080311 Garuda Siapkan Citilink Sebagai Fighting Brand

JAKARTA—PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) menyiapkan unit bisnis Citilink sebagai fighting brand untuk bermain di pasar maskapai berbiaya rendah yang melayani rute domestik dan internasional.

“Kami menyadari pasar Low Cost Carier (LCC) memiliki Coumpound Annual Growth Rate (CAGR) paling tinggi selama lima tahun mendatang. Karena itu kita akan siapkan Citilink sebagai Fighting Brand karena Garuda Indonesia sendiri merek yang kokoh di pasar premium,” jelas Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar di Jakarta, Senin (7/3).

Fighting brand adalah istilah di pemasaran kala produsen menciptakan merek baru untuk bermain di satu segmen yang belum dijamahnya. Biasanya merek ini akan diposisikan untuk menggarap segmen yang berada di piramida bawah dari segmen sosial (C dan D).

Diungkapkannya, untuk periode lima tahun mendatang CAGR dari total penumpang domestik di Indonesia bisa mencapai 12 persen setiap tahunnya. Jika ditelaah secara detail, maka segmen penumpang premium tumbuh 7 persen setiap tahun, sementara budget traveler sekitar 14 persen setiap tahunnya.

Direktur Keuangan Garuda Indonesia Elisa Lumbantoruan mengungkapkan, perseroan berencana akan memperkuat unit bisnis Citilink menjadi LCC berbasis Teknologi Informasi (IT Based) agar bisa menjalankan bisnis lebih kompetitif.“Citilink harus menjadi  juara dari sisi tarif dengan level keselamatan  sesuai standar  Garuda,” tegasnya.

Diungkapkannya, Citilink direncanakan memiliki  12-15 pesawat pada tahun ini. Rencananya pada Juni nanti akan datang dua pesawat tipe Airbus 320. Selain itu  sedang dilakukan tender untuk pengadaan pesawat yang diikuti oleh Boeing dan Airbus untuk Citilink. Pengiriman pesawat hasil pemenang tender diperkirakan baru teralisasi pada 2015.

Selain itu Citilink juga akan mulai melayani rute Singapura dan Malaysia dimana selama ini menjadi kontribusi terbesar dari sisi penumpang bagi industri penerbangan. Tercatat, pada tahun lalu jumlah penumpang in and out ke  Malaysia berjumlah 4,5 juta jiwa dan Singapura  4,1 juta jiwa.

“Kita akan kembangkan Citilink ke dua Negara tersebut pada tahun ini. Untuk ke Kuala Lumpur atau Penang bisa dari  Bandung dan Medan. Sedangkan untuk ke Singapura, kemungkinan dari Denpasar, Medan, atau Ampenan. Kita bidik rute-rute  yang biasa  diterbangi oleh Silk Air,” jelasnya.

Emirsyah menjelaskan, untuk suksesnya konsep LCC di Indonesia maka dibutuhkan pengoperasian bandara selama 24 jam lebih banyak agar utilisasi dari pesawat bisa dioptimalkan. “Masalahnya di Indonesia itu hanya beberapa bandara yang beroperasi 24 jam. Ini harus segera dicarikan jalan keluarnya,” jelasnya.

Sementara menurut Elisa terdapat dua syarat agar LCC bisa berhasil yakni tingginya penetrasi internet di masyarakat dan perilaku pembayaran berbasiskan kartu kredit. Sementara dari sisi pesawat, maskapai harus bisa mengoptimalkan kapasitas ruang

“Di Indonesia itu  masih bermasalah di  luar Jakarta dan Surabaya untuk internet dan pola pembayaran. Kita mencoba mengakali dengan membuat micro agent dimana membantu penumpang untuk membeli tiket. Soal komisi itu mereka atur dengan penumpang, sedangkan kita mensyaratkan tidak boleh dilakukan pembelian secara bulk,” katanya.

Berdasarkan catatan, Citilink baru menyumbang 7 persen dari sisi total  jumlah penumpang yang dibawa untuk GIAA, sedangkan dari sisi  revenue sebesar 2-3 persen. Penguasa pasar domestik adalah PT Lion Mentari Airlines (Lion Air) yang menguasai 38,2 persen  pangsa pasar  dengan menerbangkan 19,6 juta penumpang.  Lion Air optimistis pendapatannya pada tahun ini mencapai 805 hingga 920 juta dollar AS atau tumbuh 15 persen dibandingkan 2010 sebesar 700-800 juta dollar AS.

Sedangkan untuk pasar internasional dikuasasi oleh PT Indonesia AirAsia  sebesar 41,1 persen  dengan 2,7 juta penumpang.  Maskapai ini menargetkan pendapatan  3,3 triliun rupiah tahun ini, naik 20 persen  dibandingkan realisasi 2010 sebesar  2,7 triliun rupiah. Naiknya target pendapatan, diimbangi dengan menaikkan 14,7 persen  target jumlah penumpang dari 3,92 juta tahun lalu menjadi 4,5 juta pada 2011. Kedua pemimpin segmen pasar itu adalah maskapai berbasis LCC.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s