080311 Menanti Datangnya Gelombang Ketiga

Pemimpin pasar penyedia jaringan di industri  telekomunikasi Global, Ericsson,  memprediksi dalam kurun waktu sembilan tahun mendatang  sebanyak  50 miliar perangkat akan  terhubung pada  internet.

Ericsson membagi  pemanfaatan internet dalam tiga gelombang oleh masyarakat dunia.  Pertama, first wave network consumer electronics, lalu network industry, dan  terakhir network society.

Vice President Ericsson Indonesia Hardayana Syintawati menjelaskan,  network consumer electronics adalah dimana produk-produk konsumen seperti ponsel, laptop dan tablet mulai disisipi dengan sim card agar terhubung dengan internet.

Sedangkan tahapan kedua yaitu network industry, dimana semua perangkat di semua lini industri akan terhubung dengan internet, agar semakin mempermudah komunikasi antar industri.

”Contohnya,  rumah sakit di kawasan pinggiran akan terhubung dengan rumah sakit di pusat kota yang jauh lengkap dengan jaringan internet. Ini tentu saja akan memudahkan layanan kesehatan antar kawasan tersebut,” ujarnya di Jakarta, belum lama ini.

Sedangkan tahapan ketiga yaitu network society dimana  semua lini di kehidupan akan terhubung dengan internet. Mulai dari hal yang terkecil hingga yang terbesar.

Menurutnya,  untuk menuju terkoneksinya 50 miliar perangkat ke dunia maya itu membutuhkan  tiga landasan yakni  mobility, broadband dan cloud. Mobility maksudnya pengguna bisa mengakses dimana saja, broadband artinya semua orang bisa mengakses, dan cloud (internet) memungkinkan  semua perangkat terkoneksi.

Dijelaskannya, untuk mobility di masa depan akan ada tren yang disebut dengan heterogenous network dimana  semua jaringan akan terhubung dengan banyak teknologi. Misalnya sekarang teknologinya adalah macro, bisa jadi kemudian micro digabungkan dengan pico.

Untuk broadband,  terdapat beberapa teknologi akses diantaranya  Voice over LTE. Sedangkan untuk cloud, akan mulai banyak aplikasi berbasis  cloud mobile.

“Kita harus segera memikirkan aplikasi yang akan mendukung koneksi tersebut, nantinya di 2020 jumlah perangkat lebih banyak ketimbang manusia,” katanya.

Diungkapkannya, perangkat yang terkoneksi tersebut sebagian besar terbagi menjadi 2 bagian yakni, consumer electronic dan intellegent transport, industri and society.

Harus Pintar
Portfolio Marketing Manager Ericsson Indonesia Pamungkas Trishadiatmoko menyarankan, untuk mengantisipasi datangnya era gelombang ketiga  operator harus membangun jaringan  yang pintar  mengelola trafik data agar tidak  hanya menjadi pipa penghantar yang berujung kepada membebani jaringan dan menggerus keuntungan.

Menurutnya,  langkah untuk menjadi smart pipe bisa dilakukan dengan memilah-milah pola akses data melalui titik-titik tertentu. “Jika pelanggan dipaksa mengakses melalui titik yang ditentukan, operator mendapatkan keuntungan berupa database dan profiling dari pelanggan. Nantinya ini bisa menjadi alat negosiasi dengan penyedia konten untuk mendapatkan sharing revenue. Selain itu,  pola ini juga akan menekan jaringan tidak terbebani dengan penggunaan data yang berlebihan,” jelasnya.

Head of Marketing Kusuma Lienandjaja mengungkapkan, pasar machine to machine adalah segmen yang belum digarap secara optimal oleh operator selama ini. ”Pasar ini sangat menjanjikan karena merupakan mainan baru. Apalagi Average Revenue Per User (ARPU) adari segmen ini cenderung stabil,” jelasnya.

Sementara Business Unit Executive Lotus Software, IBM Software Group John Mullins mengungkapkan, para pengembang aplikasi membutuhkan akses broadband yang stabil dari operator agar produknya nyaman digunakan masyarakat.

”Kami membutuhkan akses broadband dengan kecepatan yang tinggi dan stabil dari para operator untuk memasarkan aplikasi. Saat ini sangat banyak aplikasi yang diletakkan di-Cloud (Internet) dimana untuk menggunakannya sangat membutuhkan koneksi internet dengan kecepatan yang tinggi dan stabil,” jelasnya.

Chief Technology Officer 7 Langit Oon Arfiandwi mengakui makin luasnya wilayah akses internet yang dimiliki operator mendukung hadirnya pemain-pemain aplikasi lokal. ”Para pengembang aplikasi menjadi mendapatkan akses ke pasar lebih mudah. Tren ke depan memang aplikasi akan berbasis user generated content dimana platform-nya akan berbasis mobile yang diletakkan di-cloud,” jelasnya.

Head Of Device Management-MDS XL Axiata Agung Wiajanarko mengatakan, untuk mendukung masyarakat berbasis jaringan internet operator telah meretas dengan terus memperluas jaringan, membuat produk yang harganya terjangkau, dan menawarkan konten lokal yang sesuai kebutuhan.

”Operator berinvestasi lumayan tinggi untuk mengadirkan jasa data dan hingga kini Return Of Investment (ROI) belum terlihat walau tren trafik naik terus. Banyak yang memprediksi lima tahun mendatang jasa datang pendapatannya akan menyamai suara kontribusinya, masalahnya model bisnis yang ideal hingga sekarang belum terlihat,” jelasnya.

Deputy VP Corporate Secretary Telkomsel Aulia E. Marinto mengakui pasar mengoneksikan perangkat dengan internet sangat potensial untuk digarap.

”Tantangannya di perusahaan yang akan dijadikan perangkatnya terkoneksi dengan internet. Di Indonesia saja untuk mengedukasi perangkat Electronic Data Capture (EDC) milik perbankan menggunakan akses GPRS butuh waktu lama. Penawaran biaya yang murah tidak menjadi senjata utama bermain di pasar ini,” tegasnya.

Pada kesempatan lain, Ketua Bidang Teknologi Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Taufik Hasan mengingatkan, operator harus berhati-hati menerapkan pola pembedaan kualitas akses ke satu konten karena di dunia internet dikenal konsep ”Net Neutrality”. Konsep ini adalah  filosofi dimana semua konten itu diperlakukan sama.

”Jika operator mulai menerapkan sistem pembedaan kualitas akses hanya karena ada konten yang menjadi mitra, harus berhati-hati. Penggunanya bisa mempertanyakan. Di Amerika Serikat masalah Net Neutrality ini menjadi diskusi panas karena operator setempat menerapkan pola pembedaan akses untuk menjaga pembagian dengan mitra konten,” jelasnya.

Sekjen Mastel Mas Wigrantoro Roes Setiyadi mengatakan, polemik yang terjadi antara pengembang aplikasi dan opertor di era mobile cloud tak bisa dilepaskan dari tidak ikut membangun jaringannya para pemain platform.

”Pengembang aplikasi tahunya menawarkan konten tanpa melihat kemampuan jaringan operator atas nama kreatifitas. Sementara operator harus berhitung setiap penambahan bandwitdh dan kapasitas. Selama dua maszhab ini tidak bertemu, keluhan akan tidak siapnya jaringan mengahdapi era internet akan selalu ada,” jelasnya.[dni]

080311 Kala Belantara Menara Menghilang

Tumbuh pesatnya telekomunikasi berbasis nirkabel tak dipungkiri telah meningkatkan teledensitas akan akses komunikasi di satu negara. Sayangnya, sebagai teknologi nirkabel yang sangat tergantung pada gelombang radio, ada ekses negatif yang tak bisa dihindari.

Di negara berkembang seperti Indonesia contoh nyata ekses negatif itu adalah maraknya pembagunan menara sebagai penopang radio telekomunikasi. Pemerintah mulai menata kehadiran infrastruktur  itu dengan menghadirkan aturan menara bersama.

Para pengembang teknologi pun tak tinggal diam menekan ekses negatif kehadiran menara yang tak terkendali.  Terbaru adalah  aksi Alcatel-Lucent yang  menciptakan lightRadio. Inovasi ini sebuah sistem baru yang akan mengakhiri ketergantungan industri pada tiang-tiang menara dan base station di seluruh dunia.

Chief Executive Officer Alcatel-Lucent Ben Verwaayen menyakini lightRadio akan mengakhiri keberadaan base station dan  menara seluler.  ”Hal ini tercapai dengan dengan merampingkan dan menyederhanakan secara radikal base station dan menara seluler yang besar, yang saat ini umumnya menelan biaya besar, boros energi dan memerlukan perawatan yang sulit,” katanya.

Menurutnya, lightRadio mewakili sebuah arsitektur baru di mana base station, yang biasanya ditempatkan di dasar menara seluler, dipecah menjadi elemen-elemen komponen dan didistribusikan ke antena dan ke seluruh jaringan yang menyerupai cloud.

lightRadio juga akan memperkecil ‘kekacauan’ antenna saat ini dalam melayani 2G, 3G dan LTE menjadi sebuah antena  yang penuh daya, multi frekwensi, multi standar Wideband Active Array Antenna yang dapat dipancangkan pada tiang, sisi gedung atau di manapun asalkan tersedia daya dan koneksi broadband.  Keluarga produk lightRadio  ciptaan Alcatel-Lucent yang elemen-elemen awalnya telah siap untuk uji coba pelanggan pada semester ke dua tahun 2011.

Dikatakannya, keuntungan yang akan dirasakan oleh operator jika menggunakan inovasi baru ini adalah mengurangi jejak karbon jaringan-jaringan seluler hingga lebih dari 50 persen. Menurunkan Total-Cost-of-Ownership (TCO) operator seluler hingga 50 persen. (sebagai referensi, Bell Labs menghitung bahwa TCO yang dikeluarkan oleh para operator seluler di tahun 2010 untuk akses mobile adalah sebesar 150 milyar Euro.

Berikutnya, perbaikan layanan bagi pengguna akhir dengan meningkatkan bandwidth per pengguna secara signifikan, berkat digunakannya antena-antena kecil di mana-mana. Terakhir, mengatasi kesenjangan digital dengan  memanfaatkan kelebihan dari backhaul gelombang mikro dan tehnik kompresi, teknologi ini memungkinkan terciptanya liputan broadband secara virtual di manapun selama tersedia energi (listrik, matahari, angin) dengan memanfaatkan gelombang mikro untuk menghubungkan kembali ke jaringan.

President Alcatel-Lucent divisi Wireless  Wim Sweldens  mengatakan, lightRadio akan membantu para operator seluler meng-evolusi jaringan-jaringan mereka untuk mengatasi ‘banjir’ broadband seluler.”Inovasi ini bertepatan dengan meningkatnya permintaan jaringan seluler dan perangkat-perangkat generasi ke-tiga dan ke-empat, di antaranya adopsi masal dari layanan televisi nirkabel dan bentuk-bentuk lain dari konten broadband. Pasar yang dapat disasar oleh teknologi radio yang dibutuhkan untuk melayani permintaan jaringan dan perangkat-perangkat tersebut diharapkan dapat melebihi 100 milyar Euro  dalam kurun waktu tujuh tahun ke depan,” jelasnya.

Pada kesempatan lain, Sekjen Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Mas Wigrantoro Roes Setiyadi mengingatkan, hal yang akan menjadi tantangan bagi operator menuju era masyarakat internet adalah pemanfaatan teknologi akses secara optimal.

”Harus diingat Indonesia bukanlah negara manufaktur telekomunikasi sehingga harus bisa memanfaatkan teknologi yang sudah ada secara optimal. Jangan setiap sebentar datang teknologi baru diadposi sehingga memboroskan investasi,” katanya.[dni]

080311 Izin Siskomdat Akan Diperketat

JAKARTA—Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) berencana memperketat izin layanan system komunikasi data (Siskomdat) agar pemain lokal bisa bersaing di pasar.

“Siskomdat itu seperti kantong dimana layanan-layanan yang tidak ada pada definisi telekomunikasi dan telekomunikasi khusus berada. Kami ingin memilah dan memperketat pemberian lisensinya agar jelas kategori jasa yang masuk dalam Siskomdat,” ungkap PLT Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kemenkominfo M. Budi Setyawan di Jakarta, Senin (7/3).

Diungkapkannya, rencananya pemilahan secara lengkap masalah Siskomdat akan dimasukkan dalam Rancangan Undang-Undang Konvergensi yang diusulkan ke parlemen. “Kami juga akan mengusulkan pembatasan kepemilikan asing di Siskomdat. Sekarang terlalu longgar dimana asing bisa berkuasa hingga 95 persen dalam komposisi saham,” tegasnya.

Secara terpisah, Kepala Pusat Informasi dan Humas  Kemekominfo  Gatot S Dewo Broto mengungkapkan,  raksasa telekomunikasi Amerika Serikat, AT&T, siap meramaikan pasar  Siskomdat Indonesia setelah mendapat izin prinsip, disusul pengajuan  izin penyelenggaraan pekan lalu.

Dijelaskan Gatot, layanan sistem komunikasi data sendiri merupakan salah satu bagian dari jasa multimedia. Hanya saja layanan ini kurang begitu populer di masyarakat, karena memang  target pasarnya lebih ke segmen korporat.

“AT&T bisa masuk ke pasar Indonesia  karena sesuai Peraturan Presiden nomor 36 tahun 2010 tentang Daftar Negatif Investasi (DNI). Di regulasi itu  bidang Siskomdat dibuka untuk asing hingga 95 persen,” katanya.

Berdasarkan catatan,  saat ini ada 9 perusahaan yang memegang izin penyelenggara Siskomdat di Indonesia, semuanya murni investasi domestik.  Kesembilan pemain itu adalah PT Sejahtera Globalindo, PT Sistelindo Mitralintas, PT Centrin Nuansa Teknologi, PT Berca Hardayaperkasa, PT Dini Nusa Kusuma, PT EDI Indonesia, PT Imani Prima, PT Patrakom, PT Aplikanusa Lintasarta.

“AT&T akan menjadi pemain asing pertama yang masuk ranah Siskomdat. Pemain asing lain mungkin nanti pada menyusul.  Masalah pemberian izin,  Kemenkominfo  memegang teguh pada ketentuan yang ada,” tegas Gatot.[dni]

080311 Jobstreet Luncurkan Aplikasi Mobile

JAKARTA—Perusahaan penyedia lowongan pekerjaan, Jobstreet, meluncurkan aplikasi versi mobile untuk memudahkan para anggotanya melamar pekerjaan

“Kami menyediakan aplikasi Jobstreet untuk BlackBerry, iPhone dan Android. Aplikasi bisa diunduh secara gratis di toko aplikasi  masing-masing sistem operasi. Tujuan kami membuat aplikasi ini untuk memudahkan para pencari kerja, khususnya mereka yang menggunakan smartphone,” ungkap Country Manager Jobstreet Indonesia Chris Antonius  di Jakarta, belum lama ini.

Dijelaskannya, aplikasi Jobstreet versi mobile  telah hadir di beberapa negara,seperti Singapura, Malaysia, Filipina, Hongkong, Thailand, India dan Jepang. Pada awal kemunculannya aplikasi ini baru tersedia untuk iPhone.

Dan pada dua bulan pertama di Singapura sudah ada 67 ribu job application yang menggunakan aplikasi ini di iPhone.  Melihat  Blackberry dan Android sedang tren di Indonesia, maka Jobstreet memutuskan juga akan membuat aplikasi untuk Blackberry dan Android.  Sedangkan untuk  ponsel  lainnya bisa mengakses situs Jobstreet dari browser, atau menggunakan layanan SMS.

Chris mengharapkan, pada  6 bulan pertama setidaknya ada sekitar 8 sampai 10 persen dari total pencari kerja yang telah terdaftar di Jobstreet mau menggunakan aplikasi ini, atau sekitar 150 ribu pengguna smartphone. Saat ini ada sekitar 1,5 juta pencari kerja yang sudah terdaftar di Jobstreet Indonesia. Dan ada sekitar 7 juta orang di 8 negara, Singapura, Malaysia, Filipina, India, Indonesia, Hongkong, Thailand dan Jepang.

Hingga saat ini di ada sekitar 10 – 12 ribu lowongan yang ada di Jobstreet setiap bulannya di Indonesia. Sedangkan total lowongan yang masuk di Jobstreet selama tahun 2010 lalu mencapai 80 – 90 ribu. Untuk ke depannya  akan ditambahkan fitur yang memungkinkan untuk memasukkan lowongannya langsung dari aplikasi Jobstreet.

Ditegaskannya,  perseroan secara penuh menggratiskan aplikasi mobile JobStreet mengingat selama ini  keuntungan diraih melalui  perusahaan-perusahaan yang datang memasang iklan di jobstreet.com.

“Mencari kerja di jobstreet.com itu  mudah, cukup cari lowongan menggunakan kata kunci, atau lewat kategori, kemudian pilih lowongan yang sesuai dengan keinginan dan langsung melamar  untuk lowongan itu,” katanya.[dni]

080311 StarOne Raih Sertifikat OMH

JAKARTA–Layanan Fixed Wireless Access (FWA) berbasis teknologi  Code Division Multiple Access (CDMA) milik PT Indosat Tbk,  StarOne, berhasil meraih sertifikasi OMH Certificate of Acceptance  yang dikeluarkan oleh CDMA Development Group (CDG) belum lama ini.

”Diraihnya sertifikat OMH ini memiliki arti besar bagi pengembangan layanan StarOne. Kendala keterbatasan perangkat bisa mulai diatasi,” ungkap  Group Head Segment Management  Indosat Insan Prakarsa di Jakarta, akhir pekan lalu..

OMH adalah sebuah standar teknologi RUIM Card yang mengatur konfigurasi jaringan serta data pengguna dari memori internal ponsel ke RUIM card, sehingga pengguna dapat menggunakan semua tipe ponsel berbasis CDMA tanpa harus melakukan pengaturan awal pada ponsel. RUIM Card pelanggan yang sudah berbasis OMH dapat dengan mudah digunakan pada ponsel-ponsel CDMA kelas menengah  atas tanpa harus sulit lagi melakukan pengaturan parameter – parameter seperti Internet, SMS, MMS, EVDO, dan lain-lain.

Sedangkan CDG adalah suatu konsorsium internasional perusahaan-perusahaan yang bekerja sama untuk memimpin pertumbuhan dan evolusi maju sistem telekomunikasi nirkabel berbasis teknologi CDMA. OMH dikembangkan  sejak tiga  tahun lalu dan diluncurkan pertama kali Agustus 2010.

Indonesia menjadi negara kedua setelah India yang menggunakan teknologi simcard OMH. Pada tahun lalu, empat operator yakni  Bakrie Telecom, Telkom Flexi, Smart Telecom Smart dan Mobile-8 menyatakan siap mendukung OMH.
Insan menjelaskan, adanya sertifikasi ini menjadikan penjualan ponsel CDMA tidak perlu bergantung pada  sistem bundling sehingga  sifatnya lebih open market.

”Pelanggan  diuntungkan dengan semakin banyaknya pilihan ponsel CDMA di pasaran. Selain itu bisa semakin mudah memanfaatkan teknologi CDMA seoptimal mungkin baik untuk data maupun suara,” jelasnya.

Diharapkannya,  diraihnya OMH Certificate of Acceptance  bagi RUIM Card StarOne tersebut, dapat mendukung industri ponsel CDMA lebih maju ke tingkat smarthphone seperti halnya pada GSM yang memiliki banyak platform teknologi seperti Symbian, Windows Mobile dan Android.[dni]

080311 Maskapai Mulai Akali Kenaikan Avtur

JAKARTA—Maskapai mulai mengakali kenaikan avtur dengan berbagai cara agar tidak menghantam biaya operasional dan menurunkan daya beli masyarakat menggunakan angkutan udara.

“Kenaikan avtur biasanya diakali dengan menerapkan beban biaya tambahan bahan bakar (Fuel Surcharge). Kalau untuk rute internasional biasanya fuel surcharge tinggal disesuikan dengan kenaikan avtur. Agak berat mengakali kenaikan avtur itu untuk rute domestik karena besarannya sudah ditentukan oleh aturan,” jelas Direktur Keuangan Garuda Indonesia Elisa Lumbantoruan di Jakarta, Senin (7/3).

Diungkapkannya, Garuda sebagai maskapai yang melakukan 319 penerbangan setiap harinya mengonsumsi satu miliar liter avtur hingga kahir tahun. Biaya pembelian avtur ini berkontirbusi sebesar 25-37 persen bagi beban operasional.

“Kami mencoba mengakali dengan melakukan alokasi sub clasess dalam penawaran harga tiket. Jika avtur makin naik, biasanya untuk sub clasess yang murah dikurangi, itu dilakukan setelah basis best fare dinaikkan. Belum lama ini best fare dinaikkan sebesar lima persen,” jelasnya.

Presiden Direktur Indonesia Air Asia Dharmadi menjelaskan, jika harga avtur sudah melewati 130 dollar AS per barel hal itu bisa menjadi alasan bagi maskapai untuk meminta regulator merevisi batas fuel surcharge yang ada di regulasi. “Saat ini kami menutupi kenaikan harga avtur dari pemasukan ancillary seperti penjualan makanan di pesawat dan memilih kursi,” katanya.

Sementara Direktur Utama Lion Air Rusdi Kirana mengatakan, tidak mungkin menaikkan harga tiket untuk menutup kenaikan harga avtur karena bisa membuat calon penumpang enggan menggunakan angkutan udara. “Kami berusaha terus untuk melakukan efisiensi tanpa melupakan aspek keselamatan,” katanya.

Direktur Komersial  Sriwijaya Air Toto Nursatyo menyarankan,  sebaiknya pemerintah tidak  menunggu selama tiga bulan sebelum merevisi peraturan tentang besaran avtur sambil melihat perubahan biaya operasi maskapai penerbangan sebesar 20 persen.

“Katakanlah kalau harga avtur mencapai  11.000 rupiah  per liter akibat konflik Libia terus berlanjut, siapa nantinya yang akan menanggung selisih  seribu rupiah  tersebut sebab untuk penerbangan dengan waktu satu jam saja kami harus membeli avtur 4.000 rupiah liter. Tarif batas atas yang ditetapkan dalam aturan  sudah tidak bisa menutupi biaya operasi kami, siapa yang akan menanggung selisihnya,” keluhnya.

Diungkapkannya, avtur memberi kontribusi 55 persen bagi seluruh biaya operasional yang dikeluarkan Sriwijaya. Dalam sebulan maskapai tersebut mengkonsumsi sekitar 20 juta liter avtur untuk seluruh penerbangan domestik dan internasional yang dilayaninya.

Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Tengku Burhanuddin menegaskan, asosiasi akan membicarakan kembali dengan pemerintah tentang besaran harga avtur jika telah melewati 10 ribu rupiah per liter.

“Sebenarnya akan lebih praktis jika pemerintah mengizinkan dikenakannya fuel surcharge dibanding merevisi peraturan,” kata Tengku.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bakti S Gumay menjelaskan,  pemerintah terus memantau perkembangan harga avtur seiring dengan naiknya harga minyak dunia akibat rangkaian konflik politik di Mesir dan Libia yang menghambat pasokan minyak.

Harga kontrak freight on board avtur di Singapura untuk kawasan Asia Pasifik sempat menyentuh harga tertinggi pada 24 Februari lalu sebesar  130,6 dollar AS per barel, sementara harga terakhir pada 1 Maret sebesar  127,4 dollar AS per barel.

Menurutnya sesuai dengan pasal 7 ayat 2 Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 26/2010 tentang Penetapan Tarif Batas Atas Untuk Angkutan Udara Niaga Berjadwal, jika harga avtur sudah melebihi  10.000 rupiah  per liter dan kondisi itu menambah biaya operasi maskapai penerbangan sebesar 20% selama tiga bulan berturut-turut maka maskapai baru diizinkan untuk mengenakan  fuel surcharge.

“Pemerintah sedang mengevaluasi apakah akan merevisi peraturan tersebut atau kembali memasukkan fuel surcharge dalam tarif. Semua tergantung perkembangan dari harga minyak dunia,” ujar Herry,

Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina Aviasi kembali menaikkan harga avtur yang dijualnya selama periode 1 Maret-14 Maret. Harga avtur untuk penerbangan internasional di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng naik 5,1 persen  dari  83,8 dollar AS  per liter menjadi  88,1 dollar AS  per liter. Sementara harga avtur untuk penerbangan domestik naik 3,7 persen  menjadi  8.481 rupiah  per liter dari  8.173 rupiah per liter.[dni]

080311 Garuda Siapkan Citilink Sebagai Fighting Brand

JAKARTA—PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) menyiapkan unit bisnis Citilink sebagai fighting brand untuk bermain di pasar maskapai berbiaya rendah yang melayani rute domestik dan internasional.

“Kami menyadari pasar Low Cost Carier (LCC) memiliki Coumpound Annual Growth Rate (CAGR) paling tinggi selama lima tahun mendatang. Karena itu kita akan siapkan Citilink sebagai Fighting Brand karena Garuda Indonesia sendiri merek yang kokoh di pasar premium,” jelas Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar di Jakarta, Senin (7/3).

Fighting brand adalah istilah di pemasaran kala produsen menciptakan merek baru untuk bermain di satu segmen yang belum dijamahnya. Biasanya merek ini akan diposisikan untuk menggarap segmen yang berada di piramida bawah dari segmen sosial (C dan D).

Diungkapkannya, untuk periode lima tahun mendatang CAGR dari total penumpang domestik di Indonesia bisa mencapai 12 persen setiap tahunnya. Jika ditelaah secara detail, maka segmen penumpang premium tumbuh 7 persen setiap tahun, sementara budget traveler sekitar 14 persen setiap tahunnya.

Direktur Keuangan Garuda Indonesia Elisa Lumbantoruan mengungkapkan, perseroan berencana akan memperkuat unit bisnis Citilink menjadi LCC berbasis Teknologi Informasi (IT Based) agar bisa menjalankan bisnis lebih kompetitif.“Citilink harus menjadi  juara dari sisi tarif dengan level keselamatan  sesuai standar  Garuda,” tegasnya.

Diungkapkannya, Citilink direncanakan memiliki  12-15 pesawat pada tahun ini. Rencananya pada Juni nanti akan datang dua pesawat tipe Airbus 320. Selain itu  sedang dilakukan tender untuk pengadaan pesawat yang diikuti oleh Boeing dan Airbus untuk Citilink. Pengiriman pesawat hasil pemenang tender diperkirakan baru teralisasi pada 2015.

Selain itu Citilink juga akan mulai melayani rute Singapura dan Malaysia dimana selama ini menjadi kontribusi terbesar dari sisi penumpang bagi industri penerbangan. Tercatat, pada tahun lalu jumlah penumpang in and out ke  Malaysia berjumlah 4,5 juta jiwa dan Singapura  4,1 juta jiwa.

“Kita akan kembangkan Citilink ke dua Negara tersebut pada tahun ini. Untuk ke Kuala Lumpur atau Penang bisa dari  Bandung dan Medan. Sedangkan untuk ke Singapura, kemungkinan dari Denpasar, Medan, atau Ampenan. Kita bidik rute-rute  yang biasa  diterbangi oleh Silk Air,” jelasnya.

Emirsyah menjelaskan, untuk suksesnya konsep LCC di Indonesia maka dibutuhkan pengoperasian bandara selama 24 jam lebih banyak agar utilisasi dari pesawat bisa dioptimalkan. “Masalahnya di Indonesia itu hanya beberapa bandara yang beroperasi 24 jam. Ini harus segera dicarikan jalan keluarnya,” jelasnya.

Sementara menurut Elisa terdapat dua syarat agar LCC bisa berhasil yakni tingginya penetrasi internet di masyarakat dan perilaku pembayaran berbasiskan kartu kredit. Sementara dari sisi pesawat, maskapai harus bisa mengoptimalkan kapasitas ruang

“Di Indonesia itu  masih bermasalah di  luar Jakarta dan Surabaya untuk internet dan pola pembayaran. Kita mencoba mengakali dengan membuat micro agent dimana membantu penumpang untuk membeli tiket. Soal komisi itu mereka atur dengan penumpang, sedangkan kita mensyaratkan tidak boleh dilakukan pembelian secara bulk,” katanya.

Berdasarkan catatan, Citilink baru menyumbang 7 persen dari sisi total  jumlah penumpang yang dibawa untuk GIAA, sedangkan dari sisi  revenue sebesar 2-3 persen. Penguasa pasar domestik adalah PT Lion Mentari Airlines (Lion Air) yang menguasai 38,2 persen  pangsa pasar  dengan menerbangkan 19,6 juta penumpang.  Lion Air optimistis pendapatannya pada tahun ini mencapai 805 hingga 920 juta dollar AS atau tumbuh 15 persen dibandingkan 2010 sebesar 700-800 juta dollar AS.

Sedangkan untuk pasar internasional dikuasasi oleh PT Indonesia AirAsia  sebesar 41,1 persen  dengan 2,7 juta penumpang.  Maskapai ini menargetkan pendapatan  3,3 triliun rupiah tahun ini, naik 20 persen  dibandingkan realisasi 2010 sebesar  2,7 triliun rupiah. Naiknya target pendapatan, diimbangi dengan menaikkan 14,7 persen  target jumlah penumpang dari 3,92 juta tahun lalu menjadi 4,5 juta pada 2011. Kedua pemimpin segmen pasar itu adalah maskapai berbasis LCC.[dni]