240311 Mendorong Hadirnya Kompetisi yang Sehat

Kompetisi di sektor telekomunikasi Indonesia saat ini bisa dikatakan dalam kondisi over crowded market alias situasi dimana pemain terlalu banyak di pasar sehingga membuat ruang untuk mendapatkan margin menjadi kian tipis.

Hal ini bertolak belakang jika dilihat kondisi sebelum  1989 dimana aroma monopoli sangat kuat melalui Perumtel dan Indosat. Setelah itu mulai terjadi kompetisi yang ringan pada periode 1989-1994 dengan hadirnya UU No 3/1989 dimana hadir tiga pemain yakni Telkom, Indosat, dan Satelindo.

Kompetisi mulai terasa ketat dengan disahkannya UU No 36/99 tentang Telekomunikasi yang memunculkan pemain  tambahan selain tiga sebelumnya seperti XL dan Bakrie Telecom. Namun, kompetisi mulai terasa liar ketika 11 operator mulai aktif di pasar sejak 2007 ditambah dengan berlakunya formula interkoneksi berbasis biaya. Kondisi ini telah memicu perang tarif  dimana terjadi  penurunan Average Revenue Per Minute hingga 80 persen atau di kisaran 200 rupiah di tahun 2007-2009.

Presiden Direktur XL Axiata Hasnul Suhaimi menjelaskan, kondisi yang over crowded di pasar membuat fokus pelaku usaha berpindah ke pesaing bukan hanya melayani pelanggan.

“Dalam suasana yang terlalu ramai ini membuat tiru-meniru menjadi hal yang lumrah sehingga pemain kehilangan originalitas dan kreatifitas. Belum lagi kecenderungan ada penyalahgunaan posisi seperti monopoli jalur distribusi dan blocking layanan,” katanya di Jakarta, belum lama ini.

Dampak lainnya adalah para pemain menjadi terlalu agresif sehingga perang terjadi di lapangan yang diwujudkan dalam komunikasi pemasaran dan berjualan. Kondisi ini justru membuat pengawas industri berada dalam posisi dilematis.

Namun, diakuinya, kompetisi yang sehat  berdampak positif bagi industri dan masyarakat. Hal ini karena penurunan tarif pasti akan terjadi sehingga harga terjangkau yang membuat penetrasi meningkat dan pendapatan industri naik.

Konsolidasi
Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah menyarankan konsolidasi antar pemain dilakukan untuk menciptakan kompetisi yang lebih sehat dimana tidak ada lagi perang tarif dan tercipta ruang margin yang masuk akal bagi operator.

Diyakininya, kompetisi yang sehat diyakini akan mendorong terciptanya operator yang sehat dengan pertumbuhan berkelanjutan. Pasar yang terkonsolidasi akan memunculkan Average Revenue Per User (ARPU) lebih tinggi ketimbang level pendapatan satu negara, serta  margin Earning Before Interest Tax and Amortization (EBITDA) yang  tinggi. Selain itu, penawaran produk yang ditawarkan ke pelanggan kian beragam karena bisa mengalihkan investasi mengembangkan teknologi baru.

”Indonesia ini  salah satu negara dengan jumlah operator terbanyak. Padahal, jika melihat negara lain dengan jumlah populasi yang hampir sama, pelaku usahanya bisa dihitung dengan jari. Lihatlah Brazil yang memliki populasi 203 juta jiwa  hanya punya 4 operator, sementara Indonesia dengan 230 juta jiwa ada 11 pemain,” jelasnya.

Menurutnya, regulator harus sadar dengan kondisi yang ramai pemain ini tidak sehat sehingga mulai melihat pasar secara rasional. ”Kadang saya berfikir ada baiknya  terjadi satu operator bangkrut agar regulator sadar kalau para pemain sedang berdarah-darah. Ini agar paradigma menjaga kehadiran banyak pemain itu dianggap satu kesuksesan bisa diubah,” tuturnya.

VP Sales and Distribution Axis Syakieb A Sungkar menambahkan, tantangan utama dalam menciptakan strukstur industri yang kuat dan menguntungkan secara bisnis selain menata jumlah pemain adalah meninjau kembali biaya interkoneksi dan frekuensi yang tinggi, serta kepastian perundangan dan impelementasinya.

”Biaya frekuensi mengambil porsi besar yakni 15 persen dari biaya operasi. Selain itu juga diperlukan regulasi yang pro pada pemain kecil seperti kemudahan  mendapatkan lisensi dan menetapkan floor price bagi incumbent,” jelasnya.

Tidak Bisa Batasi
Pada kesempatan lain, Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika Syukri Batubara mengakui tidak bisa membatasi jumlah pemain di sektor telekomunikasi karena aturan tidak menyebut secara jelas berapa jumlah pemain ideal untuk pasar Indonesia. ”Dalam UU No 36/99 dan turunannya tidak disebutkan jumlah yang ideal. Jika pun ada pelaku usaha lain mengajukan izin akan kami kaji dengan mempertimbangkan ketersediaan frekuensi,” jelasnya.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) M. Ridwan Effendi menambahkan, sebenarnya kondisi over crowded market hanya terjadi di area yang gemuk secara ekonomi. ”Kita sedang mengaji berapa jumlah operator yang ideal dan nantinya akan dilaporkan ke Menkominfo,” katanya.

Ditegaskannya,  regulator tidak menutup mata dengan fenomena akan adanya konsolidasi dengan menyiapkan Peraturan Menteri (Permen) terkait merger dan akuisisi. ”Kajian belum selesai dan permen itu akan mengacu pada UU persaingan usaha. Sementara ini untuk aksi merger dan akuisisi masih  mengacu kepada Undang-undang Persaingan Usaha dan  Perseroan Terbatas,” katanya.

Dikatakannya,  jika ada operator yang ingin konsolidasi, sementara ini  diserahkan pada aksi korporasi. Walaupun nantinya harus melapor ke menkominfo dulu. Sedangkan masalah frekuensi yang merupakan milik negara akan menjadi sorotan bagi regulator mengingat  ijin frekuensi diberikan pada suatu entitas tertentu.

Secara terpisah, Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) M. Nawir Messi mengingatkan, jika operator melakukan konsolidasi harus memperhatikan dampak persaingan usaha di pasar. ”KPPU sesuai dengan kewenangannya terkait pelaporan merger akan terus memantau dinamika yang terjadi di sektor ini,” jelasnya.

Menurutnya, merger dan akuisisi adalah strategi dan perilaku bisnis yang wajar. Aturan persaingan hanya mencegah situasi pasca merger dan akuisisi yang secara substansial mencegah dan mengurangi tingkat persaingan di pasar bersangkutan. Selain itu, guna mencegah penguatan posisi dominan yang dapat menghambat efektifitas persaingan sehat.

”Aturan tentang merger yang dibuat harus mengacu pada Pasal 28 dan 29 UU No5/99 serta PP 57/2010. ini mewakili perspektif kepentingan publik, bukan pemegang saham,” tegasnya.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s