010311 Melepas Stigma Medioker

Denyut jantung operator yang memiliki jumlah pelanggan kecil atau medioker ternyata masih berdetak kencang untuk berkompetisi pada tahun ini.

Walaupun banyak analis pasar memprediksi pertumbuhan sektor telekomunikasi hanya 9 persen dan kompetisi kian ketat, tetapi para punggawa kaum medioker masih optimistis menatap masa depan.

Presiden Direktur Hutchison CP Telecommunications (HCPT) Manjot Mann mengungkapkan, sebagai pemilik merek dagang Tri berhasil meraih 16 juta pelanggan selama tahun lalu atau tumbuh 100 persen dibandingkan posisi 2009 sebesar 8 juta pelanggan.

“Pertumbuhan dipicu oleh pembukaan area baru, penawaran tarif yang kompetitif, dan akses data dengan kualitas tinggi. Strategi ini akan diteruskan pada tahun ini,” ungkapnya di Jakarta belum lama ini.

Diungkapkannya, Tri yang berdiri empat tahun lalu telah melayani 81 persen populasi penduduk Indonesia dengan hadir di 3.200 kecamatan di 24 provinsi yang tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Kalimantan, dan Sulawesi dengan dukungan 12.000 BTS.

Head of Marketing Tri Mustafa Kapasi menambahkan, fokus utama perseroan menumbuhkan basis pelanggan agar bisa menjadi salah satu dari empat operator terbesar Indonesia.

“Dilihat dari pendapatan, mungkin Tri mendapat keuntungan lebih kecil dibandingkan operator lain, karena kami memberikan tarif lebih murah. Jika objektif itu sudah berhasil diwujudkan, barulah kami akan memikirkan cara untuk meningkatkan keuntungan,” jelas Mustafa tanpa menyebut pendapatan yang diraih tahun lalu.

Pesaing terdekat Tri, Axis ternyata juga mengalami pertumbuhan yang luar biasa dalam raihan pelanggan. VP Sales and Distribution Axis Syakieb A Sungkar mengungkapkan pertumbuhannya yang dialami sebesar 50 persen alias dari 6 juta menjadi 9 juta pada akhir 2010. Sedangkan jumlah BTS yang dimiliki sebesar 10 ribu dimana 6 ribu milik sendiri dan 4 ribu kerjasama dengan XL Axiata.

“Kami mengalami peningkatan pendapatan sebesar 100 persen dibandingkan 2009 dimana kontributor utama dari data yang tumbuh 261 persen. Dari 9 juta pelanggan yang ada, sebanyak 60 persen aktif melakukan isi ulang,” katanya tanpa menyebut nominal rupiah.

Sedangkan Deputy CEO Commercial Smart Telecom Djoko Tata Ibrahim mengungkapkan, koalisi pemasaran yang dibangun dengan Mobile-8 dengan nama dagang SmartFren belum optimal karena target 10 juta pelanggan belum teraih.

SmartFren hanya meraup 6,5 jutaan pelanggan dimana Smart memiliki 3,8 juta nomor dan Fren 2,7 juta nomor. Saat koalisi diumumkan Smart mempunyai 2,5 juta pelanggan dan Fren 3,5 juta nomor.

”Smart dan Fren akan bersinergi terus untuk memperluas jaringan, dan paket layanan baik untuk suara, SMS, dan data,” katanya.

Dijelaskannya, sebagai satu-satunya pemain di spketrum 1.900 Mhz, perseroan akan mengoptimalkan bandwitdh untuk jasa data. ”Persaingan jasa data saat ini memang tinggi antar operator, tapi Smart berusaha untuk menjadi yang pertama dalam pasar ini. Berada di spektrum 1.900 MHz menjadikan Smart bisa memberikan dedicated channel untuk data sehingga tidak ada interfensi dari pemakaian suara,” katanya.

Diragukan
Melihat raihan yang dicapai oleh pemain medioker. Para pengamat telekomunikasi menjadi ragu mengingat dari sisi biaya pemasaran dana yang digelontorkan tidak sebesar tiga besar (Telkomsel, Indosat, dan XL) namun akuisisi pelanggan lumayan besar.

Untuk diketahui, menurut catatan Nielsen Belanja iklan industri telekomunikasi di Indonesia sepanjang 2010 didominasi Telkomsel dengan total belanja 1,5 triliun rupiah. Sedangkan Indosat dan XL masing-masing mengelurkan belanja iklan sebesar 639 miliar dan 631 miliar rupiah. Telkomsel pada 2010 mendapatkan 13 juta pelanggan baru, sementara XL sebanyak 8,7 juta.

”Saya rasa angka yang dipaparkan pemain kecil dengan menafikan penghapusan nomor yang tidak aktif. Soalnya sehari rate rata-rata akuisisi per operator ada di titik 200 ribuan nomor jika mengacu pada data tiga pemain besar,” ungkap Pengamat telekomunikasi Teguh Prasetya.

Diakuinya, untuk operator seperti Tri memang memiliki penawaran tarif data yang menarik sehingga mampu mengakuisisi pasar. Sayangnya, untuk isi ulang dari kartu itu sangat minim karena pelanggan lebih mencari bonus dari kartu perdana, apalagi di pasar kartu perdana Tri dijual lebih murah dari harga banderol. Sementara untuk Axis yang banyak bermain di jasa suara dan SMS malah menunjukkan lebih tinggi tingkat isi ulang dilakukan oleh pelanggan.

”Sebenarnya yang dilihat dari satu operator itu ada pertumbuhan atau tidak di sisi pendapatan. Sayangnya, operator medioker jarang ungkap data keuangannya,” katanya.

Masih menurut Teguh, tantangan yang dihadapi pemain medioker cukup berat karena dilihat dari jumlah pengguna seluler sendiri tahun ini sudah mendekati saturasi, disamping itu lahan yang dimasukin sangat capital intensive dimana cakupan menjadi issue utama. ”Paling nanti hanya akan menjadi Mobile Virtual Network Operation (MVNO) dari tiga besar,” katanya.

Pengamat teekomunikasi lainnya, Bayu Samudiyo menyarankan agar tidak ada lagi kosmetik jumlah pelanggan di industri yang bisa membingungkan investor atau regulator dilakukan standarisasi cara penghitungan pengguna.

Perhitungan dilakukan dengan melihat pengguna yang aktif melakukan call/sms/data pada saat dilakukan kalkulasi rata-rata dalam sebulan. ”Ini akan bisa menghilangkan dimasukkannya kartu semu karena penawaran pemasaran yang membuat kartu aktif selamanya walaupun itu membebani jaringan,” tegasnya.

Pada kesempatan lain, Manager Brand Management simPATI T. Ferdi Febrian mengatakan, fokus utama dari Telkomsel adalah dua pemain besar (Indosat dan XL), tetapi melihat agresifitas yang ditunjukkan medioker memaksa perseroan tetap waspada.

”Pemain kecil biasanya agresif di tarif terutama untuk jasa data karena jaringannya masih kosong. Kalau jasa suara dan SMS tidak akan terlalu dilirik pasar karena kalah dari sisi jangkauan,” katanya.

Brand Manager IM3 Andre Reynaldi menjelaskan operator kecil punya nilai lebih dari sisi tarif, tapi kekurangan di sisi jaringan dan komunitas on net.”Segmen yang cari tarif murah pasti akan coba-coba operator kecil ini. Operator besar harus bisa menutupi kekurangan dari sisi tarif, minimal tarif tetap dipersepsikan murah walaupun tidak semurah operator kecil sambil mengutilisasikan kelebihan lain yang dimiliki,” katanya.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s