010311 Sembilan Maskapai Lolos dari Tudingan Kartel

JAKARTA—Sembilan maskapai dalam negeri dinyatakan lolos dari tudingan melakukan kesepakatan menetapkan harga untuk biaya tambahan bahan bakar (Fuel Surcharge) yang dilontarkan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) setelah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Senin (28/2) dalam persidangan menyatakan pelaku usaha tidak terbukti melanggar UU Anti Persaingan Tidak Sehat.

Sembilan maskapai itu antara lain PT Garuda Indonesia, PT Sriwijaya Air, PT Merpati Nusantara Airlines, PT Mandala Airlines, PT Travel Express Aviation Service, PT Lion Mentari Airlines, PT Wings Abadi Airlines, PT Metro Batavia, dan PT Kartika Airlines.

“Mengabulkan permohonan pemohon dan membatalkan seluruh putusan KPPU No.25/KPPU-1/2009,” kata ketua majelis Yulman di PN Jakpus di Jakarta, Senin (28/2).

Menurut majelis hakim, banyak faktor yang menentukan harga fuel surcharga yaitu harga internasional dan nilai tukar rupiah tetapi mereka membeli ke satu produsen yaitu Pertamina.

Hal ini membuat tidak dapat dipastikan sebagai kesepakatan yang memenuhi unsur monopoli sesuai diatur dalam Pasal 5 UU No 5/2009

Menanggapi hal itu, Plh. Kepala Biro Humas dan Hukum KPPU Zaki Zein Badroen mengatakan, harus mempelajari terlebih dahulu putusan yang dibuat oleh PN Jakpus sebelum menentukan langkah selanjutnya. “Opsi untuk melakukan kasasi ada di Komisi. Kami tunggu dulu putusan itu dikirim untuk dipelajari,” katanya.

Juru bicara Garuda Indonesia, Pujobroto, mengatakan Garuda dibebaskan karena tidak terbukti melakukan praktek kartel penetapan fuel surcharge. “Keberatan kami diterima majelis hakim dengan salah satu amarnya telah membatalkan putusan KPPU,” ujar Pujo

Secara terpisah, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Herry Bhakti S. Gumay mengatakan, putusan tersebut memang sudah seharusnya karena maskapai memang tidak melakukan kartel.

Dijelaskannya, fuel surcharge saat ini sudah termasuk dalam Keputusan Menteri Nomor 26 Tahun 2010 tentang Penetapan Tarif Batas Atas untuk Angkutan Udara Niaga Berjadwal. Dalam pasal 7 ayat 2 dikatakan perubahan tarif akan terjadi jika avtur mencapai lebih dari 10 ribu rupiah dalam jangka waktu tiga bulan berturut-turut.

Dengan perubahan tersebut, kata dia, pemerintah akan melakukan evaluasi terhadap besaran tarif atau menerapkan surcharge yang ditetapkan melalui Peraturan Menteri Perhubungan. “Kalau lebih dari Rp 10 ribu, bisa dievaluasi keputusan tersebut,” katanya.

Dengan kondisi seperti ini, Herry mengatakan, kementerian akan melihat kembali apakah bakal merevisi KM Nomor 26 Tahun 2010 atau memasukkan fuel surcharge dalam tarif. “Nanti dilihat lagi hal itu. Ini tergantung situasi harga minyak dunia,” ujarnya.

Sedangkan Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association (INACA), Tengku Burhanuddin, merasa senang dengan putusan pengadilan tersebut. “Memang sudah seharusnya seperti itu,” ujar Tengku.

Untuk saat ini, kata dia, harga minyak dunia yang fluktuatif mempengaruhi harga avtur untuk pesawat. Jika harga minyak melebihi dari ketentuan yang berlaku, yaitu 10 ribu rupiah, pihaknya akan membicarakan kembali dengan pemerintah apakah akan merevisi aturan yang telah diberlakukan sejak 2010 itu.

Kondisi minyak dunia yang fluktuatif seperti saat ini, Tengku mengharapkan, pemerintah mengatur fuel surcharge ketimbang merevisi tarif yang ada di KM Nomor 26 Tahun 2010.

Sebelumnya, KPPU pada Mei 2010 menghukum 9 maskapai nasional harus memberikan ganti rugi ke konsumennya akibat menikmati tarif terlalu tinggi dari penetapan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) selama periode 2006-2009.

Kesembilan maskapai itu berikut masing-masing ganti rugi yang harus dikeluarkan adalah Garuda Indonesia (Rp 25 miliar), Sriwijaya Air (Rp 9 miliar), Merpati Nusantara Airlines (Rp 8 miliar), Mandala Airlines (Rp 5 miliar), Travel Express Aviation Service (Rp 1 miliar), Lion Air (Rp 17 miliar), Wings Air ( Rp 5 miliar), Kartika Airlines (Rp 1 miliar), dan Batavia Airlines (Rp 9 miliar). Ganti rugi itu dihitung dari total kerugian konsumen selama periode 2006-2009 sekitar 5,81 hingga 13,8 triliun rupiah.[dni]

010311 Berlomba Dipersepsikan Termurah

Sejak biaya interkoneksi dipangkas 40 persen tiga tahun lalu, semua pemain di sektor telekomunikasi berlomba-lomba mendapatkan persepsi termurah di mata pelanggannya.

Industri telekomunikasi memang anomali. Jika di sektor transportasi terkenal istilah ada harga, ada rupa yang berarti harga mahal mencerminkan kualitas layanan yang tinggi. Tidak demikian di telekomunikasi. Harga murah, namun kualitas tetap tinggi. Setidaknya ramuan ini dipercaya bisa memikat hati masyarakat.

Lihatlah aksi terbaru yang dilakukan oleh pemain Fixed Wireless Access (FWA) Telkom Flexi melalui program Flexi Bebas Bicara dengan tarif Rp 0,- ke sesama pelanggan (on-net) tanpa syarat apapun untuk memanjakan penggunanya.

Program yang berlaku mulai Jumat 25 Pebruari hingga Desember 2011 ini dapat digunakan pelanggan Flexi baik Prabayar (Trendy) maupun Pascabayar (Classy) di wilayah Jabodetabek Serang, Karawang, Purwakarta (Sekapur), Rangkasbitung, Pandeglang, dan Banten.

Executive General Manager Telkom Flexi, Mas’ud Khamid menjelaskan tujuan utama dibuatnya program pemasaran ini untuk memperkokoh positioning dari Flexi sebagai operator jasa telekomunikasi paling irit dan menguji kapabilitas jaringan.

“Kami baru saja selesai melakukan pembenahan sebagian besar jaringan dan infrastuktur. Selama ini Base Transceiver Station (BTS), Base Station Controller (BSC), dan Mobile Switching Controller (MSC) dihubungkan dengan radiolink, sekarang diganti dengan serat optik. Perubahan ini signifikan menaikkan kualitas dan kapasitas,” jelasnya di Jakarta, Senin (28/2).

Bagi 4 juta pelanggan di Jabodetabek, Sekapur, Rangkasbitung, Pandeglang, dan Banten yang ingin menikmati program Flexi Bebas Bicara dapat mengakses tanpa syarat apapun dan registrasi. Pengguna Flexi bisa nelpon seharian penuh selama 24 jam tanpa time band.

Selain gratis melakukan percakapan lokal ke sesama, pengguna Flexi juga bisa menikmati gratis nelpon Sambungan Langsung Jarak Jauh (SLJJ) antar kode area tersebut. Sementara, bagi pelanggan Flexi lain yang melakukan Combo di dalam wilayah program ini dapat ikut menikmati benefit dari program Flexi Bebas Bicara Rp 0,-.

Mas’ud mengharapkan, pelanggan Flexi pada 2011 bisa tumbuh sekitar 10-11 persen setelah pada 2010 berhasil memikat 18 juta pengguna dengan rata-rata penggunaan per pelanggan (Average Revenue Per User/ARPU) sekitar Rp 30 ribu per bulan.

“Kami lebih optimistis menatap tahun ini karena jaringan semakin modern sehingga bisa menggarap mobile broadband lebih serius selain suara dan SMS,” tegasnya.

Pengamat telekomunikasi Bayu Samudiyo mengatakan, pameo ada harga, ada rupa tetap berlaku khususnya untuk layanan data karena penggunanya sangat mementingkan kualitas. “Operator harus berhati-hati menurunkan harga. Harga dipangkas harus disertai strategi pendukung. Jika tidak ada nilai tambah menyertai, akan sia-sia saja,” katanya.

Pelanggan pun, lanjutnya, harus lebih teliti melihat penawaran yang diberikan operator dengan masuk ke situs resminya dan melihat persyaratan yang diminta secara lengkap dari program pemasaran.

Pengamat telekomunikasi lainnya, Guntur S Siboro mengungkapkan, kelompok terbawah di paramida sosial alias segmen C dan D masih potensial digarap oleh operator sehingga persepsi memiliki harga termurah dibutuhkan sebagai senjata utama untuk mengakusisi pasar.

“Segmen ini sangat sensitif dengan harga. Beda satu sen saja bisa langsung pindah. Sekarang tinggal strategi operatornya, mau habis-habisan menggarap segmen ini atau fokus menaikkan produktifitas pelanggan lama,” jelasnya.[dni]

010311 Telkom Raih Omset Rp 67,18 triliun

JAKARTA—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) diperkirakan selama 2010 meraih omset senilai 65,89 triliun hingga 67,18 triliun rupiah atau tumb uh dua hingga empat persen dibandingkan periode 2009 sebesar 64,6 triliun triliun rupiah.

“Pada tahun lalu kami hanya mengalami kenaikan omset tipis sebesar dua hingga empat persen karena anak usaha (Telkomsel) yang menjadi kontributor utama selama ini juga mengalami kenaikan yang kecil,” ungkap Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah di Jakarta, Senin (28/2).

Berdasarkan catatan, Telkomsel pada 2009 meraih pendapatan sekitar 40 triliun rupiah dengan jumlah pelanggan 82 juta nomor. Target pada 2010 adalah mendapatkan omset 44 triliun rupiah dengan jumlah pelanggan 100 juta nomor.

Namun, pada 2010 pertumbuhan omset hanya di bawah 4 persen atau sekitar 41,6 triliun rupiah dengan raihan 95 juta pelanggan. Sedangkan laba bersih hanya 11,326 triliun rupiah atau turun 13,6 persen dibandingkan 2009 sebesar 13,16 triliun rupiah

Rinaldi menjelaskan, tertekannya pertumbuhan dari Telkomsel karena menjelang tutup tahun banyak menerapkan gimmick pemasaran yang memberikan bonus sehingga trafik tinggi tetapi sumbangan ke pendapatan tidak signifikan.

“Telkomsel akan dibenahi. Saya minta untuk lebih kreatif karena di seluler itu pasarnya kian kompetitif. Apalagi pada tahun ini pertumbuhan industri tidak sebesar beberapa tahun lalu,” jelasnya.

Berkaitan dengan kinerja perseroan secara keseluruhan, Rinaldi menjelaskan, hingga saat ini pihaknya masih merampungkan proses audit dan diharapkan laporan keuangan akan selesai dalam beberapa waktu ke depan.

Selanjutnya diungkapkan, pada tahun ini perseroan akan mengalokasikan belanja modal sebesar 17 triliun rupiah. Apabila rencana akuisisi dipertimbangkan, alokasi untuk belanja modal Telkom bisa mencapai 20 triliun rupiah.

“Salah satu ekspansi yang dilakukan adalah membeli salah satu pemain seluler di Kamboja. Sekarang masih dalam tahap negosiasi. Harus diingat, perusahaan itu milik swasta jadi jadwalnya lebih longgar,” jelasnya.

Sedangkan untuk nasib unit usaha Fixed Wireless Access (FWA) Telkom Flexi, Rinaldi menegaskan, akan dikembangkan dulu agar nilainya di pasar kian tinggi.

“Setelah itu baru kita bicara aksi korporasi lanjutannya. Soal pembicaraan dengan PT Bakrie Telecom (BTEL) untuk mengonsolidasikannya ditunda dulu,” katanya.

Sementara terkait isu PT Indosat Tbk (Indosat) akan melepas unit usaha FWA-nya (StarOne) Rinaldi menegaskan jika hal itu yang dilakukan oleh anak usaha Qatar Telecom itu, perseroan siap menjadi peminat pertama. “Kami antusias sekali jika itu memang terjadi. Masalahnya sejauh ini belum ada sinyal jelas dari pihak sana (Indosat),” tegasnya.

Sebelumnya Presiden Direktur Indosat Harry Sasongko mengungkapkan, perseroan siap melakukan utilisasi aset StarOne yang terkesan tidur selama ini.

“Apapun itu wacana yang menguntungkan perusahaan akan dieksplorasi. Kita masih melakukan kajian untuk mengoptimalkan aset yang ada,” katanya.[dni]

010311 Melepas Stigma Medioker

Denyut jantung operator yang memiliki jumlah pelanggan kecil atau medioker ternyata masih berdetak kencang untuk berkompetisi pada tahun ini.

Walaupun banyak analis pasar memprediksi pertumbuhan sektor telekomunikasi hanya 9 persen dan kompetisi kian ketat, tetapi para punggawa kaum medioker masih optimistis menatap masa depan.

Presiden Direktur Hutchison CP Telecommunications (HCPT) Manjot Mann mengungkapkan, sebagai pemilik merek dagang Tri berhasil meraih 16 juta pelanggan selama tahun lalu atau tumbuh 100 persen dibandingkan posisi 2009 sebesar 8 juta pelanggan.

“Pertumbuhan dipicu oleh pembukaan area baru, penawaran tarif yang kompetitif, dan akses data dengan kualitas tinggi. Strategi ini akan diteruskan pada tahun ini,” ungkapnya di Jakarta belum lama ini.

Diungkapkannya, Tri yang berdiri empat tahun lalu telah melayani 81 persen populasi penduduk Indonesia dengan hadir di 3.200 kecamatan di 24 provinsi yang tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Kalimantan, dan Sulawesi dengan dukungan 12.000 BTS.

Head of Marketing Tri Mustafa Kapasi menambahkan, fokus utama perseroan menumbuhkan basis pelanggan agar bisa menjadi salah satu dari empat operator terbesar Indonesia.

“Dilihat dari pendapatan, mungkin Tri mendapat keuntungan lebih kecil dibandingkan operator lain, karena kami memberikan tarif lebih murah. Jika objektif itu sudah berhasil diwujudkan, barulah kami akan memikirkan cara untuk meningkatkan keuntungan,” jelas Mustafa tanpa menyebut pendapatan yang diraih tahun lalu.

Pesaing terdekat Tri, Axis ternyata juga mengalami pertumbuhan yang luar biasa dalam raihan pelanggan. VP Sales and Distribution Axis Syakieb A Sungkar mengungkapkan pertumbuhannya yang dialami sebesar 50 persen alias dari 6 juta menjadi 9 juta pada akhir 2010. Sedangkan jumlah BTS yang dimiliki sebesar 10 ribu dimana 6 ribu milik sendiri dan 4 ribu kerjasama dengan XL Axiata.

“Kami mengalami peningkatan pendapatan sebesar 100 persen dibandingkan 2009 dimana kontributor utama dari data yang tumbuh 261 persen. Dari 9 juta pelanggan yang ada, sebanyak 60 persen aktif melakukan isi ulang,” katanya tanpa menyebut nominal rupiah.

Sedangkan Deputy CEO Commercial Smart Telecom Djoko Tata Ibrahim mengungkapkan, koalisi pemasaran yang dibangun dengan Mobile-8 dengan nama dagang SmartFren belum optimal karena target 10 juta pelanggan belum teraih.

SmartFren hanya meraup 6,5 jutaan pelanggan dimana Smart memiliki 3,8 juta nomor dan Fren 2,7 juta nomor. Saat koalisi diumumkan Smart mempunyai 2,5 juta pelanggan dan Fren 3,5 juta nomor.

”Smart dan Fren akan bersinergi terus untuk memperluas jaringan, dan paket layanan baik untuk suara, SMS, dan data,” katanya.

Dijelaskannya, sebagai satu-satunya pemain di spketrum 1.900 Mhz, perseroan akan mengoptimalkan bandwitdh untuk jasa data. ”Persaingan jasa data saat ini memang tinggi antar operator, tapi Smart berusaha untuk menjadi yang pertama dalam pasar ini. Berada di spektrum 1.900 MHz menjadikan Smart bisa memberikan dedicated channel untuk data sehingga tidak ada interfensi dari pemakaian suara,” katanya.

Diragukan
Melihat raihan yang dicapai oleh pemain medioker. Para pengamat telekomunikasi menjadi ragu mengingat dari sisi biaya pemasaran dana yang digelontorkan tidak sebesar tiga besar (Telkomsel, Indosat, dan XL) namun akuisisi pelanggan lumayan besar.

Untuk diketahui, menurut catatan Nielsen Belanja iklan industri telekomunikasi di Indonesia sepanjang 2010 didominasi Telkomsel dengan total belanja 1,5 triliun rupiah. Sedangkan Indosat dan XL masing-masing mengelurkan belanja iklan sebesar 639 miliar dan 631 miliar rupiah. Telkomsel pada 2010 mendapatkan 13 juta pelanggan baru, sementara XL sebanyak 8,7 juta.

”Saya rasa angka yang dipaparkan pemain kecil dengan menafikan penghapusan nomor yang tidak aktif. Soalnya sehari rate rata-rata akuisisi per operator ada di titik 200 ribuan nomor jika mengacu pada data tiga pemain besar,” ungkap Pengamat telekomunikasi Teguh Prasetya.

Diakuinya, untuk operator seperti Tri memang memiliki penawaran tarif data yang menarik sehingga mampu mengakuisisi pasar. Sayangnya, untuk isi ulang dari kartu itu sangat minim karena pelanggan lebih mencari bonus dari kartu perdana, apalagi di pasar kartu perdana Tri dijual lebih murah dari harga banderol. Sementara untuk Axis yang banyak bermain di jasa suara dan SMS malah menunjukkan lebih tinggi tingkat isi ulang dilakukan oleh pelanggan.

”Sebenarnya yang dilihat dari satu operator itu ada pertumbuhan atau tidak di sisi pendapatan. Sayangnya, operator medioker jarang ungkap data keuangannya,” katanya.

Masih menurut Teguh, tantangan yang dihadapi pemain medioker cukup berat karena dilihat dari jumlah pengguna seluler sendiri tahun ini sudah mendekati saturasi, disamping itu lahan yang dimasukin sangat capital intensive dimana cakupan menjadi issue utama. ”Paling nanti hanya akan menjadi Mobile Virtual Network Operation (MVNO) dari tiga besar,” katanya.

Pengamat teekomunikasi lainnya, Bayu Samudiyo menyarankan agar tidak ada lagi kosmetik jumlah pelanggan di industri yang bisa membingungkan investor atau regulator dilakukan standarisasi cara penghitungan pengguna.

Perhitungan dilakukan dengan melihat pengguna yang aktif melakukan call/sms/data pada saat dilakukan kalkulasi rata-rata dalam sebulan. ”Ini akan bisa menghilangkan dimasukkannya kartu semu karena penawaran pemasaran yang membuat kartu aktif selamanya walaupun itu membebani jaringan,” tegasnya.

Pada kesempatan lain, Manager Brand Management simPATI T. Ferdi Febrian mengatakan, fokus utama dari Telkomsel adalah dua pemain besar (Indosat dan XL), tetapi melihat agresifitas yang ditunjukkan medioker memaksa perseroan tetap waspada.

”Pemain kecil biasanya agresif di tarif terutama untuk jasa data karena jaringannya masih kosong. Kalau jasa suara dan SMS tidak akan terlalu dilirik pasar karena kalah dari sisi jangkauan,” katanya.

Brand Manager IM3 Andre Reynaldi menjelaskan operator kecil punya nilai lebih dari sisi tarif, tapi kekurangan di sisi jaringan dan komunitas on net.”Segmen yang cari tarif murah pasti akan coba-coba operator kecil ini. Operator besar harus bisa menutupi kekurangan dari sisi tarif, minimal tarif tetap dipersepsikan murah walaupun tidak semurah operator kecil sambil mengutilisasikan kelebihan lain yang dimiliki,” katanya.[dni]

010311 Pengembang Aplikasi Butuh Akses Broadband

JAKARTA—Para pengembang aplikasi membutuhkan akses broadband yang stabil dari operator agar produknya nyaman digunakan masyarakat.

”Kami membutuhkan akses broadband dengan kecepatan yang tinggi dan stabil dari para operator untuk memasarkan aplikasi. Saat ini sangat banyak aplikasi yang diletakkan di-Cloud (Internet) dimana untuk menggunakannya sangat membutuhkan koneksi internet dengan kecepatan yang tinggi dan stabil,” ungkap Business Unit Executive Lotus Software, IBM Software Group John Mullins di Jakarta, belum lama ini.

Diungkapkannya, perseroan telah mengumumkan rencananya untuk menawarkan LotusLive Symphony versi berkemampuan internet. Platform office productivity suite itu menjadikan satu perusahaan dapat memiliki sebuah platform sosial yang memungkinkan untuk berkolaborasi
secara bersama-sama pada berbagai dokumen di internet.

Hal yang membedakan LotusLive Symphony adalah pengintegrasiannya yang ketat dengan layanan awan bisnis sosial IBM, LotusLive. Hal ini membantu perusahaan untuk secara mudah untuk mengadakan pertemuan, baik dengan penulis dokumen yang di dalam maupun di luar firewall perusahaan.

Para penulis LotusLive Symphony akan dapat mengedit dokumen bersama-sama atau sendiri-sendiri secara real-time, meyimpan dan berbagi dokumen di LotusLive, memberikan komentar, melakukan chatting dan mengelola revisi bersama penulis lainnya secara real-time, serta menugaskan dan mengelola bagian-bagian dan pekerjaan beberapa penulis.
Teknologi ini diharapkan akan tersedia untuk umum di semester kedua 2011.

Salah satu pengguna Lotus Live Engage dari IBM , PT Bumbu Desa, yang menggunakan solusi untuk sistem pelaporan dan pertukaran informasi antar cabangnya untuk mentransformasi bisnisnya menjadi lebih efisien mengakui, koneksi internet yang disediakan oleh opertaor di waktu dan area tertentu sering menurun kualitasnya. ”Biasanya kami akali melalui adaptasi dengan jam terkoneksi internet dimana trafik tidak terlalu padat,” ungkap Managing Director PT Bumbu Desa Tendi Naim.

Sayangnya, walau sudah banyak menawarkan aplikasi ke perusahaan di Indonesia, Country Manager Indonesia, IBM Software Group Nina K Wirahadikusumah mengatakan untuk membangun data center di Indonesia membutuhkan banyak pertimbangan. ”Indonesia masih minim infrastruktur pendukung seperti listik yang stabil. Jika pemerintah ingin banyak data center di bangun di Indonesia, sebaiknya faslitas pendukung diperbaiki dulu,” jelasnya.[dni]

010311 Telkom Segera Komersialkan IPTV

JAKARTA—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) segera mengomersialkan layanan TV berbasis internet protocol (IPTV) pada bulan Mei nanti di wilayah Jakarta guna menghadirkan jasa triple play (Internet, TV, dan Telepon) bagi pelanggannya.

“Kami saat ini sedang melakukan uji coba eksternal kepada 100 pelanggan terpilih di area Jakarta. Sesuai jadwal, pada Mei nanti IPTV akan dikomersialkan ke pelanggan di Jakarta,” ungkap Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah di Jakarta, Senin (28/2).

Diungkapkannya, untuk menggelar layanan tayangan televisi interaktif beresolusi tinggi (High Definition/HDTV) itu perseroan menggelontorkan dana sebesar 50 miliar rupiah untuk membeli perangkat pendukung seperti Set top box dan lainnya. “Untuk penggantian kabel tembaga ke serat optik dilakukan oleh PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Inti),” jelasnya.

Untuk diketahui, Telkom memiliki kabel tembaga melayani 9 juta pelanggan telepon kabel.Proyek pergantian seluruh kabel diperkirakan mencapai 3,5 triliun rupiah dan butuh waktu 10 tahun.

Dikatakannya, saat ini jaringan milik 300 ribu pelanggan di Jakarta telah siap dihantarkan oleh data sebesar 10 Mbps sesuai standar layanan IPTV ketika Mei nanti dikomersialkan. Sedangkan hingga akhir tahun ini diperkirakan ada satun juta jaringan di Jakarta yang siap menghantarkan data sebsesar 6 Mbps. “Di Jakarta ada tiga juta pelanggan jaringan tembaganya diganti dengan serat optik. Itu membutuhkan waktu sekitar tiga tahun. Di Jakarta PT Inti dibantu oleh LEN,” jelasnya.

Diharapkannya, selain memberikan sesuatu yang baru bagi pelanggan, pendapatan peseroan juga terangkat karena jasa ini dalam pencatatan keuangan dimasukkan ke bisnis new wave.

“Pada tahun lalu New Wave di laporan keuangan belum dikonsolidasi menyumbang 23 persen bagi total pendapata. Sedangkan yang terkonsolidaswi sekitar 10 persen. Kita harapkan tahun ini bsia naik jadi 11 persen,” katanya.

Direktur Konsumer Telkom I Nyoman G Wiryanata menambahkan, layanan IPTV tidak akan menggerus pasar TV kabel yang dimiliki oleh anak usaha Telkomvision karena keduanya memiliki segmen dan karakteristik berbeda.

“IPTV ini layanannya interaktif dimana pelanggan bisa melakukan content on demand, karaoke, dan game online. Ini berbeda dengan TV kabel biasa yang searah dan jadwal tayang ditentukan oleh broadcaster,” katanya.

Nyoman menegaskan, perseroan sudah melakukan studi yang mendalam kala mempersiapkan layanan ini. “Kami sudah menyiapkan beberapa paket pemasaran sesuai best practice yang terjadi di luar negeri. Gunanya uji coba ini untuk mengetahui respons pasar dari setiap layanan yang diberikan,” katanya.[dni]

010311 Pelanggan BlackBerry Tetap Tumbuh 100%

JAKARTA–Pelanggan BlackBerry di Indonesia diyakini tetap tumbuh 100 persen pada tahun ini walau perangkat dengan sistem operasi Android mulai unjuk gigi.

“Kajian yang dilakukan oleh prinsipal Research In Motion (RIM) menunjukkan masih tinggi potensi pengguna BlackBerry di Indonesia. Tahun ini diperkirakan tetap tumbuh dobel digit dari sekitar 2,2 juta pelanggan pada 2010 bisa naik menjadi 4,4 atau 4,6 juta pengguna,” ungkap Senior Manager MDS BlackBerry XL Axiata Oni P. Marbun di Jakarta, Senin (28/3).

Dijelaskannya, karakter pengguna BlackBerry berbeda dengan platform lainnya dimana berada di pasar yang niche dan sangat menuntut nilai yang tinggi dari setiap penawaran pemasaran milik operator. “Pengguna BlackBerry itu mengutamakan kualitas. selain itu untuk hiburan agak kurang, misalnya diberikan bonus game online tidak akan dilirik itu,” jelasnya.

Dikatakannya, perseroan untuk mempertahankan pertumbuhan yang sejalan dengan industri maka menawarkan sesuatu yang sesuai dengan kebutuhan 750 ribu pengguna BlackBerry-nya.

Terobosan terbaru adalah Paket XL BlackBerry 3 in 1 dimana menawarkan paket berlangganan 125 ribu rupiah per bulan dengan bonus gratis menelpon tak terbatas 24 jam ke 3 nomor XL yang didaftarkan ke semua nomor termasuk nomor selain XL. Promo baru ini berlaku secara nasional mulai 28 Februari hingga 28 Mei 2011. Paket ini diklaim bisa membuat pelanggan menghemat pengeluaran komunikasi 40 persen ketimbang berlangganan BlackBerry terpisah dengan jasa suara dan SMS.

“Kami tetap membidik pertumbuhan pengguna BlackBerry 100 persend ari 750 ribu menjadi 1,5 juta pengguna. Ini agar posisi nomor dua di segmen BlackBerry bisa dipertahankan dengan menguasai 33 persen pangsa pasar. Soal kapasitas bandwitdh tidak da masalah karena sekarang sudah mencapai 1 Gbps,” katanya.

Diharapkannya, program baru tersebut bisa mempertahankan pelanggan BlackBerry lama yang ada di jaringan XL dan menggoda pengguna dari operator lainnya. “Tentu kita juga berharap ada akuisis dari pelanggan baru di pasar,” tegasnya.[dni]