290311 BRTI Fasilitasi Kisruh Perdagangan Pulsa

JAKARTA–Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) akan memfasilitas kisruh perdagangan pulsa yang melibatkan operator dengan mitra distributor dan dilernya.

“Kami akan segera memanggil asosiasi yang terkait dengan kisruh ini agar masalah bisa cepat terselesaikan,” ujar Anggota Komite BRTI Heru Sutadi di Jakarta Senin (28/3).

Menurutnya, masalah kisruh ini sebenarnya dalam domain business to business (B2B) antara pelaku usaha, tetapi sebagai regulator berhak untuk mengetahui guna mencari solusi.

“Ini sebenarnya lebih kepada negosiasi bisnis bukan terkait perijinan yang menjadi domain BRTI. Namun, kami punya itikad baik mencarikan solusi setelah pendapat semua pihak didengarkan,” tegasnya.

Sebelumnya, Masyarakat Pedagang Pulsa Indonesia (MPPI) menolak kebijakan baru operator seluler yang memberlakukan sistem kluster dalam distribusi pulsa elektrik karena merugikan pedagang kecil.

Penerapan sistem kluster, khususnya Telkomsel yang memberlakukan hard cluster, menghambat pedagang pulsa untuk memperoleh pasokan.

Hard cluster yang diterapkan oleh Telkomsel membatasi distribusi pulsa yang dapat diterima pedagang, yakni setiap pedagang hanya dapat memperoleh pasokan dari distributor yang berada dalam satu kluster dengan jangkauan 3—4 kecamatan sesuai dengan posisi BTS  nomor telepon di mana pelanggan berada.

Distribusi dengan sistem kluster juga menyebabkan ketergantungan pembelian pasokan pedagang pulsa hanya melalui satu distributor pada tiap-tiap kluster dengan sejumlah potensi kerugian.

Potensi kerugian itu di antaranya tidak adanya pasokan yang dapat diperoleh pedagang ketika stok distribusi yang ditunjuk habis, tidak ada alternatif lain untuk memperoleh pasokan ketika pelayanan distributor buruk, dan tidak ada alternatif harga beli yang dapat dipilih ketika dianggap mahal.

Pola itu juga menyebabkan penurunan omzet penjualan pedagang sebesar 25—30 persen mengingat Telkomsel memegang porsi terbesar penjualan pulsa yakni mencapai 60 persen, disusul XL dan Indosat sebesar 30 persen, dan sisanya operator lain.

Klusterisasi juga diterapkan XL dan Indosat. Pola  distribusi yang diterapkan Indosat harus menggunakan chip SEV yang sesuai dengan lokasi distributor pemegang kluster yang ditunjuk. Adapun, klusterisasi XL yang diterapkan pada 2011 hanya memberikan kesempatan kepada pelanggan untuk melakukan pengisian dari chip Dompet Pulsa XL dalam kluster yang sama.

Presiden Direktur Indosat Harry Sasongko mengakui sedang menata pola distribusi penjualan produknya agar ada keterjaminan terjangkau oleh pelanggannya.

Direktur Corporate & Wholesales Indosat Fadzri Sentosa menjelaskan, klusterisasi untuk menjaga penjualan pulsa sesuai dengan area yang dimiliki oleh para distributor dan diler. “Ini justru bagus bagi para pengecer, soalnya selama ini dengan pulsa elektrik ada diler yang bukan berada di areanya bisa masuk ke area lain. Operator juga diuntungkan karena bisa lebih tepat mengambil kebijakan dalam menaikkan kapasitas di satu area,” tegasnya.[Dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s