170210 Garuda Buka Rute ke Gorontalo

JAKARTA—PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) membuka rute ke Gorontalo dalam rangka meningkatkan pelayanannya kepada para pengguna jasa dan mengembangkan  jaringan ke wilayah Timur Indonesia.
Direktur Marketing & Sales Garuda Indonesia  Arif Wibowo mengharapkan, pembukaan rute tersebut  dapat  meningkatkan “connectivity” Gorontalo terhadap jaringan penerbangan perseroan  ke  domestik dan internasional.

“Selain akan terhubung dengan kota – kota di domestik dan internasional lainnya, kota Gorontalo juga akan dapat dijangkau pada hari yang sama dari tiga kota besar di Indonesia yaitu Jakarta, Surabaya dan Denpasar melalui Makassar,” katanya di Jakarta, Rabu (16/2).
Menurrutnya, Gorontalo merupakan salah satu propinsi yang cukup pesat perkembangan ekonominya karena memiliki sumber daya alam yang kaya dan memiliki potensi wisata alam yang cukup menarik sehingga akan semakin banyak dikunjungi para pelaku ekonomi dan wisawatan.
“ Melalui pembukaan akses penerbangan Garuda ke Gorontalo ini, maka diharapkan akan semakin memudahkan para pebisnis dan wisatawan untuk berkunjung ke Gorontalo,” katanya.
Jadwal penerbangan Garuda untuk Jakarta – Makassar – Gorontalo pp.dilayani setiap hari berangkat dari Jakarta (GA602) pukul 08.15 WIB dan tiba di Makassar pukul 11.35 WITA, lalu dilanjutkan ke Gorontalo (GA642) pukul 12.50 WIB dan tiba di Gorontalo pukul 14.15 WITA. Penerbangan Gorontalo – Jakarta (GA643) diberangkatkan pukul 15.15 WITA, tiba di Makassar pukul 16.35 WITA, kemudian melanjutkan penerbangan ke Jakarta (GA603) pukul 17.05 WITA dan tiba di Jakarta pukul 18.15 WIB.

Sedangkan Surabaya – Makassar – Gorontalo pp.dilayani setiap hari dari Surabaya (GA630) pukul 09.20 WITA tiba di Makassar pukul 11.50 WITA, lalu dilanjutkan ke Gorontalo (GA 642) pukul 12.50 WITA dan tiba di Gorontalo pukul 14.15 WITA. Penerbangan Gorontalo – Surabaya (GA643) diberangkatkan pukul 15.15 WITA, tiba di Makassar pukul 16.35 WITA, kemudian terbang ke Surabaya (GA631) pukul 18.05 WITA dan tiba di Surabaya pukul 18.35 WIB.

Sementara Denpasar – Makassar – Gorontalo pp. dilayani setiap hari berangkat dari Denpasar (GA620) pukul 06.55 WITA dan tiba di Makassar pukul 08.15 WITA, lalu dilanjutkan ke Gorontalo (GA642) pukul 12.50 WITA dan tiba di Gorontalo pukul 14.15 WITA. Penerbangan Gorontalo – Denpasar (GA643) berangkat pukul 15.15 WITA, tiba di Makassar pukul 16.35 WITA, kemudian terbang ke Denpasar (GA625)  pukul 18.00 WITA dan tiba di Denpasar pukul 19.20 WITA.

Penerbangan ke Gorontalo dilayani satu kali setiap hari menggunakan pesawat terbaru Boeing 737-800 Next Generation dengan kapasitas 156 kursi terdiri dari 12 kelas bisnis dan 144 kelas ekonomi yang dilengkapi state – of – the – art inflight entertainment (audio & video on demand/AVOD) pada setiap kursinya sehingga penumpang semakin nyaman.

Sebelumnya Garuda Indonesia juga telah membuka penerbangan ke beberapa kota di Wilayah Timur Indonesia seperti Ambon, Ternate, Palu, Kendari dan kota – kota lainnya.Saat ini Garuda terbang ke 32 kota tujuan di domestik dan 18 kota tujuan internasional.[dni]

170210 Bandara Udara akan Dievaluasi

JAKARTA—Kementrian Perhubungan (Kemenhub) akan mengevaluasi kondisi bandara-bandara udara di Indonesia untuk menjamin keselamatan penerbangan yang menggunakan armada Boeing 737-900 Extended Range (ER).

“Kami sudah membentuk tim untuk mengevaluasi  bandara-bandara yang didarati oleh pesawat jenis Boeing 737-900 ER. Bandara pertama yang akan dievaluasi adalah  Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru. Berikutnya bandara-bandara lainnya,” ungkap Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Herry Bakti S Gumay di Jakarta, Rabu (16/2).

Diungkapkannya, instansinya  melarang pesawat Boeing 737-900  ER untuk mendarat di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, dalam keadaan landasan pacu (runway) basah atau dalam cuaca hujan. Hal itu terkait insiden tergelincirnya dua pesawat B 737-900 ER milik Lion Air hingga keluar landasan, pada Senin (14/2) dan Selasa (15/2) lalu.

“Dari data pemeriksaan dan evaluasi yang sudah dilakukan, kami putuskan untuk sementara sampai ada hasil penyelidikan atas dua insiden itu, Boeing 737-900 ER tidak diperbolehkan mendarat di Pekanbaru dalam kondisi cuaca hujan dan landasan pacu basah,” tegasnya.

Seperti diketahui, insiden pertama yang menimpa maskapai tersebut terjadi pada Senin (14/2) lalu. Pesawat Lion Air PK-LFI dengan nomor penerbangan JT 392 dan rute Jakarta-Pekanbaru tergelincir saat mendarat di Bandara Sultan Syarif Kasim II dalam kondisi landasan pacu basah setelah hujan.

Insiden kedua terjadi pada Selasa (15/2). Pesawat Lion Air PK-LHH dengan nomor penerbangan JT 295 dan rute Medan-Pekanbaru mengalami kejadian serupa ketika mendarat saat hujan. Lion Air sendiri per harinya melayani 15 jadwal penerbangan di bandara SSK II.

Terkait penyebab insiden tersebut, lanjut Herry, masih diselidiki oleh  Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan Kemenhub  sehingga belum dapat dipastikan. Namun, ia memastikan kondisi pesawat saat dua insiden itu terjadi dalam kondisi prima. Hal ini membuat  pihaknya belum merasa perlu untuk mengavaluasi maskapai.

Herry  juga membantah bahwa insiden itu disebabkan oleh tidak layaknya landasan pacu di Bandara Sultan Syarif Kasim II untuk operasional Boeing 737-900 ER.

Menurutnya, bandara tersebut memiliki panjang 2.240 meter dan lebar 30 meter serta mampu menahan bobot pesawat hingga 68 ribu kilogram.
“Tapi kami punya rencana tahun ini runway di Pekanbaru dan beberapa bandara lainnya akan diperpanjang menjadi 2.600 meter dan lebar 45 meter. Ini untuk menyesuaikan dengan kondisi pesawat yang lebih lebar dan panjang. Ini masuk anggaran kami tahun ini dan sudah menjadi program kami dan Angkasa Pura II,” jelasnya.

Corporate Secretary PT Angkasa Pura II Hari Cahyono mengungkapkan, saat insiden yang dialami Lion Air kondisi runway dalam kondisi basah setelah sebelumnya diguyur hujan dengan jarak pandang (visibility clearance) sejauh 5 kilometer dan kondisi angin yang bertiup normal.

Sedangkan untuk tahap pertama pelebaran runway, lanjutnya,  dilaksanakan tahun ini dan tahun berikutnya perpanjangan landasan, di samping itu juga pembangunan terminal yang ditargetkan bisa selesai 2012 mendatang.

Bandara SSK II saat ini melayani pergerakan penumpang hingga 2,5 juta penumpang per tahun (2010) untuk rute nasional dan internasional, dengan 52 pergerakan pesawat per hari datang dan pergi.

Total maskapai yang dilayani sebanyak 11 perusahaan, terdiri dari 9 maskapai rute domestik dan dua internasional. Untuk domestik, maskapai yang dilayani adalah Lion Air, Garuda Indonesia, Sriwijaya Air, Batavia Airlines, Riau Air, Wings Air,  Pelita Air, Transwisata, dan Aero Transwisata. Sementara maskapai yang melayani rute internasional adalah AirAsia dan Firefly.

Secara terpisah, Direktur Umum Lion Air Edward Sirait memahami keinginan dari regulator dan akan mematuhinya. “Kami menyambut gembira adanya evaluasi. Ini akan membuat kami mendapatkan tambahan data bandara mana yang layak didarati oleh armada Lion Air. Untuk sementara rute ke Pekanbaru akan dilayani oleh pesawat tipe Boeing 737-400,” katanya.

Sementara Pengamat transportasi Ruth Hanna Simatupang meminta pemangku kepentingan di industri penerbangan melakukan evaluasi agar keselamatan menjadi prioritas. “Dua peristiwa terjadi berdekatan dan dialami oleh satu maskapai yang sama, ini preseden buruk bagi dunia penerbangan lokal,” tegasnya.

Hanna meminta, regulator lebih tegas mencermati pemeriksaan terhadap manajemen kemampuan dan keahlian kru dan petugas pemeriksa maskapai. “Landasan di SSK II itu ideal jika bobot pesawat tidak penuh. Dua kejadianyang dialami Lion Air itu bobot pesawat dalam keadaan penuh. Ni perlu diselidiki oleh pengawas,” tegasnya.[dni]

170210 Perdagangan Bebas Ancam TIK

JAKARTA—Penerapan sistem perdagangan bebas merupakan ancaman bagi pengembanagn Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) karena manufaktur Indonesia belum siap untuk bersaing.

“Indonesia salah satu negara yang tinggi menggunakan TIK. Jika perdagangan bebas dipaksakan untuk sektor TIK, Indonesia dalam posisi rugi besar  karena hanya mendapatkan  porsi untuk outsoucing dari outsorcing lainnya, bukan langsung dari si pemilik proyek,” ungkap Presiden Direktur Xirka Dama Persada Sylvia W. Sumarlin kepada Koran Jakarta, belum lama ini.

Diungkapkannya, saat ini kondisi maufaktur TIK Indonesia dalam keadaan stagnan walaupun memiliki sumber daya penelitian dan pengembangan yang kuat.

“Komponen untuk TIK  masih banyak impor. Lebih dari 60 persen  pekerjaan manukfakturing TIK bukan milik Indonesia. Perlu insentif dari pemerintah atau swasta untuk mendukung Indonesia dalam manufakturing TIK, jika ingin 2014 siap berkompetisi dengan pihak luar,” katanya.

Menurutnya, jika pemerintah tidak memberikan insentif bagi manufaktur lokal, Indonesia bisa menjadi tempat penampungan teknologi yang sudah kadarluwarsa.

Masih menurutnya, kebijakan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) untuk perangkat telekomunikasi i sudah bagus.  TKDN dimulai dengan jenis perangkat yang pasarnya sudah terbentuk (existing demand) dan  produsen lokal, bukan kepada mitra asing untuk menjamin keberlangsungan manufakturing.

“Selain itu diharapkan ada penurunan nilai pajak impor, sehingga bisa bersaing dan  insentif bunga bagi manufaktu,” katanya.

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono mengatakan, untuk menata industri manufkatur TIK lokal tidak bisa secara instant dengan hanya mengandalkan TKDN.

“Harus ada tahapan yang jelas dan dukungan semua pihak. Misalnya sektor pembiayaan, hingga saat ini pemain manufaktur lokal itu kewalahan mendapatkan pinjaman bank karena dianggap tidak menguntungkan,” katanya.[dni]

170210 Infrastruktur Broadband Butuh Insentif Pemerintah

JAKARTA—Pembangunan infrastruktur broadband di Indonesia membutuhkan insentif dari pemerintah berupa investasi langsung dan kemudahan regulasi.

“Indonesia sebaiknya meniru Australia dengan National Broadband Network (NBN) dimana pemerintahnya menanamkan investasi langsung untuk mengembangkan infrastruktur broadband baik di perkotaan atau area rural karena menyadari teknologi ini bias menjadi penggerak perekonomian,” jelas Head of Sales Nokia Siemens Network (NSN) Sub Region Indonesia Henrik Brogaard kepada Koran Jakarta, belum lama ini.

Menurutnya, kondisi industri telekomunikasi di Indonesia dengan 11 operator menjadikan market driven sehingga pemain hanya akan berinvestasi di area yang menguntungkan. “Pemerintah harus turun tangan mengatasi kesenjangan digital khususnya di rural area. Infrastruktur yang dibangun sebaiknya berbasis serat optik,” katanya.

VP Marketing Communication Ericsson Indonesia Hardyana Sintawati mengatakan, beberapa Negara berkembang harus berjuang  untuk mewujudkan internet-for-all (internet untuk semua) walaupun  telah menjadikan mobile broadband dan mobile connectivity-for-all sebagai prioritas utama.
Dijelaskannya, hasil kajian perseroan  menemukan  korelasi yang positif antara pengembangan penetrasi broadband dan tambahan pengembangan Gross Domestic Product (GDP), selain dari terciptanya pekerjaan baru, diantaranya untuk setiap peningkatan penetrasi broadband sebesar poin 10 persen, dampak dari  ekonomi tertutup terhadap peningkatan GDP adalah sekitar 1 persen dari GDP. Sedangkan Untuk setiap penambahan 1000 pengguna broadband, sekitar 80 pekerajaan baru tercipta.

Secara terpisah, dampak sosial ekonomi dalam meningkatkan penetrasi broadband juga memiliki efek pada dimensi-dimensi sosial dan lingkungan,  seperti performa pendidikan, kondisi kesehatan (terutama di daerah pedalaman negara-negara yang kurang berkembang), konsumsi energi dan pengurangan emisi CO2.

“Indonesia memiliki potensi pertumbuhan di bidang mobile broadband yang menakjubkan. Sebagai negara keempat dengan populasi terbesar, Indonesia merupakan pasar besar dengan permintaan akan layanan telekomunikasi yang besar pula,” katanya.[dni]

170210 BTEL Ujicoba Layanan BlackBerry

JAKARTA—PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) sedang mengujicoba layanan BlackBerry milik Research In Motion (RIM) di jaringannya sebelum mengomersialkan untuk meningkatkan pangsa pasar anak usaha Bakrie Connectivity (BCONNECT).

“Benar,  sudah dua minggu kami mengujicoba layanan BlackBerry dengan menggunakan jaringan BCONNECT. Ini bagian dari persiapan sebelum resmi mengomersialkan ke pasar,” ungkap Presdir Bakrie Connectivity Erik Meijer kepada Koran Jakarta, Rabu (16/2).

Dijelaskannya, langkah perseroan menggelar layanan BlackBerry tak bisa dilepaskan dari potensi pasar yang masih tinggi untuk jasa tersebut. “Permintaan layanan BlackBerry masih tinggi di pasar sementara pemainnya terbatas. Kami ingin masuk dengan konsep value for money yang selama ini menjadi ciri khas dari produk-produk BTEL,” jelasnya.

Berdasarkan catatan, operator yang menjadi Mitra RIM adalah Telkomsel (960 ribu pelanggan), Indosat (650 ribu pelanggan), XL (650 ribu pelanggan) Axis (90 ribu pelanggan), Smart Telecom (20 ribu pelanggan), dan  Tri (90 ribu pelanggan).

Pemain berbasis teknologi Code Division Multiple Access (CDMA) yang menjadi mitra RIM adalah Smart dan Indosat StarOne. Sayangnya, keterbatasan perangkat handset BlackBerry berbasis CDMA dan pola penjualan yang tertutup oleh RIM membuat jasa ini kurang berkembang dengan teknologi tersebut.

Secara terpisah, Pengamat Telekomunikasi Bayu Samudiyo menilai langkah BTEL ikut bermain di jasa BlackBerry belum terlambat walaupun pada tahun ini diperikirakan perangkat komputer tablet ala iPad atau Samsung Galaxy Tab yang akan melesat di pasar.

“Kondisi di Indonesia itu banyak anomali. Walaupun banyak kalangan beranggapan tahun ini eranya Android dan tablet dengan layar sentuhnya, saya perkirakan perangkat dengan desain QWERTY dan Instant Messaging ala BlackBerry Messenger tetap diminati. Masuknya BTEL bisa membuat tarif berlangganan jasa itu menjadi semakin terjangkau nantinya,” katanya.[dni]

170210 Melesat Dari Tekanan Penguasa

Kinerja PT XL Axiata Tbk (XL) pada tahun lalu lumayan fenomenal. Operator ini berhasil melesat dari tekanan persaingan, khususnya dari dua besar yang selama ini menjadi penguasa jasa seluler,  Indosat dan Telkomsel.

Seperti diketahui, dua besar kala 2010 dibuka sudah mulai meladeni aksi XL yang bermain-main dengan tarif suara dan SMS sejak 2008. Telkomsel sudah merasakan dampak dari permainan itu. Kinerjanya pada 2010 malah melambat. Sedangkan Indosat belum mengumumkan laporan keuangannya.

Pada tahun lalu pertumbuhan omset Telkomsel hanya di bawah 4 persen atau sekitar 41,6 triliun rupiah dengan raihan 95 juta pelanggan. Sedangkan laba bersih hanya 11,326 triliun rupiah atau turun 13,6 persen dibandingkan 2009 sebesar 13,16 triliun rupiah. Situs Singtel sebagai pemilik 35 persen saham Telkomsel pun  mengakui kinerja yang buruk terjadi di Indonesia.

Namun, XL kinerjanya berkata lain. Operator ini berhasil tumbuh di atas industri.
Sepanjang tahun 2010, operator ini membukukan laba bersih 2,9 triliun rupiah  meningkat 69 persen ketimbang tahun 2009.

Pendapatan usaha perusahaan juga meningkat 27 persen menjadi 17,6 triliun  rupiah sementara Earning Before Interest Tax Depreciation and Amortization (EBITDA)  mencapai 9,3 triliun rupiah.

Direktur Marketing Nicanor V Santiogo menyebut ada tiga elemen utama yang mempengaruhi kinerja XL, yakni Top Line Growth, operating profitability dan asset profitability.

Top line growth  antara lain ditopang oleh sukses produk XL di pasaran. Hal itu ditunjukkan dengan merek  XL menjadi pilihan utama pengguna layanan telekomunikasi.

“Semua ini  tak lepas dari karakter merek  XL itu sendiri. Dengan memiliki produk prabayar dan pascabayar, kami lebih mudah mengelola merek,” ujarnya di Jakarta, belum lama ini.

Dijelaskannya, kuatnya merek  XL tak lepas dari berbagai elemen yang melekat di dalamnya. Harga yang semakin terjangkau untuk semua segmen pelanggan dan inovasi layanan adalah bentuk implementasi yang nyata.

Penyumbang lain adalah cepatnya pertumbuhan layanan data. Hal ini, antara lain ditopang kehadiran portal XL Go yang customized, mudah diakses dan dioperasikan. Di portal ini, uniknya, XL juga menyediakan informasi mengenai sisa pulsa, selain penawaran berbagai aplikasi serta layanan gratis.

Direktur Commerce XL Axiata Joy Wahyudi menambahkan, efisiensi yang dilakukan XL juga menjadi penopang pertumbuhan yang tinggi terutama dalam menekan  biaya operasi.

Efisiensi yang diterapkan lebih menggambarkan inovasi, ketimbang pengurangan biaya langsung. Distribusi, misalnya. Pengembangan konsep baru distribusi, berhasil menekan biaya yang sebelumnya dikeluarkan.

Konsep baru distribusi, dengan mengembangkan sistem clustering dilukiskan Joy mampu memperluas dan memperpendek rantai distribusi. ”Kami mengembangkan 200 kluster. Dari 200 kluster ini lahir 200 ribu outlet XL. Sistem cluster berhasil meningkatkan jumlah outlet XL sekitar 7 kali lipat dalam waktu singkat. Ujung-ujungnya, biaya operasi bisa dihemat hingga enam persen,” katanya.

Langkah berikutnya adalah melakukan optimasi dan modernisasi aset. Backbone dan menara menjadi perhatian utama.  Tak hanya menghemat biaya operasi, dari menara XL memiliki sumber pendapatan baru berupa penyewaan  5 ribu BTS . ”Tahun 2010 kami mendapat Rp 792 miliar dari sebanyak 10 pelanggan,” katanya.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Trisakti Fransiscus Paschalis menjelaskan, kinerja XL pada tahun lalu hasil kerja keras yang dirintis oleh manajemen sejak 2007.

“XL berhasil mengubah paradigma dari operator dengan tarif mahal menjadi murah di pasar. Sekarang kalau bicara murah, publik mengidentikkan dengan operator ini. Ini buah startegi pemasaran yang matang,” katanya.

Namun, diingatkannya, pada tahun ini adalah ujian sebenarnya bagi manajemen XL mempertahankan kinerja di atas industri karena banyak analis memprediksi titik jenuh sudah menghampiri pada tahun ini.

“Pemicu perang pemasaran dua tahun ini adalah XL. Manajemen XL belum lama ini memberikan sinyal ingin  lebih serius menggarap jasa data karena tarif suara dan SMS tak bisa diturunkan lagi. Ini bisa jadi sinyal perang beralih ke data atau cuma ingin meredakan suasana yang kian memanas di suara dan SMS,” tuturnya.[dni]

170210 Menggarap Pasar Muda

Lembaga riset The Nielsen Company  menyatakan  kepemilikan telepon seluler (ponsel) di Indonesia dari 2005 hingga 2010 naik tiga kali lipat. Pada 2005 penetrasi ponsel di Indonesia hanya 20 persen, namun lima tahun kemudian melonjak menjadi 54 persen

Data tersebut diperoleh dari survei yang dilakukan Nielsen di sembilan kota terhadap 45 juta penduduk. Kesembilan kota itu adalah Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Medan, Palembang, Makassar, dan Denpasar.

Direktur Telecom Practice Group Nielsen Viraj Juthani mengungkapkan, naiknya pengguna ponsel didorong tingginya penetrasi kelompok usia muda yakni  kategori usia 15-19 yang mendominasi 70 persen penggunaan sejak  2007.

“Lima tahun lalu kelompok pengguna usia 20-29 tahun selalu yang tertinggi. Naiknya pengguna ponsel di kalangan muda harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh operator. Selain itu, operator juga harus memfokuskan usaha mereka untuk mengembangkan produk yang cocok untuk kelompok usia yang lebih muda lagi, yaitu 10-14 tahun,” katanya di Jakarta, belum lama ini.

Menurutnya,  pertumbuhan ponsel di kalangan anak muda itu karena kebutuhan kaum muda terhadap media sosial. Penggunaan layanan suara dan SMS masih akan dipakai, meski kelompok usia ini jarang memakainya. Selain itu mengakses internet lewat telepon akan menjadi tren karena bisa dilakukan di mana saja.

Corporate Communication and Marketing Nielsen Kikie Randini  menambahkan, walau dari sisi penetrasi mengalami peningkatan, tetapi tidak untuk Average Revenue Per User (ARPU) alias  pengeluaran pulsa per bulan yang mengalami penurunan dalan kurun waktu  lima tahun terakhir.

Berdasarkan survei, pada 2005 terdapat 51 persen  pengguna ponsel mengeluarkan biaya pulsa berkisar  50 -100 ribu rupiah  per bulan, dan hanya 18 persen pengguna yang ARPU-nya  kurang dari  50 ribu rupiah per bulan.

Namun,  pada 2010, terdapat 58 persen  pengguna ponsel yang ARPU-nya kurang dari  50 ribu rupiah per bulan, dan hanya 29 persen  pengguna  memiliki ARPU  antara  50 -100 ribu rupiah per bulan. Sedangkan keputusan  berlangganan jasa operator didasarkan pada tarif (28%), jangkauan (24%), kualitas (15%),  rekomendasi (12 %), dan  promosi (8%) .

Strategi
Direktur Konsumer XL Axiata Joy Wahjudi mengakui, pengguna dari kelompok usia muda menguasai 40,4 juta pelanggannya. “Kami memang memiliki strategi khusus untuk menggarap pasar muda. Andalannya adalah berjualan langsung ke sekolah atau tempat-tempat yang biasa dikunjungi oleh mereka,” jelasnya.

Dijelaskannya, walau memiliki jumlah yang besar,  segmen ini memiliki  kebiasaaan  gampang berpindah  ke operator lain. “Di pasar anak muda itu tidak bisa main bagi-bagi kartu. Pendekatannya harus lebih intim baik ke individu atau komunitasnya,” jelasnya.

Wakil Direktur Utama Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer mengungkapkan, perseroan mengakuisisi pasar muda dengan membuat iklan-iklan yang bisa berkomunikasi dengan pengguna,  tarif  selalu murah, menawarkan ponsel  dengan harga terjangkau,  dan value added service (VAS) yang relevan.

“Item yang  paling efektif untuk akusisi segmen  ini adalah tarif, VAS yang relevan. Saat ini fitu jejaring sosial menjadi hal yang penting selain ponsel QWERTY, musik, dan Android,” katanya.

Sedangkan VP Sales and Distribution Axis Syakieb A Sungkar mengatakan, membuat program pemasaran yang identik dengan kegiatan anak muda menjadi andalan untuk eksis di pasar. “Kuartal pertama ini Axis fokus di Java Jazz. Kami masuk ke kampus dan sekolah untuk mendukung pemasaran tarif hemat gratis seribu menit,” katanya.

Dijelaskannya,  secara prinsip program retensi tidak akan  menolong banyak menahan anak muda berpindah operator. Satu-satunya  cara agar  tidak pindah    dengan menawarkan  tarif yang kompetitif. “Masalahnya tarif seluler sekarang sudah paling rendah, tidak bisa turun lagi. Sekarang pintar-pintar operator memainkan penawaran, itu yang dilakukan Axis sejak Oktober 2010 dengan menawarkan  tarif  0 rupiah,” tuturnya.

Brand Manager IM3 Andre Reynaldi menjelaskan, hal yang paling utama menggarap pasar muda adalah  menemukenali karakteristik dan kebutuhan, setelah itu membuat  program  sesuai dengan keinginan target pelanggan.  “Program baru  IM3 Ce es an wujud nyata dari teori itu,” katanya.

Menurutnya,  pasar muda menginginkan  kartu dengan tarif yang murah dan digunakan oleh komunitasnya. “Pasar muda itu lebih percaya kepada komunitasnya. Jika pun tariff kita murah,  tetapi tidak digunakan oleh komunitasnya, percuma saja.  Karena itu membuat Word Of Mouth (WOM)  memegang peranan penting,” katanya.

Manager Brand Management simPATI T. Ferdi Febrian mengungkapkan, Telkomsel terus menyegarkan komunikasi produknya agar bisa meraih pasar muda. “Untuk kartuAs sekarang  telah diubah  tone dan  manner dengan menggunakan ikon  anak muda seperti boyband  Smash,” katanya.

Diungkapkannya, untuk menekan angka berpindahnya pelanggan muda salah satunya dengan menawarkan paket bundling ponsel dengan langganan produk Telkomsel. “Berjualan bersama vendor ponsel itu membuat masa tinggal pelanggan lebih lama karena ada masa promosi yang panjang harus dinikmati,” jelasnya.

Pada kesempatan lain, Praktisi telematika Teguh Prasetya menilai operator belum  efisien dan efektif dalam menggarap pasar muda  karena mayoritas  masih menggunakan metode pendekatan konvensional dalam berinteraksi dengan calon pelanggan terutama dalam hal memperkenalkan produk yang akan dijual .. Contohnya, operator masih kurang intensif  dalam menggunakan media digital maupun  kurang mencipatkan WoM marketing secara lebih massif  bilamana dibandingkan pengeluaran untuk beriklan di TV atau media cetak.

“Sifat pasar muda  yang mudah mencoba segala hal  baru, suka dipengaruhi  teman,  dan  ekspresif. Ini  belum secara utuh digarap oleh para operator dalam membaca arah mereka ke depan termasuk menggiringnya  sesuai dengan hobi, komunitas maupun aktivitas keseharian. Hal ini diperkuat fakta di lapangan, para eksekutif dan “eksekutor” belum menjiwai  pasar yang akan digarap,” ketusnya.

Pengamat ekonomi dari Universitas Trisakti Fransiscus Paschalis mengungkapkan, jika melihat pasar telekomunikasi di Indonesia wajar anak muda menjadi andalan untuk mendongkrak penetrasi karena dari sisi biaya akuisisi lebih murah. “Ada dua pemicu  naiknya penetrasi, pertama membuka area baru, kedua membidik pasar muda. Membuka area baru itu membutuhkan biaya yang besar dan belum tentu sukses.  Sementara mengakuisisi pasar muda lebih murah karena  pertumbuhan terus terjadi tanpa perlu memperluas area jangkauan,” jelasnya.[dni]

Belanja iklan industri telekomunikasi di Indonesia sepanjang 2010 didominasi Telkomsel dengan total belanja Rp 1,5 triliun. Sedangkan Indosat dan XL masing-masing mengelurkan belanja iklan sebesar Rp 639 miliar dan Rp 631 miliar.

Sedangkan belanja iklan vendor ponsel masih dipimpin Nokia dengan total belanja Rp 162 miliar. Angka ini menurun 15% dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan belanja iklan terjadi pada vendor ponsel lokal Nexian yang naik 557% menjadi Rp 74 miliar, disusul Samsung yang naik 94% menjadi Rp 131 miliar, MITO naik 94% menjadi Rp 37 miliar dan K Touch naik 94% menjadi Rp 28 miliar.

Total belanja iklan vendor hand-setpada 2010 mencapai Rp 643 miliar. Dari angka tersebut. Nokia masih memimpin, meski total belanja iklannya turun 15% dibandingkan tahun lalu,” kata Juthani. (c08)