240211 Penghentian SMS Spam : Menanti Komitmen Menjaga Kenyamanan Berkomunikasi

Maraknya pengiriman SMS sampah alias informasi yang tidak diinginkan oleh penerima (SMS Spam) ternyata tidak hanya membuat gerah masyarakat, tetapi juga para politisi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR-RI).

Hal itu terlihat dari Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar awal pekan ini yang dihadiri Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) dan para operator telekomunikasi.

Para wakil rakyat yang tergabung di Komisi I DPR-RI mendesak BRTI untuk bisa menghentikan pengiriman SMS Spam dan menyelidiki isu kebocoran 25 juta data pengguna telekomunikasi karena tidak saja mengancam kenyamanan berkomunikasi, tetapi melanggar regulasi seperti UU No 36/99 Pasal 42 ayat 1 dan  Peraturan Menteri Kominfo No. 23/2005 yang benang merahnya menyatakan  data pelanggan tidak bisa disirkulasikan tanpa ada izin.

”Kami memberikan batas waktu sebulan bagi  BRTI untuk berdiskusi dengan Bank Indonesia (BI) menyelesaikan kasus ini. Pembuatan call center dan situs pengaduan hal yang harus secepatnya dilakukan regulator agar masyarakat ada tempat mengadu jika SMS Spam datang dan nomor pengirim segera diblokir,” tegas Wakil Ketua Komisi I DPR RI Hayono Isman di Jakarta, belum lama ini.

Anggota Komisi I DPR Tantowi Yahya meminta  BRTI  membuat mekanisme yang efisien dan efektif untuk menampung aduan pelanggan terkait SMS spam. “Segera buat call center bagi masyarakat untuk melakukan pengaduan. Selanjutnya informasi itu diteruskan ke  BI agar menindak  bank-bank yang selama ini menggunakan SMS Spam untuk berpromosi. Jadi semuanya ditertibkan, operator dan bank,” jelasnya.

Anggota Komisi I lainnya Enggarstiato Lukito menegaskan, jika Ketua BRTI tidak bisa menyelesaikan kasus tersebut maka sewajarnya untuk mengundurkan diri dari jabatannya. ”Mengurus hal yang sebenarnya bisa dilakukan dengan cepat dan mudah tidak bisa, bagaimana untuk hal yang rumit. Wajar saja jika ini gagal diminta mundur,” tegasnya.

Tindakan
Ketua BRTI dan Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika Sukri Batubara menegaskan, sejumlah tindakan telah dilakukan lembaganya seperti  memanggil PT Bumikharisma Lininusa pada tanggal 26 Januari 2011 untuk meminta klarifikasi iklan yang dibuatnya khususnya tentang  “menyediakan 25 juta data pelanggan seluler aktif, valid dan legal seluruh Indonesia untuk SMS Promo anda”.

Dalam  klarifikasinya, PT Bumikharisma Lininusa menjelaskan,  hanya sebagai reseller dari produk mobile advertising yang bekerja-sama dengan penyelenggara telekomunikasi dimana SMS di- broadcast dilakukan oleh penyelenggara telekomunikasi, sehingga tidak ada nomor-nomor yang keluar dari operator. ”Soal  iklan 25 juta data pengguna itu  data tetap ada di operator,” jelasnya.

Sementara untuk pengiriman SMS Spam BRTI telah meminta  operator  berkomitmen untuk berupaya melakukan filterisasi SMS spam disamping akan berkoordinasi  dengan Bank Indonesia (BI) untuk turut mengatasi promosi kredit bank.

Anggota Komite BRTI Danrivanto Budhijanto mengungkapkan, lembaganya akan mengusulkan kepada Menkominfo untuk mengeluarkan Peraturan Menteri terkait perlindungan data pelanggan. Hal ini mengingat dalam industri telekomunikasi yang berlaku adalah operator bertanggungjawab terbatas sehingga tidak bisa lepas tangan kala terjadi kebocoran data.

”Aturan teknis harus dibuat, dalam beberapa bulan lagi akan dikeluarkan. Aturan ini nantinya akan mencantumkan sanksi dan pembuktian terbalik jika ada indikasi pembocoran data,” tegasnya.

Anggota Komite lainnya, Heru Sutadi menambahkan, regulator juga sedang mengaji pola penagihan SMS yang selama ini berbasis Sender Keep All (SKA) dimana memicu penawaran SMS gratis lintas operator. ”Isu SMS berbasis interkoneksi dimana penerima dan pengirim dikenakan biaya patut dikaji kembali. SKA itu hanya menguntungkan operator pengirim,” katanya.

Direktur Jaringan XL Dian Siswarini mengakui, masalah mematikan nomor pelanggan yang terindikasi melakukan SMS Spam membutuhkan payung hukum yang jelas. ”Kami tidak mau nanti malah dituntut balik. Soalnya pengiriman itu biasanya person to person. Sedangkan masalah SMS gratis, sebenarnya ini penawaran pemasaran dimana jasa suara, data, SMS dibundel dalam satu paket. Artinya tidak murni gratis semuanya karena ada effort tertentu dilakukan untuk mendapatkan bonus,” jelasnya.

Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno menegaskan, perlindungan kepada konsumen telah dilakukan dengan membuka nomor khusus, menjaga data pelanggan, dan membuat filterisasi.

VP Sales and Distribution Axis Syakieb Sungkar menegaskan, penawaran SMS gratis bukanlah pemicu utama adanya SMS Spam. ”Pengiriman SMS Spam sudah ada sejak dulu. Apalagi sekarang ada alat yang dijual bebas untuk mem-broadcast SMS. Kalau pelanggan berkomunikasi dengan normal, sehari itu hanya mengirim 20 SMS,” katanya.

Syakieb menjelaskan, perseroan sudah beberapa kali melakukan pemblokiran terhadap nomor yang terindikasi mengirimkan SMS Spam setelah memenuhi enam tahapan pembuktian.  .

Keenam parameter itu adalah menggunakan 2000 SMS per hari selama lebih dari lima hari,  tidak ada durasi panggilan keluar serta penerimaan telepon masuk (incoming/outgoing call), tidak ada pengeluaran pulsa untuk percakapan suara (charging voice), ketika coba dihubungi Axis untuk verifikasi, selalu tidak menjawab,  nomor tidak termasuk dalam STK (SIM Tools Kit), yang biasanya digunakan untuk pengisian pulsa elektrik, dan penggunaan SMS hanya  500 rupiah  sehari demi mengejar bonus puluhan ribu SMS per hari.

Secara terpisah, Direktur Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala menilai regulator telekomunikasi sudah gagal melindungi pelanggan. ”BI saja sudah melakukan tindakan dengan mengeluarkan nomor pengaduan dan menegur bank asing yang terlibat menawarkan KTA. Hal yang aneh jika lembaga sekelas BRTI malah sibuk bernegosiasi dengan pemain untuk satu aturan yang sudah jelas,” sesalnya.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s