210211 AP I Gandeng GVK Bangun Bandara

JAKARTA—PT Angkasa Pura I (Persero) menggandeng investor dari India, GVK Group, untuk membangun bandara udara baru di Yogyakarta guna meningkatkan kapasitas melayani arus angkutan udara.

”Kami sudah menandatangani kesepakatan dengan GVK Group dari India yang selama ini terlibat dalam modernisasi dan mengelola bandara Mumbai dan Bangalore. Rencananya akan dibangun bandara baru di Yogyakarta yang menelan investasi sebesar 1,5 triliun rupiah dengan daya tampung 5-6 juta penumpang,” ungkap  Direktur Utama Angkasa Pura I Tommy Soetomo di Jakarta, Minggu (20/2).

Dijelaskannya, saat ini kedua belah pihak dalam tahap studi kelayakan bisnis dan mencari area yang tepat untuk pendirian bandara di Yogyakarta. Sedangkan komposisi kepemilikan di bandara baru itu nantinya, AP I dalam posisi mayoritas. Pada 2013 nanti bandara di Yogyakarta itu sudah mulai  dibangun.

”Dukungan dari pemerintah setempat sudah didapat. Bandara lama di Yogyakarta itu milik angkatan udara sehingga harus dikembalikan. Belum lagi daya tampungnya kecil. Saat ini melayani 3,5 juta penumpang dengan kapasitas yang dimiliki 1,5 juta penumpang,” katanya.

Dalam laman Times Of India Vice Chairman GVK,  G V Sanjay Reddy mengungkapkan, perseroan akan membangun dua bandara di Indonesia yakni di  Bali dan Jawa.

Reddy memperkirakan investasi yang dibutuhkan untuk kedua proyek itu untuk lima hingga 10 tahun mendatang sekitar  1.5-2 miliar dollar AS.

Dijelaskannya,  untuk kerjasama dengan bandara udara di Bali melibatkan  Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM),  PT Pembangunan Bali Mandiri ( special purpose vehicle (SPV) untuk pembangunan bandara) dan  GVK. Sedangkan  MoU untuk bandara di Jawa antara API I dan  GVK.

Selanjutnya Tommy mengungkapkan,  kondisi dari bandara udara yang dikelola oleh perseroan saat ini  dalam keadaaan kekurangan kapasitas sehingga diperlukan pengembangan secepatnya. ”Kami memiliki rencana hingga 2017 beberapa bandara utama akan terus dibangun. Sedangkan untuk tahun ini ada beberapa proyek yang dikerjakan,” katanya.

Beberapa proyek yang dikerjakan adalah pengembangan bandara internasional Lombok dengan investasi 945,8 miliar rupiah yang diharapkan bisa selesai dan beroperasi pada Juli 2011. perluasan terminal internasional Ngurah Rai dengan investasi 1,944 triliun rupiah, pembangunan terminal II Juanda Surabaya senilai 408 miliar rupiah, pembangunan bandara Sepinggan Baru sebesar 1,57 triliun rupiah. Berikutnya pembangunan bandara udara Ahmad Yani Semarang dengan investasi 150 miliar rupiah, Syamsudin Noor Banjarmasin (Rp 110 miliar), dan El tari Kupang (Rp 50 miliar). Total investasi secara keseluruahn diperkirakan mencapai 5,4 triliun rupiah.

Berkaitan dengan nasib bandara udara lama di Makassar, Tommy mengungkapkan, akan difokuskan sebagai pusat kegiatan Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) dari bengkel pesawat. ”Kita sudah bicara dengan Garuda Maintenance Facilities (GMF) dan Lion Air. Untuk Lion Air, sebenarnya lebih ideal membangun pusat perawatan di sana ketimbang Menado karena semua fasilitas sudah ada mulai dari apron, runway, dan lainnya,” katanya.

Tommy pun membantah, mempersulit Lion Air untuk membangun pusat perawatan pesawat di Indonesia Timur seperti Menado. “Ini murni masalah negosiasi bisnis. Kami terus bicara dengan Lion Air. Masalahnya, jika keinginan dari Lion Air untuk dibuka akses ke bandara di Menado, itu menyalahi aturan. Dalam regulasi secara jelas dikatakan kawasan bandara dikelola oleh Badan Usaha Pengelola Bandara,” tegasnya.

Sebelumnya, Presiden Direktur Lion Air, Rusdi Kirana mengungkapkan, rencananya  membangun hangar perawatan pesawat di Manado batal, lantaran terganjal keinginan AP I  meminta kepemilikan saham mayoritas. Padahal, maskapai itu  sudah membeli tanah seluas 12 hektare (ha) di sebelah Bandara Sam Ratulangi Manado.  Lion  juga telah melakukan pembebasan tanah dari masyarakat untuk pembangunan jalan raya. Kerugian yang diderita Lion  akibat pembatalan itu sekitar  7 miliar rupiah.

Pada kesempatan lain, Direktur Angkutan Udara Kementerian Perhubungan, Edward Alexander Silooy mengakui,  pertumbuhan penumpang pesawat di Indonesia tiap tahun selalu tinggi sehingga  fenomena tersebut harus ditangkap dengan baik oleh seluruh pihak.

”Penyelenggara bandara harus mempersiapkan infrastruktur yang memadai. Jumlah penumpang hampir di seluruh bandara telah melewati batas kapasitas bandara. Saatnya dilakukan pengembangan dan pembangunan bandara baru,” jelasnya.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s