290311 Solusi Jenuhnya Industri Telekomunikasi

Pertengahan Maret lalu, Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) bekerja sama dengan Kamar Dagang dan Industri menyelenggarakan seminar telekomunikasi dengan topik “Mengubah Kejenuhan Menjadi Peluang”. Pembicara yang hadir, baik dari kalangan pemerintah, operator maupun pengamat, semua memaparkan suatu perspektif tentang kejenuhan industri telekomunikasi Indonesia.

Ada yang bicara soal perlunya revolusi, keluar dari dari wilayah red ocean ke blue ocean, insentif serta tentunya dipaparkan juga angka-angka yang menunjukkan bagaimana industri ini jumlah penggunanya—jika digabung antara telepon tetap lokal berbasis kabel serta berbasis nirkabel  (fixed wireless access) sampai seluler telah mencapai angka 243 juta—telah melebihi jumlah populasi Indonesia sekitar angka 220 jutaan.

Memang kejenuhan sendiri masih dapat diperdebatkan, baik dengan melihat realitas bahwa pengguna telekomunikasi dapat memiliki 2 atau lebih nomor maupun angka nomor hangus yang tinggi. Namun, bisa jadi kejenuhan hanyalah soal waktu mengingat grafik pertumbuhan industri sudah mulai menurun sejak tahun lalu.

Jika memang jenuh, lalu apa yang bisa diperbuat? Yang pertama dapat dikembangkan sebagai wilayah blue ocean—dimana persaingan dan aturan belum ketat, adalah data pita lebar (broadband). Dari beberapa data statistik yang didapat, pengguna pita lebar kita masih di bawah 5% dari total populasi. Sehingga, potensinya masih terbuka lebar.

Selain itu, yang juga dapat dioptimalkan adalah penggunaan layanan telekomunikasi untuk mesin cerdas seperti data card, komputer tablet, vending machine serta perangkat lain yang membutuhkan keterhubungan komunikasi berbasis nirkabel.

Di banyak negara lain, ketika memasuki fase jenuh, persaingan tidak diarahkan pada pembangunan infrastruktur baru, melainkan persaingan dalam hal kualitas. Salah satu alat persaingan baru yang diimplementasikan adalah number portability (NP)  Sesuai dengan roadmap pengembangan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK) Indonesia, di 2011 ini harusnya NP sudah terimplementasikan. Hanya saja, semua operator telekomunikasi menolak rencana kebijakan yang begitu bermanfaat bagi konsumen ini.

Yang menarik, jika para pemain industri telekomunikasi nampak agak “resah” karena industri akan memasuki fase jenuh, justru pemain industri lain melihat bahwa telekomunikasi yang menguasai infrastruktur TIK adalah industri yang siap “mencaplok” industri lain yang ber-platform TIK.

Seperti industri musik. Industri ini tentunya berhutang budi pada industri telekomunikasi bukan karena layanan ring back tone tidak bisa dibajak, namun juga pendapatan yang secara keseluruhan mencapai hingga Rp. 2,5 triliun, dan di tahun ini akan mencapai Rp. 4 Triliun-an.

Selain musik, industri lain yang ketar-ketir adalah perbankan dan penyiaran. Dengan potensi yang ada, misal operator telekomunikasi tidak dibatasi lagi dalam hal transaksi keuangan bergerak (mobile money)  seperti remittance maupun mobile banking. Dalam hal penyiaran, dengan perkembangan terkini bahwa penyiaran akan ke digital serta berbasis protokol internet (IPTV), maka fungsi lembaga penyiaran yang ada akan berubah ke penyedia konten saja, sementara infrastruktur—sesuai dengan perubahan konvergensi ke arah integrasi vertikal dimana satu infrastruktur dapat digunakan untuk berbagai layanan TIK—akan lebih mendominasi.

Memang ada kekhawatiran bahwa yang menikmati pembangunan infrastruktur adalah konten dan aplikasi asing seperti Google, Yahoo, Facebook ataupun Twitter, ini memang dapat dipahami. Hanya saja, perlu cara pandang lain bahwa aplikasi-aplikasi itulah yang mendorong pemanfaatan data pita lebar dan killer application sehingga pengguna menggunakan layanan data operator.

Jika memang dikhawatirkan trafik “lari” ke luar negeri semua, saatnya kita semua memikirkan untuk mengembangkan konten dan aplikasi lokal. Selain itu, kalaupun konten dan aplikasi asing mau dijajakan di sini, perlu ada kewajiban mereka juga membangun server di sini.  Dengan begitu, perlukah ada kekhawatiran?

Oleh Heru Sutadi
Pengamat Teknologi Informasi.

290311 Bundling Produk: XL Gandeng Apple, Mengikat Penggemar Fanatik

PT XL Axiata Tbk (XL) pada  akhirnya mengonfirmasikan isu yang selama ini beredar tentang rencana perseroan  untuk menngikuti jejak dari Telkomsel memasarkan ponsel pintar milik Apple Inc, iPhone, mulai April nanti.

Telkomsel sendiri telah menjalin kerjasama dengan perusahaan yang dikomandoi Steve Jobs itu sejak dua tahun lalu dan telah berhasil menggaet 120 ribu pengguna dari ponsel yang identik dengan Apps Store dan layar sentuh itu.

XL rencananya akan memulai kerjasamanya dengan Apple melalui penjualan  iPhone 4 tipe putih. Jumlah pasokan barang yang akan disediakan untuk tahap awal sebanyak 25 ribu unit. Ponsel ini memiliki  dua varian yakni  16 dan 32 GB. Kelebihannya terletak pada layar dimana  memiliki retina display beresolusi tinggi dan kecepatan mengunduh data.

Telkomsel sendiri membundling iPhone 4 plus kartu prabayar selulernya dengan harga  6,99 juta rupiah  untuk yang memori 16 GB, dan  8,2 juta rupiah  untuk memori 32 GB. Sementara XL masih membuka pre order melalui internet untuk perangkat ini dimana 1.500 pelanggan telah mendaftarkan diri untuk membeli.

Lantas, kenapa XL ngotot untuk menjalin kerjasama ekskulisf dengan Apple mengingat tanpa ada perjanjian pun, sebanyak 30 ribu pengguna iPhone telah setia di jaringannya?

Apalagi, sudah menjadi rahasia umum menjalin kerjasama dengan Apple sangat berat syaratnya terutama dalam masalah pemasaran dan distribusi yang harus mengikuti standar dari perusahaan itu. Misalnya, bentuk komunikasi iklan yang harus sama dengan pasar global atau target penjualan hingga 150 ribu unit per tahun. Belum lagi sistem distribusi yang tertutup yakni adanya eksklusifitas yang bertentangan dengan pasar Indonesia dimana barang impor paralel bisa dijual bebas di pusat penjualan ponsel.

“Kami melihat  pasar smartphone nantinya  akan didominasi oleh BlackBerry, Apple, dan Android. Sebagai operator yang ingin fokus juga di jasa data, ketiganya harus digandeng agar eksistensi XL diakui,” tegas Direktur Konsumer XL Axiata Joy Wahjudi kepada Koran Jakarta, akhir pekan lalu.

Diakuinya, model bisnis yang diterapkan oleh Apple mirip dengan Research In Motion (RIM) tiga tahun lalu dimana memaksa operator secara tidak langsung  bertindak sebagai distributor. “Permintaan akan produk Apple itu ada. Saya rasa seiring perkembangan pasar, Apple akan melihat kenyataan di Indonesia dan menyesuaikan diri agar ketersediaan barangnya meluas,” jelasnya.

Dikatakannya, mengingat dalam kerjasama ini Apple memegang kendali yang dominant maka untuk urusan harga perangkat dan paket data yang diberikan oleh XL nantinya tak akan beda jauh dengan Telkomsel. “Kami akan tetap mencoba untuk berbeda. Soal bedanya dimana, itu masih rahasia. Tunggu saja bulan depan,” katanya.

GM Mobile Data Service Channel Development XL Axiata Handono Warih menambahkan,  perseroan  membutuhkan  media adoption untuk masuk ke pasar smartphone selain BlackBerry.  “Sejauh ini profil 30 ribu pengguna iPhone yang menggunakan kartu XL lumayan menjanjikan. Apalagi iPhone ini memiliki ekosistem dan industri yang bagus sehingga ini bisa mendukung agresifitas XL yang ingin meningkatkan kontribusi jasa data,” jelasnya.

Ditegaskannya, walau XL dalam memasarkan iPhone bukanlah pemain pertama, namun akan datang dengan penawaran pemasaran yang menarik sehingga bisa memenuhi kebutuhan dari komunitas pengguna. “Kami akan tawarkan penawaran dengan distribusi yang lebih baik. Para pengembang aplikasi juga diajak untuk mengembangkan pasar ini. Soalnya, ditengah kebosanan orang terhadap perkembangan gadget, konten menjadi kunci memenangkan persaingan,” katanya.

Head of Corporate Communication XL Axiata, Febriati Nadira mengharapkan, jalinan kerjasama Apple mampu meningkatkan  kontribusi layanan data terhadap total  omzet XL  dimana pada tahun lalu  sekitar 7 persen  menjadi  9-10 persen.

Kuatkan Komunikasi
Praktisi telematika  Abul A’la Alamujudy memperkirakan XL akan melebihi prestasi Telkomsel dalam menjual iPhone mengingat komunikasi pemasarannya selama ini lebih agresif dan pintar.

”XL pintar sekali menciptakan buzz marketing. Kunci dalam menjual iPhone itu di buzz marketing karena yang disasar adalah penggemar fanatik dari produk buatan Apple. Harus diingat, merek Apple itu dalam pemasaran sudah dalam tingkatan brand religion, jadi produknya sudah menjual dirinya sendiri, tinggal dimainkan sedikit komunikasinya,” katanya.

Pengamat Telekomunikasi Guntur S Siboro mengingatkan XL dalam bernegosiasi dengan Apple harus pintar terutama jangan mau terjebak dalam keharusan  membeli  sejumlah unit tertentu per tahun. ”Jika itu terjadi  akan menjadi sulit dan  beban bagi operator. Harusnya resiko ditanggung bersama,” katanya.

Pengamat Telekomunikasi lainnya, Bayu Samudiyo  mengatakan, masalah waktu masuk ke pasar akan menjadi kunci sukses XL memasarkan iPhone. ”Telkomsel kurang apa dalam memasarkan iPhone, sayangnya karena sistem birokrasi di Apple yang lama, membuat operator itu kehilangan momentum menjualnya di pasar dan malah disalip oleh produk paralel impor yang dibawa dari luar. Xl harus belajar dari kesalahan ini,” katanya.

Menurutnya, untuk varian iPhone 4 ini XL belum akan bisa berbicara banyak karena momentum masuk ke psar sudah lewat. ”Kecuali paket bundling-nya super seksi yang mampu mengikat pelanggan dan memberikan persepsi harga perangkat yang tinggi itu ada nilainya. Kalau cuma jual handset dengan harga tinggi akan  sama ceritanya seperti iPhone seri lama,” tuturnya.

Masih menurutnya, kehadiran iPhone 4 oleh XL nantinya hanya akan mendorong pemilik iPhone lama untuk pindah ke perangkat baru itu mengingat pengguna merek Apple sangat setia. ”Kalau mengharapkan pengguna baru rasanya berat,” jelasnya.

Praktisi Telematika  Teguh Prasetya mengakui masalah harga menjadi kunci untuk diterima pasar dalam hal ini operator harus berani melakukan subsidi agar harga bisa dibanting. ”Sebenarnya jika dilihat secara lebih mendalam hal yang dicari oleh operator kala menggandeng Apple adalah dari sisi citra. Nama besar Apple itu menjual dan mampu mengangkat nilai jual operator,” katanya.

Menurutnya, jika mau jujur, ponsel berbasis Android akan lebih dicari pasar pada tahun ini karena banyak varian dan aplikasinya gratis. ”Produk Apple itu niche market. Jadi, secara logika, jika operator sampai rela habis-habisan mengikuti standar Apple, berarti ada sesuatu yang lebih besar dicari ketimbang menjual unit perangkat,” ungkapnya.

Sementara Praktisi telematika lainnya Faizal Adiputra mengingatkan, XL harus mampu menjaga kualitas jaringannya karena sistem layanan iPhone berbeda dengan BlackBerry. ”Data dihantarkan tanpa kompresi oleh sistem operasi Iphone. Jika tidak pintar dalam manajemen jaringan, bisa jebol,” katanya.

Faizal menegaskan, jika dilihat dari sisi produk, iPhone bisa diibaratkan seperti Harley Davidson (HD) dimana mampu  memenuhi kebutuhan multimedia penggemar fanatiknya. ”Soal kebanggan menggunakan produk Apple itu seperti para pengendara motor yang selalu ingin memiliki HD. Rasanya punya HD itu bangganya besar sekali. Nah, di perangkat iPhone seperti itu. Boleh banyak produk sejenis, tetapi bagi pecinta gadget, iPhone itu premiumnya,” jelasnya.

Sementara, Telkomsel yang telah lebih dulu menggelontorkan bundling iPhone4 bersama Apple, mengaku tak khawatir pasarnya digerogoti XL. “Masyarakat jadi punya banyak pilihan,” tutur VP Channel Management Product Telkomsel Gideon Eddie Purnomo.[dni]

290311 Telkom Pastikan Satelit Telkom-3 Meluncur akhir 2011

JAKARTA—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) memastikan peluncuran satelit Telkom-3 akan dilakukan pada akhir tahun  ini seiring adanya komitmen dari dua mitra asing yang ditunjuk untuk pembuatan infrastruktur senilai 200 juta dollar AS itu.

”Kami bisa pastikan Satelit Telkom-3 tetap meluncur pada tahun ini. Paling lambat jelang tutup tahun ini,” tegas Head Of Corporate Communication Telkom Eddy Kurnia di Jakarta, akhir pekan lalu.

Ditegaskannya, meskipun Satelit Telkom-3 merupakan satelit pertama Indonesia yang dibeli dari Rusia,  tetapi reputasi   ISS diyakini akan mampu menyelesaikan pengadaan Satelit Telkom 3 sesuai jadwal.

Sebelumnya, Direktur Teknologi dan Informasi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) Indra Utoyo mengungkapkan, peluncuran satelit itu molor dari jadwal   Agustus tahun ini   karena salah satu mitra yang ditunjuk yakni Thales Aleniaspace belum menyelesaikan pekerjaan perangkat komunikasi (Payload).

”Kemungkinan molor dari jadwal. Bisa akhir tahun ini atau awal tahun depan. Kami sedang meminta penjelasan dari Thales sebagai mitra,” ungkapnya.

Menurut Indra, perangkat komunikasi yang dibuat oleh Thales adalah ”jantung” dari satelit Telkom III sehingga sangat memegang peranan penting untuk infrastruktur tersebut.

Berdasarkan catatan, Satelit Telkom III menggandeng perusahaan asal Rusia , ISS Reshetnev, untuk pengadaan satelit, sedangkan perangkat komunikasi oleh Thales Aleniaspace dari Perancis, dan  akan diluncurkan dengan peluncur Proton M-breeze.

Infrastruktur  itu  berkapasitas 42 Transponder aktif yang setara dengan 49 transponder, terdiri dari 24 transponder Standart C-band, 8 transponder  C-band dan 4 transponder  ditambah 6 transponder Ku-Band.

Dari 42 transponder Satelit Telkom-3 sebanyak 40-45 persen atau sekitar 20 transponder akan dikomersialkan, sedangkan sisanya 55 persen untuk menambah kapasitas seluruh layanan Telkom Group. Cakupan geografis Satelit Telkom-3 mencakup, Standart C-band (Indonesia dan ASEAN), Ext. C-band (Indonesia dan Malaysia) serta Ku-Band (Indonesia).

Berdasarkan studi yang dilakukan Telkom, terjadi peningkatan permintaan atas satelit komunikasi baik di Indonesia maupun negara-negara tetangga lainnya. ”Telkom, meyakini bahwa permintaan akan transponder masih akan tumbuh,” jelas Eddy.

Di Indonesia saat ini lebih dari 160 transponder dimanfaatkan untuk GSM backhaul, jaringan data dan untuk penyiaran. Sementara pasokan domestik yang dilakukan oleh Telkom sendiri hanya 101 transponder. Permintaan saat ini masih tumbuh untuk keperluan penyiaran (broadcast), 3G, Internet, Triple Play dan Quardraple.[dni]

290311 Bisnis VoIP Harus Ditata Ulang

 

 

JAKARTA—Pemerintah didesak untuk menata ulang bisnis penyelenggaraan jasa telekomunikasi berbasis Voice Over Internet Protocol (VoIP) agar para pelaku usaha mendapatkan kepastian hukum.

 

“Bangsa ini seperti mengalami paranoid dengan layanan VoIP. Apalagi belum lama ini ada hukuman bagi dua pejabat Telkom yang dianggap menjalankan VoIP illegal di Makassar,” ungkap Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Teleponi Indonesia (APITI) Teddy A Purwadi di Jakarta, Senin (28/3).

 

Menurutnya, hal yang  mendesak harus dilakukan oleh  regulator menata bisnis VoiP adalah  menghentikan pemberian izin telepony untuk keperluan publik  karena pemainnya sudah terlalu banyak sehingga tidak lagi ekonomis.

 

“Penerbitan tambahan izin Internet Telepony untuk Keperluan Publik (ITKP) akan percuma karena terjadi dua sektor penyelenggaraan layanan tersebut, yaitu operator teleponi PSTN atau seluler dan Internet service provider (ISP),” jelasnya.

 

ITKP merupakan izin penyelenggaraan layanan voice over Internet protocol (VoIP). Pemerintah telah mengeluarkan 22 pemegang izin prinsip penyelenggaraan ITKP dan kemungkinan terus bertambah. Bagi APITI,   VoIP merupakan kebutuhan komunikasi dasar di mana keterhubungan sistem broadband sudah secara langsung, tanpa melalui sentral teleponi terpusat lagi.

 

Dijelaskannya,  pembahasan tentang VoIP di Indonesia sudah diatur sepanjang yang berhubungan dengan panggilan suatu nomor teleponi kepada operator telekomunikasi berdasarkan UU Telekomunikasi yang masih berlaku, dan dapat diterapkan baik secara teknis dan bisnis untuk kepentingan publik.

 

Kenyataannya,   perundangan telekomunikasi di seluruh dunia kewalahan dengan kemajuan protokol Internet untuk VoIP ini, sehingga operator bersifat defensif dan cenderung mengusulkan proteksi melalui regulator setempat, yakni pembakuan tiga panggilan telepon yang harus dipertahankan, yaitu panggilan lokal, Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ), dan Sambungan Langsung Internasional (SLI).

 

Sedangkan di beberapa negara International Telecommunication Union (ITU) terdapat  arif terminasi dan outgoing diterapkan dalam VoIP.  ITU kemudian mendesak industri pemasok sistem untuk sepakat atas pembakuan yang berlaku, sementara kemajuan protokol Internet mendesak dengan open-system di berbagai aplikasi Internet telephony.

 

“Solusi dari kondisi ini untuk  Indonesia,  diterbitkannya kebijakan izin ITKP yang melihat model bisnis secara holistic. Soalnya di lapangan ada yang terjadi penyelenggara tidak memiliki izin VoIP bekerjasama dengan pemilik lisensi atau operator membiarkan terjadinya perubahan terminasi dari clear channel menjadi VoIP,” keluhnya.[dni]

290311 BRTI Fasilitasi Kisruh Perdagangan Pulsa

JAKARTA–Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) akan memfasilitas kisruh perdagangan pulsa yang melibatkan operator dengan mitra distributor dan dilernya.

“Kami akan segera memanggil asosiasi yang terkait dengan kisruh ini agar masalah bisa cepat terselesaikan,” ujar Anggota Komite BRTI Heru Sutadi di Jakarta Senin (28/3).

Menurutnya, masalah kisruh ini sebenarnya dalam domain business to business (B2B) antara pelaku usaha, tetapi sebagai regulator berhak untuk mengetahui guna mencari solusi.

“Ini sebenarnya lebih kepada negosiasi bisnis bukan terkait perijinan yang menjadi domain BRTI. Namun, kami punya itikad baik mencarikan solusi setelah pendapat semua pihak didengarkan,” tegasnya.

Sebelumnya, Masyarakat Pedagang Pulsa Indonesia (MPPI) menolak kebijakan baru operator seluler yang memberlakukan sistem kluster dalam distribusi pulsa elektrik karena merugikan pedagang kecil.

Penerapan sistem kluster, khususnya Telkomsel yang memberlakukan hard cluster, menghambat pedagang pulsa untuk memperoleh pasokan.

Hard cluster yang diterapkan oleh Telkomsel membatasi distribusi pulsa yang dapat diterima pedagang, yakni setiap pedagang hanya dapat memperoleh pasokan dari distributor yang berada dalam satu kluster dengan jangkauan 3—4 kecamatan sesuai dengan posisi BTS  nomor telepon di mana pelanggan berada.

Distribusi dengan sistem kluster juga menyebabkan ketergantungan pembelian pasokan pedagang pulsa hanya melalui satu distributor pada tiap-tiap kluster dengan sejumlah potensi kerugian.

Potensi kerugian itu di antaranya tidak adanya pasokan yang dapat diperoleh pedagang ketika stok distribusi yang ditunjuk habis, tidak ada alternatif lain untuk memperoleh pasokan ketika pelayanan distributor buruk, dan tidak ada alternatif harga beli yang dapat dipilih ketika dianggap mahal.

Pola itu juga menyebabkan penurunan omzet penjualan pedagang sebesar 25—30 persen mengingat Telkomsel memegang porsi terbesar penjualan pulsa yakni mencapai 60 persen, disusul XL dan Indosat sebesar 30 persen, dan sisanya operator lain.

Klusterisasi juga diterapkan XL dan Indosat. Pola  distribusi yang diterapkan Indosat harus menggunakan chip SEV yang sesuai dengan lokasi distributor pemegang kluster yang ditunjuk. Adapun, klusterisasi XL yang diterapkan pada 2011 hanya memberikan kesempatan kepada pelanggan untuk melakukan pengisian dari chip Dompet Pulsa XL dalam kluster yang sama.

Presiden Direktur Indosat Harry Sasongko mengakui sedang menata pola distribusi penjualan produknya agar ada keterjaminan terjangkau oleh pelanggannya.

Direktur Corporate & Wholesales Indosat Fadzri Sentosa menjelaskan, klusterisasi untuk menjaga penjualan pulsa sesuai dengan area yang dimiliki oleh para distributor dan diler. “Ini justru bagus bagi para pengecer, soalnya selama ini dengan pulsa elektrik ada diler yang bukan berada di areanya bisa masuk ke area lain. Operator juga diuntungkan karena bisa lebih tepat mengambil kebijakan dalam menaikkan kapasitas di satu area,” tegasnya.[Dni]

290311 2012, Indosat Optimistis Laba Bersih Positif

JAKARTA—PT Indosat Tbk (Indosat ) optimistis laba bersih perseroan pada 2012  akan tercatat positif setelah tiga tahun belakangan anjlok dalam kisaran dobel digit.

Tercatat, kinerja negatif dari laba bersih perseroan mulai terlihat pada 2008 dimana terbukukan 1,879 triliun rupiah, setelah itu pada 2009 anjlok 20,2 persen atau hanya sebesar 1,498 triliun rupiah, dan pada tahun lalu melorot 56,8 persen atau sebesar 647 miliar rupiah.

“Kinerja laba bersih yang anjlok dalam tiga tahun belakangan dipicu oleh banyak hal seperti masa transisi perseroan setelah akuisisi dilakukan oleh Qatar Telecom dalam periode 2008-2009 sehingga terjadi stagnasi. Selain itu ada juga karena kerugian selisih kurs, depresiasi, dan biaya bunga,” ungkap Presiden Direktur Indosat Harry Sasongko di Jakarta, Senin (28/3).

Menurutnya, depresiasi dan strategi lindung nilai terhadap hutang dalam dollar AS (Hedging) di masa lalu memiliki kontribusi yang besar dalam memberatkan bottom line di masa kini.

“Perangkat yang dibeli di masa lalu itu baru operasional belum lama ini. Jadinya, hitungan depresiasinya lumayan besar,” katanya.

Namun kini, ditegaskannya, perseroan dari sisi keuangan sudah mulai menunjukkan kebangkitan seiring lebih cepatnya dicapai target free cash flow positif pada akhir tahun lalu. “Sebelumnya diperkirakan free cash flow positif itu pada pertengahan 2011, ternyata lebih cepat diraih,” katanya.

Berdasarkan catatan, pada 2008 free cash flow emiten dengan kode ISAT ini berada di posisi negatif sebesar 3,773 triliun rupiah, pada 2009 mengalami penurunan 75,4 persen menjadi 6,619 triliun rupiah. Baru pada tahun lalu free cash flow pada posisi positif yaitu sebesar 868 miliar rupiah.

Dikatakannya, untuk menjaga bottom line dari perseroan berada dalam posisi positif maka  rencananya dana sebesar 200 juta dollar AS disiapkan untuk melunasi hutang yang jatuh tempo pada tahun ini.

“Kami menyiapkan dana internal untuk keperluan belanja modal dan membiayai hutang. Jika pun ada keinginan menutupi dengan refinancing itu hanya memanfaatkan fasilitas yang biasa dimiliki,” katanya tanpa merinci besaran belanja modal yang disiapkan untuk tahun ini.

Selanjutnya dikatakan, untuk memacu pertumbuhan pendapatan pada tahun ini perseroan telah menyiapkan berbagai strategi. Misalnya untuk produk seluler akan melakukan inovasi produk dan meneruskan modernisasi jaringan untuk seluruh Sumatera dan Jawa Tengah. Sedangkan bagi infrastruktur pasif akan didorong ditingkatkan utilisasi asset seperti penyewaan menara. Pada tahun lalu dari bisnis penyewaan menara Indosat berhasil mendapatkan dana 260 miliar rupiah.

Sedangkan untuk produk Code Division Multiple Access (CDMA) StarOne akan disapih setelah pada tahun lalu jumlah pelanggannya turun 7,4 persen dibandingkan periode 2009 atau hanya 550 ribu pelanggan.

“Untuk StarOne kami menyadari adanya kecenderungan konsolidasi antar pemain. Tetapi kami sadar ini jalannya masih panjang. Karena itu kita mengambil opsi untuk mempercantik dulu StarOne,” tegasnya.

Berkaitan dengan tidak tercapainya target perseroan dari sisi pertumbuhan pendapatan usaha baik secara konsolidasi dan jasa seluler pada tahun lalu yakni tumbuh 9-10 persen untuk pendapatan konsolidasi dan 16-17 persen untuk jasa seluler, Harry mengungkapkan, sebenarnya pada kuartal pertama hingga ketiga dalam periode 2010 perseroan mencatat kinerja yang lumayan baik untuk sisi omset. “Sayangnya pada kuartal keempat salah satu incumbent di seluler lumayan agresif sehingga memperlambat pertumbuhan di akhir tahun,” jelasnya.

Perseroan  membukukan pendapatan usaha terkonsolidasi sebesar 19,80 triliun rupiah atau tumbuh sebesar 5,2 persen terhadap tahun sebelumnya. Pendapatan seluler sendiri pada 2010 sebesar 16.027,1 triliun rupiah.

Komisaris Indosat Rakhmat Gobel menegaskan, Qatar Telecom sebagai induk usaha tetap optimistis dengan kinerja dari jajaran manajemen Indosat untuk membawa perseroan kea rah yang lebih baik. “Hingga sekarang Qtel tetap percaya Indosat akan menuju arah lebih baik dengan kemampuan sendiri sehingga belum perlu ada injeksi dana dari pemegang saham,” tegasnya.

Secara terpisah, Pengamat telekomunikasi Guntur S Siboro mengingatkan manajemen Indosat harus memperhatikan masalah kualitas layanan yang diberikan ke pelanggan agar tidak terjadi pindah layanan seiring terjadinya free cash flow positif. “Kondisi keuangan itu dicapai dengan mengurangi belanja modal.

Walaupun ada modernisasi jaringan, tetapi bukan perluasan jangkauan. Sementara kompetitornya kian agresif mengembangkan jangkauan, jika ini tidak diantisipasi dengan belanja modal yang agresif pada 2011, bisa kedodoran,” jelasnya.

Indosat dalam tiga tahun terakhir belanja modalnya  memang cenderung menurun. Tercatat pada 2008 alokasi belanja modal sebesar 12,342 triliun rupiah, pada 2009 turun 13,3 persen menjadi 10,700 triliun rupiah, dan tahun lalu senilai 6,535 triliun rupiah.[dni]

290311 RI-Rusia Perbaharui Air Service Agreement

 

JAKARTA— Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan pemerintah Rusia yang diwakili oleh Kementerian Transportasi Rusia telah memperbaharui perjanjian kerjasama angkutan udara (air service agreement) antara kedua negara.

 

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Herry Bakti S Gumay mengungkapkan,  isi dari pembaharuan perjanjian kerjasama angkutan udara tersebut yaitu maskapai penerbangan dari Indonesia dan Rusia bisa melakukan penerbangan komersil langsung secara reguler. Perjanjian ini dilakukan untuk menggantikan dokumen sebelumnya pada tahun 1990 dan merupakan langkah penting bagi perkembangan kerjasama bilateral.

 

“Selama ini belum ada maskapai Indonesia yang terbang langsung ke Rusia, dengan adanya pembaharuan air service agreement ini (maskapai) kita bisa langsung terbang ke Rusia,” katanya di Jakarta, Senin (28/3).

 

Dijelaskannya,  dalam penandatanganan tersebut, disepakati penunjukkan masing-masing empat bandara di Indonesia dan Rusia sebagai tujuan penerbangan komersil secara reguler antar kedua negara. Adapun rute penerbangan ke Rusia dari Indonesia akan dilakukan dari Bandara Soekarno Hatta (Jakarta), Bandara Sam Ratulangi (Manado), Bandara Adisumarmo (Solo) dan Bandara Ngurah Rai (Denpasar). Sedangkan dari Rusia, akan berangkat dari Bandara Kota Moskow, St.Petersburg, Vladivostok, dan Novosibrisk.

 

Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemnhub Bambang S Ervan menambahkan, selama ini penerbangan RI-Indonesia dilayani oleh maskapai carter asal Rusia, Transaero yang melayani rute penerbangan Denpasar-Moskow lima kali seminggu. “Dengan adanya air service agreement yang baru ini maskapai penerbangan RI maupun Rusia bisa terbang secara reguler,” tambah Bambang.

 

Data Kemenhub menyebutkan, angkutan penumpang udara antara Indonesia-Rusia saat ini dilayani dengan lebih dari delapan pesawat carter oleh Transaro. Sementara untuk angkutan barang setidaknya dalam satu minggu terdapat dua kali penerbangan kargo antara Indonesia dan Rusia.

 

Herry menambahkan, maskapai asal Rusia, Aeroflot juga telah melayangkan surat kepada Pemerintah Indonesia untuk mengajukan penerbangan reguler langsung dari Rusia ke Indonesia. Sebelum Aeroflot bisa terbang ke Tanah Air, pihaknya meminta kepada maskapai asal Rusia tersebut untuk mengurus surat perizinan berupa air operator certificate (AOC) foreign carrier.

 

“Prinsipnya sudah oke, mereka tinggal mengajukan kapan akan mulai terbang dan rute penerbangan mana saja yang akan mereka pilih, itu kesepakatan dari segi business to business. Sedangkan dari pemerintah, hanya mengatur regulasi perizinan penerbangan,” kata Herry.

 

Meskipun telah ada permintaan dari maskapai Rusia mengenai perjanjian penerbangan antara kedua negara, namun menurut Herry hingga saat ini belum ada maskapai penerbangan nasional yang menyatakan minatnya untuk terbang langsung ke Rusia.

 

“Belum ada (maskapai nasional) yang menyatakan minatnya, tapi kami yakin Garuda Indonesia sudah memenuhi semua persyaratan untuk langsung terbang ke Rusia,” tambahnya.

 

Sebelumnya, perjanjian bilateral ini diyakini dapat meningkatkan arus wisatawan dari dan menuju antara kedua negara, serta mampu mendorong peningkatan kerja sama ekonomi, perdagangan dan investasi. Berdasarkan data Kemeterian Budaya dan Pariwisata, jumlah wisatawan Rusia yang berkunjung ke Indonesia mencapai lebih dari 80.000 orang pada 2010. Sedangkan berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik Indonesia, angka perdagangan Indonesia-Rusia telah mencapai 1,685 miliar dollar AS pada 2010, atau naik 117,54 persen dibanding 2009.[dni]