070311 PMK 241 Hantam Sektor Pelayaran

JAKARTA— Peraturan Menteri Keuangan No. 241/2010 (PMK 241) tentang  bea masuk 5 persen  dari harga kapal sejak 22 Desember lalu menghantam investor di sektor pelayaran terutama dalam pengadaan kapal.

”Hampir 100 unit kapal dengan nilai investasi total sekitar 100 juta dollar AS tertahan masuk ke Indonesia karena adanya PMK 241,” ungkap Ketua Umum Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Johnson W Sutjipto di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dijelaskannya, hingga pekan pertama Maret 2011, diskusi tentang PMK 241 mengalami jalan buntu di antara lembaga kementrian sehingga membuat para pengusaha mengambil sikap menunggu. ”Beberapa waktu lalu ada diskusi lintas kementrian. Kabarnya masih perlu harmonisasi, karena banyak sektor juga keberatan dengan adanya aturan ini,” katanya.

Menurutnya, para pengusaha pelayaran menginginkan agar pemerintah bisa mengembalikan kondisi masalah bea masuk ke kondisi awal sebelum adanya PMK 241 dimana besarannya adalah 0 persen. ”Kita menghimbau pemerintah itu harusnya mendukung moda pelayaran dengan memberikan insentif pembiayaan dengan bunga rendah dan lainnya. Bukan malah diperberat dengan adanya bea masuk,” keluhnya.

Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan  INSA Paulis A. Djohan menambahkan,  kebijakan penarikan bea masuk  sangat tidak pro industri. Harusnya pemerintah melihat kapal itu sebagai moda yang memindahkan barang atau orang untuk menggerakkan perekonomian.

Berkaitan dengan rencana pemerintah merevisi Undang-undang Pelayaran, Johnson mengingatkan, regulasi itu dibuat sebagai bentuk kedaulatan Indonesia terhadap angkutan laut, jika ada upaya mengubahnya hal itu berarti mencederai tujuan dibuatnya aturan tersebut.

”Sebaiknya jangan ada revisi. Usulan kami kongkrit yakni Peraturan Pemerintah (PP) No 20/2010 pasal 5 ayat 2 saja disempurnakan, ketimbang mengubah UU Pelayaran,” jelasnya.

Dalam PP No 20/2010 pasal 5 ayat 2 dinyatakan kapal asing dilarang mengangkut barang  di perairan Indonesia dan kegiatan lainnya yang menggunakan kapal. ”Nah aturan ini direvisi dan diperkuat. Setelah itu dikeluarkan Peraturan Menteri Perhubungan yang memagarinya dengan memberikan jaminan bagi pemain lokal ketimbang merevisi UU,” jelasnya.

Sementara Kementrian Perhubungan (Kemenhub) berencana mengubah  pasal 341 di UU Pelayaran yang menyatakan  kapal asing yang saat ini masih melayani kegiatan angkutan laut dalam negeri tetap dapat melakukannya kegiatannya paling lama 3 tahun terhitung sejak tanggal berlakunya UU ini yaitu tanggal 7 Mei 2008.

Nantinya  dalam pasal itu ada kalimat tambahan kecuali kapal tertentu. Kapal tertentu yang dimaksud untuk konstruksi, survei, dan penunjang. Pengaturan jenis kapal itu akan diatur dalam peraturan menteri. 

Azas cabotage sendiri di Indonesia belum terlaksana di  kegiatan lepas pantai  (Offshore) karena  kapal tipe C  belum mampu disediakan oleh pengusaha lokal.

Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Sunaryo menjelaskan, dalam menata sektor pelayaran pemerintah  tidak harus bersikap  kaku  agar kegiatan  offshore tidak terganggu. “Pemilik mayoritas  kapal-kapal tipe C itu masih pihak asing. Dan itu realitas,”katanya.

Ditegaskannya,  revisi UU nomor 17 ini merupakan amanat presiden (ampres) kepada Kementerian Perhubungan, yang menindaklanjutinya dengan mengajukan draft tersebut ke DPR. “Karena UU itu produk DPR yang kita harus kembalikan lagi kepada DPR,”katanya.

Amandemen itu sendiri diharapkan sudah terealisasi sebelum 7 Mei 2011, dimana berakhirnya perpanjangan penggunaan kapal asing untuk kegiatan offshore.

“Kalau nanti kita sudah mampu membeli kapal sendiri, dengan sendiri posisi itu digantikan dengan kapal merah putihj. Untuk sementara karena belum ada kita berikan perlakukannlhusus untuk offshore,”katanya.

Sunaryo juga membantah, kalau amandemen UU Pelayaran tersebut mematahkan semangat perusahaan pelayaran  membangun industri pelayaran nasional. ”Azas cabotage yang telah diamanatkan UU dan Inpres 5/2005 tetap jalan, dan tidak ada yang berubah,” tegasnya.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s