120411 TelkomSigma Targetkan Omset Tumbuh 16%

JAKARTA–PT Sigma Cipta Caraka (Telkom Sigma) menargetkan pertumbuhan pendapatannya mencapai 16 persen pada tahun ini melalui ekspansi di luar pasar keuangan dan perbankan.

Anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) ini pada tahun lalu berhasil meraih omset sebesar 500 miliar rupiah atau tumbuh 25 persen dibandingkan 2009 sebesar 400 miliar rupiah.

“Pada tahun ini kami menargetkan omset sebesar 600 miliar rupiah atau tumbuh 16 persen dibandikan tahun lalu,” ungkap Presiden Direktur Sigma Cipta Caraka Rizkan Chandra di Jakarta, Senin (11/4).

Diharapkannya, tidak hanya omset yang akan tumbuh dobel digit, tetapi laba bersih juga akan mengalami hal yang sama. Pada tahun lalu Telkom Sigma meraih laba bersih sebesar 40 miliar rupiah. Sedangkan pada tahun ini diharapkan tumbuh 10 persen sebesar 44 miliar rupiah.

Diungkapkannya, untuk mencapai target yang ditetapkan, perseroan mengalokasikan dana 400 miliar rupiah, dimana sekitar 300 miliar rupiah akan digunakan membangun pusat data (Data Center) di wilayah Serpong seluas 15 ribu meter. Pembangunan ini melengkapi dua data center sebelumnya yang telah dibangun di Surabaya dan Serpong.

“Data center adalah kontributor utama pendapatan Telkom Sigma, besarannya mencapai 60 persen,” katanya.

Dijelaskannya, Telkom Sigma selama ini dikenal sebagai penyedia produk dan layanan Teknologi Informasi (TI) bagi industri finansial seperti perbankan dan multifinance.

Telkom menguasai 100 persen saham perusahaan ini melalui aksi pembelian yang dilakukan oleh anak usaha lainnya, Metra, pada Agustus tahun lalu.

Dikatakannya, setelah kuat di dua pasar yang selama ini dilayaninya (perbankan dan keuangan), maka perseroan menggarap pasar lainnya seperti pemerintahan,  telekomunikasi,  manufaktur, dan jasa distribusi.

“Indonesia telah memiliki regulasi tentang kewajiban keberadaan data center harus di Indonesia bagi pemain aplikasi asing seperti Google, Yahoo, atau BlackBerry. Ini adalah potensi yang menjanjikan melalui layanan komputasi awan (cloud computing) yang dimiliki Telkom Sigma,” jelasnya.

Diungkapkannya, untuk memperkokoh posisi Telkom Sigma pada jajaran perusahaan penyedia solusi TI  perseroan terus mengembangkan solusi yang ditawarkan kepada klien.

Produk baru yang ditawarkan antara lain Sigma M Force, Terasury Asset Management Package, Cloud Computing serta ARIUM.

Khusus modul Sigma M Force ditujukan untuj aplikasi pada layanan cloud computing. Untuk memberi layanan cloud computing, Telkom Sigma akan memanfaatkan jaringan yang dimiliki induk perusahaan Telkom.

“Cloud computing menggabungkan kekuatan jaringan Telkom dan aplikasi data yang dimiliki Telkom Sigma tidak hanya layanan perbankan dan finansial, tetapi juga mengembangkan e-government,” ujarnya.

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah mengatakan, akuisisi Telkom Sigma pada tahun lalu merupakan wujud implementasi dari transformasi bisnis ke Telecommunication, Information, Media, and Edutainment (TIME).

“Telkom Sigma adalah wujud bermain di bisnis Information. Jangan hanya melihat dari sisi omset yang dihasilkan Telkom Sigma, tetapi bagaimana dari aplikasi yang dihasilkan membuat utilisasi jaringan bisnis telekomunikasi terus terokupansi,” jelasnya.

Secara terpisah, praktisi telematika Mochammad James Falahuddin menyarankan, Telkom Sigma harus berani menggarap proyek TI diluar milik Telkom grup agar bisa mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki.

“Jika mau menggarap pasar telekomunikasi harus berani bermain diluar perkarangannya. Kalau berkutat di Telkom grup itu hanya jadi keluar kantong kiri masuk kantong kanan,” katanya.[Dni]

120411 Kalstar Ekspansi Rute

 

JAKARTA—Maskapai swasta berbasis layanan medium, Kalstar Aviation, melakukan ekspansi rute ke Pulau Jawa dengan  membuka jalur  Pontianak – Jakarta.

 

“Selama ini Kalstar melayani rute-rute di Pulau Kalimantan.  Seharusnya rute baru itu  dilayani pada Senin  (11/04). Namun karena musibah tubrukan pesawat Boeing 737-300 kami  dengan    Wings Air di apron bandara Sukarno-Hatta , kemarin, penerbangan perdana akhirnya ditunggu hingga perbaikan pesawat selesai,” ungkap   Wakil Direktur Kalstar Aditya Wardana di Jakarta, Senin  (11/4).

 

Diungkapkannya,  tubrukan terjadi saat pesawat Kalstar yang tengah di dorong oleh push back car untuk mengisi bahan bakar, menyenggol bagian belakang pesawat MD-80 milik Wings Air. Padahal, untuk menerbangi rute Pontianak – Jakarta ini,  Kalstar menggunakan sebuah pesawat Boeing B737-300.

 

Dikatakannya, kota lain di Jawa yang tengah dibidik oleh manajemen Kalstar adalah Bandung, Jogjakarta, Surabaya dan Semarang. “Kami tengah menunggu kedatangan pesawat sejenis. Penambahan pesawat itu selain untuk memenuhi aturan UU Penerbangan juga untuk memperbesar frekuensi di rute-rute tersebut,” jelasnya.

 

Saat ini Kalstar mengoperasikan tiga jenis pesawat ATR 42-300 kapasitas 50 penumpang dan satu Boeing 737-300. Pesawat ATR digunakan untuk menerbangi 12 kota di Kalimantan.

 

Untuk memenuhi kuota pengoperasian pesawat sesuai UU no. 1 th 2009 tentang Penerbangan, tahun ini Kalstar akan mendatangkan dua ATR dan empat B737-300. Dengan demikian jumlah pesawat pada tahun 2011 ini akan berjumlah 5 unit ATR 42-300 dan 5 unit B737-300. Khusus untuk jenis ATR, menurut Aditya, manajemen sudah memutuskan untuk membeli kelima pesawat tersebut.

 

Selanjutnya diungkapkan, selain membidik rute domestic, maskapainya akan ekspansi ke Malaysia dengan mulai melayani rute   kota Kuching, Malaysia. “Kota Kuching memberikan   kebebasan biaya pendaratan (landing fee) selama tiga tahun dan gratis sewa kantor manajemen maskapai di bandara selama enam bulan. Ini insentif menarik yang harus dimanfaatkan,” katanya.

 

Dijelaskannya, perseroan sedang memperbarui ijin rute ke Kuching, Malaysia.  “Kami targetkan tanggal 25 April nanti sudah bisa buka rute Jakarta- Pontianak-Kuching PP dengan menggunakan B737-300,” ujarnya.

 

Kalstar sebenarnya sudah mempunyai ijin rute ke Kuching, namun dengan menggunakan pesawat ATR 42-300. Karena ada perubahan jenis pesawat, menurut Aditya, ijin rute harus diperbarui.

 

Dijelaskannya, Kalstar membidik Kuching karena banyak permintaan penumpang dari Indonesia. Kota Kuching selama ini terkenal dengan rumah sakitnya yang mempunyai pelayanan baik. Banyak warga Indonesia, terutama dari Kalimantan yang memilih dirawat di sana daripada di rumah sakit dalam negeri.

 

Jarak Pontianak-Kuching sebenarnya tidak terlalu jauh. Namun jika ditempuh lewat jalan darat memerlukan waktu sekitar 10 jam. Sedangkan jika menggunakan pesawat hanya memerlukan waktu 20-30 menit saja. “Tingkat keterisian pesawat  juga baik karena tiap penumpang yang merupakan pasien pasti akan diantarkan kerabatnya minimal dua orang,” ujar Aditya. Jadi, itulah alasan Kalstar membuka rute penerbangan ke negeri jiran tersebut. [dni]

 

120411 SLI Harus Diliberalisasi

 

 

 

JAKARTA—Pemerintah diminta untuk melakukan liberalisasi jasa Sambungan Langsung Internasional (SLI) agar azas manfaat, adil, dan merata bisa terjadi di industry telekomunikasi.

 

“Saya melihat tiga pemain SLI yang ada saat ini belum mampu mewujudkan tiga azas di atas. Pemerintah harus lebih berani melakukan liberalisasi dengan membukan peluang usaha di sektor SLI bagi pemain lain,” tegas Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio di Jakarta, Senin (11/4)

 

Untuk diketahui, saat ini penyelenggara SLI  berbasis clear channel adalah  Indosat, Telkom,  dan Bakrie Telecom.

 

Menurutnya,  ditambahnya pemain di sektor SLI akan menguntungkan masyarakat karena  tarif untuk jasa tersebut menjadi  semakin murah. Kompetisi antarpemain pun akan sengit yang berujung  pada naiknya kualitas pelayanan dan tarif yang semakin terjangkau bagi pengguna.

 

Diungkapkannya, trafik SLI di Indonesia tumbuh sangat pesat  yaitu mencapai 30 – 45 persen per tahun sehingga tidak cukup hanya dilayani oleh tiga pemain. Berdasarkan catatannya,  pada tahun 2007 terdapat 2.794 juta menit SLI yang dilayani oleh 2 operator SLI atau sekitar 1.397 juta menit SLI/operator. Rasio tersebut menjadi 7.900 juta menit SLI atau 2.633 juta menit/operator ditahun 2010 (tiga operator), dan akan menjadi 11.000 juta menit SLI atau 3.667 juta menit/operator di tahun 2011 (tiga operator).

 

Diperkirakannya, melihat tingkat pertumbuhan yang terjadi selama ini,  pada 2015 nanti diperkirakan sudah akan ada lebih dari 36.000 juta menit SLI atau 12.000 juta menit/operator. “ Kalau logikanya dibalik dan pemerintah masih menggunakan rasio tersebut, maka di tahun 2015 diperlukan enam operator SLI agar kualitas pelayanan tetap baik. Sekarang tugas pemerintah untuk menunjukkan diri, pro kepada kepentingan rakyat atau melindungi kelompok tertentu,”  tukasnya.[dni]

120411 Dua Operator Garap Pasar Muda

 

JAKARTA—Dua operator besar, Telkomsel dan Indosat, menggarap pasar anak muda untuk mempertahankan posisinya di industri telekomunikasi.

 

Telkomsel menggandeng 100 mahasiswa Universitas Bina Nusantara (Binus) melalui penyedia konten  Bina Indonusa System untuk pengembangan bisnis konten dan aplikasi. Sementara Indosat memperbaharui layanan produk prabayar IM3 yang semakin memanjakan pengguna muda.

 

“Kami menggandeng mahasiswa Binus agar bisa menjadi pengusaha digital. Ini agar bandwitdh yang disediakan oleh Telkomsel bisa dimaksimalkan untuk kemajuan ekonomi,” jelas Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno di Jakarta, akhir pekan lalu.

 

Menurutnya , berbagai inovasi konten dan aplikasi yang  diciptakan bagi pelanggan selama ini merupakan bukti komitmen perseroan untuk memandu kemajuan industri kreatif nasional. “Sudah terbukti konten ini bisa menjadi bisnis kreatif. Sekarang kami ingin mengajak mahasiswa sebagai kreator di hulu bisnis konten untuk maju bersama Telkomsel,” jelasnya.

 

Diharapkannya, melalui program Mobile Technopreneurship itu,  konten dan aplikasi yang dikembangkan mahasiswa Binus bisa dinikmati pelanggan Telkomsel. “Buah karya akademisi kini dihargai, sehingga konten dan aplikasi yang dihasilkan mampu menghasilkan pendapatan bagi mahasiswa pengusaha sekaligus manfaat bagi pelanggan Telkomsel,” katanya.

 

Adanya  penambahan 100 mahasiswa Binus sebagai content provider Telkomsel, kini Telkomsel telah bekerjasama dengan sekitar 500 content provider dalam menyediakan lebih dari 10.000 jenis layanan konten.

 

Sementara Group Head Segment Management Indosat, Insan Prakasa mengungkapkan, program IM3 terbaru  memberikan layanan gratis SMS ke semua operator, Facebook dan Twitter, sesuai dengan kebutuhan dan tren anak muda yang menjadi segmen utama layanan ini.

 

Program “IM3 Gratis SMS, Facebook & Twitter” ini berlaku untuk pelanggan baru yang melakukan aktivasi mulai tanggal 1 April 2011. Pelanggan prabayar Indosat lama yang ingin mengikuti program tersebut dapat melakukan pindah paket melalui menu *777*1*1# lalu pilih IM3 Semaumu.

 

”Konsistensi kami dalam memberikan inovasi layanan yang mengikuti tren kebutuhan anak  muda terlihat di program terbaru ini,” tegasnya.

 

Dijelaskannya, gratis SMS ke semua operator semaumu dimulai dari pukul 00.00-17.00, cukup dengan kirim 2 sms, gratis 500 sms ke semua operator dan pukul 17.00 – 00.00, cukup dengan kirim 4 sms, gratis 250 sms ke semua operator.[dni]

 

120411 Pemberian Lisensi Harus Mengacu Regulasi

 

JAKARTA—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) meminta Kemenkominfo untuk menjaga konsistensinya dalam memberikan lisensi dengan mengacu pada regulasi yang ada.

”Kemenkominfo sebagai instansi yang memberikan perijinan kepada operator harus konsisten dengan regulasi yang dibuatnya. Jangan membuat keputusan yang menimbulkan gejolak di industri,” tegas Head of Corporate Communication & Affair Telkom Eddy Kurnia di Jakarta, Senin (11/4).

 

Menurutnya, dalam pemberian lisensi terutama bagi pemain eksisting yang ingin mendapatkan jasa baru harus mengacu pada PM No 1/2010 tentang Penyelenggaraan Jaringan  Telekomunikasi. ”Kami sadar tidak bisa ikut campur terlalu jauh dalam keputusan yang diambil untuk pemberian lisensi. Harapannya cuma satu, sebaiknya konsisten dengan PM No 1/2010,” tandasnya.

 

Untuk diketahui, kalangan industri telekomunikasi merasa PM No 1/2010 tidak memiliki gigi dengan langkah Kemenkominfo yang didukung Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) memberikan lisensi seluler kepada Bakrie Telecom (BTEL) berdasarkan proses evaluasi bukan seleksi.

 

Padahal,   pasal 4 di PM No 1/2010 mengatakan evaluasi diberikan jika pemain sudah memiliki kode akses jaringan dan frekuensi. Sementara BTEL sendiri belum memiliki kode akses jaringan tetapi kode akses wilayah sesuai   Fundamental Technical Plan (FTP).

 

PM No. 01/2010 kala dikeluarkan 25 Januari lalu juga  menimbulkan kehebohan di industri telekomunikasi  sebagai revisi dari KM. 20/2001 karena minimnya konsultasi publik yang dilakukan. Pasal 4 di aturan itu  pun  masih menggunakan acuan regulasi lama karena digunakan untuk pemberian lisensi bagi Mobile-8 beberapa tahun lalu.

 

Kabar beredar mengatakan ijin prinsip untuk lisensi seluler BTEL sudah keluar menjelang akhir pekan lalu dengan ditandatangani oleh Menkominfo Tifatul Sembiring. Dalam ijin prinsip itu biaya interkoneksi yang digunakan oleh BTEL akan berbasis seluler dan komitmen pembangunan jaringan disatukan dengan lisensi yang dikantongi selama ini yakni Fixed Wireless Access (FWA). Disatukannya komitmen tersebut menjadikan ijin penyelenggaraan mulus didapat karena Uji Laik Operasi (ULO) bisa dilakukan lebih cepat.

 

Direktur Telekomunikasi,Ditjen Penyelengaraan Pos dan Informatika Bonnie M. Thamrin Wahid kala dikonfirmasi mengakui nasib lisensi seluler yang diajukan oleh BTEL sejak tahun lalu di tangan Menkominfo. ”Saya belum tahu banyak soal itu. Semuanya masih di tangan Menkominfo,” katanya.

 

Direktur Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala meminta, untuk menjunjung azas transparansi ada baiknya pemberian lisensi dibuka ruang bagi publik untuk memberikan masukan. ”Buka saja konsultasi publik untuk meredakan polemik di industri,” katanya.[dni]

 

 

120411 Pertaruhan di Masa Jenuh

 

 

Pada tahun lalu penjualan ponsel di Indonesia mencapai 30 juta unit. Hal yang mengejutkan adalah kenyataan dimana 50 persen dari produk yang terjual berasal dari merek-merek lokal yang berjumlah sekitar 100 brand.

 

“Jika semua merek lokal digabung, itu menguasai 50 persen pangsa pasar. Pada tahun ini diperkirakan pertumbuhan penjualan ponsel sekitar 13 persen dan pangsa ponsel lokal tidak akan berkurang walau industri telekomunikasi memasuki masa kejenuhan,” ungkap President Direktur PT Konten Indomedia Pratama, pemegang merek Ponsel IMO, Sarwo Wargono di Jakarta, akhir pekan lalu.

 

Menurutnya, pada tahun ini bisa dikatakan sebagai masa pertaruhan atas eksistensi dari ponsel lokal setelah empat tahun ikut meramaikan industri telekomunikasi. ”Di masa jenuh seperti sekarang ini,  konsumen  tidak lagi hanya mencari ponsel dengan harga murah, tetapi juga mempertimbangkan kualitas suatu produk. Tentu saja, ini menjadi komponen yang sensitif bagi vendor ponsel lokal mengingat citra produk mereka cukup buruk karena secara rata-rata kualitasnya pas-pasan,” katanya.
Dikatakannya, kunci utama agar suatu vendor ponsel merek lokal bisa bertahan adalah menjaga kualitas produk dan mengubah strategi pemasaran di samping pelayanan purna jual.  “Tahun ini, pasar semakin matang, konsumen semakin cerdas. Beberapa merek lokal sudah menemukan jati dirinya masing-masing. Meski begitu, saya mengakui bahwa ponsel lokal masih menjadi produk alternatif,” jelasnya.
Dijelaskannya, IMO sendiri  yang telah menembus peringkat lima besar diantara pemain merek lokal  ke depan akan lebih  memperhatikan fitur, desain, serta strategi pemasaran karena konsumen tidak lagi melihat sebuah ponsel sebagai instrumen yang mewah, atau sebatas alat telekomunikasi. Ponsel hari ini dianggap sebagai instrumen yang menunjang gaya hidup, seperti ponsel fesyen, game,  dan lainnya.

 

“Perlahan-lahan kami juga meninggalkan program bundling bersama operator secara nasional, dan cenderung memasarkannya sendiri tanpa mitra. Meski di daerah-daerah kami tetap menempuh jalur bundling untuk ekspansi pasar,” jelasnya.
Hal lain yang mengejutkan dilakukan IMO adalah  mulai membangun pabrik di Tanah Air untuk memangkas biaya bea masuk impor. ”Memiliki manufaktur di dalam negeri juga bagian dari cara   meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap merek ponsel lokal. Di samping itu, konsumen akan lebih diuntungkan dalam hal purna jual sebab lebih mudah mendapatkan sparepart jika mengalami kerusakan,” katanya
Selama ini, ponsel IMO diproduksi di daerah Shenzhen, Guongdong, China. Pembuatan pabrik tersebut konon telah terdaftar di   British Approvals Board for Telecommunications (BABT), yakni badan skala internasional yang mengidentifikasi IMEI perangkat di dunia. Sehingga, seluruh produk IMO diklaim telah legal terdaftar secara global.
“Pabrik di China akan dipindahkan ke Indonesia. Kami sudah memulainya sejak bulan April. Untuk tahap awal, kami dirikan pusat perakitan (assembling point) dulu. Selanjutnya, ini akan terus dibangun secara bertahap hingga akhir bulan Mei-Juni,” jelasnya.
Diungkapkannya, guna merealisasi pembuatan pabrik,  IMO akan menggandeng PT   Industri Telekomunikasi Indonesia (Inti) dalam mengembangkan produk ponsel lokalnya “Bersama PT Inti, kami akan membuat rumah desain sendiri. Di situ, kami akan memproduksi ponsel dari nol. Menariknya, kami juga mengambil material-material lokal, seperti misalnya untuk casing. Jadi, tidak semua material dari China, tapi ada beberapa yang dari Indonesia. Ini untuk meningkatkan kualitas ponsel IMO,” tambahnya.

 

Praktisi telematika Faizal Adiputra mengatakan  ponsel merek lokal akan mampu bertahan di pasar karena terdapat segmen pengguna yang tidak peduli merek tetapi mencari fungsi dan fitur.

 

“Jika ada yang berniat membangun pabrik dengan perhitungan bisa membuat biaya produksi lebih rendah ketimbang impor itu tentu bagus. Apalagi ada peluang terbukanya lapangan kerja bagi masyarakat. Memang sudah saatnya Indonesia menjadi bangsa produsen bukan konsumen,” tegasnya.[dni]

 

 

120411 Strategi Pemasaran: Bundling untuk mempermudah akses ke pasar. Sinergi untuk Menggarap Pasar

 

 

Strategi pemasaran yang memaketkan kartu perdana milik operator dengan ponsel (Bundling)  enam tahun lalu identik milik pemain yang mengusung teknologi Code Division Multiple Access (CDMA).

 

Para pemain CDMA melakukan hal tersebut karena minimnya ketersediaan perangkat di pasar sehingga terpaksa menggandeng vendor ponsel  untuk melayani pelanggan.

 

Namun, tiga tahun lalu cerita berubah. Seiring mulai maraknya ponsel merek lokal dan potensi pasar yang besar di  segmen C dan D, pemain berbasis teknologi GSM pun ikut-ikutan menggunakan konsep bundling.

 

Kala itu bundling yang paling fenomenal adalah aksi penjualan Nexian Qwerty dengan XL di ajang Indonesia Cellular Show (ICS) yang ditandai panjangnya antrian pembeli untuk mendapatkan ponsel yang mirip dengan BlackBerry itu.

 

Chief Marketing Officer Nexian Andy Jobs menjelaskan,  prinsip dari konsep  bundling  adalah  berdasarkan kerjasama, kepercayaan, serta posisi yang seimbang antara vendor ponsel dan operator. “Jika konsep ini bisa dijalankan, bundling tetap akan menjadi andalan bagi kedua belah pihak,” katanya di Jakarta, Senin (11/4).

 

Dijelaskannya, bagi merek ponsel yang belum kuat, konsep bundling akan menguntungkan karena bisa memudahkan mengakses ke pasar melalui pelanggan dari operator yang digandeng.

 

“Biasanya dalam posisi dimana merek ponsel itu masih baru harus ada pengorbanan sedikit besar di biaya komunikasi pemasaran. Ini sebenarnya bagian dari ujian yang dilakukan oleh operator untuk melihat komitmen dari pemilik produk  dalam bermain di pasar. Soalnya ponsel merek lokal itu ada ratusan, operator tentu tak bisa menggandeng semuanya,” jelasnya.

 

Direktur DRTV Corporation Teddy Tjan mengungkapkan, strategi bundling bisa berhasil jika lima syarat dapat dipenuhi oleh pemilik produk. Kelima hal itu adalah produk yang memiliki diferensiasi, koneksi, saluran distribusi, customer intimacy, dan merek yang kuat.

 

“Di Indonesia ini bundling konsepnya pelanggan membeli ponsel. Padahal di negara maju, bundling itu ponsel tidak dibayar. Pelanggan hanya membayar langganan jasa. Ke depan konsep seperti ini akan diadopsi juga oleh Indonesia,” katanya.

 

Dijelaskannya, tantangan menjalankan bundling adalah operator mulai makin selektif memilih produk. ”Operator sekarang meminta spesifikasi ponsel harus disesuaikan dengan tema bundling untuk menjaga eksklusifitas. Ini menjadi pekerjaan berat bagi pemilik produk,” katanya.

 

Sementara General Manager SPC Mobile Raymond Tedjokusumo mengatakan konsep bundling yang berlaku saat ini tidak menarik bagi pemilik merek lokal. “Kalau hanya memaketkan dengan kartu perdana itu sudah tidak menarik. Apalagi, operator menawarkan bonus yang hampir mirip dalam menawarkan kartu perdana antara program bundling atau tanpa bundling. Kalau begini, pemilik merek lokal bakal kedodoran dalam biaya pemasaran dan harus memenuhi semua keinginan dari  operator,” jelasnya.

 

Dijelaskannya, pemilik merek lokal sekarang lebih memilih untuk memasarkan produknya secara mandiri dan memperkuat merek dengan melakukan diferensiasi melalui memperkaya fitur dan purnajual. ”Sekarang margin berjualan ponsel itu makin tipis. Jika dulu bisa empat dollar AS per unit, sekarang hanya satu dollar AS per unit. Kami harus pintar-pintar mengatur nafas,” katanya.

 

Masih Dibutuhkan

VP Channel Management Telkomsel Gideon E Purnomo mengungkapkan, sebenarnya konsep bundling sudah diterapkan oleh pemain GSM kala menjual BlackBerry beberapa tahun lalu.


“Untuk berjualan BlackBerry terpaksa di-bundling karena harga perangkat yang mahal harus ditutup dengan nilai dari jasa yang didapat yakni akses data murah,” jelasnya.

Dijelaskannya, seiring pergeseran harga perangkat dan segmen pasar, bundling sekarang menjadi senjata andalan untuk mengakuisisi pelanggan. Untuk mengakomodasi perubahan itu, konsep bundling di GSM pun mengikuti cara pemain CDMA yakni melepas paket dengan harga di bawah  500 ribuan rupiah yang menawarkan bonus suara, SMS, dan akses data.

 

“Ke depannya, kita juga berusaha agar bundling ini tidak hanya sekedar Telkomsel menitipkan kartu kepada penyedia handset tapi bagaimana memudahkan pelanggan dalam mengakses layanan Telkomsel, terutama layanan baru yang bersifat VAS. Kami mengincar 8 juta pelanggan baru dari program bundling tahun 2011. Angka ini dua kali lipat dari capaian  tahun lalu,” jelasnya.

 

VP Mobile Data Service Channel Development XL Axiata Agung Wijanarko mengungkapkan, pihaknya akan tetap menggandeng ponsel merek lokal dalam melakukan bundling dengan mengutamakan perangkat yang bisa mengakses data. “Ini seiring dengan keinginan perseroan yang ingin menumbuhkan kontribusi jasa data,” katanya.

 

VP Sales and Distribution Axis Syakieb A Sungkar mengatakan, pada tahun lalu perseroan masih dalam tahap inisiasi menggandeng ponsel merek lokal untuk  program bundling dan hasilnya tak begitu mengecewakan. “Kami mulai pada Agustus tahun lalu dan mendapatkan 100 ribu pelanggan baru. Tahun ini kita akan lebih agresif dengan menargetkan bisa meraih 500 ribu pelanggan baru dari kegiatan semacam ini,” jelasnya.

 

Dikatakannya, perseroan dalam melakukan aksi bundling selalu membuat sinergi yang menguntungkan semua pihak yakni pelanggan dan vendor ponsel. “Kami memberikan program yang panjang selama setahun bagi pelanggan untuk menikmati bonus, sedangkan vendor ponsel dibantu biaya iklan dan   penjualan ke level retail,” katanya.

 

Wakil Direktur Utama Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer menegaskan, bundling merupakan strategi yang harus dijalankan karena teknologi yang diusung adalah CDMA.”Ketersediaan ponsel CDMA masih terbatas di pasar. Melalui bundling kami bisa  memastikan harga  ponsel terjangkau oleh  konsumen karena esia tidak ambil untung dari penjualannya,” tegasnya.

 

Diungkapkannya, dalam melakukan bundling, perseroan selalu mengutamakan diferensiasi dimana ponsel yang disediakan sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Hal itu ditunjukkan dengan adanya aplikasi-aplikasi khas esia.

 

Pada kesempatan lain Pengamat Pemasaran Yuswohady  menjelaskan, konsep bundling yang sukses adalah jika dari sisi harga yang dipatok melebihi dari nilai yang ditawarkan sehingga pembeli merasa tidak rugi membeli produk.

 

”Bagi pelaku usaha yang cerdas, bundling harus dijadikan sebagai alat untuk retensi bukan hanya akusisi pelanggan. Pengemasan bundling harus memaksa pelanggan betah berlama-lama di produk yang dijual. Tantangan terberat di sana. Kuncinya, dalam membuat bundling harus memahami kebutuhan dari segmen yang disasar,” katanya.[dni]