010411 Bakrie Telecom Bidik Akuisisi Operator 4G

JAKARTA—PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) tengah membidik satu perusahaan berbasis teknologi 4G untuk diakuisisi guna mendukung visi perseroan  sebagai perusahaan Telekomunikasi, Media dan  Teknologi (TMT)000000.

“Aksi pembelian akan difinalisasi pada tahun ini. Kami belum bisa buka nama perusahaannya. Satu hal yang pasti, teknologi 4G dibutuhkan karena BTEL sendiri terbatas spektrum frekuensinya sehingga akan kesulitan jika ingin mewujudkan konvergensi di tiga lini usaha,” ungkap Presiden Direktur Bakrie Telecom Anindya N Bakrie di Jakarta, Kamis (31/3).

Diungkapkannya, perseroan dalam empat tahun mendatang memiliki  visi    mensinergikan lini bisnis telekomunikasi (BTEL), media (VIVA Group) dan teknologi (BConn dan BNET)  dimana dalam waktu empat tahun mendatang disiapkan dana 5 triliun rupiah untuk pengembangannya.

BTEL dengan merek dagang Esia   menyediakan layanan suara dan SMS  dengan 13 juta pelanggan. Sedangkan Bconn dengan peluncuran Affordable Hyperspeed Access (AHA) tahun lalu memiliki layanan telekomunikasi berbasis internet dengan peningkatan 150 ribu pelanggan baru sejak diluncurkan sejak 9 bulan lalu. Sementara BNET adalah anak usaha yang bergerak dibidang penyewaan infrastruktur menara dan serat optik.

Untuk diketahui, sebagai operator berbasis teknologi Code Division Multiple Access (CDMA) dengan lisensi Fixed mobile Wireless Access (FWA), BTEL hanya memiliki lebar spektrum sebesar 5 MHz. Jika aksi membeli operator 4G terjadi dan teknologi netral diterapkan, maka operator ini memiliki frekuensi kian lebar.

Di Indonesia sendiri operator kategori 4G adalah 8 pemenang tender Broadband Wireless Access (BWA) dua tahun lalu di spektrum 2,3 GHz yang mengusung teknologi Worldwide Interoperability for Microwave Access (Wimax). Dua pemenang sudah akan menggelar layanan yakni First Media dengan merek dagang Sitra Wimax dan Berca dengan Wiigo.

Diungkapkannya, perseroan berencana akan menyiapkan 50 persen dari dana lima triliun rupiah untuk empat tahun mendatang itu digunakan untuk akuisisi perusahaan dan sisanya untuk pengembangan anak usaha yang ada. “Sekitar  100 miliar rupiah  akan dialokasikan mulai tahun ini untuk pemberdayaan pengusaha baru telematika di seluruh Indonesia,” jelasnya.

Secara terpisah, Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kemenkominfo Syukri Batubara mengaku belum mendapatkan laporan akan niat BTEL membeli satu operator 4G. “Saya harus tahu dulu operator yang dibidiknya dan bagaimana cara pembeliannya,” katanya.

Kinerja 2010
Sementara itu, kinerja dari BTEL sendiri pada 2010 untuk bottom line tidak menggembirakan hal ini karena perseroan menderita   penurunan laba bersih yang cukup signifikan hingga 90 persen  di 2010.

BTEL hanya mencatat laba bersih 9,975 miliar rupiah di 2010, merosot hingga 90 persen  dibandingkan tahun 2009 yang sebesar 98,442 miliar rupiah. Laba per saham juga turun dari  3,46 menjadi 0,35 rupiah per saham.

Perseroan pada  2010 mencatat laba usaha  190,803 miliar rupiah turun tajam dibandingkan laba usaha di 2009 yang sebesar  279,258 miliar rupiah. Dari sisi pendapatan usaha mengalami penurunan tipis dari  2,742 triliun di 2009 menjadi  2,765 triliun rupiah  di 2010.

Sementara beban usaha meningkat dari  2,463 triliun di 2009 menjadi  2,574 triliun rupiah di 2010. Beban pajak meningkat dari  47,272 miliar di 2009  menjadi  82,557 miliar rupiah di 2010. Hingga akhir tahun 2010, BTEL tercatat memiliki aset  12,352 triliun meningkat dibandingkan tahun 2009 yang sebesar  11,425 triliun rupiah.

Anindya menjelaskan, hal yang   wajar terjadi penurunan di bottom line karena merupakan siklus 5 tahunan. “Pada  2010-2011 kami fokus investasi besar-besaran untuk 2015. Laba bersih turun drastis karena  dampak  beban depresiasi dan amortisasi,” jelasnya.

Berkaitan dengan rencana permintaan lisensi seluler untuk BTEL, Anindya menyatakan masih menunggu keputusan dari menkominfo setelah Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia menyetujuia pemberian izin. “Kami masih menunggu keputusan dari bapak menteri. Lisensi selular diterapkan karena prinsip pemberian izin di Indonesia masih melihat berbasis seluler atau FWA. Hal yang berbeda jika lisensi tunggal dijalankan besok hari,” tegasnya.

Menurutnya, jika BTEL masuk ke pasar seluler akan menambah seksi perseroan karena  potensi pangsa  pasar seluler  83 triliun rupiah, sementara  FWA  hanya 6.6 triliun rupiah.

“Ketika BTEL telah menjadi operator selular, BTEL akan menjadi satu-satunya perusahaan telekomunikasi dengan sinergi menyeluruh antara koneksi telepon dan internet, infrastruktur, konten, dan devices dalam satu atap. Hal ini penting karena kami yakin tidak lama lagi, sebagian besar dari aktivitas konsumen di Indonesia akan dilakukan melalui telepon genggamnya,” tandasnya.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s