230211 Kemenhub Datangkan Dua Kapal Roro

JAKARTA—Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan mendatangkan dua unit kapal roll on roll off (roro) untuk mengurai antrian kendaraan yang terjadi di Pelabuhan Merak, Banten dalam rangka ingin menyeberang ke  Pelabuhan Bakauheni, Lampung atau sebaliknya.

Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub Suroyo Alimoeso mengungkapkan,  dalam sebulan terakhir hanya tinggal 25 unit kapal Roro  yang beroperasi.  Sebelumnya terdapat 33 unit kapal roro yang melayani rute tersebut.
“Satu kapal tidak dapat digunakan akibat insiden kebakaran yang terjadi beberapa waktu lalu dan tujuh unit lainnya sedang dalam perbaikan berkala (docking). Sementara pertumbuhan untuk pengguna angkutan penyeberangan dari tahun ke tahun meningkat sekitar 9-10 persen. Pengguna meningkat drastis, tapi tidak diikuti dengan peremajaan pesawat. Akibatnya, terjadi kepadatan selama sebulan terakhir ini,” ujarnya  di Jakarta, Selasa (22/2).
Seperti diketahui, penumpukan kendaraan pribadi maupun truk di dua pelabuhan itu sudah terjadi selama satu bulan belakangan. Antrian disebabkan oleh berkurangnya kapal Roro yang beroperasi untuk melayani penyeberangan antar pelabuhan tersebut.

Untuk itu, lanjut dia, pihaknya sudah menyiapkan sejumlah solusi jangka pendek untuk mengatasi kepadatan di pelabuhan tersebut. Salah satunya, penambahan dua unit kapal roro yang akan mulai beroperasi pada Jumat, 25 Februari mendatang.

“Satu kapal roro Kirana milik Dharma Lautan Utama (DLU)  berkapasitas 30-an truk akan didatangkan dari Surabaya. Sementara kapal satunya lagi buatan kita yaitu Kalibodri akan didatangkan dari Tanjung Priok. Kapasitasnya 20 kendaraan dengan kecepatan hingga 15 knot. Semuanya mulai beroperasi Jumat pagi,” ungkapnya.

Diungkapkannya, belum lama ini kementerian sudah mengumpulkan para pengusaha kapal penyeberangan dan meminta mereka untuk mengalihkan beberapa unit armadanya untuk melayani lalu lintas antara Merak-Bakauheni.

“Tapi mereka tidak sanggup. Kapal tidak siap karena lalu lintas penyeberangan di luar Merak-Bakauheni pun sedang padat-padatnya. Akhirnya hanya dua unit itu yang bisa kita datangkan sebagai tambahan,” jelasnya.

Upaya lain yang dilakukan untuk mengurai antrian, tambah Suroyo, adalah dengan optimalisasi tiga dermaga di Pelabuhan Merak, Banten, dan meningkatkan frekuensi layanan penyeberangan tiap unit kapal yang beroperasi.

Ia mencontohkan, kapal yang biasanya melayani 62-80 trip selama 24 jam diminta untuk menaikkan kecepatan perjalanan hingga 12 knot. Dengan begitu, dalam 24 jam setiap kapal dapat melayani hingga 92 trip. Namun demikian, menurutnya, dari 25 kapal yang ada, hanya 22 kapal yang mampu meningkatkan frekuensi perjalanan.

“Selain itu, kami juga mendorong pengusaha untuk mempercepat proses docking, tapi tentu tanpa meninggalkan standar keselamatan dan mengikuti ketentuan yang berlaku. Diharapkan tujuh kapal itu sudah bisa mulai beroperasi kembali akhir minggu ini,” katanya

Suroyo mengungkapkan, idealnya, waktu tunggu kendaraan untuk masuk kapal berkisar antara 5-6 jam. Namun saat ini, waktu tunggu kendaraan mencapai 12 hingga 48 jam. Adapun setiap satu jam seharusnya ada 120 kendaraan yang dapat terangkut. Kini, hanya 72 kendaraan yang dapat diangkut setiap jamnya.

“Artinya, ada sekitar 48 kendaraan setiap jam yang tidak terangkut. Ini yang sedang kita pacu agar dapat terus berkurang. Makanya, kami coba optimalkan pola 92 trip ini. Nanti pukul 18.00 akan kita evaluasi, apakah itu bisa mengurangi kepadatan,” tukasnya.

Saat ini, antrian kendaraan yang belum dapat diangkut ferry difokuskan di sejumlah lokasi, antara lain area parkir pelabuhan untuk menampung sekitar 1.050 kendaraan, flyover menuju pintu masuk pelabuhan merak, dan ruas tol Jakarta-Merak dari KM 92 hingga KM 98 untuk menampung sekitar 650 lebih kendaraan.

“Operator jalan tol tidak keberatan ada dua lajur untuk pengendapan truk. Selain itu, pengendapan juga dilakukan di flyover. Sementara jalur lama menuju pelabuhan kita amankan untuk pergerakan truk yang mengangkut bahan pokok dan bahan yang cepat rusak supaya diprioritaskan,” katanya.

Terkait potensi kerugian akibat penumpukan kendaraan di pelabuhan, ia mengaku, pihak kementerian belum menghitungnya. “Tapi yang pasti adalah kerugian. Perjalanan yang harusnya satu hari malah jadi tiga hari. Tapi belum dihitunglah itu. Yang penting, masalah ini kita selesaikan dululah,” katanya.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s