240311 Pasar Smarter Commerce Capai US$ 70 Miliar

JAKARTA—Pasar Smarter Commerce yang meliputi  piranti lunak dan layanan konsultasi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan diperkirakan mencapai 90 miliar dollar AS secara global pada tahun ini.

“Pendorong pasar yang besar adalah  permintaan dari para pelanggan yang terus meningkat dimana  tren yang berlaku saat ini memperlihatkan bahwa pembeli adalah raja,” tutur  Partner Global Business Services, IBM Indonesia, Widita Sardjono di Jakarta, Rabu (23/3).

Dijelaskannya, Smarter Commerce  bertujuan untuk membantu dunia bisnis agar dapat beradaptasi dengan cepat terhadap permintaan pelanggan yang meningkat secara khusus pada beberapa pasar yang sudah bertransformasi secara digital.  Piranti lunak
dan layanan yang baru dimiliki IBM ini  didukung oleh sumber daya berupa tenanga penjual dan pemasaran global  mencakup berbagai spektrum tentang cara-cara baru untuk membeli, menjual dan meningkatkan kesetiaan pelanggan  di era jaringan sosial dan perangkat bergerak saat ini.

Inisiatif IBM Smarter Commerce didasari platform WebSphere Commerce dan investasi
sebesar 2,5 miliar  dollar AS dalam piranti lunak berbasis cloud dan on-premise dari akuisisi Sterling Commerce, Unica dan Coremetrics oleh IBM.

Diungkapkannya, saat ini 70 persen dari interaksi pertama seorang pelanggan dengan sebuah produk atau layanan terjadi melalui cara pembelian online, 64 persen
konsumen melakukan pembelian karena pengalaman digital mereka, dan 600 juta dari dua milyar orang yang terhubung dengan Internet memiliki akun Facebook. Ditambah terjadinya lonjakan pembelian melalui perangkat bergerak, yang meningkat tiga kali lipat setiap tahun menjadi 119 miliar dollar AS tahun ini.

“Dunia bisnis membutuhkan jaringan pemasok dan mitra yang lebih responsif untuk memastikan agar mereka dapat menghantarkan produk dan layanan dengan harga,
waktu dan tempat yang tepat. Kunci keberhasilan dalam lingkungan yang baru ini adalah kemampuan memprediksi tren dan mengotomatisasikan  respon pasar serta lebih memperdekat hubungan antara penjual dan pembeli,” katanya.

Diungkapkannya, sebuah studi yang diselenggarakan IBM Institute for Business Value baru-baru ini terhadap 500 ahli ekonomi di sleuruh dunia memperlihatkan bahwa banyak hal yang tidak efisien yang terjadi sebagai akibat dari inventory backlog, peluncuran produk yang gagal, bahan baku yang terbuang dan kampanye pemasaran yang
tidak efektif hinga mencapai 15 trliun dollar AS. “Smarter Commerce memastikan hal itu bisa dihindari,” tegasnya.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s