220211 Mercu Suar Belum Terealisasi

Munculnya ide membuat ICT Fund tak bisa dilepaskan dari keinginan hadirnya backbone jaringan Palapa Ring di nusantara.

Palapa Ring merupakan megaproyek pembangunan tulang punggung (backbone) serat optik yang diinisiasi oleh Pemerintah (Cq. Menkominfo), terdiri dari 35.280 kilometer serat optik bawah laut (submarine cable) dan 21.708 kilometer serat optik bawah tanah (inland cable). Kabel backbone yang terdiri dari 7 cincin (ring) melingkupi 33 provinsi dan 460 kabupaten di Kawasan Timur Indonesia.

Proyek ini awalnya  membutuhkan biaya sekitar 225 juta dollar  AS,  Setelah adanya krisis ekonomi, nilai investasi mengerut menjadi 150 juta dollar AS dan panjang dari serta optik yang dibangun pun tinggal setengahnya.

Rencananya  proyek tersebut akan dibangun enam perusahaan yang tergabung dalam suatu konsorsium Palapa Ring. Keenam  perusahaan itu berikut persentasi keikutsertaannya adalah  PT Bakrie Telecom Tbk (13,3 persen), PT Excelcomindo Pratama Tbk (13,3 persen), PT Indosat Tbk (13,3 persen), PT Infokom Elektrindo (termasuk PT Mobile-8 Telecom Tbk sebesar 6,3 persen), PT Powertek Utama Internusa (representasi Linbrooke Worldwide Ltd sebesar 10 persen), dan  porsi sisanya diambil PT Telkom.

Namun, dalam perkembangan, dua perusahaan (Infokom Elektrindo dan Powertek Utama Internusa) mengundurkan diri sehingga menyisakan empat operator telekomunikasi mengerjakan proyek tersebut. Terakhir, dua tahun lalu  manajemen XL mengambil langkah mundur sementara dari konsorsium mengingat belanja modalnya tidak ada dialokasikan untuk proyek tersebut.

Muka pemerintah terselamatkan oleh PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) yang memulai pembangunan tahap pertama dua tahun lalu dan menyelesaikannya pada awal Februari ini.

Rute yang diselesaikan Telkom  dengan membangun  Mataram-Kupang Cable System. Pembangunan mencakup rute  Mataram-Kupang, Manado-Sorong, dan Fakfak-Makassar  sepanjang 1.041 km dan  menelan biaya 52 juta dollar AS.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi menyesalkan tidak adanya kejelasan sikap dari konsorsium Palapa Ring selama ini terhadap nasib proyek. ”Harusnya konsorsium itu tegas menentukan sikap. Mau membangun atau tidak. Kalau sekarang sepertinya menunggu solusi dari pemerintah dengan ICT Fund,” sesalnya.

Ketua Konsorsium Palapa Ring Rakhmat Junaedi tak terima dengan tudingan tersebut. ”Pemerintah sebaiknya tidak mendesak konsorsium terus-menerus. Kami meminta insentif keringanan pajak 20 persen saja tidak ada direspons selama setahun ini,” tegasnya.

Lagi-lagi, sepertinya proyek ini akan diselamatkan oleh Telkom melalui sinyal yang diberikan oleh Direktur Utama Rinaldi Firmansyah. ”Kami akan melanjutkan rute berikutnya dari Palapa Ring. Tender akan dimulai tak lama lagi,” katanya.

Dewan Pengawas Balai Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika (BP3TI) Koesmarihati Koenowarso menilai, wajar Telkom mendapatkan insentif atas apa yang dilakukannya selama ini sebagai pengikat  komitmen membangun jaringan. ”Itu akan mendorong hadirnya open access dengan harga yang terjangkau,” katanya.

Sementara Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Sarwoto Atmosutarno mengungkapkan, kebutuhan bakcbone akan terus tinggi mengingat konsumsi bandwitdh di Indonesia setiap enam bulan terus meningkat. ”Tidak ada gunanya di level akses ke pelanggan menggunakan teknologi yang hebat jika backbone terbatas. Itu ibaratnya memiliki mobil mewah yang memiliki kecepatan tinggi tetapi tidak di jalan tol,” keluhnya.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s