310311 Memahami Pasar Gelap Trafik SLI


 

Sambungan Langsung Internasional (SLI) adalah sasaran empuk bagi pemain Voice Over Internet Protocol (VoiP) untuk memasarkan produknya. Hal ini karena tarif SLI untuk panggilan dengan clear channel dianggap terlalu mahal oleh masyarakat. Panggilan melalui VoiP tarifnya dianggap  hanya setengahnya clear channel.

 

Untuk diketahui, selama ini untuk menggelar jasa SLI ada dua teknologi yang ditawarkan oleh operator  yakni  VoIP dan clear channel. Kualitas dari VoIP biasanya di bawah clear channel mengingat menggunakan internet protocol sehingga tidak real time. Penyelenggara clear channel di Indonesia berikut kode aksesnya adalah Telkom (007), Indosat (001), dan Bakrie Telecom (009).

 

Sedangkan potensi dari layanan SLI di industri telekomunikasi sekitar tiga triliun rupiah dengan jumlah panggilan sebesar tiga miliar menit per tahun. Komposisi pemanggilan adalah 70 persen panggilan keluar negeri dan 30 persen panggilan dari luar negeri.

 

Direktur Corporate & Wholesale Indosat Fadzri Sentosa mengakui, trafik VoiP terus menunjukkan peningkatan karena pengguna suka dengan tarifnya yang murah dan panggilan banyak dilakukan melalui nomor seluler. ”Dari 2.186 miliar menit trafik SLI sebagian besar didominasi oleh VoiP,” ungkapnya di Jakarta, belum lama ini.

 

Potensi pasar yang besar dan keinginan adanya   harga murah  memunculkan para pemain nakal. Hal ini mengingat untuk menjadi pemain VoiP tidak membutuhkan modal besar, faktor utama adalah mampu membeli bandwitdh internasional yang harganya cenderung turun karena liberalisasi.

 

Modus yang dilakukan oleh pemain VoiP ilegal alias tidak memiliki izin untuk menghadirkan pasar gelap  SLI adalah  mengubah trafik yang datang dari luar negeri (terminasi) disalurkan melalui jaringannya, dengan membuatnya seolah-olah panggilan lokal ke sesama pelanggan dari satu operator. Padahal sesuai aturan, trafik yang datang itu harus melalui jaringan pemilik lisensi clear channel SLI   agar tidak terjadi manipulasi panggilan yang bisa merugikan negara dari sisi pajak.

 

Alat yang digunakan adalah Sim Box yang dijual di Singapura sekitar 7,5 juta rupiah. Dua tahun lalu,   salah satu pemilik kode akses SLI pernah menangkap basah praktik seperti ini di Yogyakarta   dimana satu mesin  diisi 30 nomer Fixed Wireless Access (FWA)  untuk mengubah percakapan seolah-olah panggilan lokal. Kerugian negara berupa PPN trafik sangat besar mengingat  di SLI  yang terbesar adalah trafik terminasi.

 

Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi menegaskan, VoiP hanya boleh diselenggarakan oleh pemilik lisensi Internet Teleponi untuk Keperluan Publik (ITKP).

 

”Pengertian VoIP ilegal adalah yang tidak punya lisensi tapi menyelenggarakan layanan VoIP. Selain tidak punya lisensi ITKP, dapat dikatakan ilegal jika bekerja sama dengan penyelenggara VoIP lain yang tidak punya izin VoIP,” ujarnya di Jakarta, Rabu (30/3).

 

Dalam kasus lain, lanjutnya, mitra dari pemilik lisensi ITKP tersebut tidak punya lisensi ITKP tapi berjualan VoIP. Namun dalam beberapa kasus, katanya, operatornya sendiri kadang-kadang tidak tahu karena tidak ada perjanjian kerja sama (PKS), tapi oleh pihak lain dipakai berjualan VoIP.

 

Berkaitan masalah praktik trafik gelap SLI melalui Sim Box, menurutnya,  bisa diketahui dari pola trafik yang dimilikinya. “Operator itu memiliki alat deteksi jika ada trafik yang anomali. Sebenarnya untuk membedakan teknologi yang digunakan itu clear channel dan VoIP cukup melihat delay atau latency-nya saja,” katanya.

 

Ditegaskannya, untuk masalah trafik gelap yang marak belakangan ini   sudah diurus oleh pihak berwajib karena memenuhi unsur merugikan negara. “Regulasinya jelas. Jika tidak memiliki lisensi VoIP, tentu dianggap ilegal dan berurusan dengan pihak berwajib,” tegasnya.

 

Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Internet Teleponi Indonesia (APITI) Teddy A Purwadi mengakui adanya praktik gelap yang dilakukan oleh pihak tidak bertanggungjawab dalam memanipulasi trafik SLI. Sayangnya, operator non lisensi SLI terkesan menutup mata karena senang adanya trafik yang masuk sehingga penjualan pulsanya tinggi.  “Kondisinya makin rumit jika yang melakukan adalah opertaor karena ada perlindungan hukum yakni lisensi VoiP.  Jika perorangan, tentu saja ilegal secara hitam putih,” tegasnya.

 

Menanggapi hal itu, Fadzri mengatakan   pihak yang mampu menghentikan praktik merugikan negara itu hanyalah regulator dan kepolisian karena teknologi  memang susah dibendung. “Operator pasti tetap berusaha memonitor.  Walaupun kita harus hati-hati “menangkapnya” karena kadang-kadang sulit tertangkap basah,” katanya.[dni]

 

 

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s