu. “Pola penarikan BHPberbasis pita masih transisi selama lima tahun ke depan. Selama masa transisi ini pola penghitungannya dengan mengacu pembayaran BHP 2009 dimana BTEL masih membayar sebagai pemain Fixed Wireless Access (FWA),” ungkap Direktur Lembaga Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala di Jakarta, Rabu (13/4). Untuk diketahui, cara penghitungan dari BHP pita untuk setiap operator adalah dengan menjadikan  pungutan frekuensi selama 2009 sebagai referensi ditambah dengan harga dasar frekuensi 3G (Rp 160 miliar). Setelah angkanya di dapat, akan ada penambahan  dengan melihat index konsumen dan populasi yang diasumsikan naik sebesar dua persen setiap tahun.  Sedangkan bagi pemilik frekuensi 900 Mhz ada beberapa tambahan mengingat alokasi yang dimiliki lebih strategis. Dalam masa transisi  operator membayar secara gradual setiap tahunnya agar mencapai angka ideal sesuai rumusan BHP pita. Misal, untuk pembayaran 2010 rumusannya BHP 2009 + 20% (BHP 2014-BHP2009). Sedangkan untuk tahun 2011 besaran berubah menjadi  40 persen, 60 persen (2012), dan 80 persen (2013). Menurut Kamilov, jika nantinya BTEL menyelenggarakan layanan seluler secara penuh maka tentunya ada ketidaksetaraan dengan pemain lain yang memiliki dual lisensi seperti Mobile-8 Telecom. Untuk diketahui BHPfrekuensi Mobile-8 pada 2009 dihitung sebesar tiga kanal berdasarkan seluler dan satu kanal FWA. Sementara BTEL semua kanalnya dianggap FWA. BHP FWA diperkirakan hanya seperdelapan dari seluler. ”Hal ini menjadi masalah karena teknologi yang digunakan tidak bisa membedakan kapan diselenggarakan jasa seluler atau FWA. Berharap pada kejujuran operator itu hal yang tidak mungkin. Idealnya dihitung ulang atau aturan tentang FWA dianulir dan dibuat kesepakatan baru,” katanya. BTEL sendiri dalam dokumen komitmen membangun seluler menyatakan akan menggunakan frekeunsi eksisting dengan pola dinamis dalam memanfaatkan spektrum. Pola dinamis dimaksud adalah membedakan pelanggan seluler dan FWA dengan memanfaatkan Home Location Register (HLR) sebagai referensi.Sementara Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemenkominfo Gatot S. Dewa Broto menegaskan, BTEL akan menjalankan dua lisensi bersamaan karena dalam komitmen pembangunan terpisah.[dni]   

140411  Mencari Model Bisnis Ideal 

Layanan uang digital dengan menggunakan telepon seluler (Ponsel) sebagai alat transaksi atau lebih dikenal dengan mobile money sudah hadir 8 tahun lalu di Asia Tenggara. Philipina melalui operator Globe Telecom adalah negara pertama yang meluncurkan produk Smart Money disusul setahun kemudian dengan G-cash. Model bisnis dari uang digital yang umum terjadi adalah operator telekomunikasi yang menjadi penyelenggara atau perbankan yang bermain sendiri. Terakhir, kombinasi dari keduanya. Operator telekomunikasi sendiri dalam menyelenggarakan uang digital memiliki tiga strategi. Pertama,  menjadi agen dari bank dimana outlet yang dimiliki bisa menjadi tempat mencairkan uang. Kedua, operator memfasilitasi pembayaran yang dilakukan kepada pihak ketiga. Terakhir, operator mengajukan lisensi perbankan secara murni. Contoh sukses dari operator telekomunikasi menjalankan uang digital adalah Safari Comm (Kenya). Safari Comm terkenal dengan produk M-Pesa yang diluncurkan pada 2006 dengan 7 juta pelanggan dimana 30 persen pengguna adalah masyarakat yang selama ini tak terjangkau oleh layanan perbankan.  Head of Card Merchant & Mortage CIMB Niaga Budiman Poedjirahardjo mengibaratkan, penggelaran layanan uang digital seperti pertarungan dua raksasa mengingat pemain berasal dari dua industri yang memiliki kapitalisasi pasar besar yakni   telekomunikasi dan perbankan. ”Memang ada persaingan antara pelaku dari dua industri yang berbeda ini. Sejauh ini, masing-masing berjalan sendiri belum ada sinergi yang ideal,” katanya di Jakarta, belum lama ini. Dijelaskannya, jika operator telekomunikasi yang menyelenggarakan mobile money maka bank hanya menjadi fund keeper. Kekuatan dari model ini adalah infrastruktur ke pelanggan yang dikuasai oleh operator sehingga lebih cepat masuk ke pasar sehingga makin dekat dengan target pelanggan yakni mereka yang selama ini tidak tersentuh oleh layanan perbankan. Kelemahan sistem ini adalah tidak adanya akses untuk mencairkan uang dan pengguna menjadi tergantung kepada layanan operator. Sementara jika bank yang menoperasikan mobile money maka operator hanya menjadi penyedia layanan. Keuntungan konsep ini adalah bank bisa memperluas cabang dan layanan keuangannya, pelanggan tidak tergantung kepada operator karena umumnya pengguna adalah nasabah. Kelemahan dari sistem ini adalah perbankan akan tergantung kepada banyak agen dan tidak bisa mengontrol keamanan karena frekuensi dijalankan operator. Diharapkannya, untuk memajukan masyarakat yang bertransaksi dengan uang digital ada keinginan dari masing-masing pihak untuk membuka diri dimulai dengan terbuka dalam memberikan database. ”Sekarang kalau ada transaksi, bank untuk meminta nomor telepon saja sulit. Hal-hal seperti ini harus mulai dikurangi. Bagaimana pun jasa ini tak bisa dilakukan tanpa ada operator karena bank itu tidak mungkin membuka cabang hingga ke pelosok,” katanya. Senior Client Partner, Head of Mobile Money Solution Huawei Ernest Lo mengakui,  Indonesia tak kekurangan suatu apapun untuk menjalankan industri mobile payment. “Infrastruktur ada, pelanggan juga ada baik dari pelanggan operator maupun nasabah bank. Hal yang kurang hanya bagaimana membangun ekosistemnya dan bagaimana menyinergikannya antara regulator, operator telekomunikasi, bank, merchant, dan komunitas pengguna,” jelasnya. VP T Cash Management Telkomsel Bambang Supriogo juga mengakui, hambatan mengembangkan jasanya kurangnya kerjasama yang kuat dengan perbankan sehingga saluran untuk mencairkan uang menjadi terbatas. ”Kami berencana akan menggandeng perbankan dalam mencairkan uang digital melalui ATM atau Bank Perkreditan Rakyat (BPR) untuk jasa microloan,” tuturnya. Sementara Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengungkapkan,  ada anggapan pemain industri lain melihat  telekomunikasi yang menguasai infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) adalah pihak yang siap “mencaplok” industri lain yang ber-platform TIK. ”Contoh nyata adalah  mobile money  seperti remittance maupun mobile banking.   Regulator masing-masing sektor harus berkoordinasi   membuat aturan yang lintas sektoral agar tidak ada paradigma salah satu pihak dirugikan. Konvergensi itu sesuatu yang tak bisa dielakkan jika semua berjalan di atas platform TIK,” tegasnya.[dni]      

140411 Meretas Jalan Menuju Masyarakat Uang Digital 

Lembaga riset Gartner menyebutkan wilayah Asia Pasifik akan menjadi pengguna terbesar layanan mobile payment belum lama ini. Hal ini mengacu pada data 2009 dimana Asia Pasifik sudah menjadi pengguna mobile banking terbesar melalui 70,2 juta pengguna. Pada tahun lalu diperkirakan meningkat hingga 54,5  persen menjadi 108,6 juta pelanggan, sehingga pengguna mobile payment akan mewakili 2,1 persen pengguna seluler. Sedangkan Global Mobile Payment Forecast   memperkirakan akan terdapat 622 juta pengguna mobile payment di Asia Pasifik dengan jumlah transaksi lebih dari 62 miliar. Coumpound Annual Growth Rate (CAGR) dari transaksi mobile payment sendiri secara global mencapai 94,1 persen dengan nilai 316 miliar dollar AS.  Mobile Payment adalah aplikasi yang memungkinkan micropayment dilakukan melalui ponsel untuk bertransaksi keuangan. Layanan ini menggunakan uang digital sebagai pengganti uang kartal atau kartu kredit dan debit.  Indonesia sendiri diperkirakan ada nilai transaksi 1,2 triliun rupiah untuk mobile payment pada tahun lalu. Ketua Umum Masyarakat Telekomunikasi Indonesia (Mastel) Setyanto P Santosa mengakui, pendorong utama pertumbuhan mobile payment adalah negara-negara berkembang karena di negara maju tidak banyak konsumen memanfaatkan ponsel untuk pembayaran karena memiliki banyak pilihan instrumen pembayaran. Indonesia sendiri diperkirakan memiliki 125 juta pengguna ponsel. “Di negara-negara berkembang seperti Indonesia juga ada kenyataan dimana masih banyak konsumen belum terjangkau oleh layanan perbankan.  Di wilayah rural itu 31 persen tidak tersentuh bank, sedangkan di perkotaan sekitar 17 persen dari total populasi,” ungkapnya di Jakarta belum lama ini. Diungkapkannya, mobile payment yang tertanam dalam aplikasi saat ini masih belum banyak yang membuat karena operator dalam langkahnya masih teradang oleh regulasi. “Operator berharap adanya pembukaan regulasi yang lebih bebas dengan pendekatan digital, bukan pembayaran tradisional,” tuturnya. Menurutnya, hal lain yang menjadi penghambat mobile payment di Indonesia adalah karakter para pelaku usaha yang secara umum masih sulit diajak bersinergi diantara sesamanya. Berikutnya masalah kualitas jaringan yang belum memadai, keterbatasan perangkat, tingkat keberagaman jaringan dan perangkat sehingga membutuhkan standarisasi, tingginya tingkat kehilangan ponsel, dan isu keamanan transaksi. “Mobile payment yang aman perlu melibatkan layanan tambahan yang didukung oleh akses data seperti aplikasi Sim Tool Kit yang memungkinkan daanya sistem pembayaran beragam. Hal ini juga  membuat ada tambahan keamanan yang sifatnya end to end,” jelasnya. Senior Partner & Head of Mobile Money Solution Huawei Ernest Lo mengungkapkan, secara global jika dilihat dari infrastruktur dan potensial kapasitas layanan uang digital terbagi atas empat yaitu,  layanan mobile payment utama, dasar, kombinasi mobile payment dan lifestyle, serta transfer dana dan mobile payment. ”Keuntungan bagi operator mengambangkan uang digital adalah bisa masuk ke pasar baru, dan menekan pindah layanan pelanggan. Dari model bisnisnya pun ada pendapatan dari biaya transaksi atau  langganan bulanan,” jelasnya. Regulasi Dirjen Aplikasi Telematika Ashwin Sasongko menjelaskan, pemerintah sudah memberikan kepastian hukum bagi pembayaran secara elektronik dengan hadirnya UU Informasi dan Transaksi Elektronika (ITE). Dijelaskannya, dalam UU ITE disebutkan kegiatan ekonomi bisa mendapatkan perlindungan hukum misalnya e-Tourism atau e-Money, sehingga jika ada yang melakukan pelanggaran bisa segera digugat berdasarkan pasal-pasal di UU itu. “Belum lagi diperkuat dengan adanya UU Transfer Dana dimana tanda tangan elektronik memiliki kekuatan hukum yang sah. Tanda tangan elektronik disini adalah informasi elektronik yang dilekatkan memiliki hubungan langsung atau terkait pada informasi elektronik lain untuk menunjukkan identitas subyek hukum,” jelasnya. Kepala Biro Sistem Pembayaran Bank Indonesia Aribowo mengakui diperlukan adanya standarisasi jasa uang digital untuk memicu terjadinya interperobilitas antarpelaku. “Kami juga sedang mengaji jumlah minimum transaksi di micropayment ini bisa dinaikkan agar lebih banyak lagi penggunanya,” katanya. Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi menambahkan, dalam perspektif operator telekomunikasi aturan yang ada akan relevan jika bisa mengakomodasi dua situasi. “Pertama, dapatkah operator telekomunikasi menjadi agen dimana saluran distribusinya bisa digunakan untuk mencairkan  uang digital. Kedua, dapatkah operator telekomunikasi mengoperasikan pembayaran menggunakan saluran retail yang lain,” jelasnya. VP T-Cash Management Telkomsel Bambang Supriogo menyambut gembira rencana dari bank sentral untuk meningkatkan minimum jumlah transaksi dari micropayment yang masih berkutat di angka lima juta rupiah per hari. “Saya rasa itu ide yang bagus. Tetapi sebenarnya pekerjaan yang berat dari mengembangkan layanan ini adalah membuat masyarakat sadar layanan itu ada dan dibutuhkan,” katanya. Diungkapkannya, Telkomsel sudah memulai layanan T-Cash sejak empat tahun lalu yang menelan investasi 50  miliar rupiah untuk membangun platform. ‘Hingga sekarang baru 4,5 juta pelanggan dari 96 juta pelanggan yang terdaftar sebagai pengguna T-Cash. Sedangkan yang aktif bertransaski baru 5-10 persen dari pelanggan terdaftar,” keluhnya. Ditegaskannya, walau minat masyarakat masih minim, Telkomsel akan tetap mengembangkan jasa uang digital karena inilah salah satu bisnis masa depan bagi operator telekomunikasi. Saat ini Telkomsel sedang mengembangkan mobile payment dengan teknologi Radio Frequency Identification (RFID) yang memungkinkan pembayaran dilakukan hanya dengan mendekatkan ponsel pada Electronic Data Capture (EDC). Konsep ini diyakini sangat cocok untuk transaksi pembayaran parkir, makanan, dan lainnya. “Belajar dari kasus Mpesa di Kenya, awalnya hanya punya 17 ribu pelanggan, kala saluran distribusi menjadi besar dan masyarakat sadar manfaat layanan ini, jumlah pelanggan melonjak menjadi 17 juta orang. Kami sekarang sedang meretas skala ekonomi  yang ideal agar   buah dari perjuangan bisa dirasakan,” katanya.[dni]