170210 Bandara Udara akan Dievaluasi

JAKARTA—Kementrian Perhubungan (Kemenhub) akan mengevaluasi kondisi bandara-bandara udara di Indonesia untuk menjamin keselamatan penerbangan yang menggunakan armada Boeing 737-900 Extended Range (ER).

“Kami sudah membentuk tim untuk mengevaluasi  bandara-bandara yang didarati oleh pesawat jenis Boeing 737-900 ER. Bandara pertama yang akan dievaluasi adalah  Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru. Berikutnya bandara-bandara lainnya,” ungkap Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Herry Bakti S Gumay di Jakarta, Rabu (16/2).

Diungkapkannya, instansinya  melarang pesawat Boeing 737-900  ER untuk mendarat di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, dalam keadaan landasan pacu (runway) basah atau dalam cuaca hujan. Hal itu terkait insiden tergelincirnya dua pesawat B 737-900 ER milik Lion Air hingga keluar landasan, pada Senin (14/2) dan Selasa (15/2) lalu.

“Dari data pemeriksaan dan evaluasi yang sudah dilakukan, kami putuskan untuk sementara sampai ada hasil penyelidikan atas dua insiden itu, Boeing 737-900 ER tidak diperbolehkan mendarat di Pekanbaru dalam kondisi cuaca hujan dan landasan pacu basah,” tegasnya.

Seperti diketahui, insiden pertama yang menimpa maskapai tersebut terjadi pada Senin (14/2) lalu. Pesawat Lion Air PK-LFI dengan nomor penerbangan JT 392 dan rute Jakarta-Pekanbaru tergelincir saat mendarat di Bandara Sultan Syarif Kasim II dalam kondisi landasan pacu basah setelah hujan.

Insiden kedua terjadi pada Selasa (15/2). Pesawat Lion Air PK-LHH dengan nomor penerbangan JT 295 dan rute Medan-Pekanbaru mengalami kejadian serupa ketika mendarat saat hujan. Lion Air sendiri per harinya melayani 15 jadwal penerbangan di bandara SSK II.

Terkait penyebab insiden tersebut, lanjut Herry, masih diselidiki oleh  Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan Kemenhub  sehingga belum dapat dipastikan. Namun, ia memastikan kondisi pesawat saat dua insiden itu terjadi dalam kondisi prima. Hal ini membuat  pihaknya belum merasa perlu untuk mengavaluasi maskapai.

Herry  juga membantah bahwa insiden itu disebabkan oleh tidak layaknya landasan pacu di Bandara Sultan Syarif Kasim II untuk operasional Boeing 737-900 ER.

Menurutnya, bandara tersebut memiliki panjang 2.240 meter dan lebar 30 meter serta mampu menahan bobot pesawat hingga 68 ribu kilogram.
“Tapi kami punya rencana tahun ini runway di Pekanbaru dan beberapa bandara lainnya akan diperpanjang menjadi 2.600 meter dan lebar 45 meter. Ini untuk menyesuaikan dengan kondisi pesawat yang lebih lebar dan panjang. Ini masuk anggaran kami tahun ini dan sudah menjadi program kami dan Angkasa Pura II,” jelasnya.

Corporate Secretary PT Angkasa Pura II Hari Cahyono mengungkapkan, saat insiden yang dialami Lion Air kondisi runway dalam kondisi basah setelah sebelumnya diguyur hujan dengan jarak pandang (visibility clearance) sejauh 5 kilometer dan kondisi angin yang bertiup normal.

Sedangkan untuk tahap pertama pelebaran runway, lanjutnya,  dilaksanakan tahun ini dan tahun berikutnya perpanjangan landasan, di samping itu juga pembangunan terminal yang ditargetkan bisa selesai 2012 mendatang.

Bandara SSK II saat ini melayani pergerakan penumpang hingga 2,5 juta penumpang per tahun (2010) untuk rute nasional dan internasional, dengan 52 pergerakan pesawat per hari datang dan pergi.

Total maskapai yang dilayani sebanyak 11 perusahaan, terdiri dari 9 maskapai rute domestik dan dua internasional. Untuk domestik, maskapai yang dilayani adalah Lion Air, Garuda Indonesia, Sriwijaya Air, Batavia Airlines, Riau Air, Wings Air,  Pelita Air, Transwisata, dan Aero Transwisata. Sementara maskapai yang melayani rute internasional adalah AirAsia dan Firefly.

Secara terpisah, Direktur Umum Lion Air Edward Sirait memahami keinginan dari regulator dan akan mematuhinya. “Kami menyambut gembira adanya evaluasi. Ini akan membuat kami mendapatkan tambahan data bandara mana yang layak didarati oleh armada Lion Air. Untuk sementara rute ke Pekanbaru akan dilayani oleh pesawat tipe Boeing 737-400,” katanya.

Sementara Pengamat transportasi Ruth Hanna Simatupang meminta pemangku kepentingan di industri penerbangan melakukan evaluasi agar keselamatan menjadi prioritas. “Dua peristiwa terjadi berdekatan dan dialami oleh satu maskapai yang sama, ini preseden buruk bagi dunia penerbangan lokal,” tegasnya.

Hanna meminta, regulator lebih tegas mencermati pemeriksaan terhadap manajemen kemampuan dan keahlian kru dan petugas pemeriksa maskapai. “Landasan di SSK II itu ideal jika bobot pesawat tidak penuh. Dua kejadianyang dialami Lion Air itu bobot pesawat dalam keadaan penuh. Ni perlu diselidiki oleh pengawas,” tegasnya.[dni]

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s