240211 Merindukan Pengawas yang Kuat

Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) awalnya dibentuk  berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 31 Tahun 2003. Lembaga ini  terdiri atas Komite Regulasi Telekomunikasi (KRT)  dan  Ditjen Postel, Depkominfo.

Dilikuidasinya Ditjen Postel untuk diganti dengan  Ditjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika, serta Ditjen Sumber Daya Pos dan Informatika, otomatis memaksa BRTI berubah diri.

Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) telah  mengeluarkan  Peraturan Menteri Kominfo tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Kominfo No. 36/Per/M.Kominfo/10/2008 tentang Penetapan BRTI.

Terbitnya aturan pengganti itu, dilanjutkan  pada April nanti  dilakukan seleksi dari wakil masyarakat untuk melengkapi sembilan anggota BRTI. Tambahan satu anggota baru ini masa baktinya hanya hingga Desember 2011.

Untuk diketahui, BRTI periode  2009-2011 , komposisi dari anggotanya adalah lima wakil masyarakat yang diangkat dan dipilih oleh Menkominfo, serta dua wakil pemerintah. Wakil pemerintah salah satunya adalah Dirjen Postel yang merangkap menjadi ketua BRTI.

Adanya struktur baru di Kemenkominfo membuat BRTI akan terdiri dari  Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika, Direktorat Jenderal Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika dan Komite Regulasi Telekomunikasi (KRT).

KRT adalah sekelompok orang yang memenuhi syarat yang terdiri dari unsur pemerintah dan unsur masyarakat dengan tugas bersama-sama Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika serta Direktorat Jenderal Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika menjalankan fungsi BRTI.

Anggota Komite berjumlah 9 orang, yang terdiri dari 6 orang dari unsur masyarakat dan 3 orang dari unsur Pemerintah. Ketua Komite dijabat oleh Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika.

Ketua Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Setyanto P Santosa menilai BRTI belum independen dan tangguh

Menurutnya, BRTI seharusnya memiliki kekuatan penuh menjalankan  fungsi regulasi,  untuk itu lembaga ini perlu dilengkapi oleh personalia dan sumber daya yang memadai. Selain itu dalam pengambilan keputusan harus transparan dan akuntabel.

“Kalau perlu harus jelas posisi masing-masing anggota terhadap satu masalah. BRTI harus menjadi lembaga yang independen. Masalah independensi ini kami usulkan juga masuk dalam batang tubuh RUU Konvergensi,” jelasnya.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI Hayono Isman mengakui industri telekomunikasi membutuhkan regulator yang lebih tangguh ketimbang saat ini. ”Kami sedang menimbang perlukah BRTI diperkuat atau tidak. Semua masukan akan dikaji nanti dalam RUU Konvergensi,” katanya.

Anggota Komite BRTI Danrivanto Budhijanto mengatakan, lembaga super body yang mengawas industri di Indonesia hanya Komisi Pengawas Persaiangan Usaha (KPPU) karena memiliki kekuatan menyelidik, menyidik, hingga menyidangkan.

”Industri telekomunikasi ini unik yang terjadi bekerjasama untuk berkompetisi (Koopetasi) mengingat adanya interkoneksi. Jadi, untuk urusan masalah persaingan usaha BRTI selalu koordinasi dengan KPPU,” katanya.

Direktur Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala meminta  Menkominfo berani melakukan sesuatu yang inovatif terhadap BRTI dengan tidak memilih wakil masyarakat yang masih “terafiliasi” dengan pemerintah atau dirinya.

”Kemenkominfo  harus mulai secara legowo  melepaskan pengaruhnya di BRTI karena berdasarkan konsensus terdahulu, masuknya unsur pemerintah adalah transisi. Tentunya juga dibutuhkan komitmen dari setiap KRT untuk bekerja penuh di BRTI, bukan menjadikan pekerjaan itu sebagai sambilan dengan tidak rela melepas profesi lamanya,” tegasnya.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s