220311 Pemerintah Didesak Segera Pisahkan Regulator dan Operator KA

JAKARTA—Pemerintah didesak untuk segera merealisasikan pemisahan operator dan regulator moda Kereta Api agar tercipta angkutan massal yang sehat.

“Pemisahan itu harus secepatnya dilakukan. Ini salah satu pemicu masih tersendatnya reformasi angkutan kereta api,” ungkap Anggota Panja Kereta Api Komisi V DPR RI KH Abdul Hakim di Jakarta, Senin (21/3).

Selain itu, lanjutnya,  pemerintah juga diminta untuk menentukan tarif sesuai UU No.23/2007 serta memberikan dukungan anggaran untuk membangun prasarana kereta api.

Menurutnya, buruknya pelayanan perkeretaapian, khususnya untuk kelas ekonomi, salah satunya disebabkan karena penetapan tarif yang tidak mengacu pada UU No.23/2007. Jika amanat UU benar-benar di jalankan, dimana nilai Public Service Obligation (PSO) ditetapkan berdasarkan selisih tarif yang ditetapkan badan usaha dan tarif yang ditetapkan pemerintah, tentu pelayanan perekeretaapian kita bisa lebih baik. Minimal standar pelayanan minum (SPM) terpenuhi.

Selama ini, kata Hakim, PT KAI sebagai operator tidak hanya memberikan pelayanan tapi juga menangani perawatan prasarana KA yang diserahkan pemerintah. Hal itu tidak diimbangi dengan pemberian subsidi atau PSO yang sesuai. Akibatnya, kualitas pelayanan kereta api khususnya untuk kelas ekonomi sangat memprihatinkan.

Karena itu, Panja Kereta Api juga mendesak pemerintah untuk memberikan dukungan anggaran untuk pembangunan perkeretaapian, melakukan audit dan inventarisasi aset terhadap PT KAI serta memisahkan aspek kelembagaan khususnya regulator dan operator sehingga tidak terjadi tumpang tindih tugas dan kewenangan.

Sebelumnya, Wamenhub Bambang Susantono mengungkapkan, masalah pentarifan KA akan diurai masalahnya jika Keputusan Presiden terkait PSO keluar nantinya. “Sekarang sedang dibahas di Bappenas, Kemenkeu, dan Kemenhub. Jika Kepres soal PSO sudah keluar, akan lebih transparan masalah PSO, Track Access Charges (TAC), dan Infrastructure Maintenance Operation (IMO),” jelasnya.[Dni]

220311 Empat Maskapai Diusulkan Dicabut Larangan Terbang ke Eropa

JAKARTA–Empat maskapai penerbangan nasional akan diusulkan untuk dicabut larangan terbangnya ke Uni Eropa menyusul beberapa maskapai lokal yang telah diperkenankan masuk ke benua biru itu.

Keempat maskapai tersebut adalah Cardig Air, AirMaleo, AsiaLink,  dan Republic Express. Semuanya adalah maskapai carter dan kargo.

Juru bicara Kementerian Perhubungan, Bambang Supriyadi Ervan mengungkapkan, keempatnya akan diusulkan dalam sidang dewan UE pada April mendatang.

“Keempatnya sudah menyatakan siap. Kami akan mengusulkan mereka saat sidang nanti,” katanya di Jakarta, Senin (21/3).

Dijelaskannya,  pemerintah mengusulkan maskapai-maskapai yang menyatakan siap, baik itu maskapai berjadwal ataupun carteran. Sebelumnya, sejumlah maskapai juga telah keluar dari daftar hitam UniEropa, maskapai tersebut antara lain Garuda Indonesia, Mandala,PremiAir, Airfast, Batavia dan Indonesia AirAsia.

Sementara itu, juru bicara Cardig Air, Akbar Masardi membenarkan maskapainya diusulkan untuk bisa ke Eropa. Saat ini pihaknya sedang menjalani proses persiapan evaluasi pencabutan embargo dari EU dengan dibimbing oleh Direktorat KelaikanUdara dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU) KementerianPerhubungan.

“Persiapan kami lakukan secara intensif dan sangat ketatpengawasannya,” tandasnya.

Dijelaskannya, presentasi dan penilaian terhadap Cardig Air dilaksanakan pada April mendatang di Brussel. Diharapkannya,  Cardig Air sebagai Indonesia flag carrier mampu cargo airline mampu berprestasi ditingkat dunia.[Dni]

220311 April, XL Hadirkan iPhone 4

JAKARTA—PT XL Axiata Tbk (XL) memperkirakan ponsel pintar besutan Apple, iPhone, bisa dihadirkan ke 40,4 juta pelanggannya pada April 2011 ini.

“Jika tidak ada aral melintang, diperkirakan pada bulan depan iPhone 4 bisa dinikmati oleh pelanggan XL. Sekarang kami sedang membuka pre order dimana tercatat 1.500 pelanggan sudah mendaftar untuk membeli,” ungkap GM Mobile Data Service Channel Development XL Axiata Handono Warih di Jakarta, Senin (21/3).

Dijelaskannya, langkah perseroan untuk ikut memasarkan iPhone karena membutuhkan  media adoption untuk masuk ke pasar smartphone selain BlackBerry.  “Sejauh ini profil 30 ribu pengguna iPhone yang menggunakan kartu XL lumayan menjanjikan. Apalagi iPhone ini memiliki ekosistem dan industri yang bagus sehingga ini bisa mendukung agresifitas XL yang ingin meningkatkan kontribusi jasa data,” jelasnya.

Ditegaskannya, walau XL dalam memasarkan iPhone bukanlah pemain pertama, namun akan datang dengan penawaran pemasaran yang menarik sehingga bisa memenuhi kebutuhan dari komunitas pengguna. “Kami akan tawarkan penawaran dengan distribusi yang lebih baik. Para pengembang aplikasi juga diajak untuk mengembangkan pasar ini,” katanya.

Head of Corporate Communication XL Axiata, Febriati Nadira mengungkapkan,  pada tahun  lalu kontribusi layanan data terhadap omzet XL  sekitar 7 persen.  “Tahun 2011  diharapkan kontribusinya naik jadi 9-10 persen,” jelasnya.

Sebelumnya, Direktur Konsumer XL Axiata Joy Wahyudi mengungkapkan,  iPhone 4 yang akan dibundling XL adalah  tipe warna putih. Jumlah pasokan barang yang akan disediakan untuk tahap awal sebanyak 25 ribu unit.

Sementara, Telkomsel yang telah lebih dulu menggelontorkan bundling iPhone4 bersama Apple, mengaku tak khawatir pasarnya digerogoti XL. “Masyarakat jadi punya banyak pilihan,” tutur VP Channel Management Product Telkomsel Gideon Eddie Purnomo

Dijelaskannya, saat ini sudah ada  25 ribu pelanggan dari bundling iPhone 4 yang menggunakan jaringan perseroan. “Dari 25 ribu iPhone 4 yang telah terjual, yang paling laku lebih banyak yang 16 GB karena lebih murah,” katanya..

Telkomsel sendiri membundling iPhone 4 plus kartu prabayar selulernya dengan harga  6,99 juta rupiah  untuk yang memori 16 GB, dan  8,2 juta rupiah  untuk memori 32 GB.[dni]

220311 M-Yelow Infomedia Bidik 20 Persen Pengguna BlackBerry

JAKARTA—PT Infomedia Nusantara (Infomedia) mengharapkan layanan M-Yellow miliknya diunduh oleh 20 persen atau 400 ribu pengguna ponsel pintar BlackBerry yang mencapai sekitar dua juta pelanggan.
“Layanan ini memang tidak dikhususkan bagi pengguna BlackBerry karena platform On Device Portal (ODP) M-Yellow bisa digunakan di semua ponsel pintar yang memiliki kemampuan untuk mengakses internet,” jelas Presiden Direktur Infomedia Muhammad Awaluddin di Jakarta, Senin 921/3).
Dijelaskannya, dipilihnya pasar pengguna BlackBerry sebagai salah satu prioritas karena pemakai perangkat ini sangat akrab dengan mengakses internet.”M_Yellow ini adalah layanan mobile Yellow Pages. Sekarang masyarakat tidak perlu repot lagi mencari tahu informasi melalui buku kuning, cukup melalui ponsel atau BlackBerry-nya,” katanya.
Diungkapkannya, bagi pengguna  Blackberry dapat mengunduh  aplikasi ini secara gratis di http://odp.yellowpages.co.id. Sedangkan bagi pengguna ponsel yang memiliki koneksi GPRS dapat mengakses melalui WAP portal di http://m.yellowpages.co.id.  Untuk  pengguna  SMS dapat  engan cara ketik find<spasi>perusahaan<spasi>alamat<spasi>kota. Terakhir ada juga  Melalui layanan UMB *108# dengan cara ketik *108#.
Adapun tarif yang dikenakan untuk SMS 8108 dan *108# adalah seribu rupiah  ( belum Ppn 10% ), sedangkan layanan M-Yellow lainnya biaya yang dikenakan sesuai dengan konten yang di download oleh pengguna( belum termasuk pajak ). Keseluruhan layanan M-Yellow dapat diakses 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu.

Layanan lain yang dikeluarkan oleh anak usaha Telkom ini adalah  CallMyName (CMN).  Inovasi ini  layanan telpon menggunakan identitas nomor akses berbasis alphabet, tidak lagi berupa deretan nomor konvensional. Layanan ini dapat digunakan  oleh user untuk mengganti nomor telepon konvensional dengan menggunakan alphabet. User dalam hal ini cukup hanya mengirimkan SMS ke operator system yang akan akan melanjutkan pengiriman konfirmasi kepada user dan terakhir, user akan tersambung ke nomor telepon yang dituju.
CMN bisa merubah kebiasaan pelanggan dalam  menggunakan seluler. Jika terdapat sebuah pilihan, tentunya orang akan lebih memilih untuk tidak menggunakan nomor karena cenderung relatif susah untuk diingat. Selain itu, CMN memberikan berbagai benefit bagi pengguna, seperti : kemudahan dalam menghubungi seseorang atau suatu perusahaan,  mempromosikan nama, merk dan produk serta meningkatkan mobile advertising secara signifikan.[dni]

220311 Telkomsel Ingin Kuasai 60% Pasar Musik Digital

JAKARTA—Penguasa pasar seluler Telkomsel menargetkan mampu menguasai 56-60 persen pangsa pasar musik digital legal pada tahun ini.

”Total bisnis industri musik digital nasional dari produk legal mencapai dua hingga 2,5  triliun rupiah. Jika dihitung dengan illegal mencapai sekitar 4,5 triliun rupiah. Kami menargetkan pada tahun ini pendapatan dari musik digital legal sekitar 1,2 hingga 1,4 triliun rupiah atau menguasai sekitar 56-60 persen dari omzet pasar,” ungkap VP Digital Music & Content Management Telkomsel, Krish Pribadi di Jakarta, Senin (21/3).

Dijelaskannya, jika target tersebut tercapai maka bisnis musik digital perseroan mengalami pertumbuhan sekitar 118 hingga  154 persen dibandingkan tahun lalu yang hanya meraup omzet  550 miliar rupiah.

“Peningkatan pendapatan dari musik digital didorong tingginya animo permintaan aktivasi pelanggan Telkomsel yang meningkat berkali-kali lipat,” katanya.

Diungkapkannya,  pendapatan layanan musik digital terbesar Telkomsel adalah ring back tone (RBT) yang pada tahun 2011 diperkirakan mencapai 800 miliar rupiah  atau naik 60 persen dibandingkan 2010 sekitar 500 miliar rupiah.

Sedangkan pendapatan dari layanan unduh musik secara penuh (full track song) diperkirakan mencapai tiga hingga empat  miliar rupiah pada 2011 atau naik 50-100 persen dari 2010  yang hanya 2 miliar rupiah.

Dijelaskannya, Layanan full track song  dapat diunduh dari portal  Langit Musik Telkomsel yang merupakan toko musik digital. Portal  ini telah diakses  12 juta pelanggan dari total pelanggan Telkomsel saat ini sekitar 97 juta nomor. Sementara jumlah pelanggan yang mengaktifkan layanan RBT diperkirakan akan menembus 20 juta pelanggan dari sebelumnya hanya 9 juta.

Pada layanan Langit Musik, pelanggan dimungkinkan dapat mengunduh musik baik dalam bentuk nada sambung pribadi (NSP), full song, mini song, dan video clip. Saat ini Telkomsel bekerjsama dengan sekitar 100 mitra label rekaman, content provider, digital store provider, dan platform provider yang menyediakan 72.000 NSP, 15.000 lagu, 3.000 mini song, dan 1.000 videoclip.

”Untuk  untuk mengembangkan layanan musik digital,  Telkomsel mengalokasikan dana sebesar 40 miliar-45 miliar rupiah. Pada 2010, dari sekitar 42 triliun rupiah  total pendapatan perseroan, sebesar 5-5,5 persen di antaranya disumbang dari layanan musik digital,” jelasnya.[dni]

220311 Koopetisi dalam Kompetisi

Jika dilihat dari sisi strategi perusahaan, struktur, dan persaingan, industri telekomunikasi di Indonesia saat ini ada pada level hypercompetition. Pemicunya adalah  jumlah operator yang sangat banyak. Kondisi ini telah memicu perang tarif  dan  fenomena “freemium”  yaitu produk atau jasa yang ditawarkan  berkualitas premium dengan harga sangat murah atau bahkan nyaris gratis.

Presiden Direktur Indosat Harry Sasongko mengakui, saat ini  industri telekomunikasi tidak berkutat hanya di araenya jika  melihat pertumbuhan pendapatan dari value chain industri lainnya seperti musik dengan  ringbacktone,  media seperti SMS Vote untuk reality show,  advertising seperti SMS Iklan, serta  keuangan melalui m-money.

“Sektor ini sudah naik kelas menjadi industri yang konvergen.  Peluang dan tantangan pemain telekomunikasi  adalah masuk dalam industri yang konvergen dan menciptakan kurva pertumbuhan baru,” jelasnya di Jakarta, belum lama ini.

Menurutnya, masuk ke industri yang konvergen  berarti perlu melihat juga komponen “related & supporting industries” dimana  membutuhkan pemahaman dan cara pandang yang baru. ”Inilah era koopetisi (Coopetition). Di satu sisi kita bekerja sama untuk men-deliver value kepada pelanggan, di sisi lain kita bersaing untuk meraih distribusi margin atau value dari pelanggan tersebut.,” jelasnya.

Ditegaskannya, pencarian pola bisnis yang baru dan kemitraan merupakan kunci dalam industri yang konvergen. ”Kita sudah melihat berbagai inisiatif strategis dari berbagai operator untuk masuk dalam industri yang konvergen ini. Merger, akuisisi, dan aliansi, akan kembali marak pada tahun ini,” jelasnya.

Presiden Direktur XL Axiata , Hasnul Suhaimi mengatakan, di masa depan peluang operator telekomunikasi masih besar untuk berkembang. Namun, untuk mencapai hal tersebut diperlukan investasi yang besar sehingga kerjasama antara pemain dibutuhkan.

“Kolaborasi antaroperator dibutuhkan, misalnya infrastruktur sharing baik yang aktif atau pasif. Tantangan industri telekomunikasi sekarang adalah bagaimana merengkuh C-Generation yang sebenarnya masih bisa dieksplorasi. Tapi sampai saat ini lebih banyak dari pihak luar yang memanfaatkan peluang dari C-Generation,” jelasnya.

Disarankannya, para pemain mulai mengubah paradigma fokus perhatian dari bersaing dengan kompetitor menjadi bersaing dalam kreatifitas memahami dan memenuhi kebutuhan pelanggan. ”Pada akhirnya keunggulan kompetisi terletak oada inovasi, kedekatan dengan pelanggan, efisiensi, operasi yang prima, dan keunggulan produk,” katanya.

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah menegaskan, terbuka untuk melakukan kerjasama dengan semua pemain tetapi untuk sesuatu yang bersifat diluar infrastruktur. ”Kami terbuka sekali kerjasama untuk  mengisi infrastruktur yang telah susah payah dibangun,” tegasnya.

Direktur Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala  mengungkapkan, sekarang ini banyak operator yang memiliki jaringan tapi idle, sehingga memboroskan sumber daya alam terbatas.

”Ada baiknya dari operator saat ini saling berbagi sehingga bisa meminimalkan investasi. Kalau jaringan ini bisa dioptimalkan, titik jenuh di industri telekomunikasi akan bergerak lagi. Tinggal bagaimana perhitungannya antaroperator, dan tugas pemerintah hanyalah membuat regulasi yang tepat mengenai aturan kerja sama ini,” ujarnya.

Anggota  Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengakui di era konvergensi nantinya sektor telekomunikasi akan dianggap sebagai pesaing oleh industri lainnya. ”Hal itu sudah bisa dilihat di keuangan dimana perbankan merasa terancam dengan adanya layananam mobile money. Hal yang sama juga terjadi di periklanan melalui mobile advertising. Sudah saatnya memikirkan adanya revitalisasi dari sisi pengawas yang mengawasi sektor ini,” katanya.[dni]

220311 Regulasi Telekomunikasi: Aturan lintas sektoral untuk kompetisi yang sehat, Menyiapkan Regulasi Menuju Era Konvergensi

Fajar era konvergensi antara telekomunikasi, internet, dan penyiaran telah menyising. Pada era konvergensi antara tiga sektor ini, pelaku usaha dihadapkan  ke matra persaingan yang berbeda.

Hal yang terlihat nyata dari era konvergensi adalah pelaku usaha tak lagi bersaing dengan pemain di bidang yang sama, namun juga dengan bidang berkaitan. Pelaku usaha telekomunikasi tak bisa hanya bersaing semata dengan sesama operator, tetapi juga dengan pelaku usaha penyiaran sekaligus pemain di bidang teknologi informasi.

Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Setyanto P. Santosa menjelaskan, terdapat tiga layer pelaku usaha di era konvergensi yang terdiri atas penyedia fasilitas jaringan (Network Facility Provider/NFP), penyedia konektifitas jaringan (Network Provider/NP), dan server aplikasi e-bisnis dan applikasi konten.  ”Ketiga ini disebut jaringan Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) konvergen,” jelasnya di Jakarta, belum lama ini.

Dijelaskannya, NFP akan menyediakan elemen pasif dari jaringan seperti cable duct, menara, gedung, dan lainnya, serta jaringan fisik seperti sistem satelit, transmisi, dan sistem komunikasi radio. Sedangkan NP menyediakan software aplikasi jaringan seperti Vitual Private Network (VPN corporate) dan cloud computing.

Terakhir server aplikasi e-bisnis dan konten akan bermain di aplikasi bisnis dan transaksional seperti online shpping. Berikutnya penyediaan komunikasi melalui Voice over internet protocol (VoIP), serta private network application. Sementara  pemain  konten akan menyediakan konten seperti game, portal, sedangkan pengembang aplikasi akan menawarkan  hal seperti virtualisasi server, e-transaction, dan lainnya.

Konvergensi sendiri  akan melalui berbagai tahapan yakni model bisnis, terminal, teknologi dan standarisasi, konten (video, suara, data), regulasi, serta layanan dan aplikasi.

Menurutnya, beberapa peluang yang bisa dimanfaatkan di era konvergensi adalah membangun VPN corporate yang bertujuan menyediakan cloud (paltform berbasis internet) bagi pelanggan perusahaan dan virtualisasi server. Sementara untuk operator adalah menyediakan kapasitas jaringan.

”Pendapatan terbesar ke depan adalah dari  konten dan aplikasi. Penyedia jaringan sebaiknya segera mulai menyediakan grid server dan mengembangkan konten serta aplikasi agar tidak ketinggalan kereta,” tuturnya.

Siapkan Regulasi
Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) M. Nawir Messi mengatakan, sebelum konvergensi secara penuh dijalankan akan ada masa transisi dimana harus jelas spihak yang menjadi pemegang hak atas penguasaan frekuensi. Hal ini karena frekuensi adalah sumber daya publik yang terbatas dan selalu menjadi hal krusial bagi pelaku usaha TIK.

”Pada saatnya nanti, KPPU akan mendorong pemerintah untuk menetapkan mekanisme perizinan yang berbasis persaingan sehat dalam perolehannya. Dan KPPU akan memantau pemanfaatannya oleh pemilik izin agar tidak terjadi persaingan tidak sehat,” tegasnya.

Disarankannya, regulator sektoral untuk fokus pada beberapa hal kala membuat aturan di era konvergensi seperti identifikasi segmen bisnis yang siap terbuka bagi pelaku usaha baru, menentukan proses perizinan dan tata cara masuk ke pasar bagi pemain baru.

Menentukan standar prosedur teknis, pentarifan yang terkait perjanjian interkoneksi, mendorong adanya regulasi yang membatasi tindakan diskriminatif dari penguasa essential facilities, dan mencegah adanya transfer izin atau sumber daya publik tanpa mekanisme yang sehat.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengungkapkan, pemerintah sudah merancang Rancangan Undang-undang (RUU) konvergensi dengan mereview UU No 36/99 tentang Telekomunikasi agar sesuai dengan semangat konvergensi.

Dijelaskannya, hal yang diatur dalam RUU itu adalah masalah penyelenggaraan perizinan, pmanfaatan spektrum frekuensi dan orbit satelit. Ada juga soal  regulasi teknis seperti  penomoran, standardisasi, kualitas layanan. Regulasi ekonomi seperti  tarif, persaingan usaha, merger dan akuisisi, interkoneksi, dan pemakaian infrastruktur bersama, serta  perlindungan konsumen.

Ditegaskannya, dalam era konvergensi regulator tetap akan menjadikan perijinan sebagai instrumen pengaturan. ”Ijin cenderung dengan dua macam atribut yakni kategori ijin dan tipe ijin. Kategorisasi untuk mengurangi jumlah jenis perijinan, sedangkan tipe  untuk meningkatkan efisiensi pengawasan dalam regulasi ,” jelasnya.

Dijelaskannya, dalam rencana kedepan nanti hanya akan ada  ijin individual,  ijin kelompok, dan terdaftar dengan jangka waktu ijin tidak terbatas namun dengan evaluasi tiap tahun dan menyampaikan komitmen pembangunanan untuk lima tahun.

”Rencananya akan dipisahkan antara ijin penyelenggaraan dan penggunaan spektrum, selain ijin penyelenggaraan disederhanakan yang memungkinkan  netral dalam memilih teknologi dan layanan,” jelasnya.

Anggota Komite lainnya, Nonot Harsono mengingatkan, hal krusial yang harus dibereskan di era konvergensi masalah batas virtual wilayah Indonesia di dunia maya dalam ekspor-impor produk

”Saat ini belum ada aturan yang jelas soal pembelian barang berupa global konten atau mengunduh perangkat lunak. Untuk pembelian software hanya arus uang masuk yang bisa dipantau, sedangkan konten global itu titik kendali ada di penyedia jasa internet (PJI),” jelasnya.

Hal lainnya adalah masalah operator asing yang membangun VPN dari Indonesia kenegaranya dengan menjadi pelanggan dari PJI tertentu. Dalam mengoperasikan jaringan, operator asing itu mendapatkan pendapatan besar dari pengguna lokalnya , namun transaksi bisa dilakukan bukan di Indonesia. ”Hal ini membuat adanya potensi kehilangan  terhadap pajak dan kewajiban lainnya,” jelasnya.

Pada kesempatan lain, Presiden Direktur XL Axiata Hasnul Suhaimi meminta, fokus peran regulator diusulkan berubah dari menumbuhkan industri, menjadi penjaga netralitas dan arah kompetisi yang lebih mementingkan pelanggan tanpa perlu mengorbankan industri. ”Regulator sudah berhasil menumbuhkan industri telekomunikasi hingga 100 triliun rupiah. Saatnya sekarang memiliki paradigma berubah dalam era konvergensi,” katanya.[dni]