080311 Menanti Datangnya Gelombang Ketiga

Pemimpin pasar penyedia jaringan di industri  telekomunikasi Global, Ericsson,  memprediksi dalam kurun waktu sembilan tahun mendatang  sebanyak  50 miliar perangkat akan  terhubung pada  internet.

Ericsson membagi  pemanfaatan internet dalam tiga gelombang oleh masyarakat dunia.  Pertama, first wave network consumer electronics, lalu network industry, dan  terakhir network society.

Vice President Ericsson Indonesia Hardayana Syintawati menjelaskan,  network consumer electronics adalah dimana produk-produk konsumen seperti ponsel, laptop dan tablet mulai disisipi dengan sim card agar terhubung dengan internet.

Sedangkan tahapan kedua yaitu network industry, dimana semua perangkat di semua lini industri akan terhubung dengan internet, agar semakin mempermudah komunikasi antar industri.

”Contohnya,  rumah sakit di kawasan pinggiran akan terhubung dengan rumah sakit di pusat kota yang jauh lengkap dengan jaringan internet. Ini tentu saja akan memudahkan layanan kesehatan antar kawasan tersebut,” ujarnya di Jakarta, belum lama ini.

Sedangkan tahapan ketiga yaitu network society dimana  semua lini di kehidupan akan terhubung dengan internet. Mulai dari hal yang terkecil hingga yang terbesar.

Menurutnya,  untuk menuju terkoneksinya 50 miliar perangkat ke dunia maya itu membutuhkan  tiga landasan yakni  mobility, broadband dan cloud. Mobility maksudnya pengguna bisa mengakses dimana saja, broadband artinya semua orang bisa mengakses, dan cloud (internet) memungkinkan  semua perangkat terkoneksi.

Dijelaskannya, untuk mobility di masa depan akan ada tren yang disebut dengan heterogenous network dimana  semua jaringan akan terhubung dengan banyak teknologi. Misalnya sekarang teknologinya adalah macro, bisa jadi kemudian micro digabungkan dengan pico.

Untuk broadband,  terdapat beberapa teknologi akses diantaranya  Voice over LTE. Sedangkan untuk cloud, akan mulai banyak aplikasi berbasis  cloud mobile.

“Kita harus segera memikirkan aplikasi yang akan mendukung koneksi tersebut, nantinya di 2020 jumlah perangkat lebih banyak ketimbang manusia,” katanya.

Diungkapkannya, perangkat yang terkoneksi tersebut sebagian besar terbagi menjadi 2 bagian yakni, consumer electronic dan intellegent transport, industri and society.

Harus Pintar
Portfolio Marketing Manager Ericsson Indonesia Pamungkas Trishadiatmoko menyarankan, untuk mengantisipasi datangnya era gelombang ketiga  operator harus membangun jaringan  yang pintar  mengelola trafik data agar tidak  hanya menjadi pipa penghantar yang berujung kepada membebani jaringan dan menggerus keuntungan.

Menurutnya,  langkah untuk menjadi smart pipe bisa dilakukan dengan memilah-milah pola akses data melalui titik-titik tertentu. “Jika pelanggan dipaksa mengakses melalui titik yang ditentukan, operator mendapatkan keuntungan berupa database dan profiling dari pelanggan. Nantinya ini bisa menjadi alat negosiasi dengan penyedia konten untuk mendapatkan sharing revenue. Selain itu,  pola ini juga akan menekan jaringan tidak terbebani dengan penggunaan data yang berlebihan,” jelasnya.

Head of Marketing Kusuma Lienandjaja mengungkapkan, pasar machine to machine adalah segmen yang belum digarap secara optimal oleh operator selama ini. ”Pasar ini sangat menjanjikan karena merupakan mainan baru. Apalagi Average Revenue Per User (ARPU) adari segmen ini cenderung stabil,” jelasnya.

Sementara Business Unit Executive Lotus Software, IBM Software Group John Mullins mengungkapkan, para pengembang aplikasi membutuhkan akses broadband yang stabil dari operator agar produknya nyaman digunakan masyarakat.

”Kami membutuhkan akses broadband dengan kecepatan yang tinggi dan stabil dari para operator untuk memasarkan aplikasi. Saat ini sangat banyak aplikasi yang diletakkan di-Cloud (Internet) dimana untuk menggunakannya sangat membutuhkan koneksi internet dengan kecepatan yang tinggi dan stabil,” jelasnya.

Chief Technology Officer 7 Langit Oon Arfiandwi mengakui makin luasnya wilayah akses internet yang dimiliki operator mendukung hadirnya pemain-pemain aplikasi lokal. ”Para pengembang aplikasi menjadi mendapatkan akses ke pasar lebih mudah. Tren ke depan memang aplikasi akan berbasis user generated content dimana platform-nya akan berbasis mobile yang diletakkan di-cloud,” jelasnya.

Head Of Device Management-MDS XL Axiata Agung Wiajanarko mengatakan, untuk mendukung masyarakat berbasis jaringan internet operator telah meretas dengan terus memperluas jaringan, membuat produk yang harganya terjangkau, dan menawarkan konten lokal yang sesuai kebutuhan.

”Operator berinvestasi lumayan tinggi untuk mengadirkan jasa data dan hingga kini Return Of Investment (ROI) belum terlihat walau tren trafik naik terus. Banyak yang memprediksi lima tahun mendatang jasa datang pendapatannya akan menyamai suara kontribusinya, masalahnya model bisnis yang ideal hingga sekarang belum terlihat,” jelasnya.

Deputy VP Corporate Secretary Telkomsel Aulia E. Marinto mengakui pasar mengoneksikan perangkat dengan internet sangat potensial untuk digarap.

”Tantangannya di perusahaan yang akan dijadikan perangkatnya terkoneksi dengan internet. Di Indonesia saja untuk mengedukasi perangkat Electronic Data Capture (EDC) milik perbankan menggunakan akses GPRS butuh waktu lama. Penawaran biaya yang murah tidak menjadi senjata utama bermain di pasar ini,” tegasnya.

Pada kesempatan lain, Ketua Bidang Teknologi Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Taufik Hasan mengingatkan, operator harus berhati-hati menerapkan pola pembedaan kualitas akses ke satu konten karena di dunia internet dikenal konsep ”Net Neutrality”. Konsep ini adalah  filosofi dimana semua konten itu diperlakukan sama.

”Jika operator mulai menerapkan sistem pembedaan kualitas akses hanya karena ada konten yang menjadi mitra, harus berhati-hati. Penggunanya bisa mempertanyakan. Di Amerika Serikat masalah Net Neutrality ini menjadi diskusi panas karena operator setempat menerapkan pola pembedaan akses untuk menjaga pembagian dengan mitra konten,” jelasnya.

Sekjen Mastel Mas Wigrantoro Roes Setiyadi mengatakan, polemik yang terjadi antara pengembang aplikasi dan opertor di era mobile cloud tak bisa dilepaskan dari tidak ikut membangun jaringannya para pemain platform.

”Pengembang aplikasi tahunya menawarkan konten tanpa melihat kemampuan jaringan operator atas nama kreatifitas. Sementara operator harus berhitung setiap penambahan bandwitdh dan kapasitas. Selama dua maszhab ini tidak bertemu, keluhan akan tidak siapnya jaringan mengahdapi era internet akan selalu ada,” jelasnya.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s