170210 Menggarap Pasar Muda

Lembaga riset The Nielsen Company  menyatakan  kepemilikan telepon seluler (ponsel) di Indonesia dari 2005 hingga 2010 naik tiga kali lipat. Pada 2005 penetrasi ponsel di Indonesia hanya 20 persen, namun lima tahun kemudian melonjak menjadi 54 persen

Data tersebut diperoleh dari survei yang dilakukan Nielsen di sembilan kota terhadap 45 juta penduduk. Kesembilan kota itu adalah Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Medan, Palembang, Makassar, dan Denpasar.

Direktur Telecom Practice Group Nielsen Viraj Juthani mengungkapkan, naiknya pengguna ponsel didorong tingginya penetrasi kelompok usia muda yakni  kategori usia 15-19 yang mendominasi 70 persen penggunaan sejak  2007.

“Lima tahun lalu kelompok pengguna usia 20-29 tahun selalu yang tertinggi. Naiknya pengguna ponsel di kalangan muda harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh operator. Selain itu, operator juga harus memfokuskan usaha mereka untuk mengembangkan produk yang cocok untuk kelompok usia yang lebih muda lagi, yaitu 10-14 tahun,” katanya di Jakarta, belum lama ini.

Menurutnya,  pertumbuhan ponsel di kalangan anak muda itu karena kebutuhan kaum muda terhadap media sosial. Penggunaan layanan suara dan SMS masih akan dipakai, meski kelompok usia ini jarang memakainya. Selain itu mengakses internet lewat telepon akan menjadi tren karena bisa dilakukan di mana saja.

Corporate Communication and Marketing Nielsen Kikie Randini  menambahkan, walau dari sisi penetrasi mengalami peningkatan, tetapi tidak untuk Average Revenue Per User (ARPU) alias  pengeluaran pulsa per bulan yang mengalami penurunan dalan kurun waktu  lima tahun terakhir.

Berdasarkan survei, pada 2005 terdapat 51 persen  pengguna ponsel mengeluarkan biaya pulsa berkisar  50 -100 ribu rupiah  per bulan, dan hanya 18 persen pengguna yang ARPU-nya  kurang dari  50 ribu rupiah per bulan.

Namun,  pada 2010, terdapat 58 persen  pengguna ponsel yang ARPU-nya kurang dari  50 ribu rupiah per bulan, dan hanya 29 persen  pengguna  memiliki ARPU  antara  50 -100 ribu rupiah per bulan. Sedangkan keputusan  berlangganan jasa operator didasarkan pada tarif (28%), jangkauan (24%), kualitas (15%),  rekomendasi (12 %), dan  promosi (8%) .

Strategi
Direktur Konsumer XL Axiata Joy Wahjudi mengakui, pengguna dari kelompok usia muda menguasai 40,4 juta pelanggannya. “Kami memang memiliki strategi khusus untuk menggarap pasar muda. Andalannya adalah berjualan langsung ke sekolah atau tempat-tempat yang biasa dikunjungi oleh mereka,” jelasnya.

Dijelaskannya, walau memiliki jumlah yang besar,  segmen ini memiliki  kebiasaaan  gampang berpindah  ke operator lain. “Di pasar anak muda itu tidak bisa main bagi-bagi kartu. Pendekatannya harus lebih intim baik ke individu atau komunitasnya,” jelasnya.

Wakil Direktur Utama Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer mengungkapkan, perseroan mengakuisisi pasar muda dengan membuat iklan-iklan yang bisa berkomunikasi dengan pengguna,  tarif  selalu murah, menawarkan ponsel  dengan harga terjangkau,  dan value added service (VAS) yang relevan.

“Item yang  paling efektif untuk akusisi segmen  ini adalah tarif, VAS yang relevan. Saat ini fitu jejaring sosial menjadi hal yang penting selain ponsel QWERTY, musik, dan Android,” katanya.

Sedangkan VP Sales and Distribution Axis Syakieb A Sungkar mengatakan, membuat program pemasaran yang identik dengan kegiatan anak muda menjadi andalan untuk eksis di pasar. “Kuartal pertama ini Axis fokus di Java Jazz. Kami masuk ke kampus dan sekolah untuk mendukung pemasaran tarif hemat gratis seribu menit,” katanya.

Dijelaskannya,  secara prinsip program retensi tidak akan  menolong banyak menahan anak muda berpindah operator. Satu-satunya  cara agar  tidak pindah    dengan menawarkan  tarif yang kompetitif. “Masalahnya tarif seluler sekarang sudah paling rendah, tidak bisa turun lagi. Sekarang pintar-pintar operator memainkan penawaran, itu yang dilakukan Axis sejak Oktober 2010 dengan menawarkan  tarif  0 rupiah,” tuturnya.

Brand Manager IM3 Andre Reynaldi menjelaskan, hal yang paling utama menggarap pasar muda adalah  menemukenali karakteristik dan kebutuhan, setelah itu membuat  program  sesuai dengan keinginan target pelanggan.  “Program baru  IM3 Ce es an wujud nyata dari teori itu,” katanya.

Menurutnya,  pasar muda menginginkan  kartu dengan tarif yang murah dan digunakan oleh komunitasnya. “Pasar muda itu lebih percaya kepada komunitasnya. Jika pun tariff kita murah,  tetapi tidak digunakan oleh komunitasnya, percuma saja.  Karena itu membuat Word Of Mouth (WOM)  memegang peranan penting,” katanya.

Manager Brand Management simPATI T. Ferdi Febrian mengungkapkan, Telkomsel terus menyegarkan komunikasi produknya agar bisa meraih pasar muda. “Untuk kartuAs sekarang  telah diubah  tone dan  manner dengan menggunakan ikon  anak muda seperti boyband  Smash,” katanya.

Diungkapkannya, untuk menekan angka berpindahnya pelanggan muda salah satunya dengan menawarkan paket bundling ponsel dengan langganan produk Telkomsel. “Berjualan bersama vendor ponsel itu membuat masa tinggal pelanggan lebih lama karena ada masa promosi yang panjang harus dinikmati,” jelasnya.

Pada kesempatan lain, Praktisi telematika Teguh Prasetya menilai operator belum  efisien dan efektif dalam menggarap pasar muda  karena mayoritas  masih menggunakan metode pendekatan konvensional dalam berinteraksi dengan calon pelanggan terutama dalam hal memperkenalkan produk yang akan dijual .. Contohnya, operator masih kurang intensif  dalam menggunakan media digital maupun  kurang mencipatkan WoM marketing secara lebih massif  bilamana dibandingkan pengeluaran untuk beriklan di TV atau media cetak.

“Sifat pasar muda  yang mudah mencoba segala hal  baru, suka dipengaruhi  teman,  dan  ekspresif. Ini  belum secara utuh digarap oleh para operator dalam membaca arah mereka ke depan termasuk menggiringnya  sesuai dengan hobi, komunitas maupun aktivitas keseharian. Hal ini diperkuat fakta di lapangan, para eksekutif dan “eksekutor” belum menjiwai  pasar yang akan digarap,” ketusnya.

Pengamat ekonomi dari Universitas Trisakti Fransiscus Paschalis mengungkapkan, jika melihat pasar telekomunikasi di Indonesia wajar anak muda menjadi andalan untuk mendongkrak penetrasi karena dari sisi biaya akuisisi lebih murah. “Ada dua pemicu  naiknya penetrasi, pertama membuka area baru, kedua membidik pasar muda. Membuka area baru itu membutuhkan biaya yang besar dan belum tentu sukses.  Sementara mengakuisisi pasar muda lebih murah karena  pertumbuhan terus terjadi tanpa perlu memperluas area jangkauan,” jelasnya.[dni]

Belanja iklan industri telekomunikasi di Indonesia sepanjang 2010 didominasi Telkomsel dengan total belanja Rp 1,5 triliun. Sedangkan Indosat dan XL masing-masing mengelurkan belanja iklan sebesar Rp 639 miliar dan Rp 631 miliar.

Sedangkan belanja iklan vendor ponsel masih dipimpin Nokia dengan total belanja Rp 162 miliar. Angka ini menurun 15% dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan belanja iklan terjadi pada vendor ponsel lokal Nexian yang naik 557% menjadi Rp 74 miliar, disusul Samsung yang naik 94% menjadi Rp 131 miliar, MITO naik 94% menjadi Rp 37 miliar dan K Touch naik 94% menjadi Rp 28 miliar.

Total belanja iklan vendor hand-setpada 2010 mencapai Rp 643 miliar. Dari angka tersebut. Nokia masih memimpin, meski total belanja iklannya turun 15% dibandingkan tahun lalu,” kata Juthani. (c08)

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s