280211 Lion Air Minta Jaminan Investasi

JAKARTA—PT Lion Mentari Airlines (Lion Air) meminta jaminan investasi dari pembangunan hangar miliknya sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap komitmen memajukan industri penerbangan.

“Kami membutuhkan jaminan investasi dari dana yang dikeluarkan. Kami tidak mau kejadian seperti di Menado terulang,” tegas Direktur Utama Lion Air Rusdi Kirana di Jakarta, akhir pekan lalu.

Diungkapkannya, perseroan sebelumnya sudah memiliki komitmen memulai  bisnis pemeliharaan pesawat dengan menyiapkan  dana sebesar 30-40 juta dollar AS untuk   membangun hanggar di Bandara Sam Ratulangi, Manado.

“Dana sebesar tujuh miliar rupiah sudah dikeluarkan untuk proyek ini. Sekarang investasi itu belum jelas nasibnya karena adanya perubahan di organisasi satu perusahan,” tukasnya.

Menurut Rusdi, rencananya   membangun hangar perawatan pesawat di Manado batal, lantaran terganjal keinginan AP I   meminta kepemilikan saham mayoritas. Padahal, maskapai itu  sudah membeli tanah seluas 12 hektare (ha) di sebelah Bandara Sam Ratulangi Manado.  Lion  juga telah melakukan pembebasan tanah dari masyarakat untuk pembangunan jalan raya.

Dijelaskannya, dipilihnya lokas Menado untuk berinvestasi karena sebelumnya sudah ada dukungan dari Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) untuk mendukung perseroan embangun hanggar di area tersebut. Bahkan, Memorandum Of Understanding (MoU) sudah ditandantangani dengan direksi Angkasa Pura I dua tahun lalu.

”Sekarang tiba-tiba direksi baru AP I bilang tidak bisa membuka pagar untuk akses karena melanggar regulasi. Kalau begini komitmen yang lama dikemanakan,” katanya.

Dikatakannya, walaupun AP I menawarkan solusi untuk membangun hanggar di bekas lahan Bandara Udara Makassar lama itu juga bukan jalan keluar sebelum adanya jaminan kepastian investasi.

”Bandara itu sebagian aset pemerintah. Sudah mendapat izin belum dari kementrian keuangan untuk mengubah aset. Selain itu,kami juga minta AP I mengklarifikasi dengan Gubernur Sulut soal hal ini, agar tidak ada salah pengertian,” tegasnya.

Secara terpisah, Dirjen Perhubungan Udara Herry Bhakti S Gumay meminta Lion dan AP I duduk satu meja untuk membahas masalah pembangunan hanggar tersebut. ”Jangan dibahas via media,” katanya.

Dijelaskannya, sesuai regulasi memang harus ada kerjasama dengan Badan Usaha Pengelola Bandara untuk membuka akses ke prasarana udara.  ”Soal adanya kepemilikan saham itu tidak ada haknya badan pengelola meminta. Sebenarnya ini bisa dicarikan jalan keluar dengan menawarkan konsesi,” katanya.

Sedangkan Pengamat penerbangan niaga nasional, Arista Atmadjati meminta kedua belah pihak untuk berfikir kepentingan nasional ketimbang perseroan. ”Harus dilihat manfaat dari adanya pusat perawatan pesawat di Menado itu sebagai transfer teknologi dirgantara di kawasan timur Indonesia. Jika Makassar dijadikan pusat perawatan akan menyulitkan Lion karena terlalu jauh dari rute yang selama ini dilayani anak usahanya di kawasan timur seperti Maluku, Gorontalo, dan lainnya,” katanya.

Sebelumnya, Direktur Utama Angkasa Pura I Tommy Soetomo mengungkapkan, sudah menawarkan bandara udara lama di Makassar  sebagai pusat kegiatan Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) dari bengkel pesawat.

”Kita sudah bicara dengan Garuda Maintenance Facilities (GMF) dan Lion Air. Untuk Lion Air, sebenarnya lebih ideal membangun pusat perawatan di sana ketimbang Menado karena semua fasilitas sudah ada mulai dari apron, runway, dan lainnya,” katanya.

Tommy pun membantah, mempersulit Lion Air untuk membangun pusat perawatan pesawat di Indonesia Timur seperti Menado. “Ini murni masalah negosiasi bisnis. Kami terus bicara dengan Lion Air. Masalahnya, jika keinginan dari Lion Air untuk dibuka akses ke bandara di Menado, itu menyalahi aturan. Dalam regulasi secara jelas dikatakan kawasan bandara dikelola oleh Badan Usaha Pengelola Bandara,” tegasnya.[dni]

260211 Lion Optimistis Omset Tumbuh 15 %

JAKARTA—PT Lion Mentari Airlines (Lion Air) optimistis pendapatannya pada tahun ini mencapai 805 hingga 920 juta dollar AS atau tumbuh 15 persen dibandingkan 2010 sebesar 700-800 juta dollar AS.

“Pada tahun lalu perseroan  menerbangkan 20,5 juta penumpang terdiri dari 19,6 juta penumpang domestik dan 830,1 ribu penumpang internasional. Walau di domestik kami menguasai 38,21 persen dan internasional 12,58 persen  pangsa pasar, tetapi tidak linear dengan omset karena Lion bermain di segmen Low Cost Carrier (LCC),” ungkap Direktur Utama Lion Air Rusdi Kirana di Jakarta, Jumat (25/2).

Diungkapkannya, pertumbuhan pendapatan pada tahun ini dapat dicapai mengingat jumlah penumpang di industri penerbangan akan mengalami peningkatan sekitar 20-25 persen. Pada 2010 total jumlah penumpang domestik sebesar  51.55 juta jiwa dan internasional 6,59 juta jiwa

“Kami tetap akan ekspansi dengan konsep LCC melalui Lion Air atau anak usaha Wings Air. Selama ini kontributor pendapatan utama adalah Lion Air sebesar 90 persen bagi perseroan,” jelasnya.

Dijelaskannya, cara berekspansi adalah dengan menambah jumlah rute yang dilayani dan armada yang digunakan. Terbaru adalah melakukan penandatangan tambahan pembelian 15 unit pesawat jenis Turboprop ATR 72 seri 50  dengan pabrikannya An Alenia Aeronoutica and EADS joint venture. Kerjasama ini melanjutkan nota kesepahaman dua tahun lalu dimana 15 pesawat jenis yang sama  telah dibeli.

Hingga Februari 2011 Wings Air telah menerima dan mengoperasikan 10 pesawat ATR 72 seri 500. Diharapkan lima pesawat lagi akan diterima secara bertahap samapai Agustus 2011. Sedangkan pada 2014 sebanyak 30 unit ATR 72 seri 500 telah dioperasikan.

Pesawat jenis ini telah dioperasikan untuk menerbangi rute-rute dalam negeri seperti Sumatera, Jawa, bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan negara tetangga. Rencanya untuk regional akan diterbangi rute ke Penang dan Singapura melalui Medan serta Pekanbaru.

Sementara jumlah pesawat yang dioperasikan Lion Air sebanyak 63 Unit terdiri dari 44 Boeing 737-900ER, dua Boeing 747-400, empat Boeing 737-300, sembilan Boeing 737-400, dan empat MD-90.

“Investasi untuk 30 unit pesawat ATR 72 seri 500  berikut suku cadang dan simulatornya sekitar 650 juta dollar AS. Sedangkan belanja modal perseroan tahun ini sekitar 1,4 miliar dollar AS diantaranya akan digunakan juga untuk membeli 15 unit pesawat Boeing 737-900 ER,” ungkapnya.

Berkaitan dengan rencana Garuda Indonesia (Garuda)  yang akan bermain di segmen pasar Sub-100 yang merupakan irisan pasar dari Wings Air, Rusdi mengaku tidak khawatir karena potensi pasar masih besar. “Tidak ada masalah Garuda masuk ke segmen tersebut. Justru makin banyak pemain bagus bagi kompetisi. Masyarakat bisa mendapatkan harga tiket yang terjangkau dan kualitas layanan yang makin baik,” katanya.

Chief Executive Officer ATR Filippo Bagnato mengungkapkan, di Indonesia selain Wings Air, maskapai lain yang menggunakan produknya adalah Trigana Air. “Pesawat kami sangat cocok untuk menghubungkan pulau-pulau di Indonesia. Dibandingkan pesawat jet konsumsi bahan bakar lebih hemat 50 persen dan biaya operasional bisa ditekan hingga 40 persen,” katanya.

Rusdi pun mengakui, penggunaan armada baru dan efisien banyak membantu perseroan karena harga bahan bakar pesawat (Avtur) selalu berubah-ubah.

“Seperti sekarang, harga avtur sedang naik-naiknya.  Kami tidak bisa menaikkan harga tiket karena penumpang sangat sensitif harga. Untunglah pesawat yang digunakan semuanya hemat bahan bakr sehingga ada efisiensi yang didapat,” jelasnya.

Indonesia Air Asia
Secara terpisah,  Chief Executive Officer AirAsia Tony Fernandes mengungkapkan,  anak usahanya, Indonesia AirAsia berhasil mencatat pertumbuhan penumpang 13,3 persen dari 3,46 juta pada 2009 menjadi 3,92 juta penumpang pada 2010.

Maskapai tersebut mengoperasikan 18 pesawat dengan rata-rata load factor 77 persen dari total 29.668 penerbangan yang dilakukan. Indonesia AirAsia menyumbang  2,76 triliun rupiah pada 2010, naik 37 persen dibandingkan pendapatan 2009 sebanyak  2,01 triliun rupiah.

“Kinerja  Indonesia AirAsia yang baik pada 2010 telah membuktikan bahwa dua maskapai tersebut berada pada jalur yang tepat untuk melakukan penawaran umum saham perdana (IPO) pada 2011. Kinerja tersebut tentu akan menambah minat investor untuk memiliki saham keduanya,” jelasnya.

Corporate Communication Manager Indonesia AirAsia Audrey Petriny Progastama menambahkan, tahun ini maskapainya menargetkan pendapatan naik 20 persen menjadi  3,3 triliun rupiah. Naiknya target pendapatan, diimbangi dengan menaikkan 12,5 persen target jumlah penumpang dari 4 juta tahun lalu menjadi 4,5 juta penumpang tahun ini.[dni]