290311 Solusi Jenuhnya Industri Telekomunikasi

Pertengahan Maret lalu, Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) bekerja sama dengan Kamar Dagang dan Industri menyelenggarakan seminar telekomunikasi dengan topik “Mengubah Kejenuhan Menjadi Peluang”. Pembicara yang hadir, baik dari kalangan pemerintah, operator maupun pengamat, semua memaparkan suatu perspektif tentang kejenuhan industri telekomunikasi Indonesia.

Ada yang bicara soal perlunya revolusi, keluar dari dari wilayah red ocean ke blue ocean, insentif serta tentunya dipaparkan juga angka-angka yang menunjukkan bagaimana industri ini jumlah penggunanya—jika digabung antara telepon tetap lokal berbasis kabel serta berbasis nirkabel  (fixed wireless access) sampai seluler telah mencapai angka 243 juta—telah melebihi jumlah populasi Indonesia sekitar angka 220 jutaan.

Memang kejenuhan sendiri masih dapat diperdebatkan, baik dengan melihat realitas bahwa pengguna telekomunikasi dapat memiliki 2 atau lebih nomor maupun angka nomor hangus yang tinggi. Namun, bisa jadi kejenuhan hanyalah soal waktu mengingat grafik pertumbuhan industri sudah mulai menurun sejak tahun lalu.

Jika memang jenuh, lalu apa yang bisa diperbuat? Yang pertama dapat dikembangkan sebagai wilayah blue ocean—dimana persaingan dan aturan belum ketat, adalah data pita lebar (broadband). Dari beberapa data statistik yang didapat, pengguna pita lebar kita masih di bawah 5% dari total populasi. Sehingga, potensinya masih terbuka lebar.

Selain itu, yang juga dapat dioptimalkan adalah penggunaan layanan telekomunikasi untuk mesin cerdas seperti data card, komputer tablet, vending machine serta perangkat lain yang membutuhkan keterhubungan komunikasi berbasis nirkabel.

Di banyak negara lain, ketika memasuki fase jenuh, persaingan tidak diarahkan pada pembangunan infrastruktur baru, melainkan persaingan dalam hal kualitas. Salah satu alat persaingan baru yang diimplementasikan adalah number portability (NP)  Sesuai dengan roadmap pengembangan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK) Indonesia, di 2011 ini harusnya NP sudah terimplementasikan. Hanya saja, semua operator telekomunikasi menolak rencana kebijakan yang begitu bermanfaat bagi konsumen ini.

Yang menarik, jika para pemain industri telekomunikasi nampak agak “resah” karena industri akan memasuki fase jenuh, justru pemain industri lain melihat bahwa telekomunikasi yang menguasai infrastruktur TIK adalah industri yang siap “mencaplok” industri lain yang ber-platform TIK.

Seperti industri musik. Industri ini tentunya berhutang budi pada industri telekomunikasi bukan karena layanan ring back tone tidak bisa dibajak, namun juga pendapatan yang secara keseluruhan mencapai hingga Rp. 2,5 triliun, dan di tahun ini akan mencapai Rp. 4 Triliun-an.

Selain musik, industri lain yang ketar-ketir adalah perbankan dan penyiaran. Dengan potensi yang ada, misal operator telekomunikasi tidak dibatasi lagi dalam hal transaksi keuangan bergerak (mobile money)  seperti remittance maupun mobile banking. Dalam hal penyiaran, dengan perkembangan terkini bahwa penyiaran akan ke digital serta berbasis protokol internet (IPTV), maka fungsi lembaga penyiaran yang ada akan berubah ke penyedia konten saja, sementara infrastruktur—sesuai dengan perubahan konvergensi ke arah integrasi vertikal dimana satu infrastruktur dapat digunakan untuk berbagai layanan TIK—akan lebih mendominasi.

Memang ada kekhawatiran bahwa yang menikmati pembangunan infrastruktur adalah konten dan aplikasi asing seperti Google, Yahoo, Facebook ataupun Twitter, ini memang dapat dipahami. Hanya saja, perlu cara pandang lain bahwa aplikasi-aplikasi itulah yang mendorong pemanfaatan data pita lebar dan killer application sehingga pengguna menggunakan layanan data operator.

Jika memang dikhawatirkan trafik “lari” ke luar negeri semua, saatnya kita semua memikirkan untuk mengembangkan konten dan aplikasi lokal. Selain itu, kalaupun konten dan aplikasi asing mau dijajakan di sini, perlu ada kewajiban mereka juga membangun server di sini.  Dengan begitu, perlukah ada kekhawatiran?

Oleh Heru Sutadi
Pengamat Teknologi Informasi.

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s