160210 Revisi UU Pelayaran Picu Pengurangan Kapal Lokal

JAKARTA—Wacana untuk melakukan revisi  Undang-undang Pelayaran ternyata memicu berkurangnya kapal berbendera Indonesia dalam melayani pengangkutan komoditi.

“Sudah mulai terjadi gejala adanya penukaran bendera dari Merah Putih ke asing karena tidak jelasnya dukungan pemerintah terhadap azas cabotage,” ungkap Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan Dewan Pengurus Pusat Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Paulis A. Djohan di Jakarta, Selasa (15/2).

Azas cabotage adalah ketentuan muatan domestik diangkut kapal-kapal berbendera nasional. Azas ini berlaku untuk  kapal-kapal jenis cair dan lepas pantai pada  tahun 2010 dan 2011. Saat ini hanya tinggal sektor Off Shore yang belum menjalankan cabotage.

Di Off Shore sendiri kapal yang melayani terbagi atas tiga kategori yakni A, B, dan C. Kelompok A yakni  jenisn Tugboats, Mooring Boats, Utility Vessels, Barges, Landing Craft, Oil Barges, Security Boats, Sea Trucks, Crew Boats, Crane Barges, Pilot Barges dan Anchor Boat ditutup bagi kapal asing  mulai 1 Januari 2010.

Sedangkan kapal kelompok B yakni jenis Accomodation barges ukuran 250 ft class ke atas, Anchor Handling and Tugs (AHT), Anchor Handling and Tug Supply (AHTS), ASD tTugboats, Platform Supply Vessel (PSV),  Seismic Vessel, Crane Barge, Floating Storage and Offloading (FSO), Floating Production Storage and Offloading (FPSO). Adapun kapal kelompok C yakni Jack Up Rig, Drill Ship, Submersible Rig dan Cable Laying Ship.

Paulis mengungkapkan, awalnya banyak kapal asing yang beredar di Indonesia menggandeng mitra lokal untuk menukar benderanya menjadi Merah Putih atau investor lokal yang berinvestasi untuk pengadaan kapal.

“Namun wacana revisi UU Pelayaran yang merupakan kitab suci industri ingin diubah oleh pemerintah tanpa ada contingency plan  memicu ketidakpastian investasi sehingga mereka yang tadinya sudah mau menjalankan azas cabotage kembali menggunakan kapal berbendera asing,” keluhnya.

Dijelaskannya,  beroperasinya kapal berbendera asing justru merugikan  terutama dari sisi devisa karena tidak ada pajak yang masuk ke kas  negara. “Belum lagi posisi pemain lokal yang kian terjepit karena pasar angkutan untuk ekspor semakin dikuasai asing,” katanya.

Selanjutnya diungkapkan, pemain lokal pun kian terjepit dengan diberlakukannya Peraturan Menteri Keuangan No. 241/2010 soal bea masuk 5 persen  dari harga kapal sejak 22 Desember lalu.

“Kebijakan penarikan bea masuk itu sangat tidak pro industri. Harusnya pemerintah melihat kapal itu sebagai moda yang memindahkan barang atau orang untuk menggerakkan perekonomian. Kami ini butuh insentif bukan malah diperberat dengan pungutan,” keluhnya.

Ketua Komite Tetap Perhubungan Laut Kadin Carmelita Hartoto mengungkapkan,  banyak sektor usaha yang meminta agar pemberlakuan KMK yang mengenakan bea masuk atas impor barang modal ditunda atau dibatalkan.

Secara terpisah, Anggota DPR RI dari Komisi V KH Abdul Hakim menilai banyak kebijakan pemerintah di sektor pelayaran yang tidak sesuai dengan amanat UU No 17/2008.

“Masing-masing kementrian memiliki agenda masing-masing dan tidak mengacu pada UU Pelayaran dan azas cabotage. Presiden harus turun tangan mengatasi tarik menarik kepentingan ini untuk kepentingan bangsa,” tegasnya.

Sebelumnya, Dirjen Perhubungan Laut Sunaryo meminta semua pihak untuk menahan diri terkait revisi UU Pelayaran dan melihat kepentingan bangsa yang lebih besar.

“ Hanya pasal 341 yang minta direvisi. Jadi baiknya jangan suudzon. Ini untuk menyelematkan lifting minyak nasional,” tegasnya.

Berdasarkan Pasal 341 UU Pelayaran disebutkan bahwa kapal asing yang saat ini masih melayani kegiatan angkutan laut dalam negeri tetap dapat melakukannya kegiatannya paling lama 3 tahun terhitung sejak tanggal berlakunya UU ini yaitu tanggal 7 Mei 2008.

Nantinya  dalam pasal itu ada kalimat tambahan kecuali kapal tertentu. Kapal tertentu yang dimaksud untuk konstruksi, survei, dan penunjang. Pengaturan jenis kapal itu akan diatur dalam peraturan menteri.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s