240311 Pelindo II Harus Ikut Tender Pengembangan Pelabuhan Kali Baru

JAKARTA—Menteri Perhubungan Freddy Numberi menegaskan PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo II) untuk mengikuti tender yang digelar oleh pemerintah dalam pengembangan pelabuhan Kali Baru.

“Kita mengikuti aturan yang ada saja. Pelindo II harus mengikuti tender yang diselenggrakan pemerintah karena daerah yang dikembangkan itu di luar wilayah kerja Pelindo II,” tegas Freddy di Jakarta, Rabu (23/3).

Dijelaskannya, sejak berlakunya Undang-undang Pelayaran peran penyelenggara pelabuhan adalah pemerintah sedangkan operator pelabuhan terdiri dari perusahaan swasta, Badan usaha Mili Negara (BUMN) , dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

“Untuk itu selaku penyelenggara pemerintah punya kewenangan untuk melakukan pengembangan kawasan suatu pelabuhan. Untuk kasus Tanjung Priok, pengembangan  akan diarahkan ke kawasan kali baru,” jelasnya.

Menurutnya, Pelindo II tidak perlu khawatir ketika mengikuti tender karena perusahaan itu memiliki keunggulan. Misalnya, sebagai peserta tender perusahaan itu mempunyai margin privilege 10 persen.

Sebelumnya, Kementerian Perhubungan berencana melakukan tender pengembangan pelabuhan di Kalibaru, Jakarta Utara, bulan depan dengan konsep beauty contest.

Pengembangan akan dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama menelan investasi sekitar 8,8 triliun rupiah, di mana 50 persen akan ditanggung oleh Jakarta International Cooperation Agency (JICA).
Pengembangan tahap I ini diharapkan  memiliki kapasitas sekitar 1,9 juta teus dan selesai pembangunannya pada 2014.

Pelabuhan Kali Baru harus dikembangkan karena Pelabuhan Tanjung Priok terancam mengalami stagnasi dalam kurun tiga tahun mendatang. Sinyal stagnasi bisa dilihat dari pertumbuhan peti kemas internasional pada 2009-2010 sebesar 23 persen dan domestik 26 persen. Saat ini kapasitas Tanjung Priok sekitar 4 juta teus.

Direktur Utama Pelindo II Richard Jose Lino menuturkan pembangunan pelabuhan di Kalibaru Utara membutuhkan total dana sekitar 22 triliun rupiah. Pelabuhan ini akan dikembangkan dalam dua atau tiga tahap. Saat ini Pelindo II sedang giat mencari hutangan ke Bank-bank BUMN untuk membiayai proyek ini.[dni]

240311 Menanti Hadirnya Entitas Baru

Jika tidak ada aral melintang, industri telekomunikasi Indonesia menjelang tutup semester pertama 2011 akan kedatangan entitas baru.

Entitas baru ini sebenarnya wajah lama yang merupakan hasil konsolidasi dua operator medioker yakni PT Mobile-8 Telecom Tbk (Mobile-8) dan PT Smart Telecom (Smart).

Ya, setelah melewati masa ‘pacaran’ hampir satu tahun melalui aliansi pemasaran SmartFren, akhirnya merger benar-benar dilakukan oleh kedua pemain ini.

Untuk diketahui, dalam masa “pacaran” setahun belakangan, aliansi belum  menghasilkan sesuatu yang luar biasa bagi kedua perusahaan. Tercatat, SmartFren hanya meraup  6,5 jutaan pelanggan dimana  Smart memiliki  3,8 juta nomor dan  Fren 2,7 juta nomor. Saat koalisi diumumkan Smart mempunyai 2,5 juta pelanggan dan Fren 3,5 juta nomor.

Merger bisa mulus karena akhir tahun lalu Mobile-8  mengumumkan akan mengakuisisi mayoritas saham  Smart senilai 3,703 triliun rupiah. Sebenarnya, aksi akuisisi tersebut bukanlah aksi pengambilalihan Smart oleh Mobile- 8 karena akhirnya pemilik Smart Telecom-lah yang justru menguasai Mobile-8.

Pasalnya, tiga perusahaan milik Grup Sinarmas telah menjadi pembeli siaga (standby buyer) dalam rights issue Mobile-8 (Fren). Pembeli siaga yang otomatis menjadi pengendali di Fren tersebut adalah PT Bali Media Telekomunikasi (BMT), PT Wahana Inti Nusantara (WIN), dan PT Global Nusa Data (GND). Ketiganya berpotensi menguasai 66,67 persen (seluruh saham baru) saham Mobile-8 yang hampir dipastikan tidak akan dibeli pemegang saham lama.

Lewat aksi korporasi ini  akhirnya Smart  yang dimiliki Grup Sinarmas  bisa melakukan aksi pencatatan jalur belakang (backdoor listing) Smart  ke lantai bursa.

Juru bicara Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Gatot S Dewo Broto mengungkapkan, hingga saat ini belum ada laporan formal terkait aksi korporasi itu.

“Jika informal kami sudah dengar. Kami memiliki perhatian dengan aksi ini karena Smart memiliki hutang Biaya Hak Penyelenggaraan (BHP) frekuensi dengan pemerintah senilai 737 miliar rupiah. Angka itu di luar denda setiap bulannya sebesar dua persen. Sekarang jumlah itu sedang dihitung ulang oleh independen appriasal,” jelasnya.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) M. Ridwan Effendi menegaskan, masalah kepemilikan frekuensi oleh kedua entitas akan menjadi polemik mengingat sumber daya alam itu milik negara.

Berdasarkan catatan, Smart  memiliki 2 ribu  unit  base transceiver station (BTS), sementara Mobile-8 sekitar  1700 unit BTS. Untuk kanal frekuensi, Smart memiliki  5 kanal  di pita 1900 MHz dan  Mobile-8 menguasai 4 kanal di  pita 800 MHz.

”Jika entitas itu menjadi tidak ada, harusnya dikembalikan ke negara terlebih dahulu, tetapi di lain pihak entitas itu melakukan merger atau akuisisi karena daya tarik sumber daya yang bisa digunakan untuk mendulang pendapatan, bukan hanya ingin membayarkan hutangnya,” tegasnya.

Deputy CEO Commercial Smart Telecom Djoko Tata Ibrahim enggan untuk memberikan jadwal pasti “pernikahan” kedua operator. ”Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Mobile-8 terakhir telah dirampungkan pembelian saham Smart,” katanya.

Diungkapkannya, pada tahun ini aliansi SmartFren akan tetap berlanjut dengan mematok mendapatkan 10-12 juta pelanggan. ”Kami akan mencoba menjajal para pengguna data. Tahun lalu, SmartFren fokus pada pengembangan dan perbaikan jaringan yang dilakukan di beberapa kota di Indonesia dan  sinergi pemasaran dan penjualan yang dilakukan, sehingga target tidak tercapai. Kami optimistis pada tahun ini target pelanggan akan terlampaui,” tegasnya.

Sedangkan dari sisi pembangunan jaringan perseroan telah menunjuk  ZTE dan Samsung untuk memperluas jangkauan ke    Lombok, Bangka Belitung, Jambi, Balikpapan/Samarinda, Padang, Pekanbaru, Manado, Aceh, Banjarmasin, Pontianak, dan Batam.[dni]

240311 Mendorong Hadirnya Kompetisi yang Sehat

Kompetisi di sektor telekomunikasi Indonesia saat ini bisa dikatakan dalam kondisi over crowded market alias situasi dimana pemain terlalu banyak di pasar sehingga membuat ruang untuk mendapatkan margin menjadi kian tipis.

Hal ini bertolak belakang jika dilihat kondisi sebelum  1989 dimana aroma monopoli sangat kuat melalui Perumtel dan Indosat. Setelah itu mulai terjadi kompetisi yang ringan pada periode 1989-1994 dengan hadirnya UU No 3/1989 dimana hadir tiga pemain yakni Telkom, Indosat, dan Satelindo.

Kompetisi mulai terasa ketat dengan disahkannya UU No 36/99 tentang Telekomunikasi yang memunculkan pemain  tambahan selain tiga sebelumnya seperti XL dan Bakrie Telecom. Namun, kompetisi mulai terasa liar ketika 11 operator mulai aktif di pasar sejak 2007 ditambah dengan berlakunya formula interkoneksi berbasis biaya. Kondisi ini telah memicu perang tarif  dimana terjadi  penurunan Average Revenue Per Minute hingga 80 persen atau di kisaran 200 rupiah di tahun 2007-2009.

Presiden Direktur XL Axiata Hasnul Suhaimi menjelaskan, kondisi yang over crowded di pasar membuat fokus pelaku usaha berpindah ke pesaing bukan hanya melayani pelanggan.

“Dalam suasana yang terlalu ramai ini membuat tiru-meniru menjadi hal yang lumrah sehingga pemain kehilangan originalitas dan kreatifitas. Belum lagi kecenderungan ada penyalahgunaan posisi seperti monopoli jalur distribusi dan blocking layanan,” katanya di Jakarta, belum lama ini.

Dampak lainnya adalah para pemain menjadi terlalu agresif sehingga perang terjadi di lapangan yang diwujudkan dalam komunikasi pemasaran dan berjualan. Kondisi ini justru membuat pengawas industri berada dalam posisi dilematis.

Namun, diakuinya, kompetisi yang sehat  berdampak positif bagi industri dan masyarakat. Hal ini karena penurunan tarif pasti akan terjadi sehingga harga terjangkau yang membuat penetrasi meningkat dan pendapatan industri naik.

Konsolidasi
Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah menyarankan konsolidasi antar pemain dilakukan untuk menciptakan kompetisi yang lebih sehat dimana tidak ada lagi perang tarif dan tercipta ruang margin yang masuk akal bagi operator.

Diyakininya, kompetisi yang sehat diyakini akan mendorong terciptanya operator yang sehat dengan pertumbuhan berkelanjutan. Pasar yang terkonsolidasi akan memunculkan Average Revenue Per User (ARPU) lebih tinggi ketimbang level pendapatan satu negara, serta  margin Earning Before Interest Tax and Amortization (EBITDA) yang  tinggi. Selain itu, penawaran produk yang ditawarkan ke pelanggan kian beragam karena bisa mengalihkan investasi mengembangkan teknologi baru.

”Indonesia ini  salah satu negara dengan jumlah operator terbanyak. Padahal, jika melihat negara lain dengan jumlah populasi yang hampir sama, pelaku usahanya bisa dihitung dengan jari. Lihatlah Brazil yang memliki populasi 203 juta jiwa  hanya punya 4 operator, sementara Indonesia dengan 230 juta jiwa ada 11 pemain,” jelasnya.

Menurutnya, regulator harus sadar dengan kondisi yang ramai pemain ini tidak sehat sehingga mulai melihat pasar secara rasional. ”Kadang saya berfikir ada baiknya  terjadi satu operator bangkrut agar regulator sadar kalau para pemain sedang berdarah-darah. Ini agar paradigma menjaga kehadiran banyak pemain itu dianggap satu kesuksesan bisa diubah,” tuturnya.

VP Sales and Distribution Axis Syakieb A Sungkar menambahkan, tantangan utama dalam menciptakan strukstur industri yang kuat dan menguntungkan secara bisnis selain menata jumlah pemain adalah meninjau kembali biaya interkoneksi dan frekuensi yang tinggi, serta kepastian perundangan dan impelementasinya.

”Biaya frekuensi mengambil porsi besar yakni 15 persen dari biaya operasi. Selain itu juga diperlukan regulasi yang pro pada pemain kecil seperti kemudahan  mendapatkan lisensi dan menetapkan floor price bagi incumbent,” jelasnya.

Tidak Bisa Batasi
Pada kesempatan lain, Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika Syukri Batubara mengakui tidak bisa membatasi jumlah pemain di sektor telekomunikasi karena aturan tidak menyebut secara jelas berapa jumlah pemain ideal untuk pasar Indonesia. ”Dalam UU No 36/99 dan turunannya tidak disebutkan jumlah yang ideal. Jika pun ada pelaku usaha lain mengajukan izin akan kami kaji dengan mempertimbangkan ketersediaan frekuensi,” jelasnya.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) M. Ridwan Effendi menambahkan, sebenarnya kondisi over crowded market hanya terjadi di area yang gemuk secara ekonomi. ”Kita sedang mengaji berapa jumlah operator yang ideal dan nantinya akan dilaporkan ke Menkominfo,” katanya.

Ditegaskannya,  regulator tidak menutup mata dengan fenomena akan adanya konsolidasi dengan menyiapkan Peraturan Menteri (Permen) terkait merger dan akuisisi. ”Kajian belum selesai dan permen itu akan mengacu pada UU persaingan usaha. Sementara ini untuk aksi merger dan akuisisi masih  mengacu kepada Undang-undang Persaingan Usaha dan  Perseroan Terbatas,” katanya.

Dikatakannya,  jika ada operator yang ingin konsolidasi, sementara ini  diserahkan pada aksi korporasi. Walaupun nantinya harus melapor ke menkominfo dulu. Sedangkan masalah frekuensi yang merupakan milik negara akan menjadi sorotan bagi regulator mengingat  ijin frekuensi diberikan pada suatu entitas tertentu.

Secara terpisah, Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) M. Nawir Messi mengingatkan, jika operator melakukan konsolidasi harus memperhatikan dampak persaingan usaha di pasar. ”KPPU sesuai dengan kewenangannya terkait pelaporan merger akan terus memantau dinamika yang terjadi di sektor ini,” jelasnya.

Menurutnya, merger dan akuisisi adalah strategi dan perilaku bisnis yang wajar. Aturan persaingan hanya mencegah situasi pasca merger dan akuisisi yang secara substansial mencegah dan mengurangi tingkat persaingan di pasar bersangkutan. Selain itu, guna mencegah penguatan posisi dominan yang dapat menghambat efektifitas persaingan sehat.

”Aturan tentang merger yang dibuat harus mengacu pada Pasal 28 dan 29 UU No5/99 serta PP 57/2010. ini mewakili perspektif kepentingan publik, bukan pemegang saham,” tegasnya.[dni]

240311 Pasar Smarter Commerce Capai US$ 70 Miliar

JAKARTA—Pasar Smarter Commerce yang meliputi  piranti lunak dan layanan konsultasi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan diperkirakan mencapai 90 miliar dollar AS secara global pada tahun ini.

“Pendorong pasar yang besar adalah  permintaan dari para pelanggan yang terus meningkat dimana  tren yang berlaku saat ini memperlihatkan bahwa pembeli adalah raja,” tutur  Partner Global Business Services, IBM Indonesia, Widita Sardjono di Jakarta, Rabu (23/3).

Dijelaskannya, Smarter Commerce  bertujuan untuk membantu dunia bisnis agar dapat beradaptasi dengan cepat terhadap permintaan pelanggan yang meningkat secara khusus pada beberapa pasar yang sudah bertransformasi secara digital.  Piranti lunak
dan layanan yang baru dimiliki IBM ini  didukung oleh sumber daya berupa tenanga penjual dan pemasaran global  mencakup berbagai spektrum tentang cara-cara baru untuk membeli, menjual dan meningkatkan kesetiaan pelanggan  di era jaringan sosial dan perangkat bergerak saat ini.

Inisiatif IBM Smarter Commerce didasari platform WebSphere Commerce dan investasi
sebesar 2,5 miliar  dollar AS dalam piranti lunak berbasis cloud dan on-premise dari akuisisi Sterling Commerce, Unica dan Coremetrics oleh IBM.

Diungkapkannya, saat ini 70 persen dari interaksi pertama seorang pelanggan dengan sebuah produk atau layanan terjadi melalui cara pembelian online, 64 persen
konsumen melakukan pembelian karena pengalaman digital mereka, dan 600 juta dari dua milyar orang yang terhubung dengan Internet memiliki akun Facebook. Ditambah terjadinya lonjakan pembelian melalui perangkat bergerak, yang meningkat tiga kali lipat setiap tahun menjadi 119 miliar dollar AS tahun ini.

“Dunia bisnis membutuhkan jaringan pemasok dan mitra yang lebih responsif untuk memastikan agar mereka dapat menghantarkan produk dan layanan dengan harga,
waktu dan tempat yang tepat. Kunci keberhasilan dalam lingkungan yang baru ini adalah kemampuan memprediksi tren dan mengotomatisasikan  respon pasar serta lebih memperdekat hubungan antara penjual dan pembeli,” katanya.

Diungkapkannya, sebuah studi yang diselenggarakan IBM Institute for Business Value baru-baru ini terhadap 500 ahli ekonomi di sleuruh dunia memperlihatkan bahwa banyak hal yang tidak efisien yang terjadi sebagai akibat dari inventory backlog, peluncuran produk yang gagal, bahan baku yang terbuang dan kampanye pemasaran yang
tidak efektif hinga mencapai 15 trliun dollar AS. “Smarter Commerce memastikan hal itu bisa dihindari,” tegasnya.[dni]

240311 Ponsel Lokal Butuh Dukungan Operator

JAKARTA—Penyedia merek ponsel lokal membutuhkan dukungan operator berupa model bisnis yang sehat agar bisa berkembang di pasar.

“Jika hanya model bisnis berupa bundling ponsel dengan kartu perdana operator, itu sudah tidak seksi lagi. Soalnya kartu perdana yang dijual oleh operator tanpa ponsel pun sudha memberikan penawaran yang sangat menarik berupa bonus data, suara, dan SMS,” ungkap General Manager SPC Mobile Raymond Tedjokusumo di Jakarta, Rabu (23/3).

Dijelaskannya, selama ini kerjasama yang terjadi antara merek ponsel lokal dengan operator terkesan berat sebelah dimana sebatas dalam kartu perdana dibundel dengan ponsel. “Kami untuk masuk ke pasar masih bekerja sendiri baik promosi atau penjualan. Kalau begini lebih baik produk dijual secara mandiri saja,” katanya.

Diungkapkannya, produk terbaru milik SPC Mobile adalah S  tiga ponsel Qwerty TV yakni Jazz One, Jive Whisper, dan Spin One. Ketiga ponsel dibanderol seharga 399 ribu, 449 ribu, dan 629 ribu rupiah.

Selanjutnya dikatakan, agar ponsel lokal mampu bersaing di pasar sudah saatnya pengembang aplikasi untuk memikirkan hadirnya  fasilitas instant messenger (IM) yang terbuka untuk semua jenis ponsel lokal ala BlackBerry Messenger, ketimbang masing-masing  produsen  menyediakan aplikasi IM khusus untuk ke sesama mereknya.

“Pengguna ponsel lokal itu paling banyak dari segmen C dan D dimana beragam merek yang dipegang. Tidak ada gunanya memaksakan satu IM. Sayangnya, walau ada satu IM buatan pengembang lokal tetapi belum menarik di mata operator karena pentarifannya tidak seksi,” jelasnya.

Berdasarkan catatan, aplikasi  IM  bagi seluruh pengguna ponsel, termasuk ponsel lokal, adalah milik InTouch Innovate Indonesia yakni IM-ku.  Kapasitas server IM-ku  diklaim bisa menampung sekitar 50 juta pelanggan.  IM-ku yang diluncurkan pada tahun lalu  menargetkan meraih 6 juta pengguna. Sayangnya, layanan ini hingga sekarang masih kalah pamor dengan IM milik asing.[dni]

240311 Telkomsel Targetkan 4,7 juta Pelanggan Baru di Area II

JAKARTA–PT Telkomsel menargetkan mendapatkan  27,7 juta nomor atau tumbuh 20 persen dari posisi akhir 2010 sebanyak 23 juta pengguna di area II alias Jabodetabek dan Jawa Barat.

“Area II memiliki kontribusi 25 persen bagi total pelanggan perseroan. Kita harapkan ada sekitar 4,7 juta pelanggan baru pada tahun ini,” ungkap VP Area II Telkomsel Venusiana Papasi di Jakarta, Rabu (23/3).

Diungkapkannya, untuk mencapai target pelanggan tersebut, maka penetrasi akan lebih ditingkatkan untuk di area rural dengan menawarkan jasa suara dan SMS, sementara di pusat kota layanan broadband yang didukung inovasi end to end service akan menjadi andalan.

Inovasi ini adalah untuk menjamin kualitas layanan yang diberikan ke pelanggan sesuai dengan paket data yang dipilih dimana dari level akses (radio) sudah bisa dikenali.  “Inovasi ini yang pertama ada di Indonesia dan kami satu-satunya yang menggunakan,” tegasnya.

Menurutnya, untuk pasar perkotaan, jasa broadband akan menjadi mainan baru operator guna menggaet pelanggan. Hal itu bisa terlihat dimana 50 persen dari total 24 juta pengguna broadband Telkomsel berada di Area II. Belum lagi pemakaiannya (usage) meningkat sekitar 300 persen dibanding tahun lalu, dengan daily payload mencapai 18 Terra Byte.

Semakin diperkuat dengan kenyataan pengguna iPhone Telkomsel di Jabotabek Jabar saja mencapai 60.000 nomor, sedangkan secara nasional tercatat 120.000 nomor. Untuk pengguna tablet iPad di Jabotabek Jabar mencapai 8.700 nomor dan nasional  14.500  , sedangkan smartphone Android di Jabotabek Jabar tercatat 25.700 dan nasional  60.500 nomor.

Saat ini kenyamanan pelanggan dalam berinternet di ibukota (Jabotabek) telah didukung oleh 2.500 Node B (BTS 3G) yang merupakan bagian dari 8.000 Node B yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Khusus untuk pengguna layanan BlackBerry yang berjumlah 700.000 di Jabotabek Jabar dan 1,4 juta nasional, kami telah meningkatkan kenyamanan akses dengan memperbesar kapasitas bandwidth layanan BlackBerry-nya ke server milik Research In Motion dari 1.2GBps menjadi 1.4 GBps,” papar Venus.

“Hingga akhir tahun 2011 Jabotabek akan dilayani lebih dari 3.000 Node B, hal ini tentunya seiring dengan kebutuhan pelanggan yang akan terus kami upayakan terfasilitasi. Coverage jaringan yang rapat akan berpengaruh pada kecepatan dan kenyamanan akses pelanggan, dimana seluruh Area Jabotabek telah tercover jaringan 3G,” ungkap Venus.[dni]

240311 TelkomVision Sinergikan Pemasaran

JAKARTA–TelkomVision mensinergikan program pemasarannya dengan anak usaha lainnya dari  PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), Telkomsel, dalam memasarkan layanan televisi berbayar YesTv.

“Kami menawarkan diskon 50 persen berlangganan layanan paket Emas YesTv yang menghadirkan berbagai program televisi favorit dari 40 saluran televisi lokal, nasional, dan internasional bagi pelanggan Telkomsel,” ungkap Direktur Utama TelkomVision Elvizar di Jakarta, Rabu (23/3).

Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno menambahkan, perseroan sudah melakukan profiling dari total 95 juta pelanggannya sebagai target pasar dari YesTv.

“Dari hasil kajian kami menemukan ada sekitar 6 juta pelanggan yang bisa menjadi pasar potensial YesTv. Sekarang tinggal TelkomVision mengoptimalkannya,” jelasnya.

Elvizar mengharapkan, melalui kerjasama antar anak usaha Telkom ini bisa meraih sekitar dua hingga tiga persen dari 6 juta pelanggan yang ditawarkan oleh Telkomsel itu. “Kami optimistis bisa menggoda mereka untuk mencoba layanan YesTv,” jelasnya.

Dijelaskannya, pelanggan Telkomsel yang ingin memperoleh diskon berlangganan YesTv dapat menukarkan 500 poin TelkomselPoin-nya dengan mengirimkan SMS ke 777, ketik Yes3 untuk paket 3 bulan atau Yes6 untuk paket 6 bulan. Pelanggan akan menerima SMS notifikasi dari Telkomsel. Pelanggan cukup membayar biaya instalasi sebesar 100 ribu rupiah yang hanya separuh dari biaya normal sebesar 200 ribu rupiah.

Di awal bulan berikutnya, pelanggan cukup membayar biaya berlangganan 3 bulan sekaligus di muka dan langsung mendapatkan manfaat berlangganan selama 6 bulan. Pelanggan juga dapat membayar 6 bulan sekaligus di muka untuk mendapatkan manfaat selama 12 bulan.

Pembayaran biaya berlangganan YesTv dapat dilakukan dengan menggunakan T-Cash. “Bagi Telkomsel ini adalah upaya untuk meningkatkan loyalitas pelanggan yang telah mengikuti program retensi TelkomselPoin,” tambah Sarwoto.[Dni]