010411 INACA tetap Surati Kemenhub

 

JAKARTA— Asosiasi Penerbangan Nasional (Indonesia National Air Carrier Association/INACA) tetap akan menyurati Kementrian Perhubungan (Kemenhub) terkait antisipasi terus membumbungnya harga avtur bagi maskapai.

“Kami akan tetap menyurati Kemenhub dalam hal ini Direktorat Perhubungan Udara (hubla) untuk mengantisipasi naiknya harga avtur bagi para maskapai. Surat akan dikirim tak lama lagi,” ungkap Ketua Umum Inaca Emirsyah Satar di Jakarta, Kamis (31/3).

Diungkapkannya, saat ini rata-rata harga avtur 9.600 rupiah per liter sehingga membuat maskapai mulai menghilangkan tarif promosi. “Kalau di Garuda kami mengurangi jatah untuk Sub Classes,” jelas Pria yang juga menjadi Dirut Garuda itu.

Dijelaskannya, harga avtur berkontribusi sebesar 32 persen bagi biaya operasi satu perusahaan. Jika ada kenaikan, pengaruhnya bagi biaya operasional untuk naik mencapai 10-15 persen. “Pada tahun 2009 harga avtur itu 70 dollar AS per barrel, dan 2010 sekitar 90 dollar AS per barel,” katanya.

Selanjutnya dikatakan, dalam surat yang akan dikirim itu akan berisi kurang lebih tentang usulan antisipasi jika harga avtur melewati 10 ribu rupiah. Opsi yang diusulkan adalah penerapan biaya tambahan bahan bakar atau revisi tarif batas atas.

Sementara Juru bicara PT Merpati Nusantara Airlines (Merpati) Sukandi  mengatakan, meski harga avtur  telah memberatkan biaya operasional, namun  pihaknya belum menaikkan harga dasar penerbangan. Hal ini dikarenakan  persaingan bisnis penerbangan yang sengit.

“Ini kan trik persaingan, jadi ada yang menaikkan harga dasar, ada  juga yang tetap menggunakan tarif promosi karena mereka tetap ingin  ada penumpang,” jelasnya.

Merpati juga tetap menggunakan tarif promosi untuk beberapa tiket  dalam penerbangannya, hal ini dilakukan agar penumpang Merpati tidak  pindah ke maskapai lainnya.

Sebelumnya, Dirjen Perhubungan Udara Herry Bakti S. Gumay mengaku belum menerima surat dari Inaca terkait antisipasi naiknya harga avtur.

“Saya belum terima surat dari asosiasi. Saya juga bingung ada usulan untuk merevisi tarif batas atas atau fuel surcharge karena maskapai semuanya masih anteng-anteng saja,” katanya.

Herry juga mengaku tidak khawatir  jika tarif promosi dihapus oleh operator asalkan tarif batas atas tidak dilanggar .

Menurutnya, jika maskapai menghilangkan tarif promosi di era liberalisasi maka resiko adalah kehilangan pangsa pasar yang selama ini dinikmati. “Ini pasar bebas, selalu ada yang lebih murah menawarkan produknya. Tinggal masyarakat menentukan pilihannya,” jelasnya.

Ditegaskannya, hingga sekarang harga avtur belum melebihi 10 ribu rupiah sehingga tidak ada alasan bagi regulator untuk merevisi aturan tarif batas atas.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s